Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Surprise


__ADS_3

“Hhh bocah kecil,…” gumam Rendi tersenyum sendiri di ruang kerja dalam rumahnya itu.


Rendi duduk di kursi kebesaran yang bisa bergoyang dan empuk, dia menyandarkan kepalanya sembari memegangi titipan hadiah dari santri, lebih tepatnya teman sekamar Nila.


Sebenarnya Rendi tidak berniat membukanya, tapi tanpa sengaja, satu kertas pembungkus kado Nila sobek tersangkut ujung pensil, jadi Rendi penasaran dan iseng membukanya sekalian.


Rupanya itu kerajinan ukir dari Bambu, semacam kaligrafi, tapi bambu itu membentuk gambar sepasang pengantin dan bertuliskan Nila dan Akbar.


Ya, Abah Yusuf memang membekali santrinya dengan keterampilan. Sehingga bagi mereka santri yang kurang mampu, dan tidak bisa kuliah, saat lulus dari MA, di kehidupan selanjutnya, mereka menjadi santri yang produktif.


Dada Rendi mengembang dibuatnya. Dia pun mengulum lidahnya, batang hidungnya membesar dan pipinya memerah. Teman- teman Nila rupanya mendukung mereka.


Mereka tidak ada yang tahu permasalahan Rendi dan Nila. Abah juga tidak mungkin memberi woro- woro mengenai masalah pribadi keluarganya. Jadi santri mengira, Nila dan Rendi tetap akan melanjutkan pernikahan dan resepsi setelah Nila lulus MA, dan itu kado yang mereka persiapkan karena mereka sebentar lagi akan pulang kampung di luar Pulau. Mereka sadar untuk bisa bertemu Nila lagi seperti kemustahilan, untuk irit biaya dititipkan ke Rendi langsung saja.


Kadonya juga tidak hanya satu, ada banyak, tapi kado yang lain masih terbungkus rapi, entahlah apa isinya.


Bahkan sekarang Rendi tanpa sadar menghabiskan waktunya 1 jam hanya memandangi kerajinan itu dengan semua ilusi indahnya, baginya anak- anak polos, sempat sekali mereka membuat hal semacam itu untuk dirinya.


“Dia pasti marah dan malu kalau aku memberikanya terbuka seperti ini, aku harus membungkusnya lagi,”


Malam itu pun selain menyiapkan materi, menggantikan prof Jul, Rendi malah sibuk mencari kertas kado yang sama persis dengan corak teman Nila, lalu membungkusnya.


Cukup melelahkan karena Rendi sampai berputar ke 5 toko alat tulis untuk menemukan corak yang sama.


“Haish… kenapa merepotkan sekali? Begini kan ? Sudah rapih kan?” gumam Rendi kesal sendiri melihat jam dinding sudah pukul 10 baru kelar.


****


Di tempat lain.


“Triiing…,” ponsel Nila berbunyi saat Nila hendak masuk ke kamar seusai bercengkerama bersama orang tua dan saudaranya.


Nila pun membuka ponselnya.


“Aiunun?” gumam Nila sedikit terhenyak.


Teman pondok yang hampir tidak pernah menghubunginya, karena di pondok memang dilarang memegang ponsel menghubunginya.


Dengan jantung yang meningkat degubanya karena timbul banyak tanya, Nila membukanya.


“Assalamu’alaikum, Ning Nilaaa… ini aku Ainun, kamar 11A, Lurah pondok, khaifa khaluk Ning? Semoga Alloh limpahkan kesehatan dan kebahagiaan buat kamu. Cieee…Senang ya, udah nggak LDR, yang udah kuliah dan diajar suami sendiri, oh iya… hehehe udah dibuka kan kado dari kami? Semoga suka ya…” ketik Ainun panjang di pesan whastap ya.


Nila langsung melotot kaget membacanya. Nila pun segera membalasnya, meski dia bingung bagaimana menjelaskannya kalau dirinya dan Gus Akbar tidak seperti yang teman- teman kira, mereka bermasalah.


“Waalaikumslam… Sayang. Peluk rindu buat kalian yah. Alhamdulillah baik. Tapi Maaf, Kado apa ya? Belum sampai nih?” tanya Nila.


Karena mungkin Ainun sudah tidak di pondok, Ainun langsung membalas cepat.


“Kado dari kami, blok lantai 3. kamar 11A, 12A, 13A, 14A. Kita balik kampong, Ning, jadi kadonya kita titipkan Gus Akbar. Oh ya omong- omong kapan kalian resepsinya, kirim- kirim foto ya…, kita bikin grup wa, aku masukin kamu ya!” ketik Ainun lagi.


