
Begitu Nila pergi, Rendi langsung bergegas ke ruang atas.
Sebenarnya sejak 5 menit yang lalu, Rendi ada jadwal menguji skripsi, mahasiswa semester 8. Karena Nila, Rendi mengulur waktu ujian. Bahkan mungkin kalau Nila mau dipeluk, atau lebih dari itu, bisa molor dengan waktu yang tidak ditentukan dan Rendi bisa mengcancel waktu ujianya.
Rendi punya pikiran, sesekali menyenangkan mahasiswanya, mengulur waktu ujian adalah berkah untuk mahasiswa, sebab menambah waktu menenangkan hati, belajar dan doa.
Rendi tahu juga sering deengar desas desus, Mahasiswa yang mau ujian kalau mendengar langkah Rendi langsung gemeteran dan semua isi kepalanya bleng seketika.
Di kalangan mahasiswa, Rendi terkenal memberi pertanyaan sedikit tapi di luar prediksi, sudah begitu kalau tidak tepat, Rendi tega meminta ujian ulang.
Berbeda dengan mengajar di kelas, prinsip Rendi kalau sampai telat, dia mengurangi hak siswa mendapatkan pengajaran darinya. Rendi tidak mau melakukan itu.
Kalau kuliah, Rendi menerapkan disiplin, itu untuk melatih mahasiswa Rendi agar terbiasa mengolah dan menghargai waktu, sebab kelak di dunia kerja, pekerjaan mereka berhadapan dengan nayawa dan bertaruh waktu. Apalagi dokter spesialis, di setiap jamnya mereka bisa pindah tempat sangat cepat kapan dibutuhkan harus ada, banyak yang menunggu, bahkan 24 jam harus siap menerima konsulan.
“Ya. Baiklah tinggal diperbaiki bagian kesimpulan ya, ini kurang point terakhirnya!” ucap Rendi mengakhiri ujian siswanya.
“Baik, Dok! Terima kasih,” jawab Siswa Rendi melebarkan senyum lega.
Hari ini karena Rendi sedang bahagia diijinkan mendekap hangat Nila, juga otaknya memikirkan Ubi jalar madu, Rendi bertanya pada mahasiswanya sangat singkat dan sepele, mudah di jawab oleh mahasiswa yang sedang presentasi. Rendi juga hanya mengoreksi sedikit skripsisnya.
Mahasiswa yang sudah stress semalaman itu berjingkat senang bahkan menjabat tangan Rendi.
Rendi pun memberi anggukan senyum tanpa terlihat giginya. Pada mahasiswanya, Rendi memang tidak terlalu ramah, apalagi mahasiswi.
Setelah usai, Rendi langsung menuju ke pasar tradisonal di pertengahan jalan menuju rumah Oma.
Ya, Rendi tidak mau menunda, bahkan Rendi memilih tidak sholat di masjid kampus, Rendi ingin segera menemui Oma Mirna Nurmalasari. Ibundanya Bunda Alya, beliau perempuan paling didengar di keluarga Baba.
Walau sudah tua, Oma Mirna masih sehat, lebih sehat dari Oma Rita yang sekarang kemana- mena memakai kursi roda dan tidak boleh mendengar berita buruk. Semenjak Opa Aryo meninggal, Oma Rita banyak murung dan jadi sakit.
Oma Mirna juga mudah diajak diskusi, bahkan dulu, saat hendak dijodohkan dengan Jingga, Oma Mirna juga pernah menemui Rendi.
“Huuft Ubi.. ubi dimanakah dirimu berada, please tunjukan dirimu!” gumam Rendi sembari bersiul.
Untuk pertama kalinya selama di Ibukota tahunan, baru sekali ini Rendi ke pasar tradisional, biasanya Rendi minta tolong Bu Siti atau pesan online. Hari ini karena Nila bilang di pasar, Rendi patuh di pasar, padahal di mall juga banyak.
Meski begitu Rendi tidak mau ribet, sebelum masuk, Rendi sudah tanya dulu ke tukang parkir, jadi Rendi diarahkan ke pedagang yang dekat dan tidak terlalu masuk.
