Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Permudah Ya Alloh.


__ADS_3

"Ck.. gimana ni? Masa datanya begini? Ini kamu buat latar belakang apa lagi mendongeng? Sekarang tahun berapa? Kamu ambil data ini tahun berapa? Cari data yang benar! Skripsi apa mainan!"


"Sreet Sreeet..." Omel Rendi dengan nada keras, mencorat coret prosposal skripsi mahasiswanya bahkan melemparnya.


"Iya. Dok! Maaf!" jawab mahasiswa itu gelagapan mengambil pekerjaanya.


Suasana menjadi tegang. Apalagi waktu itu masih terlalu pagi untuk datang di ruangan yang begitu besar dan masih sepi.


Nila yang baru datang langsung menunduk menepi bersembunyi di balik rak buku menyaksikan betapa tegas dan keras suaminya ini. Nila mengikuti Rendi dimana dia harus duduk. Ya memang tempat yang Rendi pilihkan sepi dan tertutup.


Flashback sebelumnya.


Saat Dita mengintip layar wa Nila dan menebak Nila punya pacar. Nila langsung membekap Dita. Nila tidak mau buat kegaduhan apalagi Celin dengar. Untung Dita hanya membaca sepotong.


Untung juga namanya belum Nila simpan. Sehingga tidak ada nama Rendi.


Sepertinya Nila harus kembali berbohong.


"Ish apa sih? Bukan pacar?" jawab Nila.


"Kamu lagi janjian sama siapa? Tu kayaknya minta kamu keluar? Ngaku aja sih? Beneran Prof Hendra datangnya masih lama kok dia tau?" tanya Dita merasa dekat dengan Nila dan jadi kelewat ingin tahu banyak pribadi Nila.


Nila semakin gelagapan. Nila harus mengarang cerita untuk jelaskan ke Dita.


"Ini Kakakku. Kan Kakakku dulu kuliah di sini. Mau ada perlu kayaknya, entahlah mau apa? Tadi katanya liat beliau masih kena macet! Makanya kakakku suruh aku keluar bentar!" jawab Nila bohong.


"Oh... ya udah. Kasian kakakmu temuilah!" jawab Dita


Nila pun mengangguk tersenyum. Daripada Rendi buat masalah, buat Nila malu terhadap teman- temanya. Nila lebih baik keluar walau dalam hati sebenarnya kesal sangat.


"Oke aku keluar dulu ya!" ucap Nila.


"Iyah!" jawab Dita.


Tapi sebelum Nila keluar. Nila ingat surat Livi dan Nila mengambilnya.


Dita si bawel pun komentar lagi


"Ngapain bawa suratnya Kak Livi?" tanya Dita.


"He... barangkali nanti ketemu Pak Rendi!" jawab Nila bohong lagi. Kan memang hendak menemui dia.


"Oh... tapi kan nanti beliau juga ngajar?" jawab Dita.


Nila pun gelagapan cari alasan lagi.


"Nggak enak lah masa di kelas sampaiin gini? Kasian kak Livi dan Pak Rendinya," jawab Nila.


Dita pun mengerti alasan Nila, membawa surat Livi.


Nila pun segera keluar dan menuju ke ruangan yang ada di di pertengah gedung bertingkat itu.


Ya. Di pertengshan gedung, di bawah tangga memang ada kamar mandi yang sepi. Tapi buat Nila itu menjengkelkan


"Ck.. kenapa harus ketemu di kamar mandi segala sih? Tinggal wa juga?" gerutu Nila sembari berjalan. Tidak tahu, Rendi kan rindu bukan hanya menyampaikan sesuatu.


Walau hatinya ngegerundel, tapi Nila tak secomel Jingga. Nila tetap berjalan manis mengikuti mau Rendi.


Benar saja di depan cermin besar. Pertengahan antara kamar mandi pria dan wanita, Rendi duduk tenang di kursi tunggu yang tersedia di situ.


