Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Tekad Rendi


__ADS_3

"Ommaa...," pekik Nila sesampainya di rumah.


Sebagai kakak yang menyayangi adiknya, Amer tahu Nila kecapekan menunggu Jingga. Jingga sudah ada Adip sebagai suami. Setelah makan Amer pun mengajak Nila pulang saja.


Ternyata Oma Rita sudah menunggu di rumah.


"Cucu Oma, kemarilah!" tutur Oma Rita merentangkan tangan menyambut Nila.


Nila tersenyum dan langsung memeluk Omanya.


"Jangan bersedih hati, karena kamu harus menyandang status janda di usiamu yang belia...," bisik Oma Rita.


Nila pun tersenyum dab mengurai pelukanya.


"Nila tidak sedih kok Oma. Nila baik- baik saja," jawab Nila.


Baba dan Buna yang sudah siap- siap ke rumah sakit ikut mendekat.


"Semangat ya... kamu akan kuliah. Jalan hidupmu masih panjang. Kamu akan menemukan banyak lelaki. Kamu cantik, hatimu begitu baik. Maafkan Baba dan Buna ya. Kamu bebas memilih jodoh terbaikmu!" tutur Buna. menimpali.


Nila pun mengangguk.


"Lupakan Rendi! Dia sudah berniat buruk sejak awal. Dia sudah merendahkanmu dan keluarga kita!" sambung Baba mantap dengan penuh penekanan dan berapi- api.

__ADS_1


Hanya saja kali ini, hati Nila sedikit bergetar. Tapi ingatan Nila, melihat Rendi duduk bersama seorang perempuan cantik dan jauh lebih dewasa darinya membuatnya mengepalkan tangan dan bertekad.


"Iya Ba...Nila akan fokus ke kuliah Nila. Oh ya. Nila, sekarang tertarik jadi dokter Kandungan Ba!" jawab Nila.


Oma Rita dan Buna langsung berbinar mendengarnya. Keinginan Nila tentu saja membuat Buna setuju bagi Buna itu mulia dan keren.


Apalagi keinginan Buna menjadi spesialis tertunda, Jingga juga baru lulus dari kedokteran umum langsung terhambat menikah belum jadi spesialis.


"Jangan!" sahut Baba tegas.


Berbeda dengan Oma dan Buna, Baba menentang.


"Kenapa?" tanya Buna langsung.


"Kalau mau ambil kedokteran ambil kampus lain?" jawab Baba.


"Apa alasanya sih kalau kuliah di kampus bekas Jingga?" sahut Buna.


"Baba nggak ingin kalau Nila ketemu sama dia lagi!" jawab Baba.


"Yakin sama Nila Ba. Nila sudah dewasa kan sekarang! Dia pasti bisa profesional!" jawab Buna membela.


"Lagian kan Pak Rendi nggak suka Nila Ba. Nila akan baik- baik saja!" jawab Nila lagi.

__ADS_1


Baba pun diam tak berkutik, Baba hanya menelan ludahnya melengos. Kalau Buna dan Oma sudah menunjukan muka kekeh dan mengutarakan alasan kuatnya. Baba memilih menghindari bertengkar. Sebab sudah banyak. keputusan yang Baba ambil tanpa persetujuan Buna tentang anak- anaknya berakibat tidak baik.


"Ya... Liat nanti. Kamu lulus nggak. Kalau nggak lulus ambil, kampus lain!" jawab Baba setuju tapi masih tetap menunjukan gengsinya.


Buna dan yang lain hanya mencebik Baba. Lalu memberi semangat ke Nila.


"Semangat. Anak Buna pasti bisa! Belajar yang rajin ya!" bisik Buna..


"Iya Buna!"


"Ya sudah. Gantian kamu jagain adik- adik ya.. Buna dan Baba ke rumah sakit. Vio tidur di kamar. Iya dan Iyu juga sedang les!" tutur Buna memberitahu.


"Iya Bun!" jawab Nila.


Buna dan Baba pun ke rumah sakit. Nila ke kamarnya untuk belajar sembari menunggu Vio bangun


****


Rendi terus berfikir kenapa teman- temanya menghindarinya.


Sampai akhirnya Teman Rendi pun membalas pesanya. Menyampaikan betapa kecewanya dia mengaku single tapi ternyata sudah menikah dan tidak mengabari teman- temanya.


"Huuuft" Rendi menghela nafasnya berfikir.

__ADS_1


Kalau dia sekarang cerita ceraipun, dia akan semakin dianggap plin plan dan perkataanya tidak dipercaya. Rendi sudah bilang single ke teman lain, lalu dengan tegas bilang ke Vall n menikah dan dijodohkan. Masa iya hanya hitungan hari dia akan berkata dia duda.


"Baru talak satu kan? Itu juga bukan kemauanku. Nila juga tidak datang. Kalau aku meminta maaf dan merayu Nila. Kita masih bisa rujuk kan?" gumam Rendi bertekad.


__ADS_2