Tidak buutuh waktu lama, Rendi mendapatkan apa yang Nila beritahu, meski begitu Rendi menambahkan oleh- oleh lain seperti naga juga racikan jahe merah.
“Bismillah, ya Alloh, ampuni aku yang pernah nggak bersyukur ini?” gumamnya menyalakan mobil, “Semoga Oma Mirna mau mendengarkanku, Aamiin,” Rendi pun melajukan mobilnya mantap.
Tepat di rumah Dokter Nando, adzan dzuhur berkumandang. Awalnya Rendi ragu mau turun karena itu bukan waktu yang baik untuk bertamu, tapi qodarullah, Rendi berbarengan dengan Mobil Bunga, sepupu Nila dari Dokter Gery.
“Dokter Rendi?” pekik Bunga mengernyit.
Bunga kan dekat dengan Nila, Bunga dengar Rendi menyakiti Nila, Bunga jadi jutek ke Rendi.
“Assalamu’alaikum Mbak Bunga,” sapa Rendi menghormati Bunga dan sopan.
“Ish.. mbak.. mbak, alay?” cibir Bunga kesal ke Rendi. “Bapak ngapain ke sini? Papah lagi ada dinas luar kota, Opa ada meeting managemen di Rumah sakit!”
Bunga bukan menjawab salam tapi langsung memberitahu hal yang tidak ditanya, berniat mengusir Rendi secara halus mengira Rendi ada perlu dengan Dokter Gery atau Opa Nando.
Rendi menundukan kepala sejenak, menelan ludahnya menahan sabar. Dia sedang menghadapi gadis yang baru beranjak dewasa seperti Nila. Bedanya, Bunga terbiasa berani berekspresi, sementara Nila lebih sering manis dan menggemaskan. Rendi tidak boleh marah.
“Oh gitu?” jawab Rendi menghormati informasi dari Bunga.
“Iyah!” jawab Bunga jutek lalu berlalu begitu saja tanpa tanya atau mempersilahkan Rendi maasuk. Rendi pun menerima perlakuan itu.
“Oma nya ada?” tanya Rendi sedikit keras karena Bunga sudah berjalan melewatinya. Bunga pun terhenti.
“Oma?”
“Iya, Saya mau ketemu Oma! Oma di rumah kan?” tanya Rendi.
“Hooh? Ngapain nyari Oma?” tanya Bunga masih jutek.
Oma Mirna kan ibu rumah tangga, keseharian Oma sekarang hanya berdzikir, ibadah, ngerawat anggrek, sayuran, kasih makan kucing dan temani Opa Nando. Ngapain Rendi nemuin Oma.
Rendi sedikit tersenyum. “Kangen aja, pengen ngobrol,” jawab Rendi ngasal.
“Hh…,” Bunga tidak menjawab tapi hanya melengos masuk, Rendi pun mengulum lidahnya menerima semua perlakuan jutek keluarga Nila. Karena Nila tidak bilang tidak di rumah itu artinya Oma di rumah.
Walau tidak dipersilahkan masuk, Rendi celingak celinguk masuk ke halaman.
Rendi pun tersenyum saat telinganya menangkap suara air mengalir. Ya Rendi melihat, Oma terlihat sedang mencuci kaki, di halaman samping.
Rendi mantap nekat mendekat menyapa Oma. Rupanya Oma habis memetik tomat di pekarangan samping rumah, terlihat di dekat Oma ada sekeranjan kecil buah tomat yang segar dan merah keorenan.
Ya, sebagai istri kedua Opa Nando, apapun permintaan Oma, dituruti. Oma minta dibuatkan tempat bercocok tanam di rumah, Oma Mirna ingin tetap punya kesibukan seperti saat di kampungnya. Opa Nando langsung membeli tanah samping dan mendesain menjadi kebun kecil.
“Assalamu’alaikum Oma..,” sapa Rendi mendekat.
“Waalaikumsalam,” jawab Oma Mirna lembut, Oma sedikit terhenyak, Oma pun menegakan berdirinya sembari menajamkan matanya menatap Rendi.
