
Di bawah gelungan selimut tebal, dua insan yang baru saja mengakhiri pergelutan singkat tampak berpelukan. Walau mereka sedikit berkeringat, karena ruangan ber_AC mereka tidak merasakan panas, dan mereka melepas keletihan mereka dengan memeluk.
“Cup…, udah Yuk, bangun!” sebuah kecupan hangat mendarat di puncak kepala gadis kecil yang meringkuk dalam rengkuhan Pria tinggi bertubuh besar, mereka menyatu tanpa batas.
“Nila capek sama ngantuk Mas, boleh tidur nggak? Sebentar aja...” lirih Nila lemah dengan suara seraknya.
“Abis ashar, nggak boleh tidur.. Yuk bangun,” balas Rendi lembut membelai Nila yang masih top less dalam pelukanya.
“Mmm..,” Nila sedikit melenguh manja dan malah mengeraatkan pegangan tangan Rendi.
“Hei.. Janjinya rebahan, tapi nggak tidur, hmmmm…,” jawab Rendi lagi Kembali memberikan kecupan lagi.
“Mmm… aku ingin tidur!” racau Nila lagi suaranya semakin redup.
“Ciit…,” dengan gemas, Rendi mencubit pipi Nila.
“Auh…, kok malah cubit sih?" keluh Nila langsung menghempas tangan Rendi dan membalikan tubuhnya menatap suaminya, cemberut.
Rendi pun terkekeh kini mereka saling berhadapan.
“Nanti abis isya boleh tidur, tapi sebelum maghrib dilarang tidur.” tegur Rendi mengulangi.
“Mmm…,” keluh Nila lagi.
“Ayok, bangun mandi!”
”Ash… mandi lagi, rambut Nila aja belum kering! Bete! Mas sih bikin Nila gini?” keluh Nila, kesal.
Ya. Nila sekarang merasakan benar, tubuhnya lunglai, setelah dua kali bertarung. Baru saja segar setelah mandi dan makan, tenaganya, sudah harus dihabiskan lagi karena gempuran Rendi. Ternyata semelelahkan ini jadi istri.
Saat ini yang Nila butuhkan tidur. Nila sangat nyaman tidur dipeluk Rendi, tak ingin diganggu. Sayangnya, baik Rendi atau Nila tahu, ajaran agamanya, tidak boleh tidur menjelang maghrib.
“Kalau ngeluh pahalanya ilang, yuk bangun, yuk!” ajak Rendi tetap tegas, tidak mau membiarkan istrinya terbawa nafsu. Ya, Rendi seorang suami, harus bisa bimbing istrinya. Rendi pun dengan berat hati menyingkap selimutnya.
Rendi dengan segera mengambil pakaianya. Bangun dan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Mau tidak mau Nila iku bangun juga, dan dia baru sadar, sekarang di atas sprei kasurnya jadi terkena noda putih yang tumpah.
“Aish…,” desis Nila malu setelah memeriksa tempat tidurnya.
“Gleg!” akan tetapi seketika itu, dada Nila berdebar. Nila langsung memeluk tubuhnya sendiri. Nila menelan ludahnya. Ya, dirinya sudah menerima benih yang Rendi semburkan begitu banyak, sampai tumpah.
“Bagaimana kalau beneran hamil? Ya, Tuhan, astaghfirullah, aku tidak salah berfikir dan ambil keputusan kan? Aku terbawa napsu?” gumam Nila.
Sekarang Nila berfikir normal di luar rasa yang diselimuti bira hi yang melenakan. Jika Nila beneran hamil, memang menyenangkan, tapi akan banyak resiko yang dia hadapi. Kuliahnya? Perannya? Babanya?
“Huuuft…,” Nila menghembuskan nafasnya lembut. Pusing juga memikirkan itu. Kantuk Nila pun hilang.
Nila segera melilitkan selimut untuk menutup tubuhnya, lalu Nila bangun mau tidak mau mengganti spreinya lagi dengan motif gelap lagi.
Ya sebagai istri, Nila sekarang punya tanggung jawab, menjaga kerapihan dan kebersihan kamar, apalagi Bu Siti kan tidak menetap. Hanya datang mencuci, mengepel dan menyapu.
Sepersekian detik, Rendi selesai mandi. Rendi pun tercengang, kamarnya Sudah berubah warna lagi.
