Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Bukan Bocil


__ADS_3

"Bocil banget?" celetuk tamu Nila spontan.


"Blak!" spontan Nila yang tadinya sudah terlanjur membuka pintu tanpa mengintip dan kegirangan dikira Rendi langsung menutup pintunya.


"Lhoh kok ditutup?" pekik tamu Nila.


"Maaf, Pak. Silahkan duduk dan tunggu dulu." jawab Nila dari dalam.


Nila memanyunkan bibirnya kesal, kurang ajar sekali tamu Rendi mengatainya bocil. Nila sudah dewasa, bahkan Nila sudah pandai menyenangkan adik kecil Rendi.


Nila masuk kembali dan mencari hijabnya. Tadinya Nila mau menghindar, karena sudah terlanjur berhadapan Nila gelagapan dan bingung. Takut tidak sopan juga, makanua Nila bertahan saat tamunya menanyainya, tapi karena dikatai bocil, Nila jadi bete dan tidak peduli sopan atau tidak, Nila tutup pintunya.


"Mas Rendi kemana sih kok nggak pulang- pulang?" gerutu Nila langsung menyambar ponselnya berniat menelpon Rendi untuk memberitahu.


Sayangnya dering telepon Rendi terdengar di atas nakas. Rendi ke masjid tidak bawa telepon.


"Hhrrgh nggak dibawa lagi?" gumam Nila.


Nila bukan bocil, Nila harus menunjukan dirinya dewasa. Walau kesal tal boleh menghiraukan tamu. Nila pun keluar sekarang sudah memakai outer dan hijab lalu menemui tamunya, yang ternyata masih menunggu dan Nila dengar sedang mengatai Nila.


"Kreek!" pintu dibuka lagi.


Tamu Nila itu pun menyunggingkan senyumnya lagi, sangat tidak sopan dan terkesan melecehkan Nila. Nila tidak suka.


"Maaf, Pak! Tadi saya pakai hijab dulu!" ucap Nila tetap sopan walau hatinya malas sekali sebenarnya


"Oh iya. Nggak apa- apa Dek!" jawab salah satu tamu Rendi.


"Beneran istrinya Rendi, Nih?" tanya tamu yang lain.


Hati Nila tambah bergemuruh, tapi Nila hanya sedikit mengeratkan rahangnya. Ya, Nila bukan bocil, sudah dewasa, orang dewasa kan tidak boleh pundung atau baperan. Orang dewasa harus menjaga emosinya


"Iya. Benar. Saya istri Mas Rendi. Silahkan duduk. Bapak- bapak ini siapa ya?" jawab Nila sopan dan mempersilahkan tamunya duduk di bangku teras.


Dipersilahkan duduk kedua tamu Rendi malah menyeringai dan mengusap tengkuknya


"Aish. Kami teman Rendi. Panggil kami Kak aja!" jawab satu teman Rendi ternyata mengusap tengkuknya tidak terima dipanggil Pak.


Nila menelan ludahnya lalu tersenyum menyeringai. "Oh iya, Kak, Maaf!" jawab Nila.

__ADS_1


Ya tamu Rendi dua laki- laki dewasa. Penampilanya sangat santai, hanya memakai kaos dan celana 3/4. Dari barangnya Nila tahu yang mereka kenakan barang mahal itu menunjukan kemapanan mereka. Mereka berkumis juga sedikit gendut, buat Nila pantas dipanggil Om atau bapak. Sapaan hormat kan Bapak.


"Nggak apa- apa. Rendi ada?" tanya Tamu Nila lagi


"Mas Rendinya lagi ke masjid, dari maghrib belum pulang. Kalau boleh tahu, Kakak ini siapa ya? Apa perlu saya panggilkan beliau?" tanya Nila mengikuti mah tamunya dipanggil Kak.


"Nggak apa- apa kita tunggu aja!" jawab salah satu tamu Nila yang katanya teman Rendi.


