Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Orang Tua atau anaknya?


__ADS_3

"Dheeek... Buka pintunya Dhek!" panggil Rendi sembari mengetuk pintu kamar mandi.


Sudah hampir 30 menit, dua manusia beda usia, tapi bak anak kecil usia 8 tahunan yang sedang ambekan. Mereka masih stay di tempatnya masing- masing.


Rendi masih berusaha berdiri, merapatkan kupingnya di pintu kamar mandi berharap mendengar jawaban Nila. Dia juga terus mengetuk pintu, dan menguras otak merangkai kata rayuan. Sayangnya tak juga mempan.


Sementara di dalam, gadis kecil yang sudah tidak perawan lagi itu, masih bersikukuh dengan hatinya yang mengeras, berselimut amarah, atas nama cemburu.


Nila sama sekali tidak menjawab karena di dalam kamar mandi dia tumpahkan kekesalanya dengan menangis sesenggukan, menggigit tissu agar tak terdengar.


Inginya menyalakan kran air untuk menyamarkan, tapi otak baik Nila masih bekerja walau sedang marah. Air bersih mahal, di luar sana juga banyak orang membutuhkan air. Nila tidak mau jadi orang dzalim.


Nila hanya mengingat Rendi pernah hampir menjadi suami kakaknya saja hati sangat sakit. Apalagi mendengar dari mulut Rendi menemui perempuan lain yang pernah mengisi harinya, sakit sekali.


Nila pernah liat dengan matanya, seberapa sek si dan cantik perempuan bernama Vallen itu. Setipe dengan Jingga, tinggi putih bersih, bedanya Jingga lebih manis, beralis tebal asli tanpa permakan, dan hidung mancung memang turunan dari Baba. Kalau Vallen wajahnya sudah permakan, alisnya palsu, bibirnya lebih tebal. Nila juga liat seberapa agresif Vallen sampai berani menarik tangan Rendi saat di kafe waktu itu.


Entahlah, saat Nila bertengkar belum rujuk dan masih Madrasah aliah, walau sakit Nila masih bisa menahan, ikhlas jika Rendi memang bukan takdirnya. Tapi sekarang setelah semua Nila berikan, bahkan walau hanya menoleh dan menatap wanita lain, rasanya tidak terima. Inginya Rendi hanya menatap Nila saja.


"Dheek. Mas minta maaf. Demi Alloh Mas nggak ngapa- ngapain. Cuma adhek perempuan yang Mas sayang! Mas cintanya cuma buat Adhek.." ucap Rendi terus merayu Nila.


Nila masih tidak menjawab.


"Dheek. Kamu baik- baik aja kan? Mas dobrak lho pintunya kalau nggak buka. Mas khawatir nih. Mas hitung sampai 3 yah. 1..2..,"


Nila yang sudah lelah menangis, akhirnya memutuskan untuk mandi sekalian. Apalagi terdengar adzan Ashar. Bukan pintu yang terbuka atau suara Nila yang terdengar, tapi air mengucur deras yang menjadi jawaban.


Rendi pun masih berfikir rasional. Jika ada suara air tandanya Nila mendengar dan merespon, mendobrak pintu hanya membuang tenaga juga merusak perkakas. Istrinya sedang marah. Rendi memilih memberinya waktu sendiri.


Rendi yang juga sudah letih dan pening, memilih menghela nafas dan menjernihkan otak, berfikir bagaimana caranya menghadapi istri ajaibnya ini. Terpaksa, burung kesayanganya juga mengkerut kecil lagi. Pusing sekali rasanya. Harapan meneguk manisnya memadu kasih hilang sudah, berganti penih, kelu dan sesak.


"Ck...ssh... Aku harus bagaimana? Nggak cerita salah? Cerita jadi repot begini kan? Haish... Dia sukanya apa lagi? Bahaya kalau berkelanjutan," gumam Rendi berfikir.


Menghadapi istri marah rupanya lebih rumit ketimbang membuat materi kuliah dan mengerjakan laporan.


"Apa aku tanya Jingga. Aduh cemburu lagi nanti dia. Tanya Buna dan Ummi. Haish malah ditanya- tanya lagi, kenapa marahan? Tanya Adip, aduh malu banget. Oh iya. Tanya Fatma dan Aisyah saja?"


