Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Masih Halal


__ADS_3

Bukanya panik, Rendi menoleh dengan tersenyum.


"Mati- mati? Dia manusia Adhek Nila cantik? Meninggal, bukan mati!" jawab Rendi lirih, malah merayu Nila.


"Huh?" Nila pun terbengong dan membelalakan mata mendengarnya.


Kenapa Rendi masih sempat sesantai itu melihat orang terkapar. Meski begitu, ada desiran aneh yang merayap ke dalam hati, saat kedua telinganya menangkap kata Adhek yang diucapkan Rendi.


"Dia masih hidup kok!" ucap Rendi lagi masih tetap tenang.


"Tapi Mas, ehm... tapi Pak," ucap Nila mulutnya keslimpet, kesadaran Nila kembali dan paniknya hilang. Nila malu dan gengsi sendiri menunjukan panggilan kedekatan ke Rendi, jika Nila memanggil Rendi Mas, itu artinya Nila menghapus jarak pembatas di antara mereka.


"Pak Rendi memukulnya keras. Dia berdarah, bagaimana kalau dia kenapa- kenapa? Bagaimana kalau Pak Rendi jadi berkasus. Pak Rendi bisa dipenjara!" lanjut Nila membahas hal lain, tidak mau kentara tentang mulut keslimpetnya itu.


Sayangnya Rendi sudah dengar dan paham. Rendi semakin mengembangkan senyum maskulinnya. Mata elangnya juga semakin tajam menatap Nila. Bahkan Nila sampai tergagap dan langsung salah tingkah, saat tanpa sengaja menoleh dan mendapati tatapan itu, saat begitu damage Rendi unch sangat bagi Nila.


"Kamu khawatir dia kenapa- kenapa? Atau khawatir aku dipenjara?" tanya Rendi merayu lagi, Nila semakin mati kutu dan tersipu dibuatnya.


"Ehm...," dehem Nila mengalihkan matanya, tidak kuasa dan tidak mampu menahan tatap Rendi yang begitu tajam. "Saya bertanya serius, bukan bercanda, ini tentang nyawa orang, Pak!" lirih Nila mulutnya manyun.


Rendi semakin tertawa kecil, dia tidak menatap Nila lagi, tapi Rendi melangkah ke depan, lalu berjongkok ke Farel.


"Sini!" ucap Rendi malah meminta Nila mendekat.


"Huh?" pekik Nila tambah bingung.


"Sinih!" panggil Rendi lagi ke Nila.


"Untuk apa? Saya tidak mau jadi tersangka," lirih Nila ragu dan takut.


"Mau belajar nggak?" tanya Rendi lagi.


"Belajar?" pekik Nila.


"Kita cek, dia baik- baik saja tidak? Mas juga kasih tahu, letak tubuh bagian mana yang tidak boleh dipukul karena membahayakan nyawa dan sebaliknya. Kita boleh pukul musuh untuk melumpuhkan tanpa harus menghilangkan nyawa!" tutur Rendi malah memberikan kuliah ke Nila.


Di pondok Bambu Teduh juga ada mata pelajaran Pencak Silat, tentu saja Rendi paham.


Nila menelan ludahnya mengangguk, dengan langkah pelan Nila mendekat ke Rendi. Farel masih sadar memang, tapi dia meringkuk ke sakitan memegangi kakinya.


"Tahu kan cara memeriksa pasien, henti jantung atau tidak? Dia meninggal atau masih hidup?" tanya Rendi kembali memberikan materi kuliah ke Nila.


Nila kan baru masuk kuliah, dengan menyeringai Nila menggeleng.


"Kamu diajar ustad Ali kan? Bukanya udah diajari bela diri? Masa nggak tahu, gimana sih?" tanya Rendi lagi ajak Nila bercanda dengan meragukan keaktifan Nila sebagai santri Abah Yusuf.


"He...," Nila kembali menyeringai, dalam hati Nila membatin, dia kan sering ijin ikut rapat pengurus, saat extra pencak silat.


"Pasti sering bolos dan pura- pura sakit ya? Dassar!" cibir Rendi ajak Nila bercanda lagi.


"Ye..., nggak!" spontan Nila langsung menjawab dan mencibir. "Nila ijin ikut rapat kegiatan pengurus pondok!nBukan pura- pura sakit!" jawab Nila bela diri sehingga ketegangan di antara mereka sedikit memudar.


"Pegang sini, di sini tempatnya Nadi karotis, dan ini bagian pusat syaraf, hindari mukul bagian sini, bisa banyak cacat. Coba cek raba bagian sini masih ada denyut nggak?" tutur Rendi malah menggunakan Farel sebagai probandus, walau tidak bekerja ke pasien tapi kan basic Rendi dokter.


Meski ragu, Nila patuh ikut memeriksa Farel sesuai petunjuk Rendi. Farel kan memang tidak pingsan tentu saja dia sangat jengkel dijadikan alat praktek. Walau meringis kesakitan, Farel masih sempat mendesis dan mengumpat.


"Kamu dengar? Dia masih mengumpat! Masih hidup ya. Dia tergeletak karena kesakitan. Aku sudah pukul pipinya, mungkin gigi dan rahangnya patah, entahlah kakinya ikut patah atau tidak? Aku tadi tendang. Paling dia nggak bisa ny- abu lagi!" ucap Rendi dengan bangga