Nila berjalan ragu, celingaak celinguk takut ada siswa lain yang datang. Mendadak degub jantung Nila berdetak sangat cepat. Sementara Rendi langsung melebarkan senyumnya tanpa ragu. Senang sekali Nila yang manis patuh menemuinya, Rendi pun langsung bangun dari duduknya.


"Pagi Dok!"


"Gleg!"


Tepat saat Rendi berdiri menyamping menghadap ke Nila. Dari arah kamar mandi pria keluar dua mahasiswa pria menyapa Rendi mengalihkan pandangan Rendi ke Nila.


Nila Rendi yang tadinya saling pandang hendak mendekat dan saling menyapa, langsung menunduk dan membelokan arah. Rasanya jantungnya seperti mau copot hampir saja ketahuan.


Nila pun kembali bersikap tak kenal Rendi. Melewati Rendi dan dua mahasiswanya, Nila berjalan menunduk belok ke kamar mandi perempuan.


"Hmm pagi!" jawab Rendi terpaksa menjawab dua mahasiswanya. Rendi sedikit melirik ke Nila yang sudah masuk ke area kamar mandi perempuan.


Dan kebetulan sekali. Dua siswa itu adalah mahasiswa bimbingan Rendi.


"Maaf Dok. Bab pendahuluan saya sudah saya print. Saya bisa konsul kapan ya Dok?" sapa tanya Mahasiswa Rendi yang bernama Kevin.


Rendi memijat pelipisnya sejenak. Rendi kan ingin memenuhi kebutuhan pribadinya sebentar, ada saja tagihan kewajibanya. Di saat yang bersamaan segerombol mahasiswa perempuan juga datang menganggukan kepala memberi hormat ke Rendi. Rendi sedikit memberi anggukan kecil.


"Ya sudah, sekarang siap?" tanya Rendi akhirnya berusaha profesional.


Jam pagi ini Rendi memang tidak ada jam kuliah. 2 jam pagi ini, jadwalnya bimbingan. Setelah itu Ngajar di kelas Nila, lalu ada meeting sebentar. Barulah ke rumah Oma.


"Ya Dok?" jawab mahasiswa yang bimbinganya di bawah Rendi.


"Tunggu 10 menit lagi. Berapa orang yang sudah siap konsul sekarang aja?"


"Nanti kita wa temen dulu Dok. Sepertinya ada beberapa?"

__ADS_1


"Ya sudah kalau banyakan, kita bimbingan di perpus aja!" jawab Rendi mempersilahkan mahasiswanya ke Perpus duluan. Kebetulan sebelum mengajar di kelas Nila. Rendi membutuhkan beberapa Buku sebagai bahan ajar.


" Ya Dok!"


"Ya sudah kalian cari meja yang tidak mengganggu pembaca lain. 10 menit lagi aku nyusul!" ucap Rendi.


"Ya Dok!"


Mahasiswa mengangguk semangat. Bagi siswa yang ingin cepat lulus, kesempatan bisa bertemu dosen pembimbing kan adalah rejeki tak terduga.


Rendi mempersilahkan. Meski begitu Rendi masih berharap di sepuluh menitmya itu bisa melepas rindu bersama istrinya.


"Cepat keluar!" ketik Rendi ke Nila.


Nila yang memang bersembunyi langsung membacanya. Di bilik kamar mandi perempuan, sepi dan tiga pintu tertutup. Sepertinya siswa perempuan yang entah semester berapa masih di dalam mereka kan baru masuk. Entah BAK? BAB atau ganti pembalut perempuan kan lama.


Nila pun cepat- cepat keluar. Di dekat tangga Rendi sudah menunggu dengan gelisah.


"Kenapa masuk segala?" sambut Rendi langsung begitu melihat Nila.


Nila celingak celinguk dadanya sungguh berdebar hebat. Rasanya seperti sedang punya visi misi, tapi takut ketahuan.


"Mas kenapa ketemu di sini? Nila malu takut juga!" jawab Nila lirih.