“Gleg!” Nila langsung gelagapan bingung bagaimana menjawabnya. Ponselnya pun terlepas dari tanganya.


“Gus Akbar? Mas Rendi? Jadi Mas Rendi pulang ke bamboo teduh dan bertemu anak- anak?” gumam Nila menyimpulkan sendiri.


“Hoooh… pantes dia nggak pernah nongol, ish..” gumam Nila mendadak jadi kesal ke Rendi. Kenapa tidak pamit ke dia seakan harusnya dia dipamiti, tapi Nila ingat mereka tak akur. Nila kembali berfikir lain.


“Apa Kak Fatma dan Ummi Abah nggak bilang ke mereka tentang kami? Kasian sekali mereka? Tunggu, berarti Mas Rendi benar sudah di Ibukota? Astaghfirulloh, kenapa tidak dia berikan amanah dari teman- temanku? Aish… tapi apa kado yang temanku kirim ya? Kenapa dia tidak berikan? Apa jangan- jangan dibuang?”


Nila jadi banyak menerkq dan tidak sabar menemui Rendi di kampus Nila mau marah.


Nila kemudian meraih ponselnya lagi. Walau sudah dihapus, tapi Nila pernah menyimpan nomer Rendi dan ada malah tersimpan didaftar blokir.


Karena emosi menganggap Rendi lancang asal terima kado dan tidak cerita ke Nila, Nila pun berniat ingin melabraknya. Nila melupakan gengsi menghubungi Rendi duluan.


Nila menyerbu ke Rendi dengan sindiran, kalau diamanahi sesuatu ya disampaikan ke penerima seharusnya. Kenapa pulang ke pondok tidak bilang- bilang. Pokoknya Nila marah- marah tidak jelas.


Sayangnya pesan Nila tak kunjung dibalas, hingga Nila termakan emosi memberanikan diri menelpon, dan teleponya tak jua diangkat, sampai emosi Nila naik ke ubun- ubun, dan Nila kesal sendiri dengan handphonenya.


“Dia sungguh ingin mengajakku rujuk nggak sih? Atau sudah melupakanku? Apa nomerku sudah tidak disimpan lagi sehingga dia tidak angkat telponku? Tapi pesanku masuk, itu berarti dia tidak blokir nomerku seperti aku kan?” gumam Nila jadi malu sendiri, kan yang blokir nomer Rendi dia, tapi dia sendiri sewot saat dia menghubungi tapi tak digubris.


Akhirnya karena emosi Nila memilih mengambil bantal dan memeluk boneka di dekatnya sampai dia tertidur dan lupa tidak membalas ajakan temanya tentang grup wa.

__ADS_1


****


Pagi harinya, Nila bersemangat datang ke kampus, bahkan dia mandi pagi- pagi, waktu senggang yang biasa dia sempatkan bermain dengan Vio dan Iya Iyu juga dia skip.


Sampai pagi pesanya belum dibalas walau tanda centangnya sudah centang biru. Nila jadi uring- uringan sendiri dan emosinya semakin membuncah.


“Oke… dia berhak marah dan benci ke aku karena ajakan balikanya aku tolak, tapi seharusnya dia ngerti kan? Dia sudah menyakitiku? Enak aja asal ajak aku balikin! Dia harus sadar seperti apa sakitku, merenungi kesalahanya? Nggak sadar juga!"


"Ini malah dia seenaknya ambil barang titipan teman- temanku dan tidak diberikan ke aku? Dia itu punya perasaan nggak sih? Dasar! Omonganya nggak bisa dipegang. Kenapa dia berbeda sekali dengan Abah Yusuf. Dia anak kandungnya bukan sih?” gumam Nila sepanjang waktu marah marah sendiri dalam hati dengan tatapanya yang kosong. Makan pun tak selera.


Rasanya Nila ingin bejek- bejek Rendi. Entah karena rindu yang terlalu banyak atau kesal sungguhan atau cinta yang dia pendam terlalu besar. Hanya Nila yang tahu.


“Buna… Baba… Kakak, maafin Nila, Nila berangkat duluan ya!” pamit Nila ke keluarganya .


“Buru- buru amat, kakak ada meeting di dekat kampusmu lho, bareng Kakak aja!” jawab Ikun tumben- tumbenan ajak bareng.


Buna, Baba, Amer dan yang lain ikut heran tumben sekali Nila makan cepat, biasanya makan lama, sempat suapi adiknya juga.


