
Walau jam kuliahnya dimajukan dan dirubah, namun ternyata siswa di kelas Nila antusias datang ke kuliah Rendi. Sepertinya ditinggal Rendi, mahasiswa kangen diajar oleh dia. Nila menjadi siswa yang berangkat paling akhir.
Namun satu hal yang menyita focus Nila, Dita belum datang. Awalnya Nila kira, Dita terlambat, karena Nila juga datang di waktu yang mepet. Sayangnya sampai Rendi datang, Dita tak kunjung hadir, bahkan Nila coba hubungi lewat wa centang satu.
“Kemana Dita?” gumam Nila kini, Nila jadi duduk sendirian. "Apa Mas Rendi akan hukum Dita juga? Dihukum apa dia?" Nila malah jadi berfikir banyak.
Sayangnya sampai kuliah hampir selesai Dita tak kunjunh datang. Fiks Dita bolos hari ini.
Perkuliahan pun berjalan sebagaimana mestinya seperti biasa. Rendi dan Nila juga professional, tetap bertindak sebagai dosen dan mahasiswa seakan tidak saling kenal. Bahkan Rendi lebih banyak berkomunikasi, tanya jawab dan meminta tolong pada mahasiswa lain.
Selain geng Celine, sampai Baper, saat Rendi menjelaskan lalu berjalan mendekat dan menatap mahasiwa tersebut karena melempar pertanyaan, terlihat mahasiswa itu salah tingkah sampai ngebleng dan kemudian disoraki mahasiswa lain. Mereka kan tahunya Rendi jomblo matang.
Di saat itulah, Nila diam menundukan kepalanya, tidak komentar tidak tertawa juga, padahal teman Nila hampir semua menertawakan teman Nila.
Namun tidak Nila tahu, saat Nila menunduk, Rendi melirik ke arahnya juga teman- teman Celine memperhatikan keduanya dengan tatapan sinis.
Karena dalam penyampaian materi, Rendi tidak hanya ceramah, ada sesi pertanyaan juga kuis, kuliah jadi terasa cepat berlalu. Rendi pun menyelesaikan pekerjaannya dengan professional. Tetap saja, tanpa ada yang tahu, Rendi masih sempat wa, Nila dan membercandainya dengan rayuan entah kapan mengetiknya. Padahal Nila lihat Rendi kuliah tidak duduk di depan tapi sembari berjalan.
“Jangan jual mahal sama suami, suamimu banyak yang ngantri lho…,” ledek Rendi.
“Ish… GR. Mereka belum tahu aja jeleknya Mas,” balas Nila tersipu dan mendesis.
“Ck. Mana bisa tahu. Mas nggak punya kejelekan!" jawab Rendi masih narsis.
"Astaghfirullah. Ya ampun. Sombong banget sih?" balas Nila cepat benar- benar jadi illfeel.
"Mas tunggu di parkiran!” balas Rendi cepat tidak menanggapi.
“Ya…, tapi emang mau kemana? 1 jam lagi kan kuliahnya Prof. Ahmed?” tanya Nila tidak buru- buru berkemas.
“Sama suami nurut kenapa? Nggak usah tanya? Aku ajak Kikan nih kalau kamu nggak mau!” jawab Rendi malah ngeledek agar Nila cemburu dan ngancam. Kikan itu mahasiswi Rendi yang suka salah tingkah kalau ada Rendi.
“Ish Sukanya ngancam! Ya sanah kalau mau!” jawab Nila mendesis dan jual mahal.
“5 menit harus udah di parkiran!” jawab Rendi lagi tegas, tidak menanggapi Nila yang jual mahal.
“Ya!”
Nila pun segera bergegas walau sedari tadi mulutnya komat kamit sendiri, malu dan kesal. Ada orang senarsis Rendi. Ini pasti imbas Rendi baca diary Nila.
Setelah menutup pesan Rendi, jari Nila sempat tergerak menscroll ke bawah ke kolom chat Dita. Rupanya pesanya masih centang satu, mendakak Nila pun murung dan memanyunkan bibirnya.
“Acaranya besok pagi, bukan pesta sih, tapi aku ingin Dita tahu kenyataanya, tapi kenapa dia nggak ada? Aku harus gimana?” gumam Nila menghela nafasnya.
