Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Jangan Gengsi


__ADS_3

"Tes.....," satu air mata akhirnya menetes tanpa permisi ke pipi Nila, menggantikan bibir yang tak mampu tergerak banyak.


"Haish....," desis Rendi pening kepalanya mulai terasa. Rendi menelan ludahnya harus menyalakan otaknya. Rendi langsung meraih bahu Nila, harus sigap mencegah mood Nila memburuk.


"Sayang.. Dengerin Mas. Perempuan itu datang ke sini saat Mas pulang ke Abah. Mas nggak ketemu dan ketemunya sama Bu Situ. Kamu jangan salah paham ya," tutur Rendi lembut memberitahu dengan tulus.


Nila pun menyeka air matanya kemudian menatap Rendi dengan senyum terpaksanya.


"Baiklah. Nila nggak akan salah paham. Tapi siapa perempuan itu?" tanya Nila berusaha tenang dan berani.


"Vallen!" jawab Rendi jujur.


Nila pun menelan ludahnya, dan menyunggingkan senyum masamnya lagi.


"Oh!" jawab Nila kemudian menunduk seperti membuang sakit.


Walau terlihat masih kaku, Rendi lega, entah apa yang ada di hati dan pikiran Nila, setidaknya ini berarti Nila mulai berfikir dewasa san mengelola emosinya.


"Sudah kan... ayo masuk. Jangan di sini. Sebentar lagi maghrib kan?" tutur Rendi mengajak Nila.


Nila pun mengangguk, mengikuti ajakan Rendi, membawa tas punggung beratnya menuju ke kamar Rendi. Rendi berjalan dingin lebih depan.


Nila sedikit mencebik berharap Rendi peka, seperti Adip dan Baba yang tidak membiarkan istrinya kesusahan. Kenapa Rendi tidak. Walau sudah sempat tersenyum, Nila kembali menunduk cemberut.


Sementara Rendi tidak peka ke Nila karena matanya fokus ke kamar Abah dan Ummi. Begitu masuk kamarnya langsung tertutup. Bahkan Rendi senyum- senyum.


batin Rendi senang.


"Nggak apa- apa Nila tidur sama Ummi, tapi aku yakin, Ummi juga kan butuh mandi, istirahat, sholat dan Abah Ummi juga dzikirnya lama kan? Dan sekarang waktunya Nila bersamaku," gumam Rendi dalam hati otak prianya datang.


Saking senangnya, Rendi jadi tidak memikirkan Nila, dan berlenggang santai masuk ke kamar.


“Ih…bruk…,” karena marah sesampainya di kamar, Nila meletakan tasnya kasar, di samping bed, sampai Rendi kaget dan menoleh.


“Kok naruh tasnya kasar? Kan ada laptopnya? Taruh di meja juga jangan di bawah gitu!” ucap Rendi sembari melepas kemejanya.


“Laptop kecil kok,” jawab Nila sembari cemberut, lalu duduk di tepi bed dan menggerakan bahunya memberi isyarat pegal.

__ADS_1


Akan tetapi Rendi masih belum peka, malah di otak Rendi timbul pikiran lain sesuai maunya.


“Kamu tadi belum jadi mandi kan?” tanya Rendi malah mengedikkan matanya.


Ya, saat chattingan tadi, tidak menjawab pertanyaan Nila, Rendi memang yang langsung menyuruh Nila siap- siap ikut pulang ke rumah.


“Kenapa?” jawab Nila balik bertanya dengan menyipitkan matanya.


Rendi pun mengembangkan senyum, lalu mendekat ke Nila duduk di sampingnya.


“Ehm…,” dehem Nila yang sedang merajuk jadi curiga dan salah tingkah.


“Sunnah lho, suami istri mandi Bersama, mandi yuk!” bisik Rendi lembut.


“Gleg…,” Nila yang tadinya marah mendadak merinding, tapi tetap saja, sisa keturunan ego Baba Buna masih ada, Nila kan masih dongkol.


“Mas mandi dulu aja! Nila, ada sedikit tugas yang harus segera dikumpulkan malam ini, Nila mau buka laptop dulu, kalau udah sama Ummi pasti nggak sempat.” Jawab Nila beralasan.


“Hh...Tugas apa sih?” tanya Rendi sedikit kesal. “Ummi pasti kasih waktu dan ijin kok, kerjain nanti aja? Kalau nggak sini Mas yang kerjain!” ucap Rendi menyepelekan.


“Nggak! Ini kan tugas Nila! Oh iya, Nila mau tatain baju juga, dimana Nila taruh baju- baju Nila?” jawab Nila manyun- manyun.


