Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Menghitung waktu


__ADS_3

Dengan tampang dingin dan tegasnya yang membuat mahasiswi pertama melihatnya akan dibuat terpana dan penasaran akan dinginya Rendi tetap menjalankan profesi yang dia sukai dengan tertib


2 jam Rendi mengisi mata kuliah di kelasnya. Namun seperti biasa Rendi tak pernah memperhatikan wajah mahasiswinya apalagi sorot wajahnya.


Hingga, salah seorang mahasiswi mengangkat tanganya hendak bertanya.


"Ya. Ada apa Nila!" jawab Rendi spontan.


"Nama saya! Ajeng Pak bukan Nila!" jawab Mahasiwi Rendi.


"Ehm...," Rendi langsung berdehem gelagapan untuk pertama kalinya Rendi membuat malu dirinya sendiri.


"Iya. Ada apa?" tanya Rendi cepat mengalihkan rasa malunya, tanpa meminta maaf.


Mahasiwi Rendi pun bertanya dan Rendi menjelaskan. Kali ini Rendi menjelaskan dengan singkat dan cepat. Dan karena waktu memang sudah selesai Rendi membubarkan mahasiswanya dan segera pulang


"Haissh.. brak!" Rendi langsung melempar tasnya ke bangku mobil kosongnya.


Tangan Rendi pun mencengkeram stir mobil walau belum dinyalakan.


"Bisa bisanya aku sampai memanggil namanya ke orang lain sih?" gumam Rendi sangat tidak nyaman dengan sesuatu yang mendera hatinya.


Tubuh ajeng dan Nila hampir sama, gaya memakai hijab besarnya pun sama walau wajah dan suaranya berbeda.


"Kenapa dia tidak membalas pesanku? Kenapa dia menghubungiku? Bukankah di buku diary dia bilang sangat mengagumiku dan mengidolakanku? Harusnya dia segera membalas pesanku dan menanggapiku kan?" gumam Rendi dadanya terasa sangat tidak nyaman saat dirinya diabaikan.


"Haiish...," Rendi memejamkan matanya segera mengusir kesal berharap kesadaran dan kewarasanya terjaga.


Dia pun segera menyalakan mesin mobilnya dan melaju ke rumah. Rendi melajukan mobilnya dengan cepat sehingga tidak butuh waktu lama sampai ke rumahnya. Sesampainya di rumah. Rendi ke dapur karena lapar.


Namun ternyata tidak ada bahan makanan.


"Haish.. Bibi itukan libur?" gumam Rendi menutup tudung sajinya lagi.


Art Rendi anaknya sakit dan tidak datang. Rendi pun menelan ludahnya kelaparan. Rendi kemudian menegak air putih untuk meredam hasrat perurnya. Walau lelaki, Rendi tetap memperhatikan adap minum dengan duduk.


Saat Rendi duduk, selintas bayangan Nila memasak pun datang.


Rendi juga membaca buku harian Nila saat mencurahkan betapa bahagianya, Ummi dan Fatma mengajari Nila memasak Pepes Ikan Nila kesukaan Rendi. Dan Nila berharap kelak bisa memasak untuk Rendi.


Bukan ikan Nila saja, saat malam itu Nila memasak bahan seadanya di lemari es. Masakan Nila memang sangat enak. Pasti jika memasak resep Ummi akan lebih enak.

__ADS_1


Rendi menelan ludahnya lagi, ada sesak yang menjalar di dadanya.


"Apa ini? Kata Ummi dia anak yang solikhah, katanya dia ingin menggapai surga bersamaku. Seharusnya dia sabar dan memaafkanku kan? Belum apa- apa sudah minta cerai?" gumam Rendi lagi masih terus menggerutu.


Ternyata menjadi laki- laki yang ditolak untuk kedua kalinya bahkan digugat cerai dan diabaikan sangat membuatnya sesak. Rendi pun segera bangun dan malas melihat dapurnya sendiri.


Rendi kemudian ke kamar dan mengganti pakaian. Lalu segera pergi lagi mencari makan di luar. Dan seperti biasa, Rendi menjadi pelanggan kesepian yang mengambil kursi di pojokan.


Rendi pun menikmati makannya berlama- lama di kafe itu untuk mengusir sepi. Rendi kemudian menelpon teman yang tadi menghubunginya untuk menemuinya cepat selagi dia butuh teman mengobrol.


Meski di kafe, Rendi tetap menyempatkan ibadah. Selesai ibadah teman Rendi pun datang.


