Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Ajakan Rendi


__ADS_3

Bagai malam yang terusir fajar, kegelapan menyusut, berganti cahaya, hingga burung- burung yang mengikat sayapnya terpaksa melepas belenggu, mengepak terbang, meneguk dinginya pagi.


Segala ego, tinggi hati, gundah gulana dan segala keraguan bahkan harga diri, Rendi simpan dalam, bersama perginya malam. Sekarang fajar sudah datang, yang entah, akankah nanti kembali datang mendung atau matahari terus bersinar membersamai harinya.


Walau tanpa mengeja dan menata kata, Rendi melepaskan semua kegelian yang sebelumnya dia bayangkan, merendahkan diri pada gadis belia nan kecil yang sudah membuatnya gila dan sesak dalam penjara yang terbaca mata manusia.


“Kita harus bicara!” ucap Rendi mantap melafalkan kata kita, antara dirinya dengan gadis kecil yang dulu dia remehkan.


Sementara Nila, kata Kita yang dulu dia rindukan terdengar begitu menggelikan. Nila pun menarik sudut bibirnya sedikit, tapi focus kedua bola matanya ada pada tangan kekar yang dulu dia jadikan rumah, tempatnya berharap pahala keberkahan, namun kini berubah menjadi belennggu besi yang terasa sesak mencengkeram.


“Maaf Pak, bisa tolong lepaskan tangan saya. Saya harus pulang. Menyentuh sesuatu yang tidak halal untuk bapak, dosa lho Pak! Oh iya, bapak tadi katakan apa? Kita? Maaf Pak, saya rasa saya tidak ada keperluan dengan bapak!” jawab Nila sangat sopan dan sangat sengaja memilih diksi kata yang menegaskan jika di antara mereka ada jarak dan tidak ada hubungan apapun selain mahasiswi dan dosen atau santri dan Gusnya.


Sementara Rendi yang belum mengenal Nila dengan baik, yang hanya menerka berdasar usia dan selama ini merasa Nila yang mencintainya, gugurlah semua kepercayaan diri menjadi pria yang dipuja.


Rendi sedikit terhina dengan ucapan Nila. Dia pun melepaskan cekalan tanganya dari Nila, dan Nila menarik tanganya dengan cepat.


“Apa begini, caramu bersikap padaku?” Tanya Rendi lagi masih berharap Nila memperlakukanya seperti hari kemarin.


Rendi kira, seperti kisah cinta dalam romansa. Yang melarang bertemu dan memisahkan mereka adalah Baba. Sementara Nila yang kata Fatma dan kata buku diarinya akan bahagia bertemu dengan Rendi. Sayangnya ternyata Nila sekarang berbeda.


Mendengar pertanyaan Rendi, Nila yang tadinya enggan menatap Rendi secara spontan menoleh dan menatap Rendi dengan mengernyit.


“Maksud bapak apa?” tanya Nila.


“Ehm…,” Rendi berdehem dan gelagapan melihat sekeliling. Mereka berdua masih berdiri di tengah keramaian orang. Bahkan Fatma dan suaminya yang duduk ikut jadi penonton menunggu mereka kembali duduk.


Sifat angkuh dan gengsinya masih bersarang, rasanya berat mengungkapkan Nila kalau dia masih ingin dipanggil Mas, bukan bapak. Rendi juga berharap Nila welcome terhadapnya.


Karena Rendi tak menjawab, Nila pun segera menjawab sendiri pertanyaannya.


“Saya bersikap seperti ini terhadap semua laki- laki dan guru saya, apa aada koreksi atau salah dengan sikap saya Pak?” tutur Nila kemudian.


Rendi pun semakin tertusuk oleh perkataan Nila, Rendi benar- benar tidak mengerti. Nila yang dia bayangkan dari saat membaca buku diary Nila, yang dia sangka, adalah Nila yang manis, Nila menggilainya dan akan patuh dengan semua inginya dengan penuh kebucinan.


