
“Celine?” pekik Nila kaget melihat wajah cantik yang ada di atasnya.
Celine tersenyum dengan bersedekap, bersandar ke tembok, tidak ada raut kasihan sama sekali.
“Hai..,” sapa Celine malah menyapa sinis Nila.
Nila menepuk kedua tanganya kemudian berusaha bangun dan membersihkan gamisnya yang terkena debu.
“Maaf, mungkin aku jalanya ngelamun jadi nabrak kamu?” tanya Nila tergagap merendah.
Walau hati Nila bisa merasakan ini kesengajaan dan Celine seperti ingin mencelakainya, tapi Nila bukan orang yang kasar dan emosian.
Akal Nila berusaha menampik semua kepekaan rasanya. Nila berusaha berpositif thingking, Celine baik kan? Celine bukan orang jahat.
Nila merasa Celine dan dirinya tidak pernah bersinggungan, mereka juga sekelas, bahkan tadi Nila ditolong Celine. Tidak terfikir dan Nila tidak siap terima kenyataan kalau Celine jahat terhadapnya. Jadi Nila berusaha menampik semua curiganya. Nila masih berharap dia yang salah. Walau berperang rasa, Nila menanyai Celine.
“Naif banget ya kamu?” jawab Celine ternyata tidak ingin menyembunyikan hatinya malah sinis ke Nila.
“Naif gimana? Oh ya, makasih ya, tadi di kelas kamu udah nolongin aku?” tanya Nila balik dan Nila malah ucapkan terima kasih.
“Masih ya perlu aku jelasin? Masih perlu makasih? Hebat banget ya aktingmu?” ucap. Celine sinis lagi.
Nila pun menelan ludahnya, sepertinya akalnya dan hatinya kali ini lebih bener hati Nila.
Nila diam, mengambil ancang- ancang menghadapi orang jahat, Nila pun terima kenyataan kalau dia sekarang punya musuh, Nila masih harus hati- hati dan memastikan apa yang membuat Celine begini, Nila harus tetap pelan dan sopan.
“Maaf aku nggak ngerti maksud kamu?” jawab Nila.
“Hooh nggak ngerti atau pura- pura nggak ngerti?” jawab Celine lagi memancing Nila.
“Aku sungguh tidak tahu maksudmu? Maaf, aku tadi buru- buru tidak lihat kamu. Sebentar lagi kuliahnya prof Ina kan? Kita sekelas kan?” ucap Nila malah mengajak Celine, Nila berusaha baik menghindari ribut.
“Oh? Ajak ke kelas? Udah? Ngechargenya?” tanya Celine lagi semakin sinis.
Nila semakin gelagapan, “Ngecharge gimana? Aku nggak ngecharge kok, ponselku bateraynya masih full..” jawab Nila dengan polosnya.
Nila sebenarnya bukan tidak paham appa maksud Celine, tapi Nila berusaha mengaburkan percakapan agar tidak panjang dan tidak ada masalah.
Sayangnya Celine tidak demikian. Celine memang sedang ingin membuat masalah. Mendapat pertanyaan Nila, Celine semakin tertawa.
Nila jadi menunduk.
“Maaf, aku duluan ya!” ucap Nila malas menghadapi Celine, Nila pun berniat mengambil ayam srundeng dari Rendi yang masih tergeletak di bawah, untung packagingnya bagus jadi tidak tumpah hanya kardusnya yang kotor.
Melihat Nila menghindar, Celine tidak tinggal diam.
“Pak Dosen pintar banget ya sandiwaranya, aku semakin naksir, uunch banget ya sungguh! Udah ganteng pinter pandai sandiwara pula,” ucap Celine kemudian sembari bersedekap di belakang Nila yang sedang jongkok mengambil ayam srundengnya.
Nila mengeratkan rahangnya, fiks, Celine tahu sesuatu, Nila pun bangun daan berbaalik lagi ke Celine.
Kini mereka berhadapan “Kamu tahu sesuatu? Apa yang kamu lihat?” tanya Nila akhirnya kini bersikap beraani dan tegaas. Nila menebak
Celin pun tertawa sinis.
“Oh ya tentu. Aku tahu banyak hal, lebih dari itu aku punya sesuatu untukmu!” jawab Celin dengan bibir yang dimiringkan sinis dan matanya yang centil.