“Lhoh diganti lagi spreinya, Dhek?” tanya Rendi sembari memilih pakaian gantianya.
Nila hanya mengkerucutkan bibirnya. Walau masih berbalut selimut, Nila tetap bekerja dengan rajin, Nila juga memindahkan bonekanya ke atas lemari karena sudah ada Rendi.
“Jangan rajin- rajin, Dhek. Udah nggak apa- apa bonekanya di sini! Spreinya juga kan bisa ganti 1 minggu sekali!” tegur Rendi kasian ke Nila. Ternyata Nila sangat rajin.
__ADS_1
Mendengar kata satu minggu Nila menoleh terhenyak.
“1 minggu, Mas?” tanya Nila sedikit mendelik.
“Ya… iya, Mas kadang malah sebulan sekali!” jawab Rendi tanpa dosa.
Nila pun mengeratkan rahangnya gemas.
“Hhh…yakin mau ganti 1 minggu sekali, sehari ini aja Mas udah 2 kali lhoh! Kotor!!” ucap Nila bermaksud mau memberi tahu, kalau tidak diganti itu jorok. Sprei mereka kena tumpahan cairan Rendi, bauk. Padahal kan Rendi pasti mau terus.
Sayangnya Rendi tidak paham dengan maksud Nila, menurut Rendi tidak ada hubunganya, kan Rendi merasa mengeluarkanya sudah pada tempatnya tidak tahu, punya dia berlimpah.
“Ya nggak harus selalu diganti juga kan? Nanti kamu capek kalau tiap hari ganti,” tegur Rendi lagi.
“Kotor Mas, bau juga!” jawab Nila. “Tuh liat!” ucap Nila sembari menunjukan nodanya dan mendekatkan ke Rendi.
Rendi pun menyeringai.b“He…ya maaf.” Jawab Rendi.
Nila tidak menjawab, ingin bilang makanya jangan keseringan, tapi Nila juga suka. Jadi Nila mendinh diam.
Setelah kamar rapih, Nila langsung mandi dan mengabaikan Rendi.
Rendi yang sudah rapih pun turun ke tempat kerjanya. Dua kali mengcharge membuatnya fresh dan ingin bekerja lagi. Rendi pun membuka i_padnya bekerja.
Akan tetapi melihat Nila bekerja keras dan ingat Nila mengeluh Lelah, Rendi pun kepikiran Nila.
“Dhek…,” panggil Rendi ke Nila.
“Ya…,” jawab Nila mendekat. Nila sudah rapih juga. Berganti memakai pakaian tidur celana stelan.
Rendi meninggalkan pekerjaanya, dan meminta Nila duduk bersamanya di depan televisi.
“Ada apa?” jawab Nila.
“Dua hari kemarin kamu beneran nggak tidur ke rumah Baba dan tidur sendirian di sini?” tanya Rendi memastikan.
“Ya bener? Kan Mas video call Nila kan? Kata Buna dan Umm kan kalau Perempuan sudah menikah, utamanya sama suami, saat suami pergi, istrinya harus jaga harta dan nama suami kan?” jawab Nila dengan polosnya.
Rendi pun tersenyum lega dan bersyukur mendengarnya.
“Kamu beresin rumaah sendirian?” tanya Rendi lagi.
“Ya, nggak juga, dibantu Bu Siti!” jawab Nila.
“Oh… Kamu sendirian di rumah nggak takut?” tanya Rendi lagi.
“Ya kan sekarang ada Mas. Kan kita ke kampus bareng pulanh bareng!” jawab Nila.
"Hemm maksudnya kalau Pas mas pergi!"
"Ya. Jangan pergi!" jawab Nila.
"Ya. Nggak. Tapi maksud Mas bukan gitu?"
"Apa sih?"
“Maaf ya, Mas cuma ingin yang terbaik buat kamu. Mas tahu siapa kamu dan Baba. Mas nggak mau kamu jadi istri Mas malah kecapekan. Mas juga nggak mau kalau pas Mas pergi kamu kesepian. Kalau kamu mau dan perlu, kita cari ART yang tinggal di rumah, boleh kok kita ganti Bu Siti dengan yang lain yang mau nginep. Mas akan cari, atau kamu boleh pilih sendiri!” tawar Rendi perhatian ke Nila.
