Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Baba Yang Salah


__ADS_3

“Allohu Akbar… Allohu Akbar…..,”


Suara adzan terdengar dari ujung jalan depan rumah Rendi.


“Alhamdulillah, maghrib….,” tutur Abah selesai mandi. “Sajadah dan sarungku, mana Nduk?” tanya Abah ke Ummi.


Jika tak ada putra putrinya, walau sudah masuk usia senja, Abah dan Ummi saling memanggil dengan panggilan sayang.


Ummi pun dengan sigap mendekat ke koper mereka dan mencari pakaian sholat Abah.


“Niki, Gus…,” tutur Ummi setelah berhasil membuka tumpukan pakaian di kopernya. Masa muda Abah juga seorang Gus. Berbeda dari Ummi.


“Yoh, terima kasih, aku tak ke masjid. Kamu di rumah saja!” tutur Abah pamit.


"Nggeh..." jawab Ummi.


Walau bukan di masjid miliknya, dan di kampung orang. Abah merasa merugi dan kehilangan kalau melewatkan sholat berjamaah.


“Tapi, mau naik apa? Sudah tahu masjidnya dimana? Ingat lho… ini bukan kampung kita, ajak Akbar, nair motor!” tutur Ummi seperti layaknya seorang istri yang memikirkan semuanyam


“Jalan kaki saja, selain olah raga, Abah ingin lihat rumah- rumah di sini, kan setiap langkah ke masjid Alloh beri pahala,” jawab Abah.


“Iya, tapi kalau ada acara yang lebih mudah kenapa tidak dilakukan, kan ada motor, sekarang kan jaman modern."


"Kan sekalian olahraga!"


"Ya. Kalaupun jalan kaki, ajak Akbar!” tutur Ummi tetap memperjuangkan Saranya.


“Ya!” jawab Abah akhirnya manut, saran Ummi memang benar, Rendi kan yang paham daerahnya, tak peduli seterhormat apa Abah di kampung sendiri, di sini taka da yang mengenal Abah. Apalagi, Abah pergi tanpa pengawal seperti biasanya yang santrinya selalu ikut.


Karena buru- buru dan hendak ke rumah Baba, santri yang biasa ikut memang Abah suruh nyusul besok, Bersama rombongan Aisyah dan Fatma membawa oleh- oleh atau seserahan acara Rendi.


Walau dalam musyawarah tadi siang, oleh pihak Abah dan Baba disepakati, tidak ada resepsi besar sampai Nila lulus. Akan tetapi, acara pengajian, selamatan yang kedua kalinya untuk nikahan Nila dan kumpul keluarga tetap diadakan. Jadi keluarga Rendi tetap membawa oleh- oleh.


Abah pun berjalan keluar, di luar kamar, Abah menemui suami Bu Siti. Abah pun menanyakan Rendi.


“Pak Rendi belum, turun Pak, malah kayaknya belum keluar kamar!” tutur Suami Bu Siti.


“Boleh minta tolong panggilkan? Kakiku pegal kalau harus naik tangga,” tutur Abah meminta tolong.


“Ya, Pak!”


Rumah Rendi memang belum secanggih rumah Baba yang menggunakan Lift. Abah yang sudah 50 tahun ke atas jadi tidak suka naik turun tangga.


Suami Bu Siti pun naik ke atas ke kamar Rendi, berniat memanggil Rendi.


****


“Akk….,” pekik Nila tertahan.


“Srekk… brug… auh,” keluh Rendi spontan terguling dan jatuh.


“Sreek…,” Nila segera meraih selimutnya dan meringkuk.


Di saat itu, di luar kamar Rendi terdengar ketukan pintu.


"Pak? Anda baik- baik saja?" tanya Suami Rendi mendengar suara keras terjatuh.


"Ya. Baik?" sembari menahan sakit karena terjatuh dari Kasur, Rendi menjawab.


"Maaf. Pak? Boleh saya masuk?" tanya Suami Bu Siti.


"Jangan!" jawab Rendi cepat. "Sebentar!" Rendi jadi kembali sehat dan buru- buru walau tubuhnya mendadak pegal.


Dengan kelimpungan Rendi segera mencari pakaianya dan kemudian keluar hanya memakai sarung.


“Ada apa Pak?” tanya Rendi membuka pintu sedikit celah agar menemui suami Bu Siti, tapi kamarnya masih tertutup.


