Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Bunda Melly


__ADS_3

"Bun.... Nila nggak apa- apa. Nila udah sehat kok. Ayo kita susul Baba. Mas Rendi dibawa ke kantor polisi mana? Dia hanya ditanya- tanya aja kan? Abis itu dia dibebasin? Tapi kok nggak jemput Nila?" rengek Nila ke Bunanya.


Ya. 1 hari sudah berlalu, kini tidak ada alasan observasi lagi. Nila sudah bebas dari rasa pusing ataupun mual muntah. Nila tahu itu artinya dia sehat.


Bahkan Jingga juga sudah pulang karena harus menyusui Baby Dipta. Tapi Baba dan Bang Adip tak kunjung memberi kabar. Nila juga mencari ponselnya, tapi kata Buna jatuh ke sungai dan rusak.


"Tapi kamu ada benturan kepala Nak. Buna nggak tenang, abis ini kita kerumah sakit Opa Nando ya. Kita CT Scan!" ucap Buna mengalihkan Nila.


"Ck. Buna!" jawab Nila langsung berdecak manyun. "Nila pakai helm kok. Nila nggak sakit atau apapun udah. Ayo temui Mas Rendi!" jawab Nila menolak.


Buna hanya menelan ludahnya, sedikit gelagapan. Sedari malam Nila selalu tanya sudah ada kabar apa dari Baba. Buna terus mengalihkan.


Kenyataan di luar, benar- benar di luar prediksi. Sebab kecanggihan elektronik membuat identitas Nila dan Rendi sebagai keluarga Gunawijaya, yang sebelumnya tidak terendus sekarang jadi terpublish. Apalagi saat tahu Adip dan Om Gery adalah orang penting di pemerintahan.


Masyarakat yang hanya baca timeline dari Tim, Tuan Laksana jadi mengecam Rendi dan ikut ingin menyimak kasus Rendi. Kasus Rendi dianggap keburukan moral seorang pengajar yang seharusnya menjadi contoh. Meski tidak jarang masyarakat yang memburu Nila. Juga mencari tahu sebab kebenaran juga alasan Rendi melakukan itu.


Untungnya, Nila dan Rendi tidak aktif di media sosial. Apalagi identitas keluarga Rendi yang memang tidak pernah Rendi publish, jadi keluarga Ummi pun aman. Meski begitu, Fatma dan Aisyah langsung tanggap, menghubungi keluarga Baba. Bahkan mereka langsung bertolak menjenguk Rendi.


Baba meminta Buna untuk mengamankan Nila. Sebab rumah sakit tempat Nila dirawat rumah sakit kecil terdekat dari tempat Nila jatuh dan tidak ada yang tahu. Warga yang menolong Nila kala itu tukang becak dan tukang parkir jadi mereka tidak mengikuti berita kalau orang yang mereka tolong adalah putri konglong merat dan keluarga menteri.


"Iya, Nak. Tapi... Sabar dulu. Sabar dulu. Nanti kalau Baba sudah bersama Rendi. Baba pasti telpon. Tunggu ya!" ucap Buna lagi.


"Mas Rendi beneran ditahan ya Bun? Apa tidak bisa ditemui? Nila pengen ketemu Mas Rendi. Bun!" jawab Nila lagi.


Nila bukan anak TK lagi. Dia tahu Bunanya terus muter- muter saat dia tanya. Dia pun menebak pasti suaminya masuk Bui.


Buna pun menelan ludahnya gelagapan tidak bisa mengelak.


"Tahanan sementara. Proses penyelidikan dan sidang sidang akan terus berjalan. Nanti kamu juga pasti akan dipanggil jadi saksi. Sementara kamu harus sehat dulu. Ambil cuti kuliah, jangan kuliah dulu. Doa untuk suamimu yah!" tutur Buna lagi memberitahu. Baba dan Buna tidak tega, jika Nila kuliah lalu menjadi sasaran orang julid.

__ADS_1


"Kenapa Nila harus cuti Bun? Nila nggak apa- apa! Nila hanya ingin ketemu dan kuatin Mas Rendi. Nila akan bantu dan jadi saksi buat Mas Rendi!" sambung Nila lagi.


"Tapi tidak baik untuk kamu kuliah Nak."


"Tidak baik kenapa? Nila akan jelaskan ke semua orang apa yang terjadi Bun. Mas Rendi itu suami Nila. Mas Rendi hanya melakukan apa yang seharusnya seorang suami lakukan! Nila tidak peduli apa kata orang. Nila bangga sama Mas Rendi dan Nila akan bantu Mas Rendi!" jawab Nila lagi dengan semangat.


