
Usia Rendi sudah 33 tahun, tapi baru kali ini Rendi diperlakukan seperti penjahat yang gerak- geriknya dicurigai, bahkan sampai hal privasi. Padahal kan seusia Rendi sudah dipastikan dewasa dan matang juga bisa diandalkan.
Remaja usia belasan tahun saja di luar sana bebas melakukan chattingan, kencan, juga hal lain dengan pacar mereka, ini Rendi hendak membawa istrinya, repotnya minta ampun, seperti terdakwa. Dan itu dilakukan oleh orang yang dulu sangat mempercayainya.
Rendi berdehem mendengar pertanyaan Baba. Lebih dari Rendi, Buna dan Ummi juga membelalakan matanya menatap ke Rendi.
Rendi mengusap tengkuknya, malu sekali, masa chattingan Bersama istrinya, harus diumumkan.
Alhamdulillahnya, belum Rendi menjawab langkah kaki terdengar semakin jelas mendekat ke mereka. Ya, Nila datang di waktu yang tepat.
“Itu, Nduk Nila sudah datang,” tutur Abah tenang.
“Huuft…,” Rendi langsung menghembuskan nafas lega dengan pelan.
“Gleg,” sementara Baba langsung menelan ludahnya.
Nila terlihat bermuka segar, walau hanya memakai pakaian tidur Panjang dengan kain dingin dan jilbab bertali. Nila benar- benar sudah siap ternyata, sekarang Baba tidak bias melarang lagi.
“Alhamdulillah, Nilanya sudah datang, sepertinya hujan juga sudah reda,” ujar Ummi pelan.
“Ehm…,” Rendi berdehem melirik Baba yang wajahnya mendadak pucat.
“Ayo, Nduk, pumpung belum maghrib, kita pulang. Besok ke sini lagi, biar sampai rumah nggak kemaleman,” tutur Ummi sudah tidak sabar pulang ke umah Rendi dan sangat tidak nyaman Bersama besanya yang baru saja berbaikan dengannya.
Nila melirik Baba nya kemudian menatap Rendi. Rendi pun mengedipkan kelopak matanya.
“Iya, Ummii.., ayo. Makasih udah jemput, Nila,” jawab Nila tersenyum setuju, bahkan Nila juga sudah menenteng tas punggungnya, yang berisi pakaian juga laptopnya.
Baba langsung mengulum lidahnya kesal, Baba tidak bias bergerak lagi, hatinya semakin berkecamuk dipenuhi paranoid. Buna yang langsung ambil sikap, Buna tersenyum lalu meraih lengan Nila dan mengelusnya pelan.
__ADS_1
“Hati- hati ya, besok giliran pulang ke sini lagi. Malam ini Ummi katanya kangen sama kamu, Buna Baba ijinkan pulang kesana, Baba sama Buna masih kangen juga sama kamu,” tutur Buna lembut.
“Iya, Buna! Nila besok kesini lagi,” jawab Nila.
“Pumpung, hujan reda, kami pamit dulu, Pak Ardi,” pamit Abah tersenyum hangat, selain meminta maaf, mereka kan mau jemput Nila, dan sekarang Nila sudah ada. Abah senang sekali.
“Ya… silahkan,” ucap Baba sangat singkat mau tidak mau mengijinkan.
Abah diikuti Ummi dan Rendi bergegas bangun, mengulurkan tangan bersalaman dengan Baba. Walau terasa berat dan kaku, sebagai orang berakal, Baba pun menyambut tangan mereka bersalaman, setelah salaman mereka pun menghadap ke pintu dan melangkah maju, akan tetapi Baba langsung menarik tangan Nila mundur, hingga Rendi dan Nila sedikit tersentak.
“Baba…,” pekik Nila lirih.
“Ingat… kamu belum tercatat di KUA, jangan murahan!” bisik Baba tajam mendekatkan kepalanya ke kepala Nila. Lalu setelah selesai melepas tanganya dan menjauhkan kepalanya.
Nila menyipitkan matanya dan menelan ludahnya.
Baba dan Buna mengantar sampai depan, Nila pun masuk ke mobil , Ummi dan Abah yang berjalan lebih dulu ternyata memilih duduk di belakang dan membiarkan Nila di samping Rendi. Buna dan Ummi pun melambaikan tangan kaku melepas mobil Rendi melaju pergi sampai tidak terlihat lagi.
“Haish… ck… awas saja kalau Nila sampai ISK atau kenapa- kenapa,” celetuk Baba tiba- tiba.
Tentu saja Buna kaget dan mengernyitkan matanya.
“Maksud kamu apa Mas?” tanya Buna.
“Baba nggak percaya Nila benar- benar tidur dengan Ummi mlam ini, gimana kalau itu semua terjadi mala mini,” celetuk Baba benar- benar ternyata sedari tadi kepalanya dipenuhi prasangka.
“Hrghh…,” Buna langsung menghela nafasnya Panjang, sembari memijit pelipisnya, gemas ke Baba ingin marah, tapi pria ini sudah berbagi nafas denganya seperempat abad.
“Kalau Baba nggak percaya ya udah sana, sanah.. Baba ikuti mereka. Susul mereka, ikut nginep sana!” ucap Buna dengan nada tajam sedikit kesal ke Baba.
__ADS_1
“Gleg!” Baba langsung terdiam dan menciut.
“Hh… Baba bener- bener ya, lama- lama tak kasih byclean kepala Baba, mikirnya yang bener kenapa Ba!” gumam Buna lagi sembari berjalan masuk dengan sedikit hentakan kaki.
Baba pun menyusul.
“Kok Buna ngomong gitu!”
“Ya, Baba kan udah nikahin Nila sama Rendi. Ya udah, kita harus percaya sama keluarga Rendi!”
“Ya… tapi kan maksud Baba, bersabar sedikit sampai Nila dan Rendi benar- benar sah, tidak hanya agama dan Negara, sampai mereka tidur Bersama. Nila kan masih kecil,” ucap Baba uring- uringan.
“Kalau gitu kenapa dulu dinikahin? Buna kan udah kasih tahu Baba. Baba sendiri kan yang bilang? Teman- teman Baba istri keduanya., juga usianya belia. Padahal Buna udah larang Baba. Udah sekarang terima konsekuensi. Positif thingking, Rendi tidak seperti teman- teman Baba!” tutur Buna langsung menyerang Baba. Pokoknya Buna selalu mengungkit masalalu.
Baba pun langsung diam tidak berkutik.
"PR kita masih banyak Ba," tutur Buna lagi sekarang mereda.
"Baba cuma khawatir Bun. Kalau malam ini sampai kejadian beneran. Padahal Nila belum punya buku nikah. Terus keesokan terjadi sesuatu sama Rendi atau hal lain. Nila hamil. Bagaimana status cucu kita!" tutur Baba lagi masih terus mengutarakan kegelisahanya.
"Baba. Istighfar!" ucap Buna sedikit keras, Buna kali ini benar- benar emosi ke Baba.
"Baba hanya khawatir Bun!" ucap Baba membela diri.
"Baba... Kita orang tua. Berfikir dan bicaranya yang baik- baik. 3 tahun kita lepas Nila dengan mereka Baba juga biasa aja. Kenapa sekarang Baba begini?" omel Buna lagi.
"Yaya!" jawab Baba pundung lalu berjalan cepat meninggalkan Buna. Baba malas diomeli.
"Maap bersambung.... Nanti kalau sempat aku tulis lagi.
__ADS_1