“Anu, ayahnya saya disuruh Bapaknya Pak Rendi untuk manggil, kayaknya mau diajak sholat berjamaah di masjid,” jawab suami Bu Siti sedikit tergagap, tumben sekali Rendi bertelan jang dada.


Rendi mengusap tengkuknya, lalu melirik ke dalam, Nila belum beranjak dari atas Kasur dan masih meringkuk di atas Kasur. “Maaf Pak, aku sholat di rumah, minta tolong, temani Abahku ya Pak,” ucap Rendi.


“Oh ya, sudah, baiklah!” jawab suami Bu Siti balik kanan.


Rendi menutup pintunya lagi dan kemudian mendekat Nila.


“Kenapa Mas di dorong? Kan belum selesai!” tanya Rendi membungkukan badanya dan meraih bahu Nila yang tertutup selimut.


Bukanya menjawab, Nila malah menepis tangan Rendi dan terdengar terisak. Rendi pun memeriksanya lagi.


“Hei… kamu nangis?” tanya Rendi berusaha membalikan tubuh Nila yang membelakanginya.


Sayangnya Nila berusaha tertahan dan justru memanjangkan selimutnya agar tubuhnya tertutupi sempurna.


Rendi pun berusaha keras membukanya bakan setengah merengkuh Nila agar menghadapnya.

__ADS_1


“Kamu nangis karena takut dimarahi Baba atau karena sakit?” tanya Rendi.


Nila masih terisak dan semakin berlindung di bawah selimut.


"Haish. Kok malah ngumpet." tutur Rendi kesal. Nila malah berlindung di bawah selimut.


"Hei...tadi baru di pintu. Tanggung.. nanti nggak sakit kok. Keburu abis waktu maghribnya. Abis ini mandi terus turun ke Ummi. Yuh. Buka!" ajak Rendi sedikit memaksa menarik selimut Nila.


“Uhuk…. Uhuk…. Hu hu hu…,” bukanya menjawab, Nila yang sebelumnya terisak malah mengeluarkan emosinya dan menangis keras.


“Haish…,” Rendi yang sebelumnya berwajah cerah pun menyeringai, menggaruk kepalanya bingung lagi.


“Apa sakit sekali?” tanya Rendi. "Tapi kan baru menyentuh sedikit!" ucap Rendi dengan polosnya.


“Huks hughs…” Nila masih menangsi tersedu- sedu sampai nafasnya tersengal sengal.


“Maaf,” ucap Rendi, menunduk lesu.


“Mas jahat!” ucap Nila akhirnya memukul Rendi dengan bantal.


Rendi membelalakan matanya menerima bantal itu.


“Mas jahat gimana?” tanya Rendi.


“Kenapa kejadiannya, malah kaya gini? Kenapa mas ingkar janji?” tanya Nila sembari sesenggukan.


“Ingkar janji gimana?”


“Ya kan belum ke beres semuanya, katanya nunggu selesai dapat buku!" tutur Nila sembari memukul Rendi lagi.


Rendi menelan ludahnya lalu menegakan duduknya dan menatap Nila yang sesenggukan dan tampak mengatur nafasnya.


Hingga Nila perlahan melemah dari tangisnya, dan suasana hening sejenak.


"Jadi kamu nangis karena menyesal? Kan belum?" tanya Rendi.


"Belum apa? Udah! Udah sakit!" jawab Nila dengan lugunya.


"Sakit apanya? Baru nyentuh? Takut? Nyesel apa sakit?" tanya Rendi akhirnya.


Nila tidak menjawab hanya sesenggukan mencengkeram selimut menutup tubuhnya.


“Dengerin!" ucap Rendi tenang. "Kamu tahu, kalau bukan karena kamu sedang belajar di pondok dan Mas selesaikan desertasi, juga adanya undang- undang perlindungan anak, kita itu salah, kalau masih saling jaga.” Tutur Rendi tenang.


“Hughs…,” Nila masih sesenggukan.


“Tapi, Nila udah langar nasehat Baba karena Mas, mas juga katanya mau jadi menantu yang baik, buat penuhi permintaan Baba! Mas nggak ingat? Aku kira Mas baik,” jawab Nila.


“Lhoh, di kalimat mana, Baba melarang kita berhubungan?” tanya Rendi.


“Kan tadi Baba udah pesen kita nggak boleh tidur bareng!” ucap Nila merajuk.


“Ck… kan kita nggak tidur, kita sama- sama sadar, lha wong kamu juga bisa rasain dan masih melek,” jawab Rendi malah meledek Nila.