Nila menelan ludahnya panik. Apa Celine melihat Nila di ruang Pak Rendi tadi?
Tapi Celine tampak memasukan tanganya ke sakunya dan mengambil satu amplop coklat.
Nila pun tercengang saat Celine menunjukan satu amplop coklat agak besar itu.
“Nih… buka!” ucap Celine menyodorkan amplop itu.
“Gleg!” Nila melirik Celine sesaat, menebak apa isi amplop ini, kalau foto di ruang Rendi sepertinya tidak mungkin langsung tercetak. Ini hal lain. Nila mendadak jadi berdebar apa isinya?
“Bukak!” ucap Celine meminta.
Nila pun membukanya hati- hati, mata Nila langsung mengernyit dan wajah Nila menegang melihatnya.
"Taraaa surprise dari Putri pendiam di kelas kita,” ucap Celine seketika itu menuduh Nila.
Nila pun gelagapan lalu menatap Celine tajam. Untung mereka di lorong antar gedung dan tidak ada mahasiswa lain.
__ADS_1
"Kamu dapat darimana foto ini? Kamu nggak tahu apa yang terjadi! Aku bisa jelasin ini!” jawab Nila gugup dan memegang foto- foto itu.
Nila masih tidak menebak Celine itu siapa, bahkan Celine punya foto Rendi memukul Farel dengan sangat emosi, foto saat Rendi meraihh kedua dagu Nila, terlihat begitu perhatian dan sayang. Saat itu Rendi kan memastikan Nila baik- baik saja. Satu lagi foto saat mereka berpelukan erat dan Nila menangis dalam dekapan Rendi.
"Sweet banget sih kalian? Ck. Aku jadi patah hati nih?" ejek Celine dengan mimiknya yang mengejek.
Nila tambah gelagapan
"Aku bisa jelasin apa yang terjadi. Katakan apa yang kamu lihat? Atau siapa yang kasih foto ini?" tanya Nila mengulangi.
Tapi Celine tetap tidak menjawab.
“Aku nggak tahu ya, ada hubungan apa antara kamu dan Pak Rendi, tapi sepertinya ini bukan tatapan dosen dan mahasiswa,” ucap Celine pelan, tanganya meraih tangan Nila, merebut foto di tangan Nila dimana, Pak Rendi menangkup kedua pipi Nila, dari foto terlihat sangat manis.
Nila terdiam membiarkan satu foto di tanganya terlepas. Nila masih menatap Celine gemas menahan emosi karena Nila sedang dikulitu.
Tapi Celine tampak santai dan melanjutkan kesenanganya, mengatai Nila.
“Dan ini, tidak mungkin dilakukan antara dosen dan mahasiswa tanpa ada sesuatu.” Lanjut Celine mengambil foto Nila menangis tersedu ketakutan, Rendi memeluknya erat.
Nila semakin gelagapan dibuatnya.
"Jawab! Celine apa kamu ada di sana juga?" tanya Nila lagi.
Celine tetap tidak menjawab tapi malah menatap Nila mengerikan.
“Kalau aku di sana kenapa? Kalau enggak kenapa? Takut?" jawab Celine malah menantang Nila.
"Aku memergoki Farel dan Fa...," ucap Nila mau cerita tapi Celine menghasapkan telapak tanganya meminta Nila diam. Celine tidak ingin dengar penjelasan Nila dan tetap ingin dia yang bicara.
"Kamu siapanya Pak Rendi? Pacar? Istri? Atau simpanan? Tapi kurasa status Pak Rendi masih single? Keluarga? Aku kira Pak Rendi jomblo. Nggak nyangka gadis impianya sekecil kamu?” ucap Celine memotong penjelasan Nila malah meny3rbu Nila pertanyaan.
Nila masih memilih diam, Nila tidak boleh salah bicara sebelum dia paham betul apa motif Celine.
"Terus mau kamu apa dengan foto ini?" tanya Nila akhirnya.
Celine masih tidak mau menjawab tapi terus mengintimidasi Nila.
“Pantas aja ya? Kamu masuk ke kampus ini rangking satu, kan Pak Rendi jadi akademisi yang buat soal, pusat lagi! Apakah ini ada unsur KKN?” ucap Celine semakin tidak jelas.