Seorang pria berkaos krah berwarna merah dan celana rapih datang menghampiri Rendi yang sudah menghabiskan waktunya berjam- jam di kafe itu. Pria itu tak setampan dan setinggi Rendi, namun wajahnya lebih sipit dan rambutnya juga pirang. Dia bernama Axel.


"Malam Bro! Sory udah nunggu ya?" sapa Axel.


"Dari sore! Ada apa mencariku?" tanya Rendi dengan pembawaannya yang singkat dan tanpa ekspresi.


"To the point banget sih. Kamu nggak pengen tanya kabarku dulu? Aku kan merindukanmu," ucap Axel sok akrab ke Rendi. Axel memang orang yang banyak bercakap.


Rendi hanya menarik sudut bibirnya sedikit.


Axel kemudian memberikan sebungkus undangan pernikahan dan menyodorkanya ke Rendi.


Rendi pun mengernyit.


"Undangan siapa?" tanya Rendi.


"Akulah!" jawab Axel dengan percaya diri.


Rendi semakin menatap Axel dalam sembari memicingkan matanya.


"Bukanya istrimu baru aja melahirkan?" tanya Rendi memastikan dengan mengerutkan dahinya


Ya. Axel sudah menikah 4 tahun lalu, bahkan Rendi menjadi pengiring Axel. Aneh sekali Axel memberi undangan.


Axel kemudian mengembangkan senyumnya.


"Gue cerai sama istri gue! Gue mau nikah lagi!" jawab Axel dengan percaya diri.


"Gleg!" Rendi langsung menelan ludahnya. Rendi yang baru menikah siri, belum pernah menyentuh Nila, hatinya dibuat merasa sangat berdosa karena menyinggung perasaan mertuanya dan membuat orang tuanya marah. Sementara temannya dengan mudahnya melakukan itu.

__ADS_1


"Meida sebaik itu lo ceraikan? Lo nggak mikirin anak lo?" tanya Rendi heran. Rendi mengenal Meida dokter cantik yang rela tidak bekerja sejak Meida melahirkan anaknya 3 tahun lalu.


"Baik versi yang gimana? Kita jadi laki, yang penting istri itu bisa nyenengin kita dan ikutin kita. Kalau udah nggak sepaham dan nggak bisa diatur ya udah. Ngapain?" jawab Axel enteng.


Rendi kemudian diam tidak berkomentar, karena Rendi sendiri sedang berada di posisi ditentang dan dilawan istri yang awalnya dia anggap sangat polos dan penurut.


"Lo harus datang ya. Besok malam gue ada party. Lo kapan nyusul. Ayolah? Mo sampai kapan lo sendiri terus?" ucap Axel lagi.


Axel lusa akan mengadakan party sebagai perayaan hari terakhirnya sebagai duda yang sudah dia jalani selama 8 bulan.


Sebagai kawan lama. Rendi akhirnya mengangguk.


"Oke!"


Axel pun tersenyum senang. "Gue akan kasih kejutan buat lo!" ucap Axel lagi.


"Kejutan apa?" tanya Rendi.


"Adalah. Kalau gue kasih tahu namanya bukan kejutan!" jawab Axel.


"Oke...," jawab Rendi.


Mereka kemudian melanjutkan mengobrol tentang teman- teman mereka juga karir mereka. Meski begitu Rendi masih belum mau cerita kalau dirinya sedang ada masalah juga. Karena Rendi sendiri malu jika ketahuan teman- temanya menikah sirih.


Sekitar pukul 9 malam. Rendi pun pulang ke rumahnya yang sepi.


Sepanjang kesendirianya, omongan Axel dalam obrolan mereka pun selalu terngiang di otak Rendi.


"Istri itu yang penting mau ikutin mau kita. Gue sih nggak mau kalau harus gue yang ikutin Istri, apalagi ngemis- ngemis. Nggak mau nurut.


"Huuft!" Rendi menghempaskan nafasnya. Dirinya mulai putus asa dan menyerah untuk memperjuangkan Nila.


****


Di rumah Baba.


Selesai makan malam bersama Nila naik ke atas.


"Kenapa aku rasanya sesesak ini? Waktu sidangku semakin dekat? Aku harus bagaimana?"


"Tapi benar kata Kakak. Selagi perasaan jni semakin dalam? Toh kita tidak pernah bersama kan? Bismillah ya Alloh tunjukan jalan yang benar?" gumam Nila sembari memilin jarinya menatap ke bintang dari balkon kamarnya

__ADS_1


__ADS_2