
"Tidak usah memanipulasi apapun, aku juga tidak akan minta maaf. Sudah, jalani saja sesuai yang ada. Dan aku tidak pernah menyesal dengan apa yang terjadi. Jika saja tidak ada dosa, membunuhnya pun aku tidak menyesal. Dia sudah membawa barang haram ke kampus, tidak sopan terhadap senior dan pengajar. Diingatkan tidak mau. Dia hampir membunuh istriku"
"Aku akan hadapi persidangan. Aku hanya memberinya pelajaran. Dia masih hidup bahkan sekarang dia sehat dan selamat. Aku hanya memberinya pelajaran agar dia tak semena- mena!" tutur Rendi dengan sangat mantap dan teguh pendirian.
Baba, Bang Adip juga Syamsul dan Fahri beserta Fatma dan Aisyah menjenguk Rendi membawa pengacara. Pengacara pun memberitahu Rendi agar melakukan konferensi pers. Juga melakukan cara- cara agar nanti dia bisa diringankan.
Foto- foto yang diambil oleh rekan Farel merujuk, Rendi yang salah. Tak ada bukti Farel hendak mencelakai Nila. Jadi polisi dan semua orang berhasil termakan omongan komplotan Bu Melly. Kalau Rendi termakan cemburu saat melihat Farel dan Nila mengobrol.
Narasi dibuat kalau Farel yang dipanggil Nila. Farel adalah teman sekelas Nila. Dan mereka kenal sebelum kuliah di kelas yang sama.
Baba dan Pengacara juga keluarga Rendi putus asa. Mereka harus berfikir keras. Bukti Rendi benar tidak kuat. Rendi bisa kalah. Tapi kenapa Rendi tidak gundah sama sekali.
"Tapi bagaimana dengan karir kakak? Kakak bisa dipenjara!" jawab Fatma cepat.
"Rejeki itu dari Alloh. Bukan hanya dari kampus! Ini hanya penjara dunia kan? Kakak masih baik- baik saja!" jawab Rendi lagi sama sekali tidak takut dan khawatir.
Padahal Fatma dan keluarga yang lain sangat sedih. Terlebih Baba. Baba langsung mengeratkan rahangnya sangat geram ke menantunya ini.
"Sombong sekali!" desis Baba. "Lalu kamu membiarkan anakku kesepian dan menangis? Sementara kamu menjadi tahanan di sini? Ingat janjimu padaku. Apa konsekuensinya jika anakku menderita bersamamu? Apa kamu tidak memikirkan istrimu? Hah! Apa susahnya mengikuti saran pengacara!" omel Baba kesal.
"Iya Kak. Dengarkan kata Ayah mertuamu. Ini demi kakak!" sambung Aisyah menyahut.
Rendi tampak menunduk dan menghela nafasnya. Lalu menatap Baba dan Keluarga yang lain.
"Ini bukti cinta saya untuk Nila, Ba. Saya percaya Nila akan mengerti ini. Abah selalu berpesan. Kita tidak boleh takut apapun asal kita benar. Saya tidak akan membuat pernyataan apapun atau memohon belas kasihan ke keluarga Farel. Mereka yang harus berterima kasih pada saya!" jawab Rendi kekeh.
"Haishh... Keras kepala sekali kamu!" omel Baba marah.
Rendi hanya menunduk.
"Maafkan saya Ba. Cinta tidak harus selalu membersamainya terus menerus Ba. Rendi percaya, 3 tahun saja Nila bahagia tanpa Rendi. Apalagi seperti sekarang. Nila pasti kuat. Kita akan hadapi ini!" jawab Rendi lagi.
Bukan hanya Baba, tapi semua terdiam tapi semuanya geram ke Rendi. Mereka ingin membantu Rendi tapi Rendi malah ngeyel dan idealis.
"Ya sudahlah terserah kamu!" jawab Baba marah lalu berbalik pergi. Adip hanya menepuk bahu Rendi sembari memberi kode. Kalau dia tetap dukung dan akan bantu Rendi. Tapi Adip harus menenangkan Baba dulu.
Sementara keluarga Rendi hanya menunduk lesu. Mereka tetap stay sampai diusir polisi.
