Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Rempong


__ADS_3

Di sebuah ruang yang tidak begitu besar, yang sekelilingnya tertata buku- buku besar dan tebal seorang pria dewasa dengan rahang tegas, tampak duduk menatap layar komputer dan menggigit jarinya. 


Ada rasa sakit yang menyeruak masuk ke dadanya saat dia melihat angka yang ada di depanya. Seperti ada rasa gentar yang datang. 


“Ternyata dia cerdas juga, bahkan lebih pintar dari kakaknya, padahal aku sudah membuat soal- soal yang sulit, kapan dia belajar? Jadi dia sama sekali tidak sedih karena berpisah dariku?” gumam Rendi di ruangan kerjanya. 


Rendi menelan ludahnya merasa dikalahkan oleh anak kecil.


Ya rendi termasuk dosen muda berprestasi, karena di usianya yang kurang dari 30 tahun saat itu dia sudah mnjadi dosen dan mengantongi gelar S3. Rendi juga selalu idealis dan disiplin, sehingga dia juga masuk ke tim pembuat soal di negara itu. Bukan hanya untuk kampus Rendi mengajar, tapi semua kampus di negaranya. 


Untuk seleksi mahasiswa jalur pertama yang diikuti Nila ini memang hanya siswa- siswa SMA yang mempunyai riwayat nilai akademis dari SMA/ SMK/ MAN nya. Jadi baik, Hanan, Farel, Nila dan peserta lain memang siswa pilihan dari seluruh penjuru negeri. Masing- masing sekolah, hanya mempunyai peringkat satu dan dua yang bisa masuk seleksi jalur ini, mengingat kampus tempat Rendi mengajar, adalah universitas terua dan mempunyai predikat favorit di negaranya. 


Peserta yang datang mengikuti ujian pagi ada sekitar 500 peserta, dan yang berkesempatan masuk lewat jalur gratis ini hanya 10 anak, selebihnya nanti akan ada seleksi dan tes lagi dengan persyaratan berbeda. 


Rendi memang tidak muncul di tempat ujian, atau menjadi panitia, akan tetapi lebih dari itu, dia yang membuat soal bersama timnya. Selama 5 tahun Rendi ikut tim pembuat soal, baru sekali ini ada siswa yang menembus point 500 dan 499. 


“Tak!” Rendi jadi heran sendiri, tidak bisa dijelaskan rasanya yang jelas, dia jadi semakin tidak ingin melepas Nila. 


“Gadis seperti apa dia sebenarnya?” gumam Rendi. 


Untuk pertama kalinya, tangan Rendi tergerak mengambil ponselnya. Tanpa ada yang melihat dan tahu, Rendi yang selama ini anti membuka media sosial, bahkan di ponselnya tidak ada aplikasi media sosial seperti instagram, diam- diam Rendi menginstalnya. 


“Apa nama akunya, Fatma ya? waktu itu dia pernah nyuruh aku buat dan ijin ke aku buat upload foto Nila?” gumam Rendi. 


Sayangnya, Rendi yang selama ini menganggap semua itu banyak dampak negatif, tidak tahu alamat ig adeknya sendiri. Dia pun ingat kalau yayasan ayahnya mempunyai akun media sosial. Demi mendapatkan foto Nila, Rendi kemudian mencari akun media sosial pesantren ayahnya. 


Ya, Rendi selama ini tidak menganggap penting pernikahanya, sehingga foto pernikahanya sendiri tidak dia simpan. Rendi tidak menyimpan foto Nila. Dan sekarang dia tidak mempunyai keberanian melihatnya atau menemuinya di tengah keramaian walau Nila sekarang ada di tempat yang sama bahkan satu gedung yang sama. 


“Ish... mana sih?” gumam Rendi gusar, Rendi melotot memandangi setiap foto yang terupload di media sosial ayahnya. Seharusnya Nila yang saat lulus mendapat rangking ada, sayangnya ternyata tidak ada. 

__ADS_1


“Haish...,” desis Rendi kesal, saat ini Rendi sangat ingin melihat Nila. 


“Apa aku datangi saja ya? tapi siswa sebanyak itu? Sudah pulang atau belum lagi?” gumam Rendi lagi melirik jamnya. 


Waktu ujian selesai 5 menit yang lalu. Rendi jadi gelisah sendiri, Rendi kemudian mengacak- acak rambutnya gusar, hingga akhirnya, otak Rendi yang selalu menahan gengsi dikalahkan oleh rasa penasaran dan ingin melihat rupa mantan istri yang cukup membuatnya tercengang. 


Rendi mengintip dari kaca gedung rektorat yang tinggi itu ke halaman aula. Para siswa tampak berhambur keluar semua mengenakan seragam hitam putih dan mustahil untuk melihat satu- satu kecuali Rendi turun dan menunggu di depan post satpam pintu keluar. 


Rendi pun melihat sebagian siswa masih berkerumun di depan papan pengumuman. Itu artinya kemungkinan Nila belum pergi. Tidak peduli ditanya teman- teman sesama dosen, Rendi lari keluar ruangan dengan cepat, lalu menyusup berjalan cepat sembari celingukan dan untuk pertama kalinya selama bertahun- tahun bekerja di kampus itu, Rendi masuk ke pos penjaga pintu. 


