
Nila pun berjalan tergesa, hatinya penuh khawatir, ada apa dengan suaminya? Apa hal yang membuat Rendi sedih hingga sangat ingin memeluknya.
Setelah melewati beberapa meter halaman masjid, lalu berbelok melewati lorong antar gedung kampus, lalu keluar ke halaman dan berbelok lagi ke parkiran, Nila cepat- cepat ke mobil.
Benar saja Rendi sudah di dalam. Nila pun membuka pintu mobilnya dan segera masuk.
"Ada apa Mas? Mas kenapa?" tanya Nila tergugup.
Rendi yang sebelumnya duduk bersandar sejak langkah Nila terdengar dan begitu Nila masuk, dia justru tersenyum.
"Ih kok malah senyum?" protes Nila kesal.
"Lah terus mas harus gimana?" jawab Rendi terkekeh.
"Ya jawab! Mas kenapa tiba- tiba ajak pulang dan mau peluk Nila?" tanya Nila dengan polosnya dan hati yang tulus sungguh khawatir.
"Soalnya istrinya Mas cantik dan baik. Jadi ingin peluk terus!" jawab Rendi malah menggoda Nila.
Tentu saja Nila langsung cemberut dan mencebik bukan senang karena Nila kan sudah tergopoh- gopoh berfikir banyak hal.
"Jangan bercanda!" jawab Nila
Bukanya menjawab, Rendi malah menyalakan mesin mobilnya.
"Ih nggak dijawab? Mas kenapa?" tanya Nila lagi.
"Ya nggak apa- apa. Mas pengen kamu!" jawab Rendi.
"Ish.. Serius ih!"
"Ya seriua!"
"Mas... jangan bercanda? Nggak ada sesuatu yang urgen kan? Mas kenapa tiba- tiba dipanggil? Ada masalah apa?" tanya Nila kepo
"Sekarang udah nggak urgen kan udah ada kamu!" jawab Rendi lagi masih terus bercanda
"Mas ih. Jangan bercanda!"
"Hehe yaya nggak!"
"Ya udah ada apa? Kok cepet banget?"
"Ya ada masalah. Tapi seurgent- urgenya, karena ini kan kampus bukan Rumah sakit, jadi masih aman!" jawab Rendi lagi sudah memberi jawaban tapi tetap membuat Nila manyun tidak puas dengan jawaban Rendi
__ADS_1
"Ish... Ya udah kalau nggak mau cerita!" jawab Nila ngambek lalu memalingkan muka ke jendela mobil.
Rendi hanya melirik terkekeh, tidak mencoba menenangkan dia malah menambah kecepatan mobilnya dan membiarkan Nila diam sepanjang jalan.
Setelah sepersekian detik, mereka sampai di rumah. Karena Siang, Bu Siti dan Pak Rahmat ada di rumah dan tampak sedang membersihkan halaman.
Nila yang tadinya masih ngambek jadi malu dan berusaha tetap ramah juga sopan. Akan tetapi Nila buru- buru ke kamar. Rendi pun mengejarnya, hingga saat Nila hendak menutup kamar Rendi sempat menahanya.
"Apa sih?" tanya Nila kesal.
"Ya kamu yang apa? Mas mau masuk kamar juga!"
"Nila mau di kamar sendiri!" ucap Nila mode manja dan cemberut.
"Kenapa? Kan mas mau meluk kamu!"
"Nggak!"
"Kok nggak?"
"Bete!"
"Bete kenapa?"
Rendi pun jadi tambah terkekeh dan langsung mendorong pintunya hingga dia masuk.
Nila cemberut, karena kesal tidak berhasil mencegah Rendi masuk, agar tidak bersama Nila berfikir Nila saja yang keluar.
Tapi Rendi sigap, begitu melihat Nila melangkah, Rendi cepat meraih Nila dan memeluk Nila dari belakang. Hingga menggendongnya.
Nila sedikit memberontak, namun endingnya justru membuat mereka saling tatap hingga Rendi berhasil membawa Nila ke tempat tidur.
Akan tetapi tiba- tiba ponsel Rendi bergetar memecah keromantisan mereka. Rendi meraih ponselnya dan memilih mengangkat telepon lebih dulu tanpa pergi dari Nila
Tanpa dijelaskan dan tidak sengaja menguping, Nila jadi tahu dari percakapan Rendi dengan kawanya di telepon. Nila sampai mendelik kaget mendengarnya.