"Takut kenapa sih? Duduk sini!" ucap Rendi meminta Nila duduk, ingin berduaan dengan istrinya di bangku bawah tangga dekat kamar mandi.


"Nggak! Nila mau kuliah. Nila nggak mau terlambat! Nih, Nila balikin!" jawab Nila ketus dan menyodorkan surat Livi.


Rendi mengernyit.


"Apa ini?" tanya Rendi tidak menerima tapi menatap istrinya yang masih menekuk wajahnya.


Ya. Nila masih bermuram durja, karena cemburu. "Baca aja. Nanti salah lagi Nila ambil yang bukan jadi tujuan! Oh ya. Jadikan ke rumah Oma? Abis dari rumah Oma. Baba juga mau ketemu!" ucap Nila lagi panjang dengan nada malas jengkel bercampur senang masih ingin memperjuangkan cintanya.


Bukanya menyambut surat Livi. Rendi mendengar pertanyaan Nila yang setengah bertanya, memberitahu dan mengajak, apalagi ada kata Baba langsung tersenyum senang.


"Baba suruh Mas ke rumah?" tanya Rendi.


"Ck!" Nila berdecak manyun. "Ini ambil. Nila mau ke kelas!" jawab Nila kembali menyodorkan surat Livi.


Nila masih cemburu jadi malu dan berat menjawab iya Baba mereka menunggu mereka.


Rendi pun peka kalau istrinya itu sedang malu- malu. Rendi memang mengambil kertasnya. Tapi tangan Rendi bukan hanya mengambil kertasnya tapi juga menggenggam tangan Nila.


"Baba maafin Mas, dan restuin kita kan?" tanya Rendi tersenyum sembari menggenggam tangan Nila bahkan dengan kedua tanganya dan Rendi mendekat ke Nila.


"Ish...!" bukanya menjawab.


Bukannya mendengarkan kata Nila, takut ada orang lihat. Rendi melepas genggaman tanganya tapi tanganya langsung meraih kedua pipi Nila, menghadapkan wajah Nila ke hadapanya, dan


"Cup!"


Sepersekian detik dengan sangat cepat dan tanpa pamit, Rendi mengecup kedua bibir Nila sehingga membuat Nila syok dan hanya melotot bingung, jantungnya seperti mau copot bibirnya seperti tersengat listrik.


Meksi begitu tiba- tiba terdengar suara berisik dadi kamar mandi dan langkah kaki, sehingga Rendi hanya mengecup di luarnya saja.


"Tunggu Mas selesai meeting ya!" ucap Rendi berbisik.


Nila yang masih syok hanya tertegun merasakan hawa panas yang menetap memenuhi wajahnya. Suara langkah kaki juga semakin mendekat, Rendi pun cepat meninggalkan Nila membawa surat Livi.


"Hoh...," Nila langsung terduduk memegangi bibirnya.


"Apa dia tadi menciumku? Aku ciumankah? Aku tidak berdosa kan? Kata Mas Rendi kita tidak bercerai. Talak Kinayah jatuh kalau memang dia sengaja meniadakanku kan? Tapi dia hanya melindungi nama Baba. Kalaupun benar masuk talak Kinayah, masa iddahku belum selesai aku memaafkanya dan benar. Kami rujuk jadi suami istri lagi kan?" Nila terus memantapkan hatinya apa yang baru saja terjadi bukan kesalahan dan bukan mimpi.


Walau hanya kecupan bukan ciuman yang sebenarnya tapi itu yang pertama buat Nila. Nila benar- benar dibuat meleleh.


Saat Nila terduduk, mahasiswi yang tadi di kamar mandi, melewati Nila dengan santainya.


"Semoga tidak ada yang lihat. Mas Rendi ceroboh sekali sih? Ini kan tempat umum?" batin Nila tersadar.


Nila jadi ingat Celine. Bahkan kemarin saat di ruang minihospital yang sepi dan dikira mahasiswa sudah pulang juga ada yang memfoto mereka. Apalagi sekarang. Nila jadi tambah paranoid.


