Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Surat Rendi.


__ADS_3

“Nila...,” pekik Amer dan Baba. 


“Duduk sini!” ajak Amer. 


Buna yang sedang menimang Vio ikut menoleh dan mengajak Nila duduk.


Mereka pun berkumpul di ruang keluarga itu. 


“Mana, Bang Adip dan Kak Jingga?” tanya Baba. 


“Lagi sholat, Ba... sebentar lagi turun!” jawab Nila kemudian duduk di samping kakaknya. 


Amer pun tersenyum, dan menggenggam tangan Nila. Amer amat sayang ke Nila dan tidak rela jika adiknya dilecehkan apalagi dihina. 


“Kita semua sayang ke kamu. Kamu begitu berharga untuk kami. Kami akan lakukan untuk kamu. Kami udah salah percayakan kamu ke orang yang salah, Kakak dan Baba akan menebusnya. Kami pasti dampingi kamu!” ucap Amer. 


Nila pun mengangguk. "Makasih Kak!" jawab Nila.


“Selesaikan urusan ini secepatnya. Kita akhiri semuanya. Fokuslah kuliah. Raih cita- citamu. Baba nggak akan ikut campur lagi. Tumbuhlah dengan baik dan tentukan masa depanmu sendiri ya!” tutur Baba lagi. 


Nila pun tersenyum mengangguk ke Baba. “Ya.. Ba!” jawab Nila. 


"Tapi tetap siapapun pacar kamu. Harus bilang ke kakak!" sahut Amer.


"Ya. Jangan ulang kesalahan. Harus selektif dan lewat kakak- kakakmu juga Baba!" sahut Baba lagi.


Nila hanya mengangguk.


“Sidangnya akan dilaksanakan 3 hari lagi. Kamu belum ujian kan?” tanya Amer. 


“Jadwal ujian Nila 1 minggu lagi, Kak!” jawab Nila. 


"Baiklah. Siapkan dirimu ya!" ucap Baba.


Tidak lama Adip dan Jingga turun. Semua pun menoleh, menyambut mereka. Adip langsung menyalami Baba dan juga Amer. 


Baba pun memeluk Adip dengan bangga. Bang Adip yang dulu diremehkan sekarang menjadi menantu kesayangan. Sementara Rendi yang menjadi harapan besar Baba menjadi orang yang paling Baba benci saat ini. 


“Apa kabar, Nak? Gimana perkembangan di sana?” tanya Baba. 

__ADS_1


Selanjutnya, Baba, putra dan menantunya berganti topik pembicaraan. Adip pun sebagai menantu yang merasa sudah punya rumah tangga sendiri, tidak berani menanyakan terkait kabar Nila. 


Nila yang merasa tidak berkapasitas mengobrol tentang bisnis pun memilih menepi. Nila berniat keluar, berjalan ke taman menyegarkan mata dan bersua dengan hewan peliharaan yang di kandang di rumah yang berbeda. Nila pun kembali menggapai dunia remaja sebagai seorang Putri Baba, yang sudah 3 tahun dia tinggalkan menjadi santri yang diliputi kesederhanaan, dan keprihatinan dalam penantian. 


“Non Nila..,” panggil satpam sedikit berbisik ke Nila sambil tengok kanan kiri. 


“Pak Agus? Ada apa?” tanya Nila ramah ke penjaga rumahnya. 


Pak Agus pun memberikan satu tas kresek kecil. Nila hanya memperhatikan menunggu, Pak Agus menyampaikan niatnya. 


“Ini dari Pak Rendi, tadi beliau ke sini. Tapi oleh Tuan besar kan saya nggak boleh ijinkan Pak Rendi masuk, Pak Rendi nitipin ini!” tutur Pak Satpam memberikan kresek itu. 


“Jadi Pak Rendi ke sini beneran?” tanya Nila. 


“Iya..maaf Non, saya nggak berniat ikut campur. Sungguh saya nggak tahu, kok bisa sih? Tuan yang dulu amat sayang, Non Nila pulang kok jadi jadi begini? Semoga Non Nila dan Pak Rendi baik- baik saja ya.  Kasian sama Pak Rendi saya, nggak enak juga, tadi dia nunggu sampai ada kali 3 jam, tapi saya takut sama Tuan. Jadi serba nggak enak saya!” tutur Pak Agus lagi dengan polosnya. 