Sembari menyelipkan tasnya ke punggung, Nila berdiri dari duduknya, teman- temanya sudah keluar lebih dulu, termasuk Celine n friends.
“Apa aku harus umumin ke mereka sekarang? Tapi untuk apa? Mereka juga nggak tanya kan? Hari ini mereka juga tidak mengangguku? Apa aku kasih sukuran makanan saja besok? Tapi apa respon teman- teman setelah tahu kenyataan ini? Bagaimana kalau suasana kelas malah jadi tidak kondusif? Teman- teman akan memperlakukan aku secara berbeda dan juga memandangku berbeda. Aku juga pasti akan sungkan?”
Sembari berjalan, Nila terus memikirkan bagaimana baiknya, apakah dia akan undang teman- temanya atau tidak. Tapi Nila juga belum tahu, berapa orang yang sudah Buna dan Baba undang, juga dari keluarga Abah.
Sebab, Baba mau hanya 50 orang tamu undangan luar yang boleh masuk di acara inti menghormati pihak KUA yang datang. Kalau pun nanti sore, pengajian dihadiri warga sekitar juga undang anak- anak yatim warga daerah.
Untuk syukuran besarnya nanti akan mereka bahas lagi. Baba minta sih menunggu Nila lulus,tapi keluarga Rendi agak keberatan.
Karena masih bimbang, Celine dan teman- temanya juga sudah berlalu, Nila pun mengundur memberi tahu Celine. Nila berjalan cepat ke parkiran.
Karena di jam pertengahan, masih jam 09.30 parkiran sepi. Ada beberapa mahasiswa, tapi itu Angkatan Kakak kelas Nila yang tak begitu mengenal Nila. Nila pun masuk ke mobil Rendi cepat.
“Masuk ke mobil suami sendiri, kaya masuk ke mobil penjahat, biasa aja kenapa nggak usah, gugup celingukan begitu,” tutur Rendi ternyata memperhatikan Nila,
“Hmm… Nila nggak gugup kok!” jawab Nila ngeles.
“Masa?” goda Rendi sembari tersenyum menatap Nila yang wajahnya memang pucat dan gusar.
“Ish!” desis Nila cemberut tersipu diledekin Rendi.
Rendi jadi terkekeh, tapi kasian juga lihat anak kecil wajahnya pucat begitu.
“Yaya nggak usah nangis gitu!” ucap Rendi lagi malah menjewer pipi Nila.
“Ih, sakit Mas!” keluh Nila kesal. “Siapa juga yang nangis, kalau pun aku nangis, bukan karena gugup, tapi karena sakit ini pipi!” jawab Nila.
“Maaf!” jawab Rendi enteng melepas tanganya, Rendi hanya tersenyum lalu tatapanya beralih ke depan dan menyalakan mesin mobilnya.
“Kita mau kemana Mas?” tanya Nila masih penasaran.
“Memenuhi kewajiban Mas, dan memberikan hakmu!” jawab Rendi.
“Huh?” pekik Nila masih tidak mengerti. “Ikutin Nila gimana? Emang Nila minta apa?” tanya Nila merasa tidak minta apa- apa. Dan jadi berfikir banyak juga tegang.
Tapi Rendi tidak menjawab dan focus nyetir.
__ADS_1
“Mas!” panggil Nila lagi sunggu gusar.
“Apa?” jawab Rendi santai dengan nada dewasaya yang memanjakan Nila.
“Kemana?”
“Yan nanti juga tahu!” jawab Rendi enteng.
“Nila emang minta kemana? Nila nggak minta kemana- mana kok. Mas jangan ngawur!
"Lah ngawur gimana? Astaghfirulloh?” jawab Rendi terkekeh.
"Mau ke hotel lagi?" tanya Nila gusar.
Ditanya begitu Rendi jadi terkekeh lagi.
"Wah pengen ya?"
"Nggak?"
"Terus?"
"Ya kita mau kemana?" tanya Nila bawel kesal tanya nggak dijawab.
"Ikutin kamu!" jawab Rendi lagi.
“Mas udah tahu tentang Farel? Pasien itu, Ibunya Farel. Farel atau siapa?” tanya Nila menebak, mengira Rendi tahu tentang rumah sakit jiwa.
“Ciit,” spontan dan mendadak. Rendi menginjak pedal Rem dan menepi. Sampai Nila kaget hampir terbentur, untuk memakai seatbelt.