Mendengar tawaran Kak Ikun, Nila tidak ada alasan menolak. “Kakak masih lama nggak? Nila pengen ke kampus cepat,” tanya Nila.


“Nggak, bentar kakak ambil laptop dulu!” jawab Kak Ikun.


"Baiklah!" jawab Nila.


Pagi itu pun, Nila tidak diantar Baba atau Pak Iman, melainkan Kak Ikun.


“Udah punya gebetan baru? Gimana sama Hanan?” tanya Ikun tiba- tiba mengajak adiknya yang tampak diam mengobrol.


Mendengar pertanyaan kakanya Nila langsung mendelik, kakaknya pendiam, sekali bicara menyebalkan.


“Kakak apaan sih? Nila dan Hanan nggak ada apa- apa. Lagian nggak boleh Kak, pacar- pacaran, dosa!” jawab Nila.


“Oh iya, adek Kakak kan santri yah? Abis tumben, kamu dandan cantik banget? Biasanya nggak!” jawab Ikun jujur lagi.


“Gleg,” Nila langsung gelagapan dan salah tingkah.


Nila memang biasanya hanya memakai krim dan lipgloss, hari ini Nila memakai bedak, pensil alis, eyeshadow, mascara juga eyeliner, matanya yang cantik jadi sangat indah. Nila juga memakai lipstick dan pewangi. Jilbab dan pakaian Nila juga lebih berwarna cerah daripada biasanya, bahkan biasanya memakai jilbab segiempat kain, hari ini memakai pasmina.


“Ya, Nila kan normal kak? Sesekali boleh kan menghias diri, nggak harus karena naksir orang kan?,” jawab Nila lirih, ngeles Kakaknya.


"Yaya. Baguslah. Kakak suka!" jawab Ikun.


Ikun pun mengangguk, mengiyakan tanpa membahasnya lebih jauh, sebagai laki- laki, sejujurnya Ikun juga lebih suka melihat adiknya lebih cantik dan berdandan sebagaimana teman- temaya.


Tidak lama mereka sampai,Ikun pun mengantar Nilai sampai parkiran.


“Kalau mau bareng lagi, telpon Kakak ya!” ucap Ikun.


“Ya Kak!” jawab Nila, sembari mencium tangan Ikun. Kebiasaan di pondok, Nila memang mencium tangan orang tua dan orang yang halal untuk dia sentuh.


Nila pun masuk ke kelas, tentu saja hari ini langkah Nila diiringi semangat yang menggebu. Dia tahu, Rendi sudah ada di Ibukota walau belum bertemu. Akalnya ingin menemui Rendi, marah dan meminta titipan temanya. Entah hatinya ingin apa?


Nila pun celingak celingkuk ke sekeliling utamaya ke kantor dosen, sayangnya semua pintu masih tertutup.


"Ish!" desis Nila sadar dia kepagian.


Nila pun memilih ke kelas dengan menahan amarah di dadanya yang ingin cepat dia tembakan.


Sesampainya di kelas, kelas masih sepi, satu hal yang membuat Nila kaget, Farel sudah ada di di kelas. Waajahnya sangat pucat, dan pakaianya masih pakaian yang kemarin.


Nila jadi ragu mau masuk, tapi dia sudah terlanjur sampai depan pintu, mau kembali pun tanggung.


Nila memilih diam dan duduk di kursinya. Hati Nila jadi bercampur aduk, yang tadinya menggebu memikirkan Rendi berubah takut.


“Uhuk...Hacim…,” tetiba Nila mendengar Farel bersin, sehingga Nila menoleh.


Farel mukanya pucat, seperti menggigil. Nila yang ingin cuek, hatinya pun tidak kuat untuk tidak peduli.


“Farel? Kamu sakit?” tanya Nila akhirnya.


“Apaan sih?” jawab Farel ketus.

__ADS_1


“Maaf, aku tidak bermaksud mengganggumu, tapi kamu terlihat menggigil kamu juga pucat, kamu sakit?” tutur Nila lagi.


“Apa pedulimu? Bukan urusanmu!” jawab Farel lagi malah membentak.


Nila jadi serba salah, nggak nolong tidak tega, nolong malah dimarahi. Akhirnya Nila memilih memeriksa tasnya. Sejak kecil, oleh Buna yang juga seorang dokter, Nila sudah dibekali tas obat. Nila pun mengambil obat bekalnya, juga makanan bekalnya, dengan pelan dia mendekat ke Farel.