“Ih…,” pukul Nila lagi ke Rendi sangat dongkol. Tapi memang benar kata Rendi. Perkataan dan permintaan Baba. Malam ini tidur bersama Ummi bukan tidak boleh berhubungan dengan Rendi.


“Bener kan?”


“Sebbel,”


"Mas pengen kamu tahu? Mas milik kamu, begitu sebaliknya, jadi jangan cemburu atau curiga. Kamu harus tanamkan, kamu satu- satunya buat Mas, kamu istrinya Mas,” tutur Rendi lagi.


“Tapi Baba pasti kecewa, Mas” jawab Nila malah tetap memikirkan Baba.


“Lhoh Baba kecewa gimana?”


“Ya kalau tahu ini!”


“Ya jangan bilang, masa begini dibilang - bilangin, ingat berumah tangga harus beradab dan memilah mana yang boleh dibagi dan tidak,” tutur Rendi lagi.


“Tapi Alloh tahu, dan hati Nila jadi rasa bersalah,”


“Lhoh, justru Dhek! Kemarin di hotel kamu bilang sendiri kan? Suami istri harusnya bagaimana? Nih coba fikir! Baba selalu memberikan permintaan secara eksplisit, karena Baba tahu, saat Baba sudah menyatakan menikahkan kamu, artinya Baba sudah menyerahkan kamu ke Mas. Baba sebenarnya sudah tidak berhak ngatur kita atau membatasi kita, namanya nikah ya nikah.” tutur Rendi.


“Tapi kan dulu perjanjian dibuat sebelum akad, dan mas setuju!”


“Perjanjianya, mas diminta, memberikan hak ke kamu tumbuh dan berkembang sesuai usiamu. Kamu menyelesaikan pendidikanmu, tidak menyentuhmu sampai kamu menjadi perempuan dewasa dan matang dalam hal fisik dan mental. Kan sudah kan? Malah Mas dituduh kamu nggak akui kamu. Giliran sekarang mas memperlakukanmu sebagai istri, begini, gimana sih,” jawab Rendi lagi.


“Tapi kan kemarin Baba buat kesepakatan lagi!”


“Nggak ada kesepakatan kata- kata kita nggak boleh berhubungan, kata- katanya kalau ketemu harus ijin. Kan kita udah ijin. Itupun sebenarnya Baba kurang benar, kamu kan hak Mas. Mas tetep patuhi Baba, tapi Mas kan butuh restu dan Doa Baba, jadi Mas iyain aja,” jawab Rendi lagi.


“Tapi kenapa dilanggar,”


“Mas nggak langar, kok, Mas penuhi!” jawab Rendi. “Coba bagian mana yang Mas langar?” tanya Rendi lagi.

__ADS_1


Nila terdiam dan nafasnya mulai stabil. Dalam hati Nila berfikir, benar memang Rendi tak melanggar jika Rendi menafsiirkan kata- kata Baba secara utuh.


"Sebenarnya yang salah Baba!" lirih Rendi mengusap tengkuknya.


"Mas nyalahin Baba?" tanya Nila langsung manyun tersinggung, seperti apapun Baba, kan ayah Nila.


“Kamu tahu hukum, Ila?” tanya Rendi kemudian melihat Nila diam tertunduk.


“Sejak awal, Mas tidak pernah berujar aku tidak akan mencampurimu dalam batas waktu tertentu, kenapa? Justru itu yang bisa merusak hubungan nikah kita, itu nggak boleh. Suami istri itu harus campur, justru kamu harus bertanya dan curiga, kalau sampai suamimu tak berhas rat denganmu. Mas tidak berjanji tidak meng gaul i mu, berujar dalam hati, mas menikahimu ingin Abah dan Ummi Bahagia. Mas juga ingin melihat bagaimana Jingga merasakan sakit. Itulah kenapa aku menjaga jarak denganmu selama ini. Bahagianya Abah dan Ummi saat Mas bisa menjaga kamu, menjadikan kamu istri Mas yang Bahagia.


Ya. Walau saat itu, mas ragu, gimana caranya bikin kamu Bahagia. Mas juga ragu bagaimana aku menghadapi anak kecil sepertimu. Tapi rupanya jatuh cinta denganmu tak sesulit yang Mas bayangkan. Kalau mas nekat pulang saat kamu sekolah, pasti mas bisa kelepasan saat sebelum hari ini!” ucap Rendi Panjang.