Tapi yang sekarang kenapa melebihi Jingga juteknya, terasa begitu halus lembut dan dekat tapi jauh untuk digapai. Rendi pun menghela nafasnya, yang terasa berat, seperti ada yang mendorong dan mengusir semua gengsinya, Rendi tertantang untuk terus menaakhlukan Nila, dan kembali menemukan sesosok Nila seperti tokoh yang dia baca dari buku Nila.


“Hhhh…, tidak ada!” jawab Rendi singkat.

__ADS_1


“Baiklah, kalau begitu, boleh saya pergi? Permisi!” jawab Nila berniat pergiengacuhkan Rendi.


Rendi pun semakin sakit dibuatnya dan semakin tidak terima ditinggalkan.


“Tunggu!” ucap Rendi menghadang langkah Nila lagi.


Nila pun berhenti dari pada harus bertabrakan.


Nila menundukan pandanganya tidak mau menatap. Nila memilih memejamkan sejenak dan menelan ludahnya sebagai obat menahan kesal dan meneguhkan hatinya agar tidak terpengaruh Rendi. Nila tidak peduli Fatma dan suaminya terus menatap mereka dengan penuh harap.


“Aku meminta waktumu, tolong ijinkan aku menjelaskan sesuatu, aku ingin bicara denganmu!” ucap Rendi akhirnya mengiba.


Nila kembali tersenyum.


“Maaf Pak, Bapak tahu kan? Saya seorang Putri dari seorang ayah, kewajiban saya adalah mematuhi dan menjaga ayah saya dari siksa atas dosa saya. Saya hanya akan bersedia menemui dan berbicara dengan seseorang atas ijinnya!” jawab Nila lagi dengan pelan tapi pasti.


Mendengarnya, Rendi pun mengeratkan rahangnya, baginya, kenaapa Nila jadi sangat sombong melebihnya. Padahal apa yang sedang mereka lakukan sekarang kan juga bertemu.


“Apa kamu lupa? Saat seorang gadis pada dirinya sudah diucapkan ijab qobul, dis adalah hak suaminya?” jawab Rendi memilih senjata untuk menangkis kata Nila.


“Haish…,” desis Rendi sekarang dibuat kesal.


“Apa Ummiku menjadikan santrinya yang lugu menjadi ahli debat sepertimu? Hah? Ayolah Nila, kenapa kita harus berdebat. Aku hanya minta waktu sebentar. Salah jika kita berdiri menghalangi orang jalan hanya untuk berdebat begini, duduklah ayo kita bicara!” jawab Rendi sedikit meninggi dan terpancing emosi.


Nila yang sedari tadi juga menahan diri dan bersikap menjadi orang lain sedikit tersentak dan tidak bisa bicara. Dan Rendi yang melihat itu tidak menyiakan kesempatan, untuk kedua kalinya, dia meraih tangan Nila tanpa permisi dan menyeretnya duduk di bangku terdekat walau tak satu meja dengan Fatma.


“Duduklah, jangan kamu bantah lagi, dengan alas an Babamu dan agama kita melarang kamu duduk berdua, di sini ada banyak orang dan kita tidak berdua!” ucap Rendi keluar sifat otoriternya dan sedikit menggertak.


Nila terpaksa patuh, namun tetap tak menatap, Nila kaget juga sadar dia malu jika membuat keributan di tempat umum.


Fatma dan suaminya pun lega, karena Nila dan Rendi sudah duduk. Bagi Fatma, tugasnya hanya mempertemukan mereka. Apakah mereka bisa berdamai dan rujuk atau tidak, itu terserah Tuhan dan menjalankan.


Dan di meja Rendi, kini dua insan beda usia dan beda jenis kelamin itu saling diam walau berhadapan.


Nila terus menunduk, semakin lama semakin terlihat keki dan canggung karenaa Rendi teruus menatapnya. Sampai- sampai Fatma yang menjadi satpamnya geregetan, kenapa, Rendi tak kunjung membuka pembicaraan.


