
"Hhhh.....,"
Rendi menghela nafas dan langsung merebahkan tubuhnya ke sofa begitu sampai di rumah. Kunci mobilnya dia taruh acak tanpa arah. Tanganya pun terulur memegang ujung bibirnya yang sedikit memerah biru akibat tonjokan orang tersabat setelah Abinya.
Rendi kemudian menatap langit- langit rumahnya.
"Kenapa semua orang begitu marah? Aku yang salah? Mereka yang sensitif? Atau memang Nila begitu berharga? Kenapa tidak ada yang mendengarku? Apa kesalahanku sangat fatal?" Rendi masih terus berfikir dia tidak jahat.
"Aku tidak selingkuh? Aku tidak berzina? Aku juga tidak memukulnya? Kenapa semua sangat membenciku?" gumam Rendi lagi.
"Kenapa tidak ada orang yang berfikir dari sisi perasaanku? Aku bukan tidak menganggap Nila kan? Menutupi demi nama baikku dan Abi Umi juga Nila?" gumam Rendi lagi.
"Aku belum menceraikanya. Dia masih istriku. Aku tidak menemuinya, kan Baba sendiri yang. membuat kesepakatan biarkan Nila tumbuh dan lulus sekolah? Kenapa sekarang berbalik?"
"Huuft apa ini artinya aku memang berhasil membuat Jingga dan keluarganya sakit hati? Tapi kenapa justru aku yang merasa sakit? Bagaimana cara menyelesaikan dan dapatkan maaf, Pak Ardi?"
"Huuft repot sekali?" gumam Rendi.
__ADS_1
Rendi berfikir karena Baba Ardi dan Om Farid selama ini baik, urusan perempuan dan masalah pribadi tak akan separah sekarang. Tapi nyatanya tindakanya yang semaunya dan menurutnya hal wajar oleh orang lain bisa menjadi kesalahan fatal.
Rendi lalu bangun dari rebahan dan merenungnya.
"Aku harus ke Abi," batin Rendi.
Rendi berniat meminta tolong Abinya dan meminta maaf ke Umminya. Abi Rendi kan begitu disegani dan dihormati oleh banyak orang. bahkan Presiden pernah sowan atau bertamu meminta doa ke Abinya.
Tapi sebelum itu, Rendi berniat makan siang dan mandi dulu. Sesampainya di dapur bekas Nila masak semalam masih ada. Mau tidak mau Rendi mencuci piring dan membereskanya. Hari libur ART Rendi memang tidak datang.
"Dia memang cantik dan rajin, dari cara bicaranya sangat berbeda dengan Jingga. Tapi kalau Abi tak mau menolongku? Apa ini artinya aku memang harus melepaskanya? Ya sudahlah. seharusnya aku bahagia kan? Aku tidak mencintainya kan?" gumam Rendi terus berbicara sendiri meneguhkan hatinya yang mulai oleng. Dia sendiri tidak mengerti rasanya gelisah putus asa sesak dan juga sangat tidak nyaman.
Setelah mandi dan berdandan Rendi siap peegi. Sayanya belim dia melangkah dari kamar ponselnya bunyi.
Ternyata dari Fatma,
"Fatma nggak nyangka Bang Rendi jahat dan tega sama Dhek Nila.
__ADS_1
Jadi kakak selama ini bohongin Abi dan Ummi, bilang selalu sibuk tapi ternyata karena ngehindar dari Dhe Nila? Kalau emang Kakak nggak suka harusnya dari awal Bang.
Abang nggak usah pulang. Abi kecewa. Abi marah.
Bang Rendi paham nggak sih, Abang itu laki- laki.
Ingat Bang... menikah itu sunnah, bisa jadi wajib dan juga haram. Bang Rendi udah wajib Nikah.
Udah dapat jodoh, dapat amanah bukanya dijaga malah, Bang Rendi nggak bersyukur.
Keluarga Nila mutusin hubungan dengan kita. Kasian kan anak- anak!"
Ketik Fatma panjang
Rendi pun hanya bisa menelan ludahnya lalu melihat ke jendela luar.
Tubuhnya melemas. Dia paham watak Abinya. Abi Yusuf memang tidak banyak berkata jika marah. Dia hanya akan mengurung diri di ruang khusus untuk beberapa waktu.
__ADS_1
Setelah Abi merasa hatijya baik dia baru bisa diajak bicara dengan baik. Jika dia pulang ke rumah Abi sekarang, Rendi pasti akan dicueki oleh Ummi dan adik- adiknya. Bahkan Fatma yang selama ini amat manja ke Rendi ikut marah.
"Hooh. Pak Ardi memutus sumbangan ke Pondok? Ck...kenapa dia mencampur adukan masalah pribadi sampai sejauh ini? Bukankah seharusnya dia berniat amal untuk santri- santri. Kenapa hanya karena masalah ini jadi merembet ke sana sih?" gumam Rendi lagi baru tahu sifat Baba kalau sudah marah akan mematahkan semuanya.