Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Nila yang Angkat.


__ADS_3

"Azizah, Isti....," panggil Ummi ke santrinya yang sedang piket dhalem di rumah besarnya


"Dhalem Nyai...," jawab mereka mendekat ke Umminya.


"Inih... uang. Belanja ya. Mbok Sum lagi pulang. Kalian yang belanja dulu. Nanti ajak Mbok Mi dan Mbom Sum. Bikin nasi bancakan dengan lauk yang enak. Jangan cuma ayam. Udang, telur asin, ikan juga. Sama urab sayuranya yang komplit. Makan sore nanti kita makan besar!" tutur Ummi dengan wajah berbinar penuh semangat.


Aisyah dan Fatma kebetulan sedang berkunjung ke rumah Umminya. Mereka pun saling tatap dan heran.


Umminya berjalan tergupuh keluar dari kamarnya masih mengenakan mukenah membawa dompet besar dan memberikan seikat uang seratus ribuan.


Bukan hanya Aisyah dan Fatma. Isti dan Azizah juga bingung. Mereka tidak berani menerima uang sebanyak itu.


"Beli berapa Nyai? Niki kathah sanget. Niki juga pun siang..Pasar mpun sepi?" jawab Isti.


Ummi tampak diam sejenak. Benar juga apa kata Isti. Ummi saking girangnya dengar Nila dan Gus Akbar berdua di kamar. Itu artinya mereka rujuk saling memaafkan.


Sebelumnya Ummi sudah sangat sedih. Jika Nila masih tetap tidak mau menemui Gus Akbar putra kesayanganya, ya sudah mereka tidak ada bukti hitam di atas putih. Kekeluargaan mereka putus.


Padahal Ummi kan sangat sayang ke Nila. Rasanya Ummi tidak rela Gus Akbar menikah dengan orang lain. Ummi juga kasian ke Akbar yang kekeh bilang dia tidak pernah bersumpah melakukan "Ila" Dia hanya memenuhi keinginan Ardi dan menghargai Nila agar tidak menyentuh Nila dulu. Akbar juga kekeh tidak merasa menceraikan karena Akbar hanya ditanya dengan siapa pergi?


"Ya pokoknya belanjakan gimana caranya ini cukup untuk makan malam semua santri!" jawab Ummi.


Isti dan Azizah kan cuma santri yang kebetulan piket. Piket saja karena karena memenuhi tradisi santri melatih agar santri punya jiwa pengabdian ke Guru mereka.


Satu bulan juga cuma dua hari bergantian. Tuhas mereka hanya menyapu, membersihkan halaman, cuci piring juga menyiapkan makanan jika Abah ada tamu. Pekerjaan berat, Ummi juga punya pembantu khusus yang dibayar.


Sejatinya mereka masih anak- anak yang di rumah orang tuanya mungkin juga dimanjakan. Mereka belum mampu berfikir sematang itu membelanjakan uang banyak. Fatma pun peka. Fatma lalu mendekat.


"Ada apa Ummi?" tanya Fatma lembut.


Isti dan Azizah menunduk takut. Tidak berani menerima uang banyak banget. Itu sekitar 10 juta sepertinya.


Sementara Ummi langsung gelagapan, wajahnya menciut, seperti hendak dihakimi putrinya. Ya Ummi menyadari dia terburu- buru.


"Ummi...," panggil Fatma lagi.


"Uang bisa dicari Fatma. Sekali- kali membahagiakan santri sebagai ujud syukur kan nggak apa- apa!" jawab Ummi mengira Fatma akan marah karena Ummi mengeluarkan uang banyak.


Fatma mengernyit. Mana mungkin Fatma meragukan niat Ummi apalagi dalam hal beramal.


"Ya Ummi. Fatma setuju. Kalau boleh tahu memangnya ada acara apa? Kok Ummi tiba- tiba adain syukuran?" jawab Fatma lembut.


Ummi sedikit lega. Tidak jadi bertengkar dengan Fatma.


"Akbar sama Nila rujuk, mereka baikan! Mereka tidur di hotel berdua!" bisik Ummi akhirnya.


"Haa... benarkah Ummi?" pekik Fatma girang, di luar dugaan Ummi. Bahkan Fatma berteriak keras dan berjingkat memeluk Umminya.


