
Farel dan Nila langsung menoleh memperhatikan siapa yang mengatai mereka. Akan tetapi Nila yang paham tak baik bertatapan terhadap lawan jenis hanya menoleh sepintas lalu menundukan pandanganya. Nila juga sadar dirinya dan Farel memang salah beehenti di tengah jalan.
"Maaf," ucap Nila sopan.
Sementara Farel langsung tersinggung dan menatap nyala ke lelaki itu.
"Beraninya kamu ngatain aku!" omel Farel.
Akan tetapi pria itu tidak memperdulikan Farel dan justru menatap Nila.
"Nila...," pekik Pria itu.
Merasa dipanggil namanya Nila kembali mengangkat wajahnya.
"Kamu Nila kan?" tanya Pria itu tampak berbinar mengenali wajah Nila.
"Bang Hanan?" jawab Nila tak kalah kaget.
"Hoh.. Alhamdulillah. Assalamu'alaikum Nila. Khaifa khaluk?" tanya Hanan langsung menyapa Nila lembut dan mengabaikan Farel yang sedang geram.
Nila langsung tersenyum dan menunduk, serta menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.
"Alhamdulillah bi khair Bang. Bang Hanan daftar di sini juga?" jawab Nila berbalik tanya.
"Iya!" jawab Pria yang ternyata bernama Hanan.
"Haissh..." desis Farel kesal dicueki..
Lalu Hanan dan Nila menatap Farel aneh.
"Siapa laki- laki ini?" tanya Hanan dengan tatapan aneh.
Sebelumnya Hanan menebak mereka sepasang remaja yang bertengkar, biasanya sepasang remaja bertengkar karena pacaran. Tapi setelah tahu si Perempuan adalah Nila, teman ngajinya saat di pondok pesantren di luar negeri. Hanan yakin bukan pacar Nila.
Hanan malah jadi curiga dan kesal sebab tadi melihat Farel memperlakukan Nila kasar.
Nila hanya melirik ke Farel kesal. Nila kan juga belum tahu nama Farel.
"Dia hanya lelaki sombong yang bicara tanpa dasar dan berlaku kasar!" jawab Nila.
"What?" pekik Farel tidak terima langsung mendelik ke Nila dan mulutnya tergerak gemas ingin kembali mendaratkan tanganya ke Nila. "Kamu...berani sek!" ucap Farel geram.
Hanan yang mendengar dan melihat perlakuan kasar Farel langsung sigap melindungi Nila dan membuat Nila mundur.
"Jangan kurang ajar terhadap sahabatku ya!" ucap Hanan.
"Eh kamu siapa sih? Songong banget!" ucap Farel
__ADS_1
"Namaku Hanan! Kenapa?" jawab Hanan tenang.
"Ssstt...sudah sepertinya pengawas mencurigai kita!" lerai Nila dengan cepat.
Mereka lupa kalau mereka masih di sebuah aula kampus. Para panitia penyelenggara ujian yang sedang bertugas mengemasi ruangan masih ada di ruang itu. Awalnya mereka sibuk dan tidak ngeh ke Nila dan Farel. Akan tetapi sekarang karena Farel dan Hanan saling berhadapan dan seperti beradu menyita perhatian orang.
Hanan dan Farel yang mendengar teguran Nila langsung melonggarkan keteganganya
"Ada apa ini? Kenapa tidak keluar? waktu ujian sudah habis!" tegur pantia beneran memperhatikan mereka.
"Ehm...," Nila pun berdehem dan menunduk sangat malu.
Jangankan diapit dua pria dan membuat masalah seperti sekarang, sebelumnya berduaan dan berdekatan dengan laki- laki kan hanya dengan Rendi suaminya.
Sementara Hanan dan Farel langsung merilekskan ekspresinya.
"Nggak Pak. Kami hanya sedang saling bertanya hasil nilai kami!" jawab Hanan dewasa saling melindungi kawanya meski belum berkenalan.
"Hasil nilai kalian, kami lalukan live skor di siaran langsung akun you tube kami. Kalian periksa saka di situ. Jangan bergerombol di sini. Sana pulang!" usir panitia ujian.
"Ya.. Pak!" jawab mereka bertiga kompak.