"Abah dan Umi titip ini buat Kakak. Kita nggak bisa ngapa- ngapain lagi kalau kakak udah begini. Kita ingin bantu Kakak. Apa yang bisa kita bantu?" tawar Fatma.
"Iya. Kak. Dimana tempat mahasiswa Kakak itu dirawat dan dites urin? Siapa yang video kakak? Biar kita cari!" sambung Fahri.
"Kalian kembalilah ke bambu teduh. Dan lakukan kewajiban kalian. Jaga Umi dan Abah. Santai aja. Biar polisi yang kerja!" jawab Rendi lagi.
"Kakak kok gitu? Kakak nggak kangen sama Ning Nila?" tanya Aisyah.
"Oh iya. Kenapa baru ingat tolong telponin!" ucap Rendi.
Ya. Karena khawatir dan marah sejak kemarin Baba lupa menyambungkan telepon ke Buna agar Nila dan Rendi video call.
__ADS_1
Aisyah pun cepat- cepat ambil telepon. Sayangnya belum sempat tersambung polisi sudah datang. Rendi sudah diberi keistimewaan dijenguk bersamaan. Sekarang habis waktu jenguknya.
Mereka semua pun harus menelan kekecewaan dan mau tidak mau pergi.
Baba marah, Fatma dan Aisyah jadi canggung mau mendekatinya dan bertanya. Saat mereka menelpon Nila. Telepon Nila ternyata tidak aktif.
"Ya sudah kita ke hotel saja! Mungkin besok Ning Nila bisa kita hubungi dan Pak Ardi reda marahnya!" ucap Syamsul.
Mereka pun meninggalkan kantor polisi.
****
Baba tidak mampu meredam emosinya dia pun tidak sanggup bertemu Buna dan Nila. Baba memilih pergi ke salah satu kafenya untuk menenangkan diri.
Baba tidak menyangka, di dunia ini ada orang begitu kaku terhadap prinsip hidup melebihi dirinya dan itu adalah menantunya.
"Keras kepala sekali si Rendi itu. Bergaya tidak apa- apa dipenjara. Bukti semua memberatkan dia. Sulit dia berkelit. Bodoh. Pengacara kan hanya membantunya. Tapi malah sok sokan!" omel Baba bicara sendiri.
"Aku tidak peduli dia dipenjara atau bahkan dibuang kelaut. Aku hanya tidak mau putriku menangis dan terluka mencarinya. Oh ya Tuhan. Bodoh sekali aku kenapa aku menjodohkanya dengan Putriku! Kenapa dia selalu mendatangkan masalah. Kasian Nila!" sambung Baba lagi tak peduli tak ada yang menjawabnya, Baba terus bergumam.
Penyesalan Baba menjodohkan Nila kembali datang. Ya, awal semua masalah keluarga Baba dengan Rendi kan Baba yang bawa.
Bang Adip sang menantu menunduk sedikit tersindir. Kalau bukan kehadiranya yang membuat perjodohan Jingga dan Rendi batal kan juga dia. Tapi kan ini takdir.
"Kenapa Nila bisa jatuh cinta ke dia. Benar kata Jingga. Seharusnya pernikahan mereka diakhiri saja. Nila tidak akan menemui masalah begini," Baba masih belum puas marahnya.
"Ehm...," kali ini Adip berdehem, ingin menyela.
"Hmmm," jawab Baba menurun emosinya.
Saat ini menantu kesayanganya kan Bang Adip. Lebih kaya dari Rendi, lebih muda, punya usaha juga menjadi pejabat negara walau orang tuanya sudah tiada. Adip juga tak pernah membuat masalah dan terus memanjakan Jingga bahkan memberinya cucu yang tampan.
"Kenapa kamu minta maaf? Katakan apa pendapatmu? Apa yang harus kita lakukan?" jawab Baba
"Pak Rendi kan masih jadi tahanan sementara. Persidangan dan putusan juga belum terjadi. Kepercayaan Pak Rendi mungkin ada benarnya, Ba. Kita tidak perlu meminta maaf atau membuat pernyataan yang tidak Pak Rendi yakini. Lebih baik kita cari bukti dan pendukung agar Pak Rendi terbukti benar!" usul Bang Adip berfikir dingin.