"Ya. Aku harus kasih tahu Mas Rendi tentang Celine?" batin Nila lagi.


Sedari kemarin Nila cemburu ke Rendi jadi Nila urung dan malas cerita ke Rendi. "Aku harus kasih Mas Rendi lihat foto- foto itu?" batin Nila.


Nila pun buru- buru kembali ke kelas. Benar saja Prof Hendra belum datang.


"Udah ketemu kakaknya?" tanya Dita.


Nila yang masih panas dingin pun gelagapan dan mengangguk. Nila melirik ke Celine yang terlihat asik mengobrol.


"Tadi Celine keluar kelas nggak?" tanya Nila jadi paranoid.


"Nggak. Cuma kamu yang keluar, kenapa tanya Celine?" jawab Dita.


Nila pun mengangguk tersenyum lega. Insya Alloh tidak ada yang melihat tiga siswa tadi juga berjalan biasa saja.


"Nggak apa- apa!" jawab Nila.

__ADS_1


"Suratnya udah dikasihkan?" tanya Dita lagi.


Nila jadi gelagapan lagi sehingga Nila tersenyum menyeringai.


"Udah, kebetulan tadi ketemu di kamar mandi?" jawab Nila.


"Oh. Gimana responya? Kamu bilang apa? Aku penasaran orang kek dia hadapi penggemar gimana ya? Sombong? Jadi GR apa gimana?" tanya Dita benar- benar comel.


Nila langsung menelan ludahnya dan pipinya merona. Nila tidak bisa menjawab pertanyaan Dita. Rendi tidak memperdulikan apa yang Nila berikan dan malah mencium Nila.


"Cuma diterima, belum dibaca!" jawab Nila.


"Oh pasti cuek ya? Mungkin dia sebenarnya udah punya calon kali ya? Apa pernah patah kali ya?" ucap Dita lagi masih antusias dan semangat ghibahin Rendi.


"Taulah bukan urusan kita kan?" jawab Nila.


"Abis dia single sendiri sih? Jadi kan aku penasaran!" jawab Dita lagi mencari pembenaran untuk ngeghibahin Rendi.


Nila pun tak kuasa menjawabnya lagi. Nila tidak suka semakin banyak bohong. Nila memilih mengalihkan pembicaraan dengan membahas Prof Hendra. Dita pun antusias dan teralihkan.


Tidak berselang lama Prof Hendra datang. Di sela- sela kuliah Prof Hendra, saat Dita fokus mendengarkan, Nila mengirim pesan ke Rendi. Walau Rendi malah salah paham dan balasnya ngelantur.


"Mas...," ketik Nila membuka percakapan.


"Kenapa Sayang. Kamu seneng kan? Mau kucium lagi yah? Pasti kamu nggak bisa fokus? Santai aja. Lagi kuliah yang fokus jangan ingat- ingat yang tadi!" balas Rendi cepat.


"Ish apaan sih? Lain kali liat tempat!"


"Oh oke, mau dimana emang?" goda Rendi lagi.


"Ish.. nggak usah ngelantur. Nila mau ngomong. Nila kasih lihat sesuatu tentang Celine dan Farel!" jawab Nila serius.


"Oh..kirain mau cium lagi, nanti dibiasin ya?".


"Mas! Nila serius!"


"Ya. Ya nanti kita kan ke rumah Oma bareng Sayang. Apa kamu udah kangen lagi sama Mas?"


"Ih. Ck. Jangan bercanda terus!"


"Yaya. Apa sih emangnya? Ya, nanti selesai kuliah Prof Hendra susul Mas di Perpus. Dah simpen hapenya. Nanti ketemu lagi, tahan dulu kangenya ya! Mmwah," ketik Rendi lagi dengan percaya diri


"Ih, Ck!" Nila yang membacanya pun jadi berdecak dan geli sendiri.