Rendi pun tersenyum mengangguk sopan.
“Oma sehat?” sapa Rendi menjulurkan tangan meminta salaman.
Tapi Oma menangkupkan tangan sembari memperhatikan Rendi.
“Oma wudzu, Alhamdulillah sehat, ini Nak Rendi kan?” sapa Oma menegaskan.
“Iya Oma, Ini Rendi,” jawab Rendi menarik tanganya menghormati Oma yang ternyata baru wudzu.
“Oh… Alhamdulillah, Oma sehat. Alhamdulillah masih diberi kesempatan ketemu kamu. Sama siapa?” tanya Oma celingukan melihat ke halaman.
Seperti dugaan Rendi dan tips Adip, hanya Oma Mirna yang menerima Rendi dengan tenang.
“Sendiri Oma!” jawab Rendi sopan.
“Mas Nando ke rumah sakit, katanya ada rapat, Gery katanya ada kunjungan ke dinas kesehatan mana ya? Dua hari katanya, ada program, Oma lupa? Mau nunggu? Kita masuk dulu aja ya, udah sholat sama makan?” tanya Oma, sama seperti Bunga mengira Rendi berkepentingan bertemu Gery dan Opa Nando.
Secara mereka semua aktif di dunia kesehatan, baik jadi akademisi, praktisi ataupun Menteri.
Rendi pun tersenyum.
“Rendi pengen ngobrol sama Oma, Oma ada waktu kan?” jawab Rendi tenang.
__ADS_1
“Denganku?” tanya Oma mendadak ekspresi tenangnya, berubah mengernyit.
“Iya Oma. Oma ada waktu kan?" jawab Rendi.
Oma tampak menatap Rendi sejenak, lalau mengerjapkan matanya sembari berfikir.
Rendi jadi menelan ludahnya mendadak panik, jangan sampai Oma menutup kesempatan.
“Sudah sholat?” tanya Oma lembut, tidak memberi jawaban mau atau tidak tapi memberi pertanyaan.
“Belum, Oma!”
“Ayo sholat dulu, kamu jadi imam ya!” ucap Oma tenang malah meminta Rendi jadi ima.
"Ya. Oma!" Rendi pun mengangguk senang dan semangat, itu artinya Oma mau. Secepat kilat, Rendi membuka sepatu dan kaos kakinya juga menggulung kemejanya mengambil air wudzu.
“Ayo masuk!” ajak Oma.
“Bentar, Oma, Rendi bawa sesuatu!” jawab Rendi semangat ingat oleh- oleh.
Oma mengangguk dan menelisik memperhatikan Rendi.
Rendi berlari ke mobil membawa sekardus oleh- olehh.
“Apa ini?” tanya Oma.
“Ubi Cilembu Oma, terus ini ada sawo matang, ada naga, ada alpukat mentega, Rendi belikan madu dan jahe merah bubuk juga,” jawab Rendi menunjukan oleh- olehnya.
Oma sedikit mengernyit, dan menatap Rendi.
“Siapa yang nyuruh kamu beli ini?” tanya Oma datar, ekspresinya tiidak bisa Rendi tebak.
“Ehm,,,” Rendi jadi kembali panik , jangan- jangan Nila salah kasih info. Rendi pun menyeringai mencari alasan.
“Jahe Wangi dan madu, bagus untuk kesehatan Oma dan Opa, diseduh sambil menunggu Maghrib, ditemani Ubi bakar, enak Oma. Alpukat dan naga dibuat jus juga bagus untuk kesehatan,” jawab Rendi tergagap berusaha mencari jawaban.
“Taruh dulu di meja makan, kita sholat dulu!” ajak Oma datar.
"Ya Oma!" jawab Rendi.
Entahlah Oma suka atau tidak, Rendi ikut saja. Oma pun menunjukan arah mushola keluarga Opa Nando.
Rendi menempatkan diri, tapi Oma hanya menggelar sajadah dan meminta Rendi menunggu, Rendi pun mengangguk iya. Rupanya Oma memanggil ART nya juga Bunga.