Mentok tidak tahu bagaimana merayu Nila. Rendi meminta bala bantuan pada adik- adiknya.


Saat chat Fatma dan Rendi menjelaskan alasanya. Rendi justru diceramahi dan disemprot kenapa Rendi harus menemui Vallen


"Haish.... Aku sedang minta solusi bukan minta diceramahi. Ya aku tahu aku salah!" gumam Rendi kesal dan mematikan telepon Fatma.


Rendi berganti chat Aisyah.


"Perempuan saat marah, cukup peluk dengan lembut. Minta maaf yang tulus Kak. Ajak dia keluar dan belikan yang dia suka!" balas Aisyah jauh lebih bijak dari Fatma.


Rendi pun tersenyum senang. Dia siap memeluk Nila begitu keluar dari kamar mandi. Dan benar saja, karena fokus bermain ponsel saat dia menoleh ternyata Nila sudah selesai mandi dan sudah berganti pakaian. Tapi bukan pakaian seksi dan manis seperti sebelumnya. Kali ini Nila memakai daster batik panjang.


Rendi pun bergegas mendekat ingin mempraktekan nasihat Aisyah. Bagi Rendi apapun pakaianya Nila tetap manis dan cantik.


Sayangnya saat satu langkah lagi mereka bersentuhan, Nila yang sudah rapih memakai pakaian panjang langsung mengangkat tangan.


"Jangan sentuh Nila!" bentak Nila ketus dengan wajah cemberutnya.


Rendi langsung menelan ludahnya getir.


"Nila udah wudzu mau sholat. Minggir!" bentak Nila lagi.


Sebenarnya bisa saja Rendi memaksa memeluk tapi entah kenapa, gadis kecil ini mampu membuatnya membeku dan tak bisa berkutik.


Tidak peduli Rendi, Nila berlalu masih dengan wajah cemberut dan berjalan menghentakan kaki.


"Mau menghadap Alloh itu harus bawa hati yang tenang. Jangan sambil marah. Apalagi sama suami. Nggak khusuk sholatnya, nggak diterima lho sholat sambil marah- marah!" ucap Rendi mentok memakai senjata kekuasaan atas nama suami.


"Hh...," Nila hanya menghela nafasnya kasar masih marah tapi gatal ingin menjawab.


"Mas bukan rokib atid jadi nggak usah sok tahu amal orang, diterima atau enggak!" sahut Nila.


"Sholat jamaah lebih baik dari sholat sendirian. Tungguin Mas ya. Mas mandi dulu. Kita jamaah. Yah...," celetuk Rendi lagi. Pokoknya Rendi terus memutar otak cari bahan bagaimana caranya membuat Nila mencair.


Karena permintaan Rendi memang sebuah kebaikan, walau dongkol mau tidak mau Nila tidak bisa menolak. Nila hanya diam, tapi dia tetap menunggu Rendi.

__ADS_1


Rendi tersenyum lega. Lalu bergegas ke kamar mandi. Walau tidak jadi melakukan penyatuan, tapi mereka kan sudah sama- sama basah. Jadi tetap harus mandi wajib. Sayangnya kali ini Rendi hanya asal siram dan memenuhi rukun. Begitu selesai langsung keluar.


Rendi tersenyum lega. Nila sungguh menunggunya, bahkan sajadah untuknya sudah Nila gelar.


Mereka pun sholat bersama. Meski begitu saat Rendi selesai doa dan mengulurkan tangannya, Nila masih membuang muka dan berniat berlalu pergi.


Rendi pun nekad menarik mukenah sehingga Nila yang cemberut jatuh kesrimpet.


Nila pun tambah mencebik kesal, dan sekaranglah waktunya Rendi mempraktekan nasihat Aisyah. Rendi peluk Nila kencang. Awalnya Nila memberontak, tapi tubuh kecilnya kalah oleh cengkeraman tangan Rendi yang kekar.


Yang ada Nila kembali menitikan air mata saking sesak dadanya tidak terima suaminya menemui perempuan lain.


"Demi Alloh. Mas minta maaf Dhek. Mas nggak angkat lagi teleponya. Kalau menurut Adhek perlu Mas blokir Mas blokir!" bisik Rendi.


"Kenapa Mas nggak bilang ke Nila? Kenapa Mas nggak pamit?" lirih Nila terisak.


