
“Maaf aku tak sengaja menemukan ini dan membacanya,..
Aku tuliskan lagi, bagian katamu yang aku suka.
Boleh kan aku mengutip katamu?" tulis Rendi di halaman pertama suratnya.
Nila mendadak bergetar, tulisan dia yang mana?
*****
Setiap dentingan alam yang Tuhan padu merdu, kudengarkan lewat rintik hujan. Kadang jatuh dengan lembut, kadang juga begitu keras, namun selalu memadu, menyapa dan berbisik pada hati yang sepi terhubung dalam rindu yang tak berkesudahan ini.
Seperti Aisyah, yang bertahta akan cinta Rosullulloh, semua cerita Alloh gariskan dengan alur yang indah.
Aku juga ingin gapai itu...
Rentang umur yang jauh, juga waktu begitu mustahil.
Namun akan selalu terhubung, dan menjadi keniscayaan, jika cinta yang menjadi jalan menyusun alur kisah yang Tuhan siapkan.
Maka aku pupuk cinta ini atas nama Tuhan.
Cinta yang Tuhan semai,
cinta yang aku yakin menjadi tawa dan kebahagiaan dalam bingkai pernikahaan ini.
Aku terima,
Aku terima kesepian dalam rindu yang panjang ini,
Aku terima semua sesak dalam penantian ini,
__ADS_1
Aku ingin menjadi seperti Aisyah yang tumbuh dewasa dalam cinta.
Aku bukan anak kecil kan? Aku lebih dewasa dari Aisyah, aku bukan anak kecil. Aku pantas menjadi istri.
Aku yakin, Mas Rendi di sana juga menantiku dalam malam yang sunyi,
Aku yakin Tuhan sudah menyiapkan jalan dan alur ini dengan indah.
Dan di sini, aku memantaskan diriku.... Hingga nanti kamu akan menjemputku,
Bambu Teduh, 2019.
Istri yang merindumu....
****
Rendi yang sudah dimarahi Fatma, juga didiamkan Umminya, dihajar Om Farid juga dimaki- maki Baba, jadi merenung dan berfikir.
Awalnya semua respon mereka, Rendi anggap lebay. Rendi kebingungan dan kelabakan dia jadi sendirian. Tapi saat dia membaca catatan Nila dia baru tahu, Kenapa Nila sesakit ini, ternyata Nila menyimpan rindu yang berkepanjangan akan dirinya. Ternyata cinta Nila bukan cinta monyet dan remeh seperti yang dia kira.
Tentu saja, saat bertemu, mendapati pernyataan Rendi yang seakan menganggapnya tak ada, walau maksud Rendi bukan begitu, itu menghancurkan semua harapan yang sudah ia lambungkan tinggi- tinggi.
Dulu, Rendi mengira akan baik dan membuatnya senang, lega, jika berhasil membuat Nila tersakiti, Baba dan Jingga juga sakit.
Tapi rupanya, dibenci semua orang tak membuat Rendi bertahan. Justru berbalik Rendi yang merasa sesak dan sakit. Saat diri menyakiti orang lain sesungguhnya dia menyakiti diri sendiri.
Rendi sendiri tak menyadari. Patah hati Rendi selama ini sudah terkikis oleh kebaikan Baba. Dendam yang dulu Rendi susun terlupakan, oleh rasa nyaman dan dihargai, yang baba hadirkan selama tiga tahun ini.
Ketidakrelaan dan kesakitan Rendi melihat Jingga bersama Adip memudar, setelah Jingga meninggalkan Ibukota bersama Adip untuk waktu yang lama. Mulai sejak terdengar Jingga kehilangan bayinya dan sampai Jingga hamil lagi.
Dan sekarang saat semua sakit hati Rendi juga niat buruknya hilang, apa yang menjadi tujuan awalnya dibuka dan dikabulkan oleh Tuhan.
__ADS_1
Nila, Baba dan Jingga berhasil dibuatnya sakit. Namun lebih dari yang dia sangka, perbuatan Rendi ternyata juga menyakiti keluarga yang dia cintai dan hormati.
Hati Rendi sendiri merasakan sesak yang tidak bisa ia jabarkan, apalagi setelah membaca buku Nila.
Ada ketidak relaan jika dia benar- benar melepas Nila saat melihat rupa Nila yang menawan.
Dalam lembar buku Nila, dia bisa meresapi, setiap katanya menyiratkan ketulusan. Nila mencintai Rendi, memupuk harapan indah untuk menguntai cerita panjang di hari- harinya ke depan bersama Rendi dengan penuh cinta. Hati Rendi terketuk.
Rendi pun berniat meminta maaf, karena nyatanya, menjadi orang jahat, dikucilkan semua orang, bukanlah jati diri dan keinginanya. Rendi juga tidak cukup kuat menerima semua itu.
“Aku mohon maaf,
Aku jujur, salah. Tidak menyapamu dan mengenalmu dengan baik.
Terima kasih atas Niatmu yang besar dan cintamu yang tulus untukku. Aku tahu aku tidak pantas menerima cinta sebesar inii.
Seharusnya aku berterima kasih dan bersyukur.
Tapi, apa kamu akan secepat ini, melebur dan mengubur rangkaian mimpimu? Bahkan kita belum pernah benar- benar mencoba merangkainya?
Tidakkah kamu bersedia memaafkanku dan memberiku kesempatan mengenalmu?
Aku tidak ingin memaksa, aku hanya berharap, kamu memikirkan dengan baik untuk mengakhiri pernikahan kita.
Aku sungguh minta maaf.
Aku tidak menginginkan kata cerai.
Aku tunggu jawabanmu, di sidang nanti" tulis Rendi ke Nila.
"Hhh....,"
__ADS_1
Nila menghela nafas dan menelan ludahnya membalik kertas Rendi.
"Pak Rendi tulus meminta maaf apa karena desakan Umi?" batin Nila sekarang sifat berbaik sangkanya pada Rendi memudar.