
Nila langsung menyeringai mendengar penolakan dan pertanyaan Bu Laksmi. Bu Laksmi hanya mengenal Nila teman Amer, Bu Laksmi berterima kasih dan menganggap Nila ada seorang teman yang baik, Bu Laksmi tidak tahu Nila yang membuat Farel putus kuliah.
"Bisa panggilkan Farel, Nak? Ibu ingin liat dia sekali aja. Ibu sangat merindukan dia? Dia pasti sangat sibuk ya sampai tidak menjenguk ibu, 3 tahun lamanya?" tanya Bu Laksmi dengan suara parau dan mata nanarnya.
Nila menelan ludahnya dengan dadanya yang bergetar. Nila ragu untuk cerita, tapi kalau tidak cerita, Nila merasa berdosa. Bahkan walau Rendi sudah meyakinkan berkali- kali hingga tak terhitung, kalau mereka tidak bersalah, Nila masih dikejar rasa takut, kalau saja Nila tidak ngambek dengan Rendi. Kalau saja hubungan Rendi dan Nila baik- baik saja, sejak awal mereka tidak diam- diaman kala itu, mereka tidak ngumpet- ngumpet kala itu, Nila tidak menemui Farel.
Terserah seberapa parah Farel dan siapa yang akan membuatnya taubat. Kalau Nila tidak egois dan berburuk sangka pada Rendi padahal nyatanya Nila cinta mati sama Rendi Nila tidak akan terjebak dalam masalah Farel, Nila akan hidup bahagia sejak awal.
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Takdir membawa Nila mengantarkan Farel pada kenyataan dia harus dikeluarkan dan sekarang direhab. Bahkan tidak ada pilihan lain kala itu demi dirinya, Rendi membuat Farel babak belur dan cedera.
Di hadapanya kini duduk seorang ibu yang amat merindukan buah hatinya. Dia menitikan air mata membawa kerinduan dari hatinya yang putih. Nila tidak sanggup berbohong lagi.
"Nak.. katamu kamu sekelas dengan Farel kan? Boleh Ibu panggilkan dia? Walau mungkin Farel tidak akan ikut Ibu, tapi ibu ingin liat dia. Sudah seperti apa dia sekarang. Sekali saja Ibu ingin ketemu sebelum ibu pergi!" tutur Bu Laksmi lagi dengan sangat lembut.
Hati Nila semakin bergemuruh melihatnya, dadanya bergetar, semakin bingung, bahkan Nila tergagap dan matanya nanar hingga tak selang berapa lama, Nila menitikan air mata.
"Kok nangis?" tanya Bu Laksmi lagi.
"Ehm...," Nila pun berdehem gelagapan
"Kamu kenapa?" tanya Bu Laksmi bingung.
Dengan gelagapan, Nila menyeka air matanya dan langsung meraih tangan Bu Laksmi.
"Nila minta maaf. Bu. Nila juga minta maaf atas nama suami Nila...," tutur Nila tergagap.
"Suami? Minta maaf?" tanya Bu Laksmi bingung.
Nila kembali menitikan air mata, rasanya berat dan takut sekali mau mengakui apa yang sudah terjadi denganya dengan Farel di hadapan Bu Laksmi. Pasti Bu Laksmi akan sangat sakit.
"Maafin Nila. Sungguh, Nila tidak punya pilihan lain. Suami Nila juga tidak bermaksud menyakitinua. Tolong maafkan kami. Maafkan kami Bu?" tutur Nila lagi.
Bu Laksmi tambah bingung, tapi Bu Laksmi berusaha tenang.
"Apa yang terjadi apa maksudmu? Kamu minta maaf kenapa? Kenapa kamu menangis? Ceritakan dengan tenang Nak. Dimana Farel?" tanya Bu Laksmi lagi dengan tenang. Bahkan Bu Laksmi melepaskan tangan Nila dan tangan hangatnya menyeka air mata Nila.
Nila pun menelan ludahnya, mengatur nafasnya. Walau sangat takut menyakiti Bu Laksmi, Nila pun berusaha berkata jujur.
"Farel sekarang di rehab Bu! Farel tidak kuliah di sini lagi!" tutur Nila pelan dengan tergagap dan gemetaran.
Bu Laksmi langsung menarik tanganya terkejut, tatapanya pun tampak kosong dan redup.
"Rehab?" tanya Bu Laksi sangat lemah dan lirih.
Nila sedikit kebingungan, tapi dia harus ceritakan. Nila pun mulai merangkai ceritanya, mulai dari Nila berjalan menyusuri lorong laboratorium mini hospital, hingga Nila memergoki Farel, Nila berlari menghindar dan Nila berkelahi hingga Rendi menolongnya dan mereka bertemu Dion kakak Farel.