Farel melirik ke Nila dengan tatapan mengejek, dan sangat ingin keluar melihat papan skor. Farel yakin dirinya rangking satu. Jangankan skor 499, di beberpa try out bimbingan belajar, mendapat nilai 450 saja itu jarang siswa yang bisa.
Farel pun bergegas paling depan
"Nila tunggu!" panggil Hanan terlihat sangat senang bertemu Nila di tempat itu.
"Iya Bang!" jawab Nila malu- malu. Masih sambil menunduk dan tanganya saling mengikat di depan memelankan jalanya.
Hanan pun mensejajari jalanya Nila.
"Aku nggak nyangka, kita ketemu di sini. Aku kira kamu masih lanjut ngaji di pesantren mana gitu?" ucap Hanan
"Iya. Bang. Keluarga Nila ingin Nila ambil kuliah di kampus universitas lokal aja. Nila ingin kumpul bareng keluarga. Bang Hanan sendiri nggak lanjutin ambil jurusan hadist?" jawab Nila balik bertanya
Hanan yang Nila tahu adalah santri yang cerdas hafalan juga bagus akhlaknya.
"Nggak... selain berdakwah, sebaik- baik manusia kan yang bermanfaat untuk orang banyak. Bang Hanan ingin jadi orang yang seperti itu dengan menjadi Dokter Nila!" jawab Hanan dengan nada tenang.
Nila pun mengangguk menyembunyikan senyumnya dalam tundukan pandanganya. Perkataan Hanan memang selalu terdengar tenang dan menyejukan.
"Iya.. Bang Hanan benar!" jawab Nila.
"Kamu sendiri, ambil jurusan apa? Kedokteran juga?" tanya Hanan.
"Insya Alloh, Bang. Nila ingin mengikuti jejak Kakak Nila dan Kakek Nila," jawab Nila.
__ADS_1
Hanan langsung sumringah.
"Wah Alhamdulillah, semoga nanti kita bareng ya!" ucap Hanan.
Nila pun mengangguk tersenyum
"Insya Alloh Bang!" jawab Nila.
Langkah mereka pun terhenti sampai di tempat penitipan tas dan handphone. Peserta ujian kan masuk hanya dengan membawa diri juga melewati seleksi metal detector. Obrolan Hanan dan Nila pun terhenti mereka sibuk menunjukan kartu tas mereka masing- masing padahal tempatnya berbeda.
Petugas langsung mengambilkan tas Nila. Begitu mendapatkan tasnya Nila langsung mengambil ponselnya, Baba kan berjanji akan menjemput putri tersayangnya sendiri.
Akan tetapi begitu membuka ponsel mata Nila terbelalak.
"Fatma?" batin Nila mendadak berdebar. Adik Ipar Nila yang mengirim pesan untuk Nila.
"Selamat Kak Nila... kamu hebat! Nilaimu sempurna! Kakak Peringkat satu!" ketik Fatma masih perhatian ke Nila dan mengirimnya emot kartun hijab berpelukan
Membaca pesan selamat dari Fatma, hati Nila pun tergores ada kesedihan yang datang. Fatma kan memang sangat baik dan sayang ke Nila layaknya adik kakak. Ya sebelumnya kan mereka memang adik kakak. Tapi sekarang posisinya beda.
"Kamu tahu darimana? Nilaiku sempurna?" jawab Nila membalas Fatma.
"Aku, Bang Rendi dan Bang Fahri pantengin live skor kakak!" jawab Fatma cepat.
"Gleg!"
Nila langsung terdiam dan segera mengedarkan pandanganya membaca nama Rendi.
"Apa dia di sini?" gumam Nila takut bertemu Rendi..
Akan tetapi saat Nila mengedarkan pandangan yang nampak dalam pandangan matanya, senyum Hanan yang membawa tas di punggungnya mendekat.
"Keluar bareng, Yuk. Kamu nggak penasaran rangking berapa?" ajak Hanan
Nila yang sudah dapat bocoran kalau dirinya tertinggi hanya tersenyum.
"Ya Bang, sepertinya Baba Nila juga udah nunggu di depan!" jawab Nila.
Lalu Nila memasukan ponselnya lagi ke tas tanpa membalas pesan Fatma.
*****
Kak...
barangkali ada yg punya aplks lain
Ini karyaku dan NapEnku... mampir ya. Makasih.
__ADS_1