Celine kembali mengambil foto di tangan Nila.
Foto saat Rendi memukul Farel yang terkapar.
“Apa sih Cel? Maksud kamu apa? Kenapa kamu bahas nilai seleksi masuk segala? Farel menyerangku Pak Rendi hanya tolong aku!” jawab Nila berusaha menjelaskan.
Tapi Celine tidak menggubrisnya malah mengeratkan rahangnya.
“Oh ya? Farel sekarang di rumah sakit kan?” tanya Celine dengan tatapan menusuk.
Nila kembali tergagap. Bahkan Celine tahu keberadaan Farel.
"Iya. Kamu dengar ceritaku. Farel kepergok Cel!" ucap Nila berusaha menjelaskan lagi,
Tapi tetap Celine tidak ingin dengar, Celin malah menatap Nila sangat mengerikan.
“Salah apa Farel ke kamu sampai kamu hancurkan hidupnya?” ucap Celine lagi.
Kali ini Nila mengernyit, benar- benar semakin tidak mengerti pertanyaan Celine.
“Aku menghancurkan hidup Farel?” gumam Nila semakn nggak dong.
“Dapat apa kamu menguntitnya? Hah? Kamu mengusiknya, kamu nggak tahu kan? Seperti apa penderitaan Farel selama ini? Oh iya, kamu kan perempuan sok suci dan anak orang kaya yang nggak ngerti apa- apa! Ular kamu Nila!” tuduh Celine sangat marah ke Nila.
“Hooh..,” sontak Nila yang tadinya panik sekarang membuang nafasnya, keheranan, ini lucu.
Nila kan menyelamatkan Farel agar tidak salah jalan bukan menghancurkan, Nila baru ingat, Celine dan Farel kan dekat. Apa Celine tahu tentang Farel.
“Aku tidak menguntitnya aku juga tidak menghancurkan hidup Farel, bahkan Pak Rendi juga memilih untuk tidak membawa Farel ke polisi. Kamu tahu apa yang Farel lakukan?” jawab Nila cepat mengkonfirmasi.
Celine masih tersenyum sinis, Nila yang melihatnya langsung tercekat dan berfikir jauh, jangan- jangan Celin bukan hanya tahu tali ikut.
“Kamu ada di sana?” tanya Nila seketika itu curiga. "Siapa yang foto ini. Atau laki- laki itu temanmu? Apa kamu ikut juga?" desak Nila sekarang berani.
__ADS_1
Nila baru ingat, awal Nila lihat, Farel tidak sendiri, tapi sampai Rendi datang, dan pergi teman Farel menghilang. .
“Bukan urusanmu! Santai aja aku nggak akan kasih tahu siapapun tentang hubunganmu dengan Pak Rendi entah apapun itu. Aku hanya ingatkan ke kalian ya! Kalau sampai Farel kenapa- kenapa dan tidak bisa masuk kampus sini lagi, kamu dan pacarmu ini, juga tidak boleh tetap ada di kampus ini!” ucap Celine mengancam.
"Kamu mengancam kami?" jawab Nila berani
"Aku hanya mengingatkan. Kalau sampai ada polisi terlibat. Kamu akan tahu siapa aku?" jawab Celine lagi.
"Pak Rendi serahkan urusan ini ke pihak kampus!" jawab Nila.
"Its Oke aku nggak peduli. Ingat ya pesanku. Dengan Foto ini. Kamu tahu kan apa yang bisa terjadi dengan pacarmu? Nih, adukan ke pacarmu!” ucap Celin melempar foto- foto di minihospital ke Nila.
Lalu Celine beranjak pergi meninggalkan Nila.
Nila pun memunguti foto itu dan mengambil ayam srundengnya.
Nila berdiri sejenak, “Siapa Celine? Apa aku sedang diancam? Lucu sekali, mereka yang salah, tapi mereka yang ancam?” gumam Nila mematung.
“Woy..,” tiba- tiba dari belakang, Nila dikagetkan Dita.
“Astaghfirulloh Dita,” pekik Nila kaget, spontan Nila langsung meremas foto di tangan dan memasukan ke saku.
“Ngapain kamu bengong di sini? Orang ditungguin, aku nyariin kamu, aku tadi ke ruangan Pak Rendi juga tahu!” ucap Dita dengan polosnya.
“Ha!” seketika itu Nilla kembali takut dan memekik, “Kapan kamu ke sana? Ngapain? Kamu liat apa?” tanya Nila panik, khawatir Dita juga memergoki mereka.
Dita pun jadi mengernyit melihat Nila berlebihan tanyanya.
“Lihat apa gimana? Nggak ada orang, aku kira kamu di sana butuh bantuan, tapi nggak ada orang!” jawab Dita lagi dengan jujur.
“Hooh..,” Nila pun menghela nafas pelan, lega dia, Dita datang pas Nila udah pergi. Nila jadi selalu was- was, ada orang lain yang tahu tentang hubunganya.
“Malaah Oh, aku laper nih, tadi mau pesen makan, kamu nggak datang- datang, tahu- tahu udah mau masuk kelas,” keluh Dita dengan polosnya.
Nila pun menanggapinya dengan tersenyum, Dita memang selucu ini. Dia juga setia kawan dia biasanya akan makan selalu menunggu bareng Nila walau seringnya Nila bawa bekal.
“Nih aku punya makanan, kita makan bareng nanti!” jawab Nila menunjukan ayam srundeng.
Mendengar makanan Dita langsung melotot girang.
“Apa itu? Kayaknya enak!”
“Ayam Srundeng?”
“Dapat dari mana?”
“Dikasih Dokter Rendi,”
“Baik banget? Waah kalau gitu aku mau telat aja kayak kamu!” jawab Dita girang dan spontan.
“Ish…,” Nila langsung mendesis, “Tugasnya banyak banget, aku tadi koreksi punya kalian, ngetik rangkuman, masukin nilai. Terus telat sekali sepanjang ujian dan sepanjang semester nilaimu, B, Maksimal! Kamu mau beasiswamu dicabut?” tutur Nila menasehati dan sedikit mengancam seperti Rendi.
Padahal dalam hati Nila tidak rela dan tidak boleh ada yang telat seperti dia, hanya dia yang boleh berduaan dengan Rendi.
Kara Rendi kan yang berani bolos di kelasnya hanya Nila dan Jingga, juga beberapa siswa laki- laki.
Mahasiswa perempuan lain cukup takut dan berhasil dibuat disiplin, dengan ancaman Nilai B maksimal.
Mendengar nasehat Nila, Dita langsung manyun,”Ya nggak sih, aku mau jadi siswa teladan aja! Ck. Kenapa sih orang setampan Pak Rendi harus nyebelin dan kejam?” ucap mencibir.
"Ehm?" Nila mendengar hanya berdehem. Padahal bukan kejam. Pak Rendi sweet buat Nila.
Dita kemudian tersenyum lagi dan langsung ambil kardus ayam srundeng.
“BTW aku nggak sabar makan ini. Ayo, kelas Prof Ina jangan telat lagi Selesai kuliah langsung makan ya!!” ucap Dita girang.
“Iyah…,” jawab Nila tersenyum lalu mereka berdua pun beriringan jalan ke kelas.
Walau di luar Nila riang dengan Dita, sesampainya di kelas, Nila terdiam dan sesekali melirik ke Celine.
Sama sepertinya, Celine tak menampakan apapun di kelas.
Padahal kalau dia punya foto- foto Nila kemarin sore, Celine tahu semuanya, tapi bahkan saat Pak Rendi absen Farel bahkan sekarang Prof Ina juga, Celine acuh bersikap tidak beritahu dimana Farel.
__ADS_1
“Apa masih ada yang lain, yang tahu tentang Farel? Aneh. Iini kampus, siapa Farel dan Celine? Kenapa Farel sampai berani melakukan itu di sini? Lalu kenapa Celine dan Farel selalu menuduhku curang di penerimaan siswa?” gumam Nila jadi melamun.
"Mas Rendi harus tahu ini. Aku nggak mau Mas Rendi kenapa- kenapa? Kalau aku yang keluar. Baba pasti senang. Tapi bagaimana Karir Mas Rendi?" gumam Nila jadi memikirkan ancaman Celine