Ya tempat test dijaga ketat oleh polisi, para pengantar tidak boleh masuk, dan para peserta hanya boleh masuk dan keluar lewat pintu itu. Jadi pos itu satu- satunya tempat Nila akan lewati. 


“Ehm...,” dehem Rendi tampak canggung hendak menyapa satpam. Bahkan kening Rendi tampak berkeringat dan nafasnya ngos- ngosan. 


Satpam kampus memang hafal wajah Rendi sebagai pekerja di tempat itu, sayangnya Rendi yang pendiam tidak dekat dan kenal, jadi baik satpam dan Rendi sama- sama canggung. 


“Maaf,” ucap Rendi singkat. 


Rendi kemudian menggaruk tengkuknya bingung mau alasan apa. 


“Saya... saya, mau nongkrong di sini sebentar, boleh?” tanya Rendi. 


Satpam pun saling pandang bingung, bangkunya hanya ada dua, ruanganya juga sempit. 


“Nongkrong?” tanya satpam. 


“Nggak, maksud saya, saya ada perlu, saya ingin saya mau melihat seseorang dari sini. Boleh kan?” tanya Rendi dengan gugup akhirnya menurunkan gengsinya kalau dia sedang menunggu seseorang. 


“Oh gitu... yaya. Silahkan Pak,” jawab Satpam mengalah, lalu salah satu dari mereka berdiri memberikan kursi ke Rendi. 

__ADS_1


Rendi pun menerimanya dengan senang hati, duduk di depan loket pintu keluar dan matanya stand by memperhatikan setiap yang melewati pintu itu. 


“Aih...,” gerutu Rendi seketika itu langsung menutup wajahnya dan mundur dari duduknya. 


“Ada apa Pak?” tanya satpam. 


“Aku duduk di bawah saja, ini ada cctvnya nggak sih?” 


“Ada ini, Pak!” ucap satpam menunjuk komputer di pojok ruang kecil itu. 


Ternyata dari loket kaca, Rendi melihat, pria yang dulu amat menyanjungnya dan sekarang berganti membencinya tampak berdiri mengobrol dengan seseorang di depan gerbang, menunggu putri tercintanya. 


Ya Baba, dengan setia, membersamai orang tua dan keluarga peserta lain yang ikut menunggu anak- anaknya. Rendi pun memilih menunduk tidak mau terlihat dari kaca atau dari luar. 


Untung mata Rendi langsung jeli, kalau di palang pintu masuk dan keluar itu ada cctvnya. Rendi pun mundur dan memilih menunggu Nila lewat melalui layar komputer itu. 


Satpam hanya saling pandang dan kebingungan, Rendi yang terkenal galak dan pendiam bertingkah sangat aneh. Mereka juga ikut pensaran, siapa yang hendak Rendi tunggu. Jaman sekarang kenapa harus serempong itu. Rendi kan orang terhormat, pintar dan berpendidikan, juga berani,kenapa tidak langsung cari orangnya atau hubungi nomor ponselnya. 


Tapi mereka tidak berani berkomentar dan membiarkan Rendi nergelut dengan dunia rempongnya sendiri. Satpam kembali berjaga, dan Rendi tenang di depan komputer menyembunyikan diri. 


Satu persatu dari ratusan peserta yang berseragam sama berseliweran. Mata rendi pun terus menatap komputer. 


“Mana sih, kok lama banget nggak nongol?” gerutu Rendi sangat kesal, matanya sudah pedih dan keningnya pegal, Nila tak kunjung terlihat, tapi Rendi melirik lewat kaca, mobil mewah mantan mertuanya masih ada, meski teman yang tadi menemani ngobrol Baba sudah tidak ada, jika Baba dan mobilnya masih di situ itu artinya Nila memang belum keluar. 


Rendi kembali menatap layar komputer. Setelah sepi dan hanya tinggal satu dua, dari ujung jalan tampak dua siswa berjalan beriringan meski berjarak beberapa jengkal. 


Rendi semakin membulatkan matanya yang berkaca mata. Dadanya bergemuruh, dua siswa yang dia lihat itu berlainan jenis kelamin. Satu gadis kecil yang kain penutup kepalanya tampak melambai anggun membalut wajah ayu nan manis mantan istrinya, di sampingnya pria muda yang tampak tinggi kekar, pandanganya tampak dingin tenang dan berwibawa. 


“Siapa dia?” gumam rendi kesal. 

__ADS_1


“Dia sadar nggak sih, masih masa iddah? Secepat itu dia melupakan aku? Bukankah di buku diarinya dia bilang mencintaiku? ***!” gumam Rendi kesal dan tanganya mengepal. 


Rendi memng berhasil menemukan buku diary Nila selama di pesantren dimana setiap hari, Nila merindukannya, mengagumi Rendi dari semua cerita masa kecil Rendi dari Ummi, juga bagaimana perasaan Nila setiap Rendi datang ke rumahnya. 


__ADS_2