
Sebagai istri, yang baru saja membina biduk rumah tangga, baru merasakan indahnya kebersamaan, meneguk cinta dari pria yang mencuri hatinya sejak awal, rasanya dunianya seperti remuk di hantam batu besar.
Seketika itu, begitu tamunya pergi, setelah menyampaikan tujuannya, kaki Nila lemas tak berdaya. Nila terduduk seperti orang bingung di sofa ruang tamunya. Dia bingung mau apa? Tapi dia dipaksa harus berpikir cepat dan kuat.
"Apa yang aku takutkan terjadi juga? Kenapa Mas Rendi selalu percaya diri katanya Kak Dion akan menghandle semuanya? Astaghfirulloh. Apa ini?" gumamnya dalam hati.
Kepalanya terasa pening. Nila benar - benar bingung. Dia pun mengetuk- ngetuk kan jarinya acak. Lalu meraih ponsel yang tadi dia ambil untuk menelpon.
"Kenapa telponku nggak diangkat lagi. ish...," gerutunya Nila lagi.
Nila ingin memberitahu Rendi kalau ada polisi yang mencarinya dan membawa surat panggilan penahanan untuk Rendi. Nila benar- benar gugup dan tidak tahu harus bagaimana.
Rendi malah tidak menjawab teleponya.
Polisi menuju ke kampus dan hendak menangkap Rendi bak buronan. Padahal Nila sudah menyampaikan baik- baik. Dia akan menelponkan suaminya, dan mereka akan kooperatif, tapi Polisi tidak mau dengar dan mereka menyangkal harus menahan Rendi sekarang.
Nila menyampaikan ingin ikut polisi dan mendampingi suaminya tapi tidak diijinkan.
Nila bingung harus bagaimana?
"Telpon Baba. Iya. Aku harus telpon Baba!" gumam Nila akhirnya.
Dengan tangan gemetaran, Nila menelpon Babanya. Qodarulloh, Baba juga tak segera angkat telepon. Nila yang gugup pun putus asa. Dia kemudian menelpon kakak iparnya. Akan tetapi yang akan Jingga kakaknya.
__ADS_1
"Bang Adip.." sahut Nila tergugup begitu teleponya tersambung.
"Ya..., ini Kakak La. Ada apa?" jawab Jingga.
"Bang Adip mana?" tanya Nila lagi sembari menahan tangis.
"Ada. Kenapa memangnya?"
"Bang Adip mana Nila mau ngomong!" ucap Nila lagi.
"Ish. Apa sih. Kok kamu kaya mau nangis gitu nyariin Bang Adip. Kakak kakakmu lho. Bang Adip iparmu. Cerita sama kakak dulu, ada apa?" tanya Jingga seperti sebelumnya curiga dan cemburu.
"Mas Rendi ditahan polisi Kak?" tutur Nilap mengadu.
"What?" pekik Jingga kaget.
"Haish... Masalah apa lagi? Kok bisa? Ck..bener kan kata Kaka. Suami kamu itu emang agak lain. Bermasalah lagi kan? Kamu sih nggak dengerin Kakak. Jangan sama dia!" Jingga malah ngomel dan berburuk sangka.
Tentu saja Nila yang gugup jadi tambah sakit.
"Kok kakak ngomong gitu ke suami Nila? Mas Rendi ditangkap karena nyelametin Nila, Kak!" bela Nila sedikit bernada tinggi dengan Jingga.
"Emang bela apa sampai kena polisi?" tanya Jingga lagi malah emosi.
__ADS_1
"Nila mau ngomong sama Bang Adip. Kakak mau bantuin Nila nggak?" tanya Nila jadi ikut emosi juga.
"Ya cerita dulu sama Kakak!"
"Udahlah!" jawab Nila menutup telpon hatinya sangat dongkol.
Nila kemudian menelpon kedua kakak kembarnya. Dan seperti Baba, keduanya tak ada yang menjawab.
Akhirnya jalan terakhir. Nila menulis di grup keluarga. Membuat berita bak pengumuman kalau suaminya di tahan polisi.
Heranya grup biasanya rame, kali ini sepi. Karena memang itu jam kerja.
Putus asa terhadap pertolongan keluarga lewat telepon, Nila pun melempar ponselnya ke sofa. Nila kembali memuyar otaknya.
Ya, Nila tolong Rendi. Nila harus dampingi Rendi. Tapi bagaimana caranya? Naik ojek online kebanyakan. Nila ingat Rendi punya motor. Nila pun nekat menyusul Rendi ke kampus Tidak peduli apapun, Nila pun mendadak menjadi strong women. Mengeluarkan motor Rendi yang tersimpan jarang dipakai dan mengendarainya menerobos kemacetan ibukota dengan tekad kuat menuju ke kampus.
Ponsel Nila, Nila taruh di tas. Dan pada saat Nila mengendarai motor barulah semua keluarganya membaca pesan Nila. Semuanya menelpon Nila termasuk Jingga, bahkan berkali- kali tapi tak ada yang nyambung. Mereka semua menyai Nila tapi tak dijawab.
Bahkan mereka bertolak menuju ke rumah Rendi.
****
Sementara Nila ke kampus dengan hati yang bergemuruh. Pikiranya fokus ke depan, mencari celah agar bisa menyelip dan sampai di kampus. Suara dering getar telepon lewat dari penangkapan indra Nila. Rasanya Nila sudah tak mendengar apapun dan ingin cepat sampai.
__ADS_1
"Brak..."
Karena tidak fokus. Nila sampai jatuh masuk ke got saat menghindari tukang becak. Untungnya got itu penuh air. Tapi Nila tetap syok dan kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat.