
"Maaf Mbak. Jam besuknya udah selesai. Mbaknya bisa datang lagi ke sini besok!" tutur perawat di rumah sebuah rumah sakit.
Gadis berkerudung itu pun mengangguk tersenyum tanda mengerti, walau guratan wajahnya menampakan kekecewaan.
Ya. Nila menjadi merasa bersalah dan peduli terhadap Farel. Nila masih ingin tahu kenapa Celine memberinya alamat rumah sakit jiwa. Walau sebenarnya Nila tidak bersalah. Karena Nila sama sekali tidak berniat membuntuti apalagi melaporkan dan menganiaya. Tapi Nila takut dan merasa bersalah, karenanya Farel dan Rendi bertengkar.
Nila tidak mau Rendi dipenjara lebih dari itu, Nila juga tidak tega jika Farel sampai masuk rumah sakit.
"Kalau boleh tahu. Kamar ini, pasien atas nama siapa ya Sus?" tanya Nila lembut menunjukan alamat yang diberikan Celine.
"Lhoh. Mbaknya kesini memang mau jenguk siapa?" tanya Perawat lagi.
Nila jadi gelagapan. Nila kan juga tidak tahu dan ingin membuktikan. Apa maksud Celine. Siapa yang di rawat di situ.
"Saya... Saya..." jawab Nila bingung.
Perawat jadi heran sendiri melihat Nila
"Mbaknya dapat alamat kamar ini dari siapa? Kok lucu. Dimana- mana orang mau jenguk itu punya nama tujuan dulu baru tempatnya?" tutur Perawat.
__ADS_1
"Saya mau jenguk teman saya namanya Farel!" jawab Nila spontan mentok.
"Farel?" tanya perawat malah mengernyit seperti heran.
"Iyah!" jawab Nila.
Perawat itu memeriksa alamat yang Nila berikan lagi.
"Ini bener kamarnya?" tanya Perawat lagi.
"Iya."
"Laki- laki seumuran dengan saya!"
"Hhh...," perawat itu malah mendengus dan menyodorkan alamat ke Nila lagi.
"Tanyakan ke temanmu. Coba di cek lagi. Kamar ini kamar rawat untuk ibu- ibu. Pasien di ruang ini ada 5, ibu- ibu semua! Saya tidak bisa mengatakan siapa saja. Itu melanggar kode etik!" tutur Perawat memberitahu Nila.
"Gleg!" Nila jadi menelan ludahnya terbengong. "Ibu- ibu? Celine mengerjainya?" Kepala Nila langsung dipenuhi tanda tanya.
__ADS_1
"Ya sudah terima kasih, Sus. Saya permisi!" pamit Nila cepat sembari menelan kekecewaan.
"Bangsal untuk putra. Di gedung sebelah. Coba tanya ke petugas temanmu dirawat di ruang apa?" tutur Perawat berbaik hati ke Nila.
"Iya, Sus. Terima kasih?" jawab Nila mengangguk ramah.
Nila pun berbalik mundur dan pergi dengan langkah gontainya. Nila pun merem mas kertas dari Celine itu.
"Sebenarnya apa maksud Celine memberikan kertas ini? Siapa yang dirawat di sini? Apa dia mengerjaiku? Apa dia menyindirku atau apa?" gumam Nila kesal
Walau tak berkepentingan karena benar- benar penasaran Nila datang ke bangsal pria. Nila bertanya pada petugas administrasi. Tapi tetap saja tidak ada pasien bernama Farel.
Hingga Nila lelah dan menyerah sendiri. Nila pun memilih pulang. Saat berjalan ke arah parkiran menghampiri Pak Iman, hujan turun sehingga membuat Nila terpaksa duduk sebentar. Kebetulan Pak Iman parkir di luar sehingga Nila bisa kehujanan.
"Hujaan...," gumam Nila menghentikan langkahnya dengan netra manisnya mentap langit yang gelap.
"Hhh....," Nila menghela nafas lembut, seketika tanganya terulur menengadah ingin merasakan rintik air dari langit itu.
"Semoga hujan ini membawa berkah ya Alloh. Apa kabar mas Rendi di sana? Semoga semua urusanya dipermudah. Kenapa dia belum juga membalas teleponku?" pgumam Nila, seketika itu ingat rintik hujan membawanya mengingat Rendi.
__ADS_1