Ya, walau Pak Rendi hampir menikahi Jingga, dan istrinya benci Pak Rendi. Tapi Adip berpihak pada Rendi.
Baba terdiam. Mereka berdua pun berfikir sejenak.
Sepersekian detik, Baba mencerna omongan Adip.
"Bukti dan pendukung seperti apa maksudmu. Nak?"
"Bisa dari pernyataan Nila!"
"Aku tidak mau Nila ikut- ikutan. Aku tidak mau Nila terluka. Pemberitaan tentangnya juga harus diredakan? Nila pasti sedih mendengar semua ini! Dia masih terlalu kecil aku tidak mau mentalnya tergoncang!" jawab Baba keras dan merasa Nila masih putri kecilnya yang polos
"Nila sudah dewasa dan sudah menikah Ba. Nila adalah saksi kunci yang ada di sana! Ini masalah mereka!" jawab Adip lagi menyanggah.
__ADS_1
Baba terdiam. Lalu melirik ke Rendi
"Apa maksudmu, kamu tidak memikirkan kebahagiaan adikmu? Nila masih kecil!" jawab Baba.
"Maaf Ba. Tapi kenyataanya Nila ada di sana. Sebaiknya kita pulang. Kita tanya Nila. Sebelum persidangan kita harus punya bukti pembelaan! Meminta Nila melupakan Pak Rendi atau berpisah bukan solusi. Itu justru akan menyakitinya. Masalah harus diselesaikan Ba. Apalagi kita tahu persis Pak Rendi ada di jalan yang benar!" jawab Adip lagi.
Kali ini Baba terdiam, masih belum mengiyakan tapi juga belum menolak. Baba terlihat berfikir. Baba sangat khawatir Nila depresi dan jatuh mentalnya saat tahu dirinya jadi trending topik.
Baba sudah tua jadi tidak bisa berfikir jernih. Dipikiran Baba hany tidak ingin Nila sedih berlarut- larut. Baba ingin cara pintas. Klarifikasi minta maaf, berdamai dan membayar tebusan.
Tapi masalahnya, lawan Baba ternyata lebih licik dan Rendi ternyata idealis.
"Kita juga harus tahu seluk beluk dan kelemahan lawan kita, Ba!" sambung Adip lagi.
Seketika itu Baba langsung mengangkat wajahnya menatap Adip.
"Baba akan pertimbangkan saranmu!" jawab Baba.
Adip hanya mengangguk, setidaknya walau belum diiyakan, Adip sudah memperingatkan Baba. Pak Rendi dan Nila sudah menikah, berhentilah membahas perceraian, tapi hadapi masalah yang ada.
*****
Di rumah,
Buna melakukan amanat Baba, menjaga Nila tidak membuka ponsel dan melihat televisi.
Tapi Nila bukan anak bayi lagi seperti yang Baba dan Buna anggap sebelumnya. Nila pun terus protes.
"Bun... Kok Baba nggak telpon- telepon sih? Apa Mas Rendi nggak bisa dijenguk. Nila mau ke kantor polisi!" rengek Nila terus bertamya
"Sabar, Nak. Tunggu dulu ya. Kamu belum sembuh. Istirahatlah. Baba sudah urus semuanya!" jawab Buna
Nila langsung cemberut
"Ponsel Nila mana?"
"Kan jatuh dan rusak pas kamu kecelakaan!"
"Ck...," decak Nila.
"Kenapa memangnya? Kamu mau hubungi siapa? Sudah kamu istirahat saja!"
"Nila ingin telepon teman- teman Nila. Nila juga ingin menelpon Ummi dan saudara Nila Bun!" jawab Nila.
Buna sebenarnya tahu betul anaknya pasti bosan dan butuh komunikasi. Tapi kan pesan Baba jangan sampai Nila jadi syok dan sedih membaca komentar dan tuduhan jahat untuknya dan suaminya.
"Nanti kalau kamu sudah sembuh. Kita beli ponsel ya. Sekarang makan dan istirahat!"
"Bun.. Buna kenapa sih? Nila sehat!"
__ADS_1
"Tapi, Nak?"
"Tau ah Buna aneh" jawab Nila jadi ngambek. Nila kemudian meninggalkan Bunanya dan turun menemui adik- adiknya.