Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Dikeluarkan


__ADS_3

Tidak tahu di jauh di sana atau pun di sekelilingnya orang membicarakanya, Nila berjalan tenang ke kelas.


Sesampainya di kelas, Dita sudah duduk bersama Miki, sebenarnya agak aneh dan berbeda karena biasanya Dita posesif ke Nila. Nila pun Husnudzon, mungkin Dita perlu berteman dengan selain dirinya. Terpaksa Nila duduk di bangku lain yang masih kosong.


"Tak...," tiba- tiba Celine mengambil kesempatan mensejajari Nila.


Nila pun menoleh kaget.


"Kok terkejut? Aku boleh kan duduk di sini?" tanya Celine.


Tentu saja Nila langsung tersenyum menyeringai agak tidak nyaman dan curiga.


"Iya boleh, kenapa nggak, silahkan!" jawab Nila.


Celine pun tersenyum, senyum Celine terasa sangat ramah dan lembut bahkan untuk pandangan manusia begitu mempesona karena Celine memang cantik, berbeda sekali dengan tatapan Celine saat mengancam Nila.


Nila pun membalas senyumnya, ingat kata Rendi, tidak boleh takut apapun.


"Makasih ya!" ucap Celine.


Tentu saja, sebagai orang yang beradab, orang lain berbuat jahat saja Rosul kita mengajarkan kita agar tetap baik ke orang, apalagi orang yang bersikap baik. Nila pun membalas tersenyum ramah.


"Sama- sama!" jawab Nila.


"Kita boleh kan temenan!" ucap Celine lagi, tapi kali ini membuat Nila sedikit waspada.

__ADS_1


"Ya kan kita memang berteman!" ucap Nila.


"Oh iya ya!"


Nila mengangguk.


"Kalau teman berarti saling membantu dan jujur kan?" ucap Celine lagi


Nila masih mengangguk bersikap hati- hati.


"Sebenarnya kamu siapa?" tanya Celine lagi.


"Hoh?" pekik Nila terbengong.


"Maksudnya apa?"


"Gleg!" seketika itu Nila membelalakan matanya tersentak. Dan spontan Nila menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Apa maksud kamu?" tanya Nila berbisik juga dengan nada menajam.


"Segitu nggak nahan ya? Pulang kuliah langsung chek in? Udah sering?" tanya Celine lagi semakin menusuk.


"Chek in? Kamu tahu?" tanya Nila malah membuat Celine semakin yakin, walaupun maksud Nila, Nila tidak mengira kalau temanya ada yang liat dia dan Rendi masuk dan keluar hotel bersama.


"Kita kan temen kan? Aku akan jaga rahasia kamu kok. Jujur aja!" bisik Celine lagi.

__ADS_1


"Tidak seperti yang kamu lihat. Aku bisa jelasin!" ucap Nila seperti nasehat Rendi. Nila tidak boleh takut dan harus jelaskan.


"Aku cuma mau kasih tahu kamu!" jawab Celine cepat ternyata tidak ingin mendengar klarifikasi Nila.


"Tapi kamu harus tahu aku dan Pak Ren..," ucap Nila mau menjelaskan tapi Celine langsung memotong.


"Farel tidak mengkonsumsi narkoba seperti yang kalian kira!" sambung Celine cepat.


Nila jadi semakin membelalakan matanya. Padahal Nila jelas tahu apa yang dilakukan Farel. Kenapa Celine masih sempat bicara begitu.


"Kalian mikir nggak sih apa dampak untuk Farel atas apa yang kamu dan Pak Rendi lakukan. Kuliah di sini itu penting banget buat Farel termasuk dapat beasiswa!" sambung Celine lagi


Nila semakin bingung dan membelalakan matanya. Yang Nila dan Rendi lakukan kan menyelamatkan Farel agar tidak terjerumus ke hal yang tidak benar.


"Farel bau alkohol. Aku melihat sendiri dia dan temanya membawa barang itu. Aku dan Mas Rendi nyelametin Farel agar tidak terjebak dengan semua itu!" jawab Nila membela diri.


"Itu pertemuan pertama mereka. Farel baru mau coba itu saja belum. Farel tidak tahu mau bagaimana lagi. Tapi dia tidak seperti itu. Dan sekarang karena kamu, dosen dan pihak kampus tahu!" ucap Celine lagi masih dengan suara menajam tapi lirih dengan mencondongkan kepalanya ke telinga Nila.


"Kita cuma menyelamatkannya. Dia menyerangku!"


"Kamu membuntutinya dan mau laporkan dia kan!"


"Tidak!" jawab Nila cepat.


"Nyatanya begitu!" ucap Celine lagi.

__ADS_1


"Kamu nggak tahu apa yang terjadi Celine. Sebenarnya kamu dapat darimana fotoku dan cerita ini. Aku bisa jelaskan. Aku dan Mas Rendi sampai saat ini masih melindungi Farel!" ucap Nila.


"Tapi Farel dikeluarkan dari kampus ini!" ucap Celine karena gemas sedikit lebih keras.


__ADS_2