"Iya...benar!" jawab Ummi mantap memegang kedua lengan Fatma kini matanya berkaca- kaca saking senangnya.


Aisyah yang baru menidurkan anaknya jadi ikut penasaran adik dan ibunya mendadak kegirangan dan buat gaduh. Untung bayi Aisyah tenang dan pintar.


"Kenapa Ummi nggak bilang ke Fatma. Fatma ikut iur Ummi. Fatma bantu!" ucap Fatma malah mau membantu.


"Nila barusan telepon. Mereka berdua ada di hotel? Di kamar berdua!" lanjut Ummi lagi.


Entah bagaimana ceritanya, Ummi tidak peduli. Yang Ummi tahu. Laki- laki dan perempuan, keduanya pernah disatukan dalam ijab qobul walau terpisah karena perjanjian, bertengkar karena kesalah pahaman dan sekarang berdua di hotel. Ngapain lagi?


"Alhamdulillah. Alhamdulillah hirobbil'alamiin, Alhamdulillah 'ala quli hal," ucap Fatma juga senang.


Fatma dan suaminya Fahri sudah lemas dan pulang tanpa harap setelah melihat bagaimana Nila dengan berani, mengungkapkan bagaimana rasa sakitnya terhadap perlakuan Rendi di warung bakso. Ternyta bisa baikan juga.


Azizah dan Isti hanya saling lirik bingung. Baru pertama juga melihat Ummi yang lebih sering terlihat keibuan dan tegas. Ning Fatma, Ustadzah yang anggun dan ramah, mereka berdua berjingkat seperti anak kecil yang baru berhasil dapat boneka.


"Ada apa sih?" tanya Aisyah.


Dengan wajah berbinar Fatma langsung meraih tangan Aisyah. "Gus Akbar balikan sama Ning Nila!" ucap Fatma berbinar dan berkaca- kaca saking senangnya.


"Masya Alloh tabarakallah. Ini beneran?" tanya Aisyah tidak kalah girang.


Ummi dan mengangguk.


"Nila telpon. Mereka sekarang di kamar hotel berdua!" ucap Ummi.

__ADS_1


"Alhamdulillah," ucap Aisyah ikut senang. Walau Aisyah tak sedekat Fatma dengan Nila tapi Aisyah juga menyayangi Nila. Nila begitu telaten membantu Aisyah saat Aisyah masa nifas dan baru lahiran. Tidak ada anak remaja yang sebaik dan seperhatian Nila bagi Aisyah. Padahal dia hanya Ipar yang dititipkan kakaknya.


"Ummi ingin kita syukuran. Biar Alloh kasih berkah ke mereka dipermudah buat bersama! Nggak ada salah paham dan Alloh kasih sakinah mawadah dan warohmah!" lanjut Ummi.


Aisyah dan Fatma saling pandang.


"Kalau mau syukuran makan malam jangan masak ngedasak Ummi. Nggak mateng! Kita pesan aja!" usul Aisyah kemudian.


"Ya. Kak Ais benar, Ummi!" sambung Fatma.


"Ya sudah bagaimana baiknya kalian yang urus!" jawab Ummii..


"Fatma telepon Ning Nila boleh Ummi?" tanya Fatma tidak sabar ingin bersua dengan kakak rasa adiknya itu.


"Hush.. jangan ganggu mereka!" sahut Aisyah.


Aisyah kan sudah punya anak. Aisyah sangat mengerti bagaimana seharusnya. Bayangan keluarga Rendi pun sudah jauh.


Ummi, Farma dan Aisyah langsung meminta data santri yang tinggal di asrama. Juga para mualimah, ustad dan pengurus berapa orang. Tidak seperti Ummi yang terburu. Mereka harus menimbang butuh berapa porsi berapa uang.


Akhirnya mereka mengundang dan memborong pedagang sate, juga warung lamongan untuk datang ke pondok dan malam itu santri- santri makan dengan lahap.


Abah tidak komentar apapun. Hanya diam dan menyunggingkan senyum. Abah hari ini juga puasa. Padahal istrinya menggebu- gebu mengungkapkan kebahagiaanya.


****


"Dhek Nila belum dateng Oma?" tanya Bunga duduk manyun memeluk bantal sofa di depan televisi mensejajari Oma Mirna yang tampak membuka kulit kacang tanah.