Ya, pertanyaan Nila malah membuat Rendi gusar.
“Kamu bilang apa?” tanya Rendi ternyata tidak suka, Nila bahas laki- laki lain.
Nila pun menelan ludahnya sedikit gelagapan.
“Kok Farel sih?” tanya Rendi lagi.
“Ehm…,” dehem Nila masih menahan deguban jantungnya yang keras, karena Rendi mendadak berwajah serius.
“Farel dikeluarin!” ucap Nila terbata, “Mas udah tahu itu?” tanya Nila kemudian.
“Bukan begitu!” jawab Nila cepat.
“Terus maksud kamu apa? Kok nyambung ke Farel? Ya, dia dikeluarkan atau enggak, itu sudah konsekuensi perbuatanya. Itu juga pembelajaran untuk siswa yang lain. Masih untung lho atas permintaan keluarga, kita pihak kampus tidak mengumumkan!” jawab Rendi lagi.
“Celine marah, Celine kasih Nila alamat rumah sakit Jiwa, Nila nggak ngerti apa maksudnya, dan Nila!” jawab Nila gugup akhirnya cerita ke Rendi.
Rendi yang sempat terpancing cemburu, mendengar perkataan Nila memudar, dan kemudan diam mengulum lidahnya berfikir sejenak, tapi kemudian menghela nafasnya tersenyum.
“Nggak usah dipikirin, mungkin maksudnya nyindir kamu. Udah bukan urusan kita!” ucap Rendi kembali menyalakan mesin mobil lagi.
Nila pun menelan ludahnya sedikit kecewa, kenapa Rendi terkesan menggampangkan dan bersikap biasa saja.
“Jadi Mas udah tahu, kalau akhirnya Farel dikeluarkan?” tanya Nila.
“Mas nggak suka urusin orang, Dhek. Urusin kamu aja susah bener.. udah nggak usah dipikirin!” jawab Rendi.
Nila yang disinggung mencebik. “Emang urusin Nila gimana? Nila susah gimana sih?” jawab Nila mencibir.
Rendi tidak menjawab, malah bersiul dan bergumam seperti bersenandung kecil, tidak peduli Nila dan menatap ke depan.
“Ck…” Nila berdecak, menyebalkan sekali dicueki begitu.
Tapi rupanya Rendi sedang focus mengingat jalan karena ternyata mereka langsung belok ke jalan kecil di mana di atasnya ada tulisan puskesmas. Nila ikut mengernyit dan berfikir. Untuk apa dan mau kemana mereka.
Benar saja, mobil Rendi masuk ke pelataran puskesmas dan berhenti di situ.
“Kita mau apa ke sini Mas?” tanya Nila lagi.
“Sebagai calon pengantin kan kamu berhak mendapatkan perlindungan dan imunisasi. Ayo kita imunisasi? Kalau mau IVA besok pulang honeymonth ya. Sekarang Imunisais ** dulu, yuk!” ajak Rendi termyata benar mengingat perkataan Nila.
Nila pun terbengong, termakan perkataan Nila sendiri. Mereka berdua pun turun, berjalan berdampingan selayaknya calon pengantin yang lapor ke petugas terdekat. Dan begitu Rendi sampai Rendi disambut, ternyata mereka kenal Rendi. Bahkan Rendi dan Nila langsung disuruh masuk tanpa antri, karena Rendi sudah mendaftar lewat ponsel.
Mereka berdua pun menjalani berbagai pemeriksaan seperti masyarakat lain, mulai dari pemeriksaan kehamilan sampai penyakit menular dan kemudian mendapatkan imunisasi.
Tidak butuh waktu lama, mereka selesai. Karena dokter mengenal Rendi, mereka berdua tidak diberi obat. Petugas yakin, Rendi akan memberikan persiapan kehamilan untuk Nila dengan vitamin terbaik. Mereka malah memberi ucapan selamat ke Rendi. Nila pun tersipu dibuatnya.
Setelah itu mereka kembali ke kampus.
“Sakit nggak disuntik jarum?” tanya Rendi menggoda lagi. Karena sepanjang di puskesmas dan di jalan Nila menunduk diam. Entah karena malu, atau kesal, Rendi tidak tahu,
__ADS_1
“Sakit!” jawab Nila.