Rendi lega mendengar Nila mau bicara. Dia pun melonggarkan pelukanya.


"Waktu malam Axel datang. Demi Alloh dia nggak cerita. Dia kesini minta maaf. Dia mengakui kejahatanya kasih Mas obat siang itu. Mas marah. Tapi kan Tuhan justru kasih hikmah Mas ketemu adhek. Ya udahlah Mas maafin dia. Masa Mas nggak maafin orang yang udah mengakui salah? Terus mereka ajak ke rumah sakit. Ada yang mau ketemu. Nggak bilang dari di rumah!" tutur Rendi cerita.


Nila menunduk mendengarkan.


"Sampai sana. Ternyata ada Bapak Ibunya Vallen. Mas kenal mereka. Mereka menangis menjabat tangan Mas meminta tolong Mas. Mas tahu mas salah. Tapi adhek ngerti kan?"


"Masalahnya kenapa Mas nggak cerita!" sahut Nila cepat setengah membentak.


Rendi pun gelagapan.


"Mas takut kamu marah!" jawab Rendi lirih.


"Tapi tetep mas lakuin kan? Berarti Mas nggak peduli Nila? Iyah? Mas nggak enak sama orang tuanya apa emang masih peduli? Udah sanalah!" jawab Nila lagi memalingkan muka dan bersedekap.


"Bukan gitu. Bukan. Demi Alloh bukan gitu Dhek. Ini nyatanya Mas cerita ke kamu. Kalau Mas berfikir lain mas nggak akan cerita lah. Mas mau ajak kamu, kamu pasti nggak bisa kan? Sungguh mas cuma memenuhi permintaan orang tuanya buat bantu rayu Vallen mau berobat! Dia ngaku salah. Dan mas juga kasih pengertian kalau mas punya kamu. Mas juga pengen kenalin kamu ke mereka!" ucap Rendi lagi.


Nila masih marah dan hanya mencebik dan menelan ludahnya.


"Demi Alloh Dhek. Mas nggak ada rasa apapun sama Vallen. Dulu juga mas cuma kasian sama dia. Dia sampai belajar islam lho sama Mas!" ucap Rendi malaj cerita malah membuat Nila tambah marah lagi.


"Oh ya? Cinta banget berarti ya? Udah deket banget berarti? Sampai rela mati buat Mas? Udah ngapain aja sama Mas?"


"Terus apa?"


"Maksud Mas gini. Dia udah minta maaf dan mengakui salahnya. Dia rapuh dia butuh dikuatin. Kalau kita baik ke orang. Kita juga bisa selamatin orang, kita bisa tuntun orang! Itu juga pahala kan?" jawab Rendi lagi.


"Tapi bukan dengan suapin makan segala!" jawab Nila.


"Pakai sendok, Dhek. Mas nggak ada nyentuh dia sama sekali!"


"Tetap aja mas berkhalwat sama dia. Kasih perhatian ke dia. Ingat Mas punya aku. Mas suami aku!" jawab Nila lagi.


"Ya mas juga udah jelasin ke dia. Mas di sana hanya memenuhi permintaan seorang ayah yang pernah mas kenal baik. Sungguh. Bayangin posisi Mas Dhek. Dia teman Mas. Kita kenal bertahun- tahun. Dia minta maaf dengan tulus. Dia hanya butuh dukungan dan pengertian. Mas juga kesana bantu kaskh pengertian ke dia, kalau ada Adhek di hidup Mas!" jawab Rendi mengutarakan pendapatnya.


Sayangnya menurut Nila itu tetap salah.


"Mas. Tetap aja ya. Perempuan dan laki- laki itu nggak ada yang tulus Mas. Dia juga belajar islam bukan karena hidayah, tapi karena ingin mas! ngerti nggak sih!" sahut Nila keras.


"Apa dia sungguh jadi muslim? Nggak kan? Nggak ada persahabatan yang tulus antara cewek dan cowok!" Nila masih melanjytkan perkataanya bahkan mengulang penjelasan dengan mantap.


"Mas nggak perlu kasih perhatian ke dia lagi. Sentuhan atau nggak sentuhan. Dia udah dewasa, Mas. Dia sakit. Dia butuhnya psikiater dan orang tuanya. Bukan Mas!" jawab Nila menggebu dan emosi sampai matanya memerah.