"Kalau gitu silahkan tunggu di sini. Mohon maaf saya tinggal masuk!" jawab Nila lagi.


Tamu Rendi mengangguk, Nila masuk dan berniat membuatkan kopi. Tidak butuh waktu lama Nila sudah selesai membuatkan kopi untuk tamu Rendi dan Nila siap menghidangkan.


Saat Nila keluar dapur, suara Rendi sudah terdengar. Rendi ternyata sudah pulang. Nila pun mengkode Rendi untuk memberikanya. Rendi pun masuk.


"Oh buat kopi? Istriku peka sekali makasih ya!" ucap Rendi.


"Kok pulangnya lama sih?" tanya Nila kesal tidak menghiraukan pujian Rendi.


"Hehe. Mas disuruh isi materi pengajian malam ini!" jawab Rendi


"Ooh!" jawab Nila, sebenarnya dalam hatinya mengembang senang, tapi tak mau menampakan.


"Belum. Tapi Nila kesel siapa mereka?" tanya Nila.


"Teman kuliah Mas. Kesel kenapa mereka baik kok!"


"Masa Nila dikatai bocil?" adu Nila cemberut


Rendi jadi terkekeh.


"Nggak apa- apa orang lain. Yang penting nyatanya kamu nggak bocil. Dewasanya kamu kan buat Mas!" jawab Rendi dengan tatapan matanya mengarah ke dada Nila dengan kode.


Nila mencebik.


"Ya udah sana kalau Mas mau keluar." jawab Nila mengusir .


"Kurang, buatin satu lagi buat Mas" ucap Rendi.


"Mas mau apa? Kopi juga?" tanya Nila menawarkan.

__ADS_1


Bukanya menjawab, Rendi berbisik ke telinga Nila, minta minum yang khusus dari tubuh Nila.


"Ish...," Nila pun berdecak dan manyun.


Rendi terkekeh.


"Serius mau teh apa kopi?" taya Nila.


"Terserah!" jawab Rendi dan memilih membawa nampan minumnua keluar.


"Dasar nggak jelas?" gerutu Nila kesal, Nila pun memiliu membuatkan Rendi air putih hangat.


Nila tidak memperdulikan Rendi dan teman- temanya. Nila kembali mengerjalan tugasnya.


"Ish, Ck. Lama banget sih ngobrolnya? Aku nggak mudeng ini aku harus ngapain? Kan aku pengen dijelasin Mas Rendi?" batin Nila menggerutu.


Nila ada beberapa tugas dan soal yang tidak bisa menjawab dan ragu. Nila ingin Rendi memberikan bantuan. Saat menjelaskan di kelas Rendi kan selalu detail menjelaskan.


Sayangnya Rendi tak kunjung masuk, Nila jadi menyandarkan kepalanya di meja belajar, dan terlelap.


"Dhek!" panggil Rendi membangunkan Nila.


Nila pun terbangun gelagapan, mengucek matanya sadar dia tertidur. Akan tetapi saat matanya terbuka, Nila manyun mendapati pakaian suaminya


"Jangan tidur di sini. Tidur di kamar!" ucap Rendi lembut.


"Mas pakai jaket dan kemeja mau kemana?" tanya Nila sedih.


Rendi pun tersenyum


"Mas pergi dulu sama teman Mas ya!"


Nila memeriksa jam dinding.


"Udah jam 9 mas. Pergi kemana? Nila tidur sendiri? Pulang jam berapa?" keluh Nila lagi


"Sebentar doang. Dah ya. Mas berangkat. Tidur di dalam. Mas bawa kunci kok. Kunci pintu ya!" pamit Rendi mengusap kepala Nila.


Nila masih menunduk cemberut tidak suka suaminya pergi

__ADS_1


Akan tetapi Rendi mengulurkan tanganya sebagai tanda tetap pamit. Mau tidak mau Nila mencium tangan Rendi dan membiarkan Rendi pergi


__ADS_2