Bu Laksmi mendengarkan dengan seksama, tak sejengkal pun Bu Laksmi berpindah. Mata Bu Laksmi pun nanar, dan tanganya mengepal.
"Saya tidak sengaja menyakitinya dan membuat Farel begitu Bu. Saya juga tidak bermaksud melaporkan Farel. Saya sudah berusaha menghindar tapi Farel menyakiti saya Bu. Maaf kan saya!" lirih Nila terisak memohon maaf pada Ibu Farel.
Sayangnya Bu Laksmi tak menatap Nila, kedua bola matanya menerawang jauh dengan tergenangi air mata. Mulutnya meracau tak menanggapi Nila.
"Laksana. Kamu benar- benar biadap. Kamu membuatku putraku menjadi monster. Tidak puas kamu hanya menghancurkanku dan membuangku. Tapi kenapa kamu juga hancurkan putraku!" racau Bu Laksmi dengan mengeratkan rahangnya penuh amarah, bahkan tanganya mencengkeram pahanya sendiri.
Hingga Nila tang tadinya takut bertambah takut dan kaget.
"Bu...," panggil Nila ragu.
__ADS_1
"Dimana tempat anakku direhab, Nak? Ibu ingin kesana!" tutur Bu Laksmi bertanya.
Nila tambah gelagapan, Nila kan tidak tahu.
"Ehm.. Nila. Nila tidak tahu. Tapi suami Nila kenal dengan Kakaknya Farel. Apa Nila tanyakan dulu ke suami Nila?" jawab Nila menawarkan.
Bu Laksmi menyeka air matanya.
"Dion yang merawatnya?" tanya Bu Laksmi lagi bukanya menjawab pertanyaan Nila malah bertanya hal lain.
"Malam itu, yang datang untuk jenguk dan urus Farel, kakaknya Bu. Dinikahan kami, Kak Dion juga datang. Tapi saya tidak sempat menanyakan dimana Farel dirawat!" jawab Nila lagi.
Bu Laksmi tampak menunduk sejenak.
"Ya sudah, kalau Farel bersama Dion. Terima kasih. Ibu pergi saja!" ucap Bu Laksmi lagi semakin membuat Nila tambah bingung
"Ibu mau pergi kemana? Ke rumah Kak Dion? Ibu tahu rumahnya?" tanya Nila.
Sayangnya Bu Laksmi malah menggelengkam kepala dan membuat Nila mengernyit pusing. Bu Laksmi sudah waras atau masih butuh dirawat? Tapi kata dokter RSJ, Bu Laksmi baik- baik saja.
"Ibu nggak tahu rumah Kak Dion? Nila antar yah? Kak Dion teman suami Nila!" tutur Nila.
Bu Laksmi kembali menggelengkan kepalanya.
"Maksud Ibu? empt terus Ibu?" tanya Nila tergagap benar- benar tidak mengerti.
Bu Laksmi kemudian tersenyum dengan tatapan sayunya.
"Terima kasih sudah menghentikan Farel dari kesesatan. Ibu tidak marah. Dia memang anak yang nakal. Tapi sebenarnya dia sangat kuat dan penyayang kok. Dia seperti itu pasti karena dia marah. Mendengar dia bersama Dion, Ibu sudah cukup. Ibu tenang. Ibu tidak perlu menemui mereka. Kalau pun ketemu. Tidak boleh sekarang!" ucap Bu Laksmi lagi.
Nila semakin spechless mendengarnya.
"Ibu malu bertemu mereka sekarang!" ucap Bu Laksmi lagi.
"Kok malu? Mereka kan anak Ibu?" tanya Nila lagi.
"Ibu memang yang melahirkan Farel. Tapi Ibu perempuan jahat yang sudah menghancurkan kebahagiaan Dion. Untuk apa Ibu dalam keadaan seperti ini menemui mereka. Setidaknya kalau menmui mereka, nanti ibu malah jadi beban untuk Dion. Ibu harus siap membawa Farel kalau mau menemui mereka!" tutur Bu Laksmi lagi.
Nila menelan ludahnya mencoba menelaah maksud Bu Laksmi. Mereka terdiam sejenak. Awalnya Nila bingung tapi sepersekian detik Nila mengerti.
Sepertinya, Bu Laksmi dulu juga seorang pelakor.
"Terus Ibu sekarang mau kemana?" tanya Nila kemudian.
"Ibu akan ikuti kemana kaki ibu melangkah!" jawab Bu Laksmu nfarang lagi.