Aih, buku diarynya yang bocor benar- benar membawa petaka. Rendi kan jadi tahu semua isi hati Nila. Isi buku Diary Nila jadi senjata Rendi menggoda Nila. Jadi kegeeran juga kan. Dari buku Nilalah, Rendi tahu kalau Nila merindunya dengan sangat.


Nila pun memasukan ponselnya ke tas dan mengikuti saran Rendi. Fokus kuliah.


Flashback Off.


Dan sekarang setelah kuliah Prof Hendra selesai. Di jeda waktu istirahat sebelum Rendi mengajar. Nila memenuhi permintaan Rendi menyusul Rendi ke Perpus, menolak ajakan Dita ke kantin.


Menurut Nila, info tentang Farel dan Celine harus segera diketahui Rendi. Apalagi anak- anak mulai tanya kemana Farel.


Sesampainya di Perpus, ternyata mahasiswa bimbingan Rendi banyak. Sebab dua orang yang tadi bimbingan memberitahu yang lain kalau dokter Rendi Free dan semua mendekat ke Perpustakaan.


"Mas Rendi ternyata benar galak?" batin Nila.


Kini dengan mata dan telinganya sendiri. Nila melihat bagaimana suaminya itu mendidik mahasiswanya, sedikit keras dan mengatainya sesuka hati. Tidak seperti Abah yang mengajar dengan pelan dan halus.


Meskipun Abah terkadang, ada beberapa perkataanya sulit di tebak dan susah dimengerti.


Nila pun memperhatikan Mahasiswa yang proposalnya tadi dilempar Rendi. Mahasiswa itu malah mendekat ke tempat Nila bersembunyi.


"Sialan! Dokter Rendi tahu apa ya? Pendahuluanku cuma kopi paste?" ucap Mahasiwa itu ke rekanya.


Saat tadi di depan Rendi mahasiswa itu menunduk ketakutan sehingga buat Nila iba. Di belakangnya ternyata mengatai suami Nila, bahkan mengaku hanya kopi paste. Nila jadi mengepalkan tanganya dan sekarang mengerti kenapa suaminya galak.


"Emang kamu kopi paste dimana?" tanya temanya


"Di internet!"


"Ngarang kamu. Ini skripsi coy. Yang seriuslah. Gue aja nyari beneran, jurnalnya juga harus bener! Dokter Rendi itu teliti daya ingatnya juga bagus. Kemarin temenku yang udah sampai bab isi aja ketahuan dia ngejiplak Kakak tingkat? Jangan main- main sama dokter Rendi," jawab temanya memberitahu.


"Iya iya! Bantuin!"


"Ini aku juga nyari. Tapi kalau kita mengerjakanya dengan benar Dokter Rendi cepet lho accnya yang penting sinkron aja data kita? Dia juga senang hati buat di konsulin?" ucap satu mahasiswa lagi memuji Rendi.


"Ya....,"


Lalu kedua mahasiswa itu tampak mencari buku yang mereka perlukan.


Nila mendengar semuanya.


Kini dada Nila mengembang, bahkan rasanya ingin tersenyum, tapi Nila hanya menggigit bibir bawahnya menahan agar bahagianya tak meledak. Ternyata Rendi baik, Rendi bukan galak tapi tegas dan ingin mendidik mahasiswanya agar benar.


Nila mengintip dari celah rak, masih ada 1 mahasiswa lagi yang sedang menghadap suaminya.


Rendi terlihat tenang membaca dan terlihat sangat tampan dari yang tertangkap di netra Nila. Sepertinya mahasiswa yang terakhir ini tidak asal- asalan. Rendi tidak marah malah terlihat berwibawa.

__ADS_1


Hati Nila benar- benar berbunga dan kekagumaanya terhadap Rendi bertambah.


"Ya Alloh, semoga Baba benar restui kami, mempermudah kami untuk bersama? Permudah kami bersama Ya Alloh," batin Nila sabar menunggu Rendi.


__ADS_2