“Bunga lagi nggak sholat Oma!” terdengar suara Bunga berteriak dari ruang tv menolak Oma.
Oma mengerti Bunga. Tidak lama, tiga orang ART, juga dua sopir dan tukang kebun merapat ke Rendi. Mau tidak mau Rendi menjadi Imam sholat di rumah Oma Mirna. Mereka pun berjamaah di sana.
“Kamu pasti belum makan kan? Temani Oma makan ya!” ucap Oma selesai sunnah bakdiyah menghampiri Rendi yang tampak duduk menunggu Oma.
“Iya Oma!” jawab Rendi singkat dan patuh.
Mengikuti Oma, Rendi berjalan ke ruang makan.
Rendi sedikit kaget melihat menunya, di rumah besar pemilik rumah sakit swasta yang bertaraf internasional juga anaknya yang merupakan menteri kesehatan, tersaji urab klandingan, bayam dan bunga turi. Itu juga menu kesukaan Umi. Ada sambel tumpang, tempe goreng dan juga peyek kacang hijau.
Rendi langsung mengangguk.
“Sangat suka Oma, kebetulan Ummi Rendi juga sering masak bunga turi!” jawab Rendi.
Oma pun tersenyum.
“Ya ayo makan, dicicipi masakan nenek- nenek. Opa Nando suka sekali ini!” jawab Oma membanggakan suaminya suka masakan dirinya.
Rendi pun menyambut bahagia, “Oma boleh minta ijin foto nggak?” tanya Rendi di sela- sela makan.
Mendengar permintaan Rendi, Oma sedikit cemberut. “Saru.. makan itu nggak boleh sambil foto- foto!” tegur Oma.
Rendi pun menelan ludahnya disemprot, tapi demi membahagiakan gadis kecilnya Rendi tetap berusaha. “Tapi akan ada yang bahagia liat Oma makan, sekali ya Oma!” jawab Rendi meminta.
Oma hanya mengernyit, “Dasar anak muda,” cibir Oma.
Rendi hanya tersenyum, lalu Rendi mengarahkan ponselnya dan wefie, rupanya Rendi mau pamer ke Nila. "Cis Oma...," ucap Rendi berusaha menirukan gaya anak muda.
Mereka pun makan bersam dengan lahap.
Setelah makan, Rendi mulai membuka niatnya.
“Sebelumnya Rendi ucapin terima kasih, Oma sudah ijinkan Rendi makan di sini,” ucap Rendi sopan walau hatinya mulai dheg- dhegan takut dimarahi dan ditolak.
Oma hanya menghela nafas dan menatap Rendi sejenak, Rendi jadi tambah dheg- dhegan. Marahnya orang baik kan lebih seram dari marahnya Baba.
“Rendi mohon maaf, Oma,” lanjut Rendi lagi dengan gugup, suasana yang tadi tenang, Rendi mendadak jadi gerogi.
Oma terus memperhatikan Rendi dengan seksama, seperti sedang menilai.
“Apa kamu ngajar di kelasnya Nila?” tanya Oma tiba- tiba memberi pertanyaan di luar dugaan Rendi.
Tentu saja Rendi langsung membulatkan matanya. Oma seperti cenayang, belum juga Rendi memulai, Oma malah langsung tanya Nila. “I- iya Oma!” jawab Rendi.
Oma pun mengangguk lalu tersenyum. Hanya Nila yang tahu kalau Oma suka sawo matang. Itu sebabnya tanpa Rendi cerita, Oma sudah menebak kalau Nila yang beritahu Rendi.
“Apa menantuku tahu kamu ke sini?” tanya Oma lagi.
Rendi semakin membulatkan matanya, apa jangan- jangan ada yang ceirta kalau Rendi habis dimarahi Baba tadi pagi.
“Em..mm nggak Oma!” jawab Rendi lagi.
“Dipukul bagian mana kamu?” tanya Oma mengajak bercanda, dan memeriksa tubuh Rendi.
“Ehm…,” Rendi berdehem jadi bingung sendiri mau cerita bagian mana? Malah Oma sudah tanya- tanya.
“Oma… dikasih cerita Bang Adip ya kalau Rendi mau kesini?” tanya Rendi menebak.
Oma malah terhenyak.
"Adip?"
"Iya. Adip cerita apa aja Oma?" tanya Rendi lagi.
__ADS_1
“Bocah itu sibuk sudah berapa hari tidak menelpon, padahal Oma kangen buyut! Cerita gimana? Lupa itu sama Oma." jawab Oma malah curhat.
“Ehm… jadi Oma tahu darimana, Rendi habis dimarahi Babaa?” tanya Rendi menebak lagi.
Oma kemudian tersenyum lagi.
“Oh jadi bener kamu habis dimarahi menantuku?” jawab Oma malah balik tanya.
“Lha Oma tadi tanya Rendi dipukul, tahu darimana?” tanya Rendi lagi.
Oma langsung menghela nafasnya. “Cuma Nila yang tahu, Oma suka sawo, kamu disuruh dia kan? Jadi kalian sudah dekat? Apa kalian rujuk? Menantuku pasti marah?” jawab Oma menebak.
Rendi mengangguk. Tidak salah, Oma terbaik, tau semuanya, batin Rendi.
“Jadi Oma suka kan oleh- olehnya?” tanya Rendi.
“Kebetulan, ubiku habis, makasih ya?” jawab Oma tersenyum.
Rendi pun mengangguk senang. Itu artinya oleh- olehnya tepat.
“Tapi itu belum cukup kalau untuk menyogokku!” lanjut Oma ajak Rendi bercanda lagi.
Oma ternyata cerdas sekali, tau aja kalau Rendi mau minta tolong.
Rendi pun mengusap tengkuknya malu. “Apapun mau Oma, Rendi usahain, Oma! Bantu, kami Oma,” jawab Rendi akhirnya berani meminta tolong.
“Jangan banyak berjanji, tidak baik. Memang ceritanya gimana?” tanya Oma akhirnya.
“Iya Oma,” jawab Rendi patuh .
Setelah dipersilahkan, Rendi pun menceritakan niatnya, ceita tentang kemarinn, juga mengakui kesalahanya dan masalalunya.
“Sejujurnya, saya marah dan tersinggung, saat Baba dan Ummi menyampaikan Jingga digantikan Nila, Oma!” tutur Rendi di akhir ceritanya.
“Terus kenapa kamu melakukanya?”
“Saya tidak berani melawan Abah dan Ummi saya?”
“Artinya kamu terima pernikahanmu? Menolak atau terpaksa?”
“Saya melakukanya dengan sadar. Saya pikir 3 tahun cukup banyak waktu, jadi jalani saja, fikir Rendi saat itu," jawab Rendi lagi.
“Tapi yang sampai di telinga Oma, kamu tidak sudi menemui Nila, kamu tidak memperlakukan Nila dengan baik, kamu orang yang dewasa dan tahu aturan kan?” tanya Oma sedikit tegas.
“Saat Baba mengajukan persyaratan pernikahan kami bersama Abah, di situ Baba meminta yang penting pernikahan berlangsung untuk menyatukan keluarga kita, tapi Rendi harus menunggu Nila sampai Nila dewasa. Ya Rendi sangat senang. Pikir Rendi yang penting kita nikah aja, ke depan wawlohualam.
Rendi kan nggak boleh ganggu Nila katanya Oma, Nila juga kan di pesantren. Rendi pulang ke rumah Abah kalau libur saja, Rendi kan memang sibuk desertasi, bolak balik luar negeri. Jadi Rendi pulang memang jarang,” tutur Rendi panjang.
“Kamu sedang tidak membela diri dan beralasan kan?”
“Ya, Rendi salah Oma, seharusnya Rendi bisa lebih lama di rumah dan menemui Nila. Tapi saat itu? Rendi pikir untuk apa Rendi menemui Nila? Toh perjanjianya Rendi disuruh tahan, tidk menuntut hak suami, ya mending nggak usah ketemu, biar Nila focus sekolah!”
“Itu yang ceritanya, Jeng Rita gimana? Kamu sembrono sekali sampai membuatnya sakit,” tanya Oma lagi.
Rendi kembali mengulum lidahnya. Lelah juga, harus menjelaskan satu- satu ke semua anggota keluarga Nila. Tapi itulah harga yang harus dia bayar karena kesalahanya.
“Oma… undang- undang melarang anak usia 15 tahun menikah. Apalagi siri. Teman- teman Rendi itu orang modern, Rendi jaga nama Abah, Baba dan juga Rendi sendiri. Kalau Rendi jawab jujur, Baba dan Abah bisa kena hukum,” jawab Rendi lagi,
“Rendi juga Cuma ditanya? Sendiri aja? Ya Rendi jawab, ya masih sendiri, sendiri pun masih nyaman! Gitu Oma!” ucap Rendi menjelaskan."Bukan menceraikan!"
“Tapi, katanya Nila minta jemput, Nila pulang malam- malam, kamu apakan cucuku?” tanya Oma masih menginterogasi.
Rendi pun wajahnya memerah, malu sekali ingat awal, dirinya sangat jaim dan menyepelekan bahkan mengatai Nila. Kini Rendi harus mempermalukan dirinya mengakui kesalahanya ke semua keluarga besar Nila.
Rendi pun menjawab pertanyaan Oma apa adanya sama seperti yang disampaikan ke Adip. Rendi bukan mentalak, tapi meminta Nila jangan menuntut, mengira Nila kecentilan dan mengira Nila aneh.
Oma pun mengangguk dan mendengarkanya dengan tenang.
“Sepertinya kali ini aku kalah dari menantuku,” ucap Oma tiba- tiba.
Rendi langsung mengernyit, “Kalah gimana Oma?” tanya Rendi.
Oma pun diam sejenak mengambil jeda sembari menatap kosong ke langit- langit.
“Sebenarnya, saat Ardi memutuskan untuk menjodohkan kalian. Oma, Jingga, Alya, semua tidak ada yang setuju. Aku juga tidak terima Nila dinikahkan denganmu!” tutur Oma balik cerita.
Rendi langsung menunduk lemas, ternyata dia tidak diharapkan.
“Tapi Ardi sangaat percaya diri kalau kalian akan bahagia. Dia sangat percaya diri, Nila akan berada di jalan yang tepat, dan bikin Ardi bangga!” lanjut Oma.
Kali ini hati Rendi mengembang.
“Pas kemarin dengar kalian ribut, Oma bahagia sekali, kalian tidak melanjutkan pernikahan, Oma dukung Nila seratus persen untuk memilih jurusan kuliah apapun yang Nila suka! Dan tinggalkan kamu. Oma juga bisa salahkan Ardi,” lanjut Oma lagi dengan bangganya.
Rendi kembali dijatuhkan. Tubuhnya lemas lagi mendengarnya. Ternyata Oma pernah ingin mereka sungguh pisah.
“Tapi kalau ceritanya begini? Sepertinya, Ardi yang menang!” tutur Oma mengakhiri.
“Gleg..,” Rendi menelan ludahnya, jadi bingung sendiri, Oma mau bantu atau tidak, kasih restu atau tidak.
“Endingnya Oma, restui kami kan?” tanya Rendi mendesak.
Ditanya Rendi, Oma malah menyapukan tangan ke Rendi.
“Ya nggak kasih restu gimana? Wong kalian masih suami istri!” jawab Oma.
Oma ternyata sependapat dengan Rendi, Rendi bukan talak kinayah, tapi miss komunikasi.
Rendi pun mengangguk menggigit bibirnya menahan tertawa senang.
“Oma akan bantu Rendi merayu Baba kan?” tanya Rendi laggi,
“Ajak Nila kesini dulu!” jawab Oma.
****
Kakak yang minta Nila cepat- cepat ending bersatu. Maaf ya. Basikku aku nulis buat senang- senang. Bisaku dan senangku begini khayalin orang sebaik Oma. Maap kalau alurnya lambat.
Aku belum pro
__ADS_1