"Mas! Siapa mahasiswi itu?" tanya Nila setelah nguping jadi tambah kepo.
Rupanya sebagai dosen yang diberi tugas tambahan kemahasiswaan, Rendi dilapori, ada mahasiswinya yang terlibat skan dal prostitus yang menyeret nama baik kampus. Khalayak tahu dia mahasiswa di kampus Rendi bahkan ada barang bukti jas kampus saat di geledah. Bahkan Rendi sempat melihat videonya itu sebabnya Rendi jadi ingin cepat pulang.
Mendengar pertanyaan Nila, Rendi yang sudah mematikan ponselnya jadi tersenyum.
"Dari anak Farmasi kok. Tapi di polisi dia bilang di kampus kita, dia nggak sendirian ada mahasiswi Fakultas kedokteran ikut juga!" jawab Rendi.
__ADS_1
"What?" pekik Nila.
"Siapa?" tanya Nila.
Rendi hanya mengangkat bahu.
"Semester berapa? Kok bisa. Bukanya FKU orang pintar semua dan orang kaya semua Mas?" tanya Nila lagi.
"Ya. Kan mahasiswa ada ratusan Dhek. Kita tidak bisa menguasai semua pribadi mereka. Terus mau diapain? Mas mau cari tahu?"
"Selama dia di kampus tidak membuat masalah dan tidak merugikan nama kampus, kita nggak bisa ngapa- ngapain? Kecuali ada barang bukti, nah itu urusan polisi dan baru kampus ikut andil mau diapain dia?" jawab Rendi lagi.
Nila pun mengangguk mengerti.
"Udah nggak usah bahas!" jawab Rendi langsung mensejajari Nila dan kembali memeluknya.
Rendi pun berbisik ke telinga Nila, niatnya hendak membereskan masalah membuat surat hukuman dan klarifikasi ke media. Karena tak sengaja melihat video, Rendi jadi ingin menambah panas siang harinya yang libur.
Awalnya Nila mengernyit ogah, tapi Rendi tidak menyerah hingga endingnya siang mereka benar- benar panas.
Setelah menerima telepon dari rekanya, Rendi hanya menaruh teleponya sembarangan di atas kasur. Telepon Rendi pun tergeletak di sudut bawah bantal sebagian.
Saat pergulatan panas mereka berlangsung Valen menelpon dan tak sengaja tersentuh siku Nila yang hendak mencengkeram sprei tidak tahan menahan geli yang luar biasa saat Rendi sedang memanjakannya memainkan titik- titik sumber pusat kenikmatanya.
Hingga tanpa sengaja, Valen disuguhi suara- suara yang membengkakan telinganya. Heranya, Valen tidak mematikannya dan justru mendengarnya sampai mereka berdua melenguh mencapai puncak kenikmatan dan tanpa memperdulikan ponsel mereka berdua langsung ke kamar mandi menyadari siang bolong harus sholat dan mandi.
Karena benar- benar terabaikan, barulah Valen mematikan. Rendi dan Nila jadi benar- benar tidak tahu, bahwa di balik kenikmatan yang mereka raih ada telinga yang terbakar di tempat nan jauh di sana.
****
"Hiks...," Valen pun meneteskan air matanya.
"Hei.. Whats wrong with you, Baby?" tanya Vallen kaget, dia baru masuk ke kamar berkemas barang karena Valen sudah boleh pulang, malah menemui Valen menitikan air mata dan menjatuhkan ponselnya.
"Aku ingin buat bocah belagu itu menangis, Daddy!" lirih Vallen kemudian.
Tuan Robert pun terdiam menelan ludahnya.
"Rendi benar- benar melupakan aku, Dad. Vallen tidak bisa meraihnya. Dan Vallen mau orang lain juga tidak boleh bahagia bersamanya!" ucap Vallen lagi.
Tuan Robert mengeratkan rahangnya lalu mendekat duduk ke Vallen. Tuan Robert kemudian membelai rambut putrinya
"Don't Cry. Daddy akan bayar air matamu dengan setimpal," ucap Tuan Roberth.
__ADS_1