Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Aksara Pradipta Wirajaya


__ADS_3

“Baba...,” pekik Nila kaget melihat Babanya bersedekap menampakan wajah muramnya.


Sementara Fatma langsung menundukan kepala.


“Yakin kamu sendirian ke sini?” tanya Baba menelisik ke Fatma.


Dengan menahan tegang dan gemetar, Fatma mengangguk, akan tetapi Baba masih memasang raut curiga dan malah mengangkat wajahnya. "Hh..," decak Baba dengan pembawaanya yang membuat semua orang segan.


“Rudi...,” Baba malah memanggil salah satu karyawannya, dan secepat kilat Pak Rudi datang.


Nila pun mengernyitkan dahinya, mengira Babanya akan mengusir Fatma, teman rasa saudaranya selama di pesantren. Fatma pun memejamkan matanya menahan tangis sembari memilin jarinya. Baba memanggil satpam, apakah setelah ini dia akan diseret laksana penjahat yang datang.


Betapa hancur hati Fatma melihat kemarahan Baba, seakan celah memperbaiki hubungan bersama Nila seakan menjauh. Padahal Fatma berniat baik dan tulus menyayangi Nila. Fatma juga ingin mengupayakan yang terbaik untuk Ummi dan Abangnya.


“Baba...,” panggil Nila ke Babanya hendak menegur. “Baba ada apa sih? Kok panggil Pak Rudi?” tanya Nila lembut.


Sayangnya Baba tak mengindahkan Nila dan menyambut Pak Rudi yang sigap datang.


“Ya, Tuan!” jawab Pak Rudi.


“Cek cctv, dengan siapa, perempuan ini datang! Periksa ada siapa di luar pagar?” ucap Baba secara gamblang mencurigai Fatma.


Nila pun merasa tak enak hati pada Fatma, Nila kemudian mendekat ke Babanya.


“Baba... istighfar Ba... Kak Fatma ke sini sendirian,” tutur Nila lembut menenangkan Babanya.


“Dia adik laki- laki yang sudah mengelabuhi Baba dan berniat menyakitimu, laki- laki yang sudah merendahkan harga dirimu, ingat Nila!” ucap Baba marah.


Fatma tak bisa berkata sepatah pun, Fatma menunduk seperti tersangka, meski Fatma tahu apa yang dikatakan Baba benar. Nila pun menolehnya kasian.


“Tapi Kak Fatma bukan Pak Rendi, Ba..., Kak Fatma teman Nila, Kak Fatma selalu baik ke Nila. Nila baik- baik aja Ba..” tutur Nila menjelaskan ke Babanya.


“Tetap saja kita tidak tahu apa maksud kedatangganya ke sini, kamu jangan terlalu baik jadi orang, selesaikan urusan kalian sekarang. Kamu masuk, dan kamu!” ucap Baba menoleh ke Fatma. “Tinggalkan rumah ini, dan jangan kembali!” ucap Baba tegas mengusir Fatma dan membatasi Fatma.


“Baba..., ngusir tamu nggak baik Ba.." tegur Nila lagi.


Fatma pun hanya bisa mengepalkan tangan menerima semua perlakuan Baba. Fatma sekarang mengerti kenapa Rendi tak ada pergerakan, mundur dan terlihat kacau.


Belum Baba menjawab, Pak Rudi datang melapor.


“Mbak ini datang sendirian Tuan, tidak ada yang mengantar! Di luar juga tidak ada mobil!” tutur Pak Rudi melapor.


“Ehm...,” Baba langsung berdehem tengsin ternyata dugaanya salah.


"Tuh kan Ba...," ucap Nila lagi.


“Maaf Pak Ardi," sela Fatma memberanikan diri. "Saya... saya... saya kesini untuk memberikan hadiah untuk Putra dokter Jingga, Pak Ardi. Saya ke Ibukota, karena suami saya sedang mengikuti pertemuan undangan dari kementrian!” tutur Fatma menjelaaskan.


Walau gemetaran dan merasa hancur direndahkan Baba, Fatma yang menyadari kesalahan kakaknya, tak gentar. Begitu ada celah, Fatma maju menjelaskan keadaannya agar Baba bisa berbaik sangka dan menerimanya.


“Tuh kan Ba... jangan suudzon ya Ba. Nila kangen Kak Fatma, ijinkan Kak Fatma masuk dan temui Kak Jingga ya Ba...,” pinta Nila kemudian.