Oma memanen kacang tanah. Walau tidak banyak hanya sekitar 2 kilo. Tapi oleh Oma, kacang tanah, dicuci dijemur kering isinya diambil dan disimpan untuk membuat sambal kacang kapan Oma suka. Menurut Dokter Mira itu ribet. Tapi bagi Oma itu untuk mengisi waktu senjanya. Oma jadi selalu sehat ingatanya juga tajam.


"Sabar. Adikmu kan baru pulang kuliah. Mungkin Nak Rendi juga sibuk kan? Kamu juga baru pulang kan?" jawab Oma.


Bunga mengangguk.


"Oma beneran mau restuin Pak Rendi lagi? Walau Pak Rendi ganteng. Tapi kasian Nila masih kecil?" tanya Bunga menyesalkan.


Bunga setelah kuliah dan pernah berpacaran ternyata tau rasanya ribet punya hubungan.


Oma tampak menghela nafas sejenak berfikir. Baru menatap Bunga.


"Oh gitu? Tapi kan katanya Pak Rendi nggak nemuin 3 tahun?"


"Ya kan Nilanya di Asrama. Rendi juga selesaikan S3 nya di luar!"


"Kok Oma belain Pak Rendi?"


"Itu yang disampaikan Rendi. Rendi menafkahi Nila rutin tiap bulan. Rendi pulang hanya singgah karena katanya rumah Orang tuanya kan dekat sama bandara!" jawab Oma lagi. "Jadi belum ketemu Nila udah berangkat,"


"Hmmm....," Bunga hanya bergumam tidak komentar.


Bunga dan Oma pun menunggu Nila dan Rendi. 30 menit sudah lewat dari yang dijanjikan Nila tapi Nila belum ada kabar.


*****


Di hotel Mercy


"Hiks... hiks...," Di bawah pojok bed kings size yang wangi dan brsprei putih tebak. Nila bersimpuh sesenggukan memegangi dadanya.


Iya.. Nila tahu. Setelah mendengar penjelasan Rendi, talak memang belum jatuh kepadanya karena talak dijatuhkan dalam keadaan sukarela sadar dan niat yang benar kalau Rendi menjatuhkan talak. Sementara Rendi hanya menjawab sesuai kenyataan pertanyaan temanya kalau dia sendiri. Nila terus meyakinkan dirinya kalau Rendi masih suaminua.


Tapi bukan seperti ini yang dia mau. Nila takut Nila bingung, Nila syok, Nila belum siap. Lebih dari itu juga Nila merasa bersalah.


Nila tidak bisa memutuskan dan Nila hanya bisa menangis sesenggukan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


Di tempat Ummi. Santri yang sudah akhil baligh juga masuk kelas 3 MA. Memang sudah dikenalkan mengaji Uqudulujain juga beberapa antri sudah quratun nuyun. Nila sendiri malah sudah membaca maratus sholikhah.


Nila tahu sebagai suami istri, Nila wajib memberikan hak Rendi. Begitu juga Rendi. Jika Rendi enggan mencampuri Nila akan jatuh Ila, dimana pernikahan mereka bisa putus. Nila sadar Rendi tidak melakukan itu karena memang Baba yang meminta Rendi demi pendidikan Nila. Tapi sekarang? Sekarang sudah berbeda.


"Aku harus bagaimana?" lirih Nila terisak memukul dadanya.


Tapi kenapa Nila takut sekali. Nila tidak siap. Tapi apa yang dia lihat barusan juga menyakiti hatinya. Rendi melakukan hal yang tidak seharusnya.


"Apa aku berdosa membiarkan Mas Rendi begitu? Tapi aku takut?"

__ADS_1


"Kasian Mas Rendi," Nila terus bermonolog memikirkan dirinya.


Nila kemudian menyeka air matanya. Dengan kaki dan tangan bergetar Nila bangun mendekat ke cermin. Dia tatap lekat dirinya di depan cermin itu


"Aku sudah menginjak 19 tahun. Aku sudah dewasa kan?" gumamnya meyakinkan diri. Tanganya terulur melepas peniti hijabnya. Dan kini kain itu terjatuh.


Nika menelan ludahnya, air matanya kembali menetes. Secetap kilat Nila menyekanya lagi. Pelan- pelan dia raih resleting gamisnya, dan dia turunkan ke bawah.


"Tak...," gamis Nila pun tertanggal.