Rendi terdiam dan mengangguk.


"Oke!" jawab Rendi.


Nila yang emosi menitikan air matanya lagi. Melihat itu Rendi pun segera membawa Nila dalam pelukanya lagi.


"Mas salah. Mas nggak akan temui dia lagi. Atau kamu mau ketemu. Ayo!"


"Nggak!" jawab Nila ketus.


"Yaya! Tapi udah ya. Please. Maafin Mas!" tutur Rendi kemudian menyeka air mata Nila dengan lembut.

__ADS_1


Nila hanya diam menunduk. Lalu Rendi menghujani kening Nila dengan kecupan tanda maafnya. Hingga hati Nila mulai meleleh.


"Kemanapun Mas pergi Mas harus cerita ke Nila!" lirih Nila cemberut.


"Ya. Mas akan cerita! Kalau perlu lita konekin ponsel kita biar kamu tahu mas kemana!" ucap Rendi.


"Nggak boleh ketemu perempuan lain tanpa Nila!" lanjut Nila lagi.


"Yaya! Siap Tuan Putri!" jawab Rendi memberi tanda hormat.


Nila yang terisak jadi tersipu malu.


"Udah maafin Mas kan?"


"Nggak!"


"Lhoh kok gitu?"


"Ada syaratnya!" ucap Nila memanyunkan bibirnya tapi matanya sedikit mendelik


"Apalagi?"


"Bantuin Nila buat jurnal dan makalah. Nila pusing!" jawab Nila ternyata hendak memanfaatkan suaminya.


"Hrgg...," Rendi pun langsung menghela nafas


Ternyata Nila licik juga. Tapi demi istrinya Rendi mengangguk bersedia. Mereka berdua pun akur lagi lalu mengambil laptop masing- masing.


"Driiing...," di tengah- tengah mereka fokus ke laptop ponsel Rendi berbunyi lagi.


"Angkat Dhek!" ucap Rendi meminta Nila yang urus ponselnya.


Nila tampak cemberut lagi.


"Vallen lagi Mas!" ucap Nila.


"Ya udah blokir aja!" ucap Rendi.


Nila tampak menghela nafasnya. "Nila mau ketemu!" ucap Nila tiba- tiba.


Rendi yang mengenakan kacamata dan menghadap ke laptop langsung mendelik kaget.


"Adek mau nemuin dia? Tadi katanya nggak mau?"


"Dia akan terus ngejar Mas. Kayaknya Nila perlu deh nemuin dia! Kalau dia memang tulus mau berubah dan mau jadi teman. Harusnya dia nggak hubungi Mas lagi dan hargai aku, Mas!"


"Oke. Besok kita ketemu. Udah matikan teleponnya. Fokus ayok selesaikan tugasmu!" ucap Rendi.


Nila pun mematikan ponsel suaminya dan kembali fokus dengan tugasnya yang dimentori dosenya dengan istimewa.


*****


Di tempat lain..


Di atas tempat tidur, seorang perempuan yang sedang di skors tapi nekad berangkat ke kampus walau cuma main dan pulangnya mampir apartemen orang, tampak sedang memeluk pria dewasa dengan perut sedikit buncit.


"Om... Katanya mau laporin dosenku. Kok tadi Della liat mereka malah tambah happy dan mesra! Om gimana sih?" keluh Della sembari bermain bulu dada si pria tua itu.


"Dosenmu itu ternyata kesayangan Si Robert!" jawab Om Tua itu.


Della langsung bangun dari rebahanya kaget.


"Robert siapa? Apa maksudnya?"


"Temanmu itu juga putri Gunawijaya!" sambung Om itu, tidak menjawab pertanyaan Della, tapi memberi informasi tambahan.


"Maksudnya apa Om? Om nggak bisa apa- apain mereka?"


"Kamu ingin sakiti temanmu atau sakiti dosenmu?" tanya Om itu lagi tambah membuat Della bingung.


"Maksud Om? Apa sih?"

__ADS_1


"Ini akan jadi permainan seru. Om lebih tertarik menyakiti orang tua temanmu itu!" ucap Om tua itu lagi.


Della kemudian mengernyit bingung. Della kan hanya iri dengan Nila. Tapi di luar dugaan Della, ternyata Om tua itu malah mempunyai rencana lebih.


__ADS_2