"Ibu punya saudara? Ibu punya rumah?" tanya Nila.
Bu Laksmi kembali terdiam, seperti bingung. Tapi kemudian tersenyum.
"Dunia ini luas kan? Tidak harus punya rumah untuk bisa hidup dan tinggal kan?" jawab Bu Laksmi.
Nila sedikit ragu mengatakan, tapi Nila pun menebak, kalau Bu Laksmi akan nekad jadi gelandangan
"Maaf Bu. Maksud Nila. Kalau Ibu tidak punya tempat tujuan. Ijinkan Nila bantu ibu?" tutur Nila pelan
Bu Laksmi kembali tersenyum
__ADS_1
"Kamu sudah banyak membantuku Nak?"
"Maaf banget Bu. Maaf. Kebetulan saya butuh ART yang mau menginap. Ada sih ART tapi beliau punya anak dan cucu datangnya cuma siang. Barangkali Ibu mau. Nila ijin ke suami Nila!" ucap Nila lagi menawarkan dengan ragu. Nila tahu pasti sebelumnha Bu Laksmi cantik dan kaya.
Bu Laksmi tampak diam menunduk.
"Maaf, bukan saya melecehkan ibu dan tidak menghormati Ibu untum jadi ART," ucap Nila tergagap, "Atau kalau tidak. Ini, ibu hubungi kartu nama ini!" ucap Nila semangat tiba- tiba ingat sesuatu, Nila kemudian meraih tas dan mencari dompetnya lalu mengambil sebuah kartu nama, lalu menyerahkan ke Bu Laksmi.
"Ini Bu. Ini kartu nama asisten Ibu saya. Maaf. Keluarga saya punya yayasan sosial. Ibu saya juga punya wadah untuk bantu saudara yang butuh tempat tinggal dan bekerja. Orang ini akan bantu Ibu. Ibu di sana bisa bergabung dengan saudara yang lain membuat berbagai produk UMKM yang akan tim ibu saya pasarkan!" ucap Nila lagi dengan semangat.
Kali ini Bu Laksmi menerima kartu nama Nila.
"Katakan ibu teman Nila Gunawijaya. Atau ini saya catatkan nomer ponsel dan alamat rumah saya!" ucap Nila lagi merogoh tasnya
Bu Laksmi masih mengangguk menyimak.
Nika pun mencatatkan nomer ponsel dan alamat rumah Rendi.
"Atau kalau ibu mau. Kita tunggu suami Nila. Kita antar Bu!" ucap Nila lagi menawarkan.
"Terima kasih. Nak. Tidak usah buru- buru. Ibu akan pikirkan lagi ya. Ibu simpan alamat rumahmu dan yayasan ibumu!" jawab Bu Laksmi ternyata masih jual mahal.
Sepertinya Bu Laksmi memang bukan perempuan memelas. Nila yakin dulu Bu Laksmi juga perempuan cantik dan berpendidikan.
"Saya hanya mencoba membantu, hanya itu yang bisa Nila tawarkan. Maaf kalau menyinggung!" ucap Nila.
"Tidak apa- apa. Terima kasih ya. Ibu pamit!" ucap Bu Laksmi.
Nila pun tidak bisa mencegahnya dan membiarkan Bu Laksmi pergi.
Hingga tiba- tiba telepon Nila bergetar tanda ada pesan masuk.
"Sayang...," tertera pesan singkat dari suaminya.
"Nila di masjid Mas!"
"Pulang, Yuk!"
"Udah selesai?" tanya Nila.
"Belum. Mas pusing. Pengen peluk kamu. Pulang aja yuk!" ketik Rendi lagi
Nila kemudian mengernyit, aneh sekali suaminya kan gila kerja.
"Nah kalau belum selesai kenapa pulang? Nanti nggak selesai selesai lho!" jawab Nila.
"Pokoknya Mas pengen peluk!" jawab Rendi lagi semakin membuat Nila bingung.
Ini Rendi sedang mode manja atau sedang kena masalah dan butuh dukungan
"Mas ada masalah kah? Mas kenapa?" tanya Nila khawatir.
"Iya!" jawab Rendi lagi.
"Masalah apa? Besar gawat? Jangan sedih Mas. Pasti ada jalan keluarnya kok!" jawab Nila menenangkan
"Iya makanya ayo cepet pulang. Mas tunggu di parkiran!" ketik Rendi lagi.
__ADS_1
Nila kembali bingung.
"Masalah apa sih?" gumam Nila lalu buru- buru keluar tidak menunggu adzan Dzuhur.