Pak Agus memang tidak tahu apa- apa, jadi Pak Agus hanya menebak- nebak dan pusing sendiri. 


Nila pun menerima dan hanya mengangguk tersenyum. 


“Makasih ya Pak!” jawab Nila. “Ikuti Kata Baba aja!” jawab Nila. 


“Ya sudah, Non. Saya permisi!” pamit Pak Agus. 


“Iya Pak!” jawab Nila tersenyum. 


Nila kemudian menepi ke ayunan taman dan duduk di situ, dengan jemari lembutnya, dia urai ikatan tali pembungkus itu. 


“Astaghfirulloh, dia baca bukuku?” gumam Nila mendadak wajahnya merah, dia merasa sangat malu walau tidak ada orang di dekatnya. 


“Ah ya Tuhan, malu sekali aku?” gumam Nila sangat malu. “Kenapa lupa sih? Jadi dia pulang ke rumah Ummi? Hh,” 


Di buku itu, merupakan tumpahan aib Nila yang hanya Nila yang tahu. Ada banyak mimpi dan imajinasi, bahkan Nila sendiri malu mengingatnya. Semua dia tuliskan di situ. 


Nila pun memeriksa, dan ketika dibuka, Rendi menyelipkan satu amplop surat untuknya. 


“Apa ini?” gumam Nila tanganya gemetar membuka surat itu. 


Ya saat di mobil bersama Jingga, Jingga meminta Nila memutuskan semua akses dari Rendi. Itu sebabnya seberapapun Rendi menghubungi Nila, sejak malam itu, mereka tak lagi ada komunikasi. Nila sendiri sangat yakin kalau Rendi benar- benar menginginkan dia pergi, jikalau Rendi mempertahankanya, itu karena Ummi. 

__ADS_1


**** 


Sementara Rendi yang sudah jamuran menunggu dan merayu Pak Satpam, begitu sampai kantor langsung menuju ke kantin, membuka lemari es yang disediakan di dekat pintu, dan segera menenggak minum. 


“Kusut amat mukanya, Dok?” tanya rekan Rendi yang kebetulan juga sedang makan. 


Rendi pun hanya tersenyum, dingin seperti biasanya. Rendi tidak suka masalah pribadinya diketahui orang lain. 


“Tadi ada yang nyariin Dokter Rendi!” tutur teman Rendi lagi. 


“Siapa? Mahasiswa semester berapa?” tanya Rendi menebak mahasiswa mau mengumpulkan tugas.  


“Tamu kok, bukan mahasiswa, katanya teman Pak Rendi sewaktu kuliah!” ucap teman Rendi. 


“Gleg...,” Rendi menelan ludahnya berpikir, “Teman kuliah?” gumam Rendi. 


Rendi kan kuliah di luar negeri, yang berasal dari Indonesia sangat sedikit. Itu saja yang dia tahu berkarir di luar. 


Rendi pun segera melihat ponselnya. 


*****


Kak, makasih ya yang udah baca karya nggak jelasnya aku ini. Makasih atas cintanya.


Tapi ini bukan tema poligami ya... lebih ke romansa.


Mental dan Ilmuku belum kuat untuk sampai sana. Hehe


Cerita Nila juga murni dr otakku yang penuh keterbatasn.


Jujurly.. aku udah juarang banget baca karya orang semenjak nulis. Ngebagi waktu dunia nyata dan nulis juga empot2an.


Jadi maapkan kekuranganku.


Aku sendiri , meski punya kerangka awal, seringnya timbul alur spontan. Semoga tetep kehibur....


Ikuti aja tebakanya....


Oh ya. Selama bulan desember ini. Aku Up sebisanya. Pendek2 atau bahkan akan bolong. Makasih.

__ADS_1


Semoga nanti abis desember bisa baca karya org dan bisa nulis lebih baik. Aamiin.


__ADS_2