__ADS_1
“Nila nggak kecapekan kok, udah Bu Siti aja, orang Nila juga sempat main juga kemarin! Kalau sepi tinggal main,” jawab Nila keceplosan dengan semangat. Nila cocok dengan Bu Siti. Nila juga lebih nyaman dengan ART yang pulang pergi.
“Main?” pekik Rendi.
Ya, sayangnya Rendi malah gagal fokus dengan pernyataan Nila yang bilang main.
“Gleg!” seketika itu Nila gelagapan.
Ya, kemarin kan setiap pulang kuliah tanpa sepengetahuan Rendi dan Baba Nila menemui Ibunya Farel.
“Iya…,” jawab Nila sedikit menyeringai.
“Main kemana? Kok Nggak cerita?” tanya Rendi.
“Maaf!” jawab Nila.
“Ya nggak apa- apa main. Mas bisa ngerti, tapi kabari Mas!” jawab Rendi lembut.
Nila menggigit bibirnya ragu. Tapi Nila harus cerita.
“Nila temui ibunya Farel, Mas!” ucap Nila akhirnya.
Rendi pun terhenyak. “Ibunya Farel?”
Nila pun mengangguk.
“Kok ibunya Farel?” tanya Rendi lagi. Kenapa masih bahas Farel.
Nila menghela nafasnya sebentar, lalu Nila menceritakan semua tentang Celine yang sejak awal tahu hubunganya lalu memberi alamat ibunua Farel dan memberi Nila peringatan.
Awalnya Rendi tersenyum masam dan meminta Nila untuk tidak peduli Celine.
“Tapi ibunya Farel kasian, Mas. Menurut Nila, Celine itu baik. Nila juga kepikiran sama Mas.” Jawab Nila.
“Sayang… sudah Mas bilang, kalau kita percaya sama Alloh, udah jangan overthingking. Tidak ada yang bisa nyelakain kita kecuali atas ijinNya. Kakaknya Farel, walinya Farel itu Dion, teman Mas yang kemarin temuin kita. Dia kok yang udah jamin dan damai sama kita. Farel diobati, jangan pernah merasa bersalah!” jawab Rendi menasehati.
“Tapi itu kakaknya Farel kan Mas? Nyatanya ibunya Farel sampai terbengkalai di RSJ begitu? Nila nggak percaya Mas, menurut Nila keluarga Farel bermasalah. Farel memilih jalan itu juga karena dia korban!” sambung Nila memberitahu Rendi.
“Aih Tuh kan? Kamu jadi kepikiran kemana-mana? Udah, Farel bukan urusan kita! Kita mikir masa depan kita!” tegur Rendi lagi.
“Tapi hati Nila nggak tenang Mas!'
"Karena kamu mikirin. Sekarang jangan mikirin!"
"Masalahnya Baba juga cerita Mas, kalau ayahnya Farel itu nggak beres. Biaya perawatan Ibunya Farel nggak dibayar, coba! Temanya Mas kemana? Kenapa nggak dia urus?”
Rendi menghela nafasnya, lalu menatap istrinya yang masih polos itu.
“Itu ibunya Farel, bukan ibunya Dion!” jawab Rendi akhirnya memberitahu. Sebenarnya Rendi juga tahu latar belakang Farel.
“Celine itu hanya ingin buat kamu tambah rasa bersalah. Sudah nggak usah dipikirin! Ibunya Farel mungkin memang butuh dirawat!”
“Tapi Ibu Farel udah sehat Mas. Dia butuh pertolongan, dia banyak cerita ke Nila juga,” sambung Nila menggebu ingin cerita.
“Udah- udah, tuh adzan maghrib. Mas ke masjid dulu! Pesan Mas. Kamu kerjakan tugas kuliah kamu. Bikinin teh hangat buat Mas. Jangan memikirkan apa yang bukan urusan kita” ucap Rendi malah pergi.
Ya. Adzan maghrib memang terdengar dan Rendi sepertinya tidak suka, Nila berurusan dengan keluarga Dion.
__ADS_1
"Hhh...," Nila hanya menghela nafasnya. Padahal Nila ingin cerita banyak. Dari cerita ibu Farel. Ibu Farel hanya ingin dibantu keluar dari RSJ. Ibu Farel ingin bertemu dengan Farel. Dan Farel hanya korban ambisi ayahnya.