Buna menelan ludahnya tidak menyangka putrinya ternyata tak selemah yang dia pikir. Padahal Baba dan Buna khawatir sekali Nila depresi.


"Ya. Buna percaya anak Buna. Tapi kamu baru kecelakan dan dirawat. Kamu butuh istirahat. Ijin sakit dulu ya, Buna minta tinggalah di rumah Buna dulu!"


"Ya. Oke Nila ijin untuk hari ini. Tapi ayo kita keluar dari rumah sakit!" jawab Nila kekeh.


"Baiklah. Secepatnya akan Buna urus. Tapi tunggu jemputan Babamu ya!" jawab Buna kini tak bisa beralasan lagi.


****


POV sebelumnya.


Kampus Rendi adalah kampus unggulan yang terkenal dengan mahasiswanya yang berprestasi, bahkan merupakan impian dari ribuan pelajar untuk bisa menimba ilmu. Walaupun banyak kasus mahasiswa, tapi selama ini hampir tak membawa nama universitas.


Namun kasus yang kemarin karena si mahasiswa membawa almamater, hal itu menjadi perhatian khusus. Sejak saat itu, diam- diam dengan orang kepercayaanya, walau hanya bekerja dengan hp dan komputer, Rendi ingin menyelesaiakan dan membabat habis mahasiswa yang berpotensi menjelekan kampus.


Rendi pun mengendus kalau memang ada mahasiswinya yang terlibat di jaringan bisnis gelap. Sebelum ada skan dal lagi, harus ditemukan dan diantisipasi.


"Bahaya, Om!" ucap Della kesal.


"Lagian temenmu bisa bisanya sih ceroboh gitu." jawab seorang perempuan dewasa. Dia adalah Sang muucikari, yang bernama Bunda Melly.


"Maaf Bunda. Dia dicalling pas kerja lapangan!" bela Della.

__ADS_1


"Dosenmu juga kurang kerjaan, untuk apa dia mau menyelidiki segala!" jawab Tuan Laksana murka dan menyesap rokoknya.


Rupanya, Tuan Laksana adalah teman bunda Melly. Della juga kenal Tuan Laksana dari dia. Bunda Melly dan Tuan Laksana pun merasa terancam akibat teman Della.


"Makanya itu Om. Udah sih Om. Nggak usah peduliin anak Om, dan teman Om itu. Singkirin aja dosen itu dan istrinya dari kampus. Kata Om. Om juga nggak suka kan sama orang tuanya!" hasut Della ke Tuan Laksana.


Tuan Laksana pun menatap, Bunda Melly. Bunda Melly mengangguk acc.


"Bagaimana kalau Roberth marah?" tanya Tuan Laksana bimbang.


Di antara mereka, Tuan Roberth yang paling kaya dan berpengaruh.


Tuan Laksana kan sudah hampir bangkrut rugi dan banyak hutang. Tuan Laksana selamat berkat Dion juga hasil dia menjilat pada pengusaha kaya seperti Tuan Roberth.


"Tenang saja. Ada aku!" jawab Bunda Melly


Tepat di saat itu, telepon Tuan Laksana berdering. Ternyata Tuan Roberth yang mereka bicarakan menelpon.


Seperti mendapati sumur di padang sahara, rupanya Tuan Roberth menelpon memberikan titah, dia ingin Rendi dan istrinya diberi pelajaran sebab sudah membuat Vallen menangis lagi.


Tuan Laksana dan jaringan Bunda Melly pun mengatur siasat menghancurkan Rendi.


Tanpa mereka tahu. Di balik pintu ruang rahasia mereka bertiga kumpul ada sepasang telinga seorang gadis yang mendengarkan. Gadis itupun meneteskan air matanya.


"Mamah mau sampai kapan begini terus? Kapan mamah taubat. Celine bisa jadi orang sukses yang bahagiain Mamah tanpa bisnis kotor begitu..." lirih Celine menyeka air matanya kemudian pergi.


Ya, Celine adalah putri Bunda Melly sahabat Laksana dan bosnya Della.


Celine tahu banyak tentang semuanya dari ponsel Ibunya. Meski begitu, Celine tak pernah menyukai ibunya meski itu ibu kandungnya sendiri.

__ADS_1


Orang Tua Celine bercerai. Celine sebenarnya ingin ikut ayahnya. Akan tetapi hak asuh anak di pengadilan Ibu Celine yang memenangkan. Celine pun ikut ibunya dan tidak tahu dimana Ayahnya berada.


Celine hidup dengan bergelimang harta walau hatinya berontak ingin keluar. Dan di situ, Celine bersahabat dengan Farel karena mereka bertemu dan satu frekuensi.


__ADS_2