“Nggak! Nila natain sendiri!”


“Hmm…,”


“Ya udah kalau Nila nggak boleh natain, biar aja di tas terus!” ucap Nila lagi semakin memperlihatkan dirinya merajuk.


“Ck… kenapa sih kalau bareng sama mas, hawanya marah sama nangis terus?” ucap Rendi akhirnya meluapkan kebingungannya.


“Nggak? Siapa juga yang nangis dan marah terus? Nila nggak marah kok,” jawab Nila mengelak.


“Ya kalau nggak marah, jangan jutek sama nada tinggi gini lho, sama Ummi dan Abah juga bisa lembut kan?” protes Rendi lagi.


“Mas, Nila cuma tanya, ini udah mau maghrib lho, dimana Nila taruh baju? Mas kalau mau mandi mandi aja? Mas kan yang bikin marah,” jawab Nila lagi masih dengan suara ambekan meski tidak mau ngaku kalau hatinya sedang dongkol bertubi- tubi.


“Itu lemari kosong, baju Mas dikit kok,” ucap Rendi menunjukan tempat menaruh pakaian.

__ADS_1


“Hhh… kalau daritadi jawabnya gini kan enak, siapa juga yang marah,” gerutu Nila sembari membuka tas punggung yang berisi laptop kecil dan pakaian. Nila mengeluarkan laptopnya, mulutnya masih manyun, lalu bangun menuju lemari yang ditunjukan Rendi.


Bukanya mandi Rendi malah bersedekap memperhatikan gerak- gerik Nila yang terlihat sekali seperti kesal, Nila berjalan dan memasukan pakaianya yang baru sedikit ke lemari Rendi. Saat sudah selesai dan berbalik melihat Rendi malah bersedekap menatapnya, Nila pun kaget dan salah tingkah lagi.


“Kok masih berdiri? Sana mandi!” ucap Nila lagi.


Disuruh Nila mandi, Rendi malah mendekat ke Nila dan membuat Nila sedikit tergagap dan mundur hingga mentok ke lemari.


“Kamu masih cemburu masalah Vallen?” tanya Rendi


“Nggak!” jawab Nila cepat dan menggelengkan kepala.


“Nggak usah gengsi kalau memang cemburu, katakana saja!”


“Nggak kok,” jawab Nila semakin tergagap.


“Ada apa sih? Hh? Waktu telpon tadi belum jadi cerita kan?” tanya Rendi lagi, menanyakan ucapan Nila yang tadi ingin curhat, hanya saja, sikap Rendi bukan sikap suami yang sedang ingin mendengarkan, tapi lebih seperti singa yang ingin menerkam.


“Ceritanya nanti saja, sana Mas mandi dulu, Nila mau kirim email, sebentar!” jawab Nila.


“Yakin mau buka email?” tanya Rendi semakin tajam menatap Nila.


“Ehm…, apa sih Mas?” dehem Nila salah tingkah, dan mencoba menghindar dengan tangan menyibak Rendi dan melangkah hendak menjauh.


Sayangnya tangan Rendi lebih kuat dan lebih cepat, meraih tangan Nila dan membuatnya berbalik hingga hamper terjatuh ke dekapanya.


“Gleg!” Nila pun tergagap kaget.


Dan, Rendi tidak menyiakan kesempatan, tepat saat Nila di depanya, tangan Rendi tergerak meraih dagunya, dan untuk kesekian kalinya, Rendi menyesap mulut manis Nila. Hanya saja, kali ini, untik Nila terasa berbeda.


Sesapan Rendi terasa lebih kuat dan liar, heranya Nila menyukai hal itu. Entahlah setiap gerakanya seperti membawa listrik yang menebarkan aliran hangat dan membuat sekujur tubuh Nila seperti hamper melayang. Nila juga tergerak dan tertuntun mengimbangi Rendi. Bahkan Nila tidak menyadari kala tangan Rendi sudah berkelana jauh.


“Mas,” pekik Nila sedikit ngos- ngosan saat Rendi melepaskan bibirnya namun tanganya.


Bukanya menjawab, tangan Rendi malah tergerak merengkuh Nila dan menggendongnya. Nila sedikit kaget, namun tubuh kecilnya tidak kuasa menolak.


“Brug…,”

__ADS_1


Kini Nila terbaring di atas bed Rendi.


"Dibuka ya jilbabnya...," tutur Rendi lembut tanganya tergerak meraih peniti jilbab Nila dan melepas hijab Nila.


__ADS_2