“Hmmm...,” Baba berdehem, tengsin mengatakan ya, tapi tidak menolak, Baba hanya melirik ke Buna lalu menatap Fatma lagi. “Jangan racuni putriku! Awas kamu!” ucap Baba sinis. Lalu berjalan mengajak Buna masuk.


Fatma dan Nila hanya menelan ludahnya lalu saling pandang setelah Baba pergi. Nila pun tersenyum.


“Maafin Babaku ya. Baba sayang banget ke Nila, jadi begitu, Kak!” bisik Nila ke Fatma.

__ADS_1


“Aku tahu kok. Aku kenal Pak Ardi sejak sering ke Pesantren. Pak Ardi orang yang berhati sangat baik walau pembawaanya begitu. Abangku yang salah dan kurang ajar. Maafin, Bang Rendi ya...,” ucap Fatma merendahkan diri dan mengakui kesalahanya.


Nila hanya menarik ke dua sudut bibirnya mendengar kata Rendi, lalu mengajak Fatma masuk.


“Ayo temui Kak Jingga dan Babynya Kara yuk!”


“Oh ya siapa nama babnya?” tanya Fatma.


“Namanya Aksara Pradipta Wirajaya, Bang Adip yang kasih nama,” ucap Nila bercerita dan memberitahu.


“Wah... bagus ya... pasti seneng ya, punya ponakan,” ucap Fatma memulai modusnya.


“Iyah seneng banget, Babynya lucu,” jawab Nila.


“Ehm.. iyah. Kapan ya, keluarga Umi ada Baby juga, pasti seru!” ucap Fatma lagi memancing, kalau Fatma juga ingin Kakaknya segera berumah tangga dengan baik dan mempunyai Baby.


Sayangnya Nila tidak peka dan Nila justru berbaik sangka mengira Fatma ingin punya Baby.


“Sabar ya Kak, Nila doain, Alloh segera kasih amanah buat kak Fatma, Kak Fatma jadi udah sampai apa tesisnya?” tutur Nila bertanya.


“He... aku mah santai. Baru mulai, tapi apapun itu makasih ya...,” jawab Fatma tersenyum. Kenapa Nila tidak paham dengan kodenya.


Mereka berdua pun masuk menemui Jingga dan menyampaikan kadonya, Jingga dan Adip pun menyambutnya dengan ramah akan tetapi tidak berselang lama, Baby Aksara menangis lagi sehingga Fatma tidak lama bermain dengan bayi Jingga, karena Jingga meminta ijin untuk menyuusui ke dalam.


Kini pun tinggal Nila dan Fatma.


Nila kemudian meminta asisten rumah tangga mereka memberikan minuman dan makanan untuk tamunya. Nila juga tidak ragu mengajak Fatma mengobrol bahkan menanyakan kabar Ummi dan Abi juga teman- teman pesantren yang masih mengabdi di dhalem, bahkan beberapa ada yang mengabdikan ilmunya mengajar.


“Ummi sakit, Ummi titip salam buat kamu!” ucap Fatma lembut.


“Sakit apa Kak?” tanya Nila peduli.


Fatma kemudian mengambil tangan Nila dan menggenggamnya.


“Kamu masih mau kan sahabatan sama aku dan anggap Ummi keluarga, walau Bang Rendi udah sakitin kamu?” tanya Fatma lembut.


Nila pun membalas menggenggam tangan Fatma, menatapnya hangat dan mengangguk.


“Tentu saja, nyatanya sekarang kita bersama kan? Ummi sakit apa?” jawab Nila.


“Ummi kangen kamu. Aku tahu, Bang Rendi salah, dia sudah bohong ke kita semua, dia sudah mencederai kepercayaan kita kenapa dia sampai mempunyai hati seperti itu. Pasti lelah menjadi kamu, yang tidak pernah dianggap keberadaanya, entah apa yang membuat Bang Rendi begitu. Aku juga tidak berharap banyak tentang Bang Rendi, tapi kami selalu anggap kamu ada. Kamu tetap jadi keluarga untuk kami, kamu tahu kan, kami sayang ke kamu?” ucap Fatma lagi.


“Iya... Nila ngerti kok, Nila juga tetap sayang ke kalian. Maaf ya... bisa kan nggak usah bahas, Pak Rendi yah!” ucap Nila kemudian.


“Boleh nggak Fatma minta tolong?"


"Ya... apa?"


"Fatma minta, jangan putus akses Ummi dan Abi ya... juga nomerku yang lama, itu kemarin nomor baruku, ” ucap Fatma lagi melangkah perlahan masuk ke step modusnya.


Nila yang lugu pun mengangguk, dia baru ingat, Baba memutus semua akses komunikasi ke keluarga Rendi.


“Entah apa yang membuat Bang Rendi begitu, tapi Abangku yang aku kenal tak sejahat itu kok. Fatma yakin ada hal yang membuatnya begitu. Fatma juga meminta sama Alloh, agar Bang Rendi belajar dan memperbaiki diri, aku harap. Walau persaudaraan kita tak berakhir baik, tapi pertemanan kekeluargaan dan hubungan kita tetap baik, Nila!” ucap Fatma lagi walau sudah diingatkan jangan bahas Rendi tetap bahas Rendi.


"Aamiin Kak," jawab Nila tersenyum masam saat Fatma membahas Rendi.


"Kita tetap keluarga yah!" ucap Fatma lagi.

__ADS_1


“Iyah... aku juga ingin begitu, nanti deh aku buka blokir Ummi, dan nomer Kak Fatma yang satunya! Aku akan hubungi Ummi lagi,” jawab Nila.


Fatma pun tersenyum senang, “Makasih banget ya... ya udah bahas yang lain ya. katanya jangan Bahas Bang Rendi!” jawab Fatma mengalihkan pembicaraan.


Nila mengangguk setuju.


Mereka kemudian mengobrol membahas perubahan pesantren, termasuk perubahan pengurus pondok Putri, kejadian - kejadian seru baru- baru ini dan sebagainya. Saat Baba turun dan menguping, melihat mereka berdua benar- benar bernostalgia, Baba tidak mempermasalahkannya.


“Kayaknya udah mau maghrib, nggak kerasa ya, aku pulang ya,” tutur Fatma.


“Yah belum sembuh kangenya Kak. Kakak pulang kemana?” tanya Nila.


Fatma celingak celinguk melihat ada Baba atau tidak.


“Sementara suami Kak Fatma masih acara, Fatma menginap di rumah Bang Rendi,” bisik Fatma menjawab.


“Ehm...,” Nila langsung berdehem tidak nyaman. Ingatannya langsung tertuju di rumah besar yang pernah dia singgahi malam itu.


“Tapi ya gitu, dia sibuk terus aku sendirian di rumah, bosen, kamu kapan mulai kuliah?” tanya Fatma lagi mulai modus lagi. ‘


“Lusa pengumuman resmi, Kak!” jawab Fatma.


“Kalau gitu, main yuk, pumpung belum sibuk. Ajak aku kemana gitu? Apa ke rumah juga boleh!” sahut Fatma lagi semakin berani bermodus.


Nila diam sejenak sembari mengusap tengkuknya. Jangankan ke rumah Rendi, main saja harus sepengetahuan Baba.


“Aku liat di tivi di dekat sini ada penjual bakso yang terkenal, kamu udah nyoba? Ke situ yuk!” rayu Fatma lagi menyela.


“Aku ijin Baba dulu ya Kak!” jawab Nila.


“Oke.. kabari lewat whastap ya!” ucap Fatma.


“Ya!” jawab Nila.


Fatma pun tersenyum senang dan berpamitan. Baba dan Buna sempat menaanyakan bagaiamana Fatma pulang, Fatma menjawab memesan taksi online.


Walau sebenarnya Fatma memesan taksi online hanya sampai di pusat berbelanjaan dekat rumah Baba. Dan di sana, Fatma bertemu dengan Rendi.


“Gimana ?” tanya Rendi sesampainya di sebuah foodcart di pusat perbelanjaan.


“Pokoknya Bang Rendi harus nemuin Nila. Titik! Kalau sekiranya di kampus tidak bisa, Bang Rendi harus dukung dan ikuti rencanaku!” ucap Fatma semangat dan menggebu.


“Hmmm... ya” jawab Rendi malas. tunduk pada adiknya yang berfikir jauh lebih dewasa.


Mereka berdua kemudian makan di sana.


****


“Haish.... susah baget sih nyari identitas anak itu, nggak ada aku dapat fotonya satupun!” gumam seorang pemuda di depan laptop mahalnya.


Setiap detik dan waktu Farel terusik memikirkan Nila yang sudah mengalahkannya. Farel jadi semakin penasaran tatkala informasi tentang Nila seakan tertutup.


“Hhh...ck, lama banget sih mulai kuliahnya,” gumam Farel tidak sabar segera pengumuman resmi dan perkuliahan dimulai.


Farel kemudian melihat kalender akademik mereka..


"Coba main ke komplek rumahnya ah?" gumam Farel mempunyai ide.

__ADS_1


__ADS_2