“Bunaku selalu mengajariku bawa bekal, aku harap ini bisa membantumu,” ucap Nila pelan meletakan bekal makan dan obat di depan meja Farel.


Farel tidak menjawab, dia hanya diam lalu menatap Nila, Nila semakin dheg- dhegan dan takut ditatap begitu. Nila pun berbalik tidak menunggu jawab Farel. Yang penting Nila sudah melakukan kewajiban sebagai manusia.


Rupanya Farel mengambil obat dari Nila, tapi tidak bekal makannya, dan Farel langsung bangun juga pergi.


Nila hanya melongo melihat Farel pergi. Entah ada apa dengan anak itu? Padahal sebentar lagi, anak lain mulai berdatangan dan kuliah akan segera dimulai.


Tidak ingin membuat banyak pertanyaan, Nila mengambil bekalnya. Kepala Nila pun diliputi banyak tanya, Farel pasti bolos lagi.


****


“Hei… pagi- pagi udah ngelamun!” pekik Dita begitu datang langsung mengagetkan Nila.


“Ish.., apa sih? Datang tuh salam,” ucap Nila.


Dita langsung nyengir, dan tiba- tiba fokusnya berganti. Nila membulatkan matanya lalu memperhatikan Nila dengan seksama bahkan wajahnya di hadapkan ke muka Nila dekat.


“Apa siiih?” tanya Nila menjauhkan wajahnya risih.


“Waah, kamu dandan, cantik banget temanku ini?” puji Dita seperti Ikun. Bahkan Dita meraih dagu Nila.


“Iiih..,” dengus Nila malu. Nila jadi kesal kenapa sekali Nila dandan orang heboh.


“Ajari aku dandan, sih!” ucap Dita malah ngeledek.


“Hmmmm…,” Nila hanya berdehem malas.


“Tapi btw, kok tumben kamu dandan?” tanya Dita lagi.


Nila diam, sejenak, baru menjawab. “Salah ya?”


“Nggak, tumben aja!”


“Aku pernah dengar, balas dendam terbaik pada mantan yang nyakitin kita, adalah kita harus lebih baik dan membuat dia nyesel nyakitin kita!” jawab Nila tiba- tiba mengeluarkan unek- uneknya.


Dita pun terbengong, tiba- tiba seorang Nila mengatakan itu.


“Kamu punya mantan?” tanya Dita syok.


Belum Nila menjawab, anak- anak yang tadinya masih bergerombol membubarkan diri ke kursinya masing- masing. Dita dan Nila ikut menyiapkan diri karena dosen mereka datang.


****


“Hhh… dasar bocah, keluarkan bodohnya, suudzon banget sih kamu?,” gumam Rendi seusai mandi melihat ponselnya.


Bukanya membalas pesan Nila, Rendi malah semakin senyum- senyum sendiri.


Rendi suka sekali melihat panggilan tak terjawab dari Nila dan pesanya yang marah- marah, sangat menyenangkan. Selama ini kan nomer Rendi diblokir, sekarang Nila yang menghubunginya.


Rendi merasa menang, dia jadi ingin mengerjai Nila dan memberi kejutan sekalian.


Tidak menunggu Bu Siti datang, pagi- pagi Rendi pergi dan memilih sarapan di pedangan kaki lima depan kampus. Rendi jadi melihat datang Nila diantar Ikun.


“Kenapa semakin hari kamu semakin cantik sih?” gumam Rendi memandangi Nila dari kejauhan, mulai dari Nila turun dari mobil, pamitan ke kakaknya sampai menghilang dari pandangan.


****


Dan sekarang karena saking tidak sabarnya, setelah kemarin melakukan tawar menawar dan Rendi di acc mengajar di kelas awal, Rendi masuk ke kelas 10 menit lebih awal demi ingin cepat melihat Nila.


Anak- anak pun tercengang, karena setahu mereka dosen mereka prof Jul yang hampir pensiuun, tentu saja ini menjadi surprise bagi mereka tiba- tiba ganti dosen muda dan tampan. Tak terkecuali Nila.


"Dokter Rendi....waah. Mimpi apa kita diajar dia?" bisik Dita kegirangan


Sementara Nila setengah melotot, lalu menunduk salah tingkah. Nila memilin jarinya, tadinya rasanya ingin sekali marah dan memaki, tapi kenapa sekarang saat orangnya ada di depanya, dadanya terasa berdebar sangat cepat dan pipinya panas sekali.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, selamat pagi!" sapa Rendi di depan kelas dan tatapan yang biasanya di lempar ke sembarang arah sekarang lurus tajam ke arah Nila.


__ADS_2