Nila sempat tertegun, tapi rasanya masih dongkol.


“Tapi Mas tahu kan tujuan nikah ini gimana?”


“Ya tujuan nikah, kita untuk menjadikan yang haram jadi halal, ini ibadah terpanjang kita.”


“Tapi kan nggak harus begini dulu, sampai selesai urusan sipilnya?” ucap Nila lagi.


“Lusa kita insya Alloh sah, Dhek!” ucap Rendi meyakinkan.


“Lusa kan? Kita kan nggak tahu apa yang terjadi, termasuk di malam ini sampai besok!” jawab Nila lagi.


Rendi langsung melotot.


“Astaghfirulloh, maksudnya apa kamu ngomong gitu? Doain yang jelek- jelek. Mas pasti akan tanda tangan. Kamu sekarang istriku!”


“Ya nggak, maksudnyaa… Tapi, Baba itu bilang ke Nila jangan jadi perempuan murahan,” jawab Nila dengan polosnya sifat kekanakanya masih belum tertutupi sempurna.


“Ck… Hadeh...," ucap Rendi menghela nafas kesal. "Nih, mas dulu kasih kamu mas kawin cincin berlian mahal lho, murahan gimana sih?”


“Ya maksudnya, nikah siri itu, kedudukanya kan rendah. Mas bisa ceraiin aku kapan aja, tapi aku nggak bisa nuntut apapun dari Mas, termasuk minta pisah!” jawab Nila cemberut.


Kali ini mendengar Nila, Rendi malah terkekeh.


“Salah siapa dulu mau,” jawab Rendi,


“Ih kok gitu?” jawab Nila tambah sewot.


“Ya Babamu dan kamu itu lucu.” Jawab Rendi lagi.


“Kok malah ngehina aku dan Baba,”


“Udah sih, Dhek, istriku yang cantik. Semua udah terjadi kan? Sekarang kamu berfikir positif ke mas, kalau kamu dan keluargamu berfikir nikah di bawah hukum negara itu tidak baik, harusnya dari awal jangan dilakukan !. Tapi kalau udah dilakukan ya udah sih, sekarang udah nggak ada lagi alas an kita untuk menahan. Nanti jatuhnya malah dosa, kalau ditahan- tahan!” jawab Rendi lagi.


“Kemarin di hotel bisa!”


“Karena mas tahu itu bukan kendali dan keinginan Mas! Kita juga belum ketemu Baba kan? Mas belum mendengar maaf dari Baba! Sekarang kan semua udah baik, Baba dan Buna juga nenek sudah kasih restu kita. Kita masih suami istri,” jawab Rendi lagi.


Nila terdiam mendengarnya.


“Lagian dari tadi kamu juga kamu diam, suka kan? Selesaiin yuk!” tanya Rendi menatap Nila dengan tatapan penuh artinya yang membuat Nila tersipu malu.


“Nggak! Sakit!” jawab Nila lagi.


“Ck… Sakit mananya? Nggak nanti, nggak sakit! Kamu jangan takut dan tegang makanya...” jawab Rendi mengerlingkan matanya.


“Nggak, waktu maghrib udah mau abis, cepetan sana mandi sholat!” ucap Nila dengan nada bawelnya.


"Hish... tanggung!"


"Nggak!" jawab Nila kekeh mendekap tubuhnya.


"Nggak ada 5 menit!"


"Nggak!" ucap Nila melempar bantal ke Rendi agar agar menjauh.


Rendi jadi menangkapnya.


Bukanya mau Nila malah turun dan lari ke kamar mandi.


"Hei...!" panggil Rendi.


Nila lari sangat cepat seperti dikejar hantu.


Rendi mengejar tapi Nila sudah menutup pintu duluan.


"Haish!" Rendi pun hanya garuk- garuk kepala. Terpaksa berbalik. Jam memang menunjukan sudah masuk waktu maghrib. Rendi menelan ludahnya harus menahan sabar lagi.


Hingga Rendi mengalah, sembari menunggu Nila mandi membereskan tempat tidur. Ternyata bercak darah memang tercetak di sprei putihnnya


Rendi pun tersenyum dan menghela nafasnya.


"Sepertinya aku harus cari tempat yang membuatnya rileks. Oke ayo kita honeymoonth, Sayang!" batin Rendi.

__ADS_1


Rendi pun memaksa adik kecilnya agar tidur.


__ADS_2