“Santai aja, abis sakit nanti kamu keenakan!” ucap Rendi lagi.
Nila yang tadinya menoleh ke depan langsung menoleh ke Rendi mengernyit. “Maksudnya apa?” tanya Nila dengan mata gerungnya.
“Nggak apa- apa!” jawab Rendi singkat sekali. Lagi lagi, Rendi tampak acuh tidak menoleh ke Nila, menyebalkan.
“Hh…. Semua sakit ada di perempuan, laki- laki tidak ada merasakan semuanya!” cibir Nila menyindir.
“Lah terus mau tukeran kamu jadi laki- laki!” jawab Rendi.
“Ya nggak,!”
“Terus?”
“Ya, Mas harus sayang ke Nila,!”
“Ya Mas, Sayang kan ke kamu!” jawab Rendi.
“Kalau saying itu, harus lembut, harus ngertiin, terus nggak boleh cuek!” ucap Nila Panjang ternyata Nil bisa mengungkapkan keinginannya.
Mendengar Nila berceloteh manja begitu, bukanya menjawab Iya, Rendi malah hanya tersenyum terkekeh.
“Ish… nggak jawab lagi kan?” ucap Nila kesal.
“Yaya!” jawab Rendi singkat, tidak terasa mereka ternyata sudah sampai di kampus lagi.
“Nih, mas bukain!” ucap Rendi tiba- tiba menoleh dan dengan cepat bantu Nila melepas seatbelt. Nila jadi kaget.
“Mau dibukain pintu sekalian nggak?” tanya Rendi.
“Nggak, Nila bisa sendiri!” jawab Nila cepat.
“Tadi katanya harus lembut!”
“Bukan gitu juga, itu lebai Namanya!”
“Lah lebai gimana?”
“Udah ih, bentar lagi, Nila kuliah!” jawab Nila tersipu dan malu, jadi ingin cepat turun.
Nila pun buru- buru membuka mobil dan turun dari mobil.
“Nila…,” seseorang memanggil Nila, saat Nila berjalan menjauh dari mobil Rendi sekitar 3 langkah.
Nila pun menoleh.
“Bang Hanan?” pekik Nila kaget.
Seketika itu Nila gelagapan menoleh ke Rendi lalu ke Hanan. Rendi terlihat masih di mobil tapi terlihat sedang mengambil sesuatu di jok belakang. sehingga wajahnya membelakangi kaca depan.
Nila jadi bingung mau berhenti atau lanjut jalan menjauh agar Hanan dan Rendi tak bertemu atau bagaimana. Jantungnya berdegub kencang, ini berarti Hanan akan menjadi teman pertama yang akan ngegap Nila besama Rendi secara terang- terangan.
Hanan pun berjalan setengah berlari sembari membawa senyum sumringah ke arah Nila berdiri.
“Assalamu’alaikum,” sapa Hanan lebih dulu.
“Walaaikum salam,” jawab Nila menjawab salam, dengan ragu, berharap, Rendi tidak keluar mobil dulu. “Ada apa Bang?”
“Kamu abis darimana? Aku cari kamu ke kelas,” tanya Hanan.
Nila pun menyeringai, mengangguk sembari menahan deguban jantung. Nila dheg- dhegan dan gugup hendak memberitahu Hanan tapi masih bingung merangkai katanya.
“Dita whastap kamu nggak?” tanya Hanan lagi.
“Huh?” pekik Nila jadi lebur dheg- dheganya karena teralihkan tentang Dita. Ya, Nila kan sedang penasaran dengan Dita.
“Dita semalam telpon aku” ucap Hanan.
“Oya? Gimana Bang? Nila hubungi dia nggak aktif, dia hari ini nggak berangkat,” tutur Nila menggebu cerita tentang tanda tanya terhadap Dita.
“Pak Rendi?” pekik Hanan kaget, ternyata sembari menyapa Nila, matanya juga celingukan memeriksa asal mobil Nila keluar dan mendapati Pak Rendi membuka mobil.
Hanan pun merasa aneh dan bertanya lalu menatap Nila.
“Gleg!” Nila pun langsung menelan ludahnya menunduk.
“Hai Hanan!”
Sementara Rendi langsung keluar mobil dan menyapa Hanan ramah.
__ADS_1