Lama- lama, Nila yang berusaha bertahan dengan sikap acuhnya luntur, taganya mulai gatal jika haruss diam, tulang lehernya pun mulai kaku hingga terpaksa dia mengangkatnya dan tepat saat dia mendongak, mata Rendi tepat ada di depanya. Hingga Nila yang tadi berani menjadi bergetar gerogi ditatap terus menerus dalam jarak dekat, dia juga mau tidak mau membuka pembicaraan asal.

__ADS_1


“Apa bapak memaksaku duduk di sini hanya untuk bapak perhatikan begini? Kalau iya tolong ijinkan saya pulang!” ucap Nila kemudian.


Rendi yang sedari tadi memperhaatikan Nila dan entah apa yang ada di otaknya tersenyum mendengar pertanyaan Nila. Nila jadi keki dibuatnya.


“Kemarin kamu memanggilku Mas? Apa kamu tidak bisa memanggilku Mas lagi?” Tanya Rendi dengan nada yang jauh lebih lembut pelaan dan penuh kasih. Rendi mengambil jeda waktu diam ternyata sedang banyak mengolah rasa dan sekarangg semakin berani.


Tentu saja Nila langsung mendongak dan memicingkan matanya malu mendengar itu. “Ehm…,” dehem Nila tersipu, bingung mau jawab apa. Tapi hati dan otak Nila terus berkata, kenyataan mengetahui niat Rendi memperistrinya begitu buruk dan menyakitkan.


“Ayolah, tidak usah tegang dan malu!” ucap Rendi menyela lagi karena Nila diam.


“Maaf, Pak. Sepertinya Pak Rendi harus ingat. Hari saja antara senin dan selasa itu berbeda, begitupun kita!” jawab Nila dengan kiasan.


Nila terus mempertahankan keyakinan dan tekadnya mematuhi Baba dan melupakan Rendi.


Sayangnya Rendi tak mengindahkan perkataan Nila.


“Aku salah terhadapmu, aku minta maaf! Aku salah dalam niat awal menikahimu, aku minta maaf!” ucap Rendi menyampaikan maksudnya.


Nila mendengarnya sebenarnya hatinya cukup bergetar, Nila pun terdiam tidak menjawab.


Akan tetapi pertahanan Nila cukup kuat, hatinya terus berbisik, jangan goyah, dia tidak mencintaimu Nila. Ingat kata Baba dan Kak Jingga. Hingga Nila pun memilih menundukan wajahnya tidak mau menatap Rendi.


“Saya sudah memaafkan Pak Rendi!” jawab Nila singkat.


“Maaf juga karena aku sudah berbohong dari teman- temanku atas kamu dan mengabaikanmu, maaf karena aku sempat malu beristrikan kamu, dan aku menyesal atas semua itu!”


“Saya sudah maafkan Bapak!” jawab Nila lagi masih dingin.


Rendi pun terhenti bingung mau bicara apa lagi, tujuanya kan minta maaf, dan Nila pun menutup percakapan, sementara Rendi tak pandai berbosa- basi. Mereka pun kembali saling diam untuk sesaat Nila tak menatap hingga setelah lelah mereka kembali bertemu pandang.


“Sudah kan Pak? Saya harus pulang, permisi!” ucap Nila langsung beranjak bangun karena sudah tidak tahan dengan kecanggungan mereka.


“Ayo kita rujuk!” ucap Rendi cepat, padat dan singkat saat Nila bangun.


“Gleg!” Nila yang berdiri dan memundurkan kursi menjadi tersentak dan berhenti.


“Kita bercerai belum genap satu minggu kan? Aku bahkan tidak berniat menceraikanmu! Aku minta maaf, aku akan perbaiki semuanya! Ayo kita kembali menjadi suami istri. Kita mulai dari awal, kamu menyukaiku kan?” Tanya Rendi dengan gamblang dan lancar.

__ADS_1


__ADS_2