Nila menatap tubuhnya ragu. Kini tinggal pakaian daalamnya yang menutup tubuhnya. Semua bagian tubuh Nila sudah terbentuk sempurna, menjadi sosok perempuan dewasa, tak ada kekurangan, malah begitu ranum terpahat sempurna dan begitu menggoda. Tidak pendek, tidak tinggi, tidak juga gendhut atau kurus. Namun semua terisi sesuai tempatnya ramping rapih mulus dan bersih.


"Krep!" tiba- tiba Rendi datang menyelimutkan selimut menutup tubuhnya dan mengagetkan Nila.


Nila segera menyeka air matanya dan menoleh ke belakang.


"Apa yang kamu lakukan? Maafin Mas!" ucap Rendi cepat kini wajahnya sedikit lebih segar. Rendi menatap Nila tajam.


"Mas!" pekik Nila terkaget.


Rendi melihat air mata Nila masih menetes. Tangan Rendi pun terulur menyekanya lembut.


"Pakai pakaianmu lagi!" ucap Rendi lembut lalu merapatkan selimut di tubuh Nila.


Nila gelagapan menunduk dan malu sendiri.


"Laki- laki kalau sudah keluar sudah. Kamu aman!" ucap Rendi lagi memberitahu Nila, dengan wajah kelimpungan malu.


Mendengar pernyataan Rendi. Nila malah meneteskan air matanya lagi.


Rendi melihatnya semakin sakit dan malu. Ya Rendi sangat malu, di hadapan Nila mahasiswanya juga istrinya yang kecil ini, Rendi terpergok melakukan hal memalukan dan tidak semestinya dilakukan seorang gus. Dan tepat saat Nila membuka pintu, di situ Rendi berhasil menyalurkan dorongan hasrat atas obat Vallen.


Rendi segera membersihkan dirinya dengan cepat. Dia tidak mau, Nila salah paham atau tersakiti. Setelah mandi, Rendi syok melihat apa yang dilakukan Nila. Itu sebabnya Rendi langsung menyambar selimut hotel dan menutupkan ke tubuh Nila.


"Mas tadi meeting sama Vallen. Dia memesankan jus untuk mas. Entah apa yang dia campurkan ke dalamnya?" tutur Rendi menjelaskan.


"Apa Mas sering melakukan itu?" tanya Nila


Rendi pun tersenyum malu. Belum menjawab Nila kembali menyahut.


"Nila minta maaf!"


"Haish tidak perlu minta maaf. Sekarang kamu tahu kan kenapa Mas nggak menunggu kamu pulang ke rumah Ummi. Cinta atau tidak cinta, kelemahan laki- laki ada di sini. Mas nggak mau egois dan menyakitimu! Paham kan?" ucap Rendi lagi memberitahu.


Nila menundukan wajahnya semakin merasa bersalah.


"Nila minta maaf!" lirih Nila lagi menitikan air matanya


"Cepat pakai pakaianmu. Atau mas berubah pikiran!" ucap Rendi sekarang sudah berani terkekeh.


"Ish..." desis Nila jadi malu tersipu


"Ngomong- ngomong ternyata kamu sek si ya?" bisik Rendi merayu.


Nila jadi mendadak merinding dan lalu mengeratkan selimutnya. Nila tersadar apa yang dia lakukan sangat memalukan.


"Mas jadi nggak sabar ijin ke Baba!" ucap Rendi lagi sekarang bisa senyum senyum.


Nila pun tersipu lalu membalikan badanya sembari mengulum lidahnya.


Handphone Rendi berdering lagi. Nila dan Rendi pun menoleh.


"Sedari tadi bunyi terus!," ucap Nila.


Rendi menghela nafasnya. "Angkat!" ucap Rendi ke Nila.


Nila mengernyit.. "Nila yang angkat?"


"Iyah! Angkat dengan suara mesra. Keluarkan suara indahmu!" bisik Rendi ke Nila sembari mengerlingkan matanya.


Nila masih mengernyit ragu.


"Vallen mantan mas dan ingin Mas menikahinya. Dia mau jebak Mas!" ucap Rendi menegaskan dan memberitahu.

__ADS_1


Nila menatap Rendi mengerti. Secepat kilat, Nila membetulkan selimutnya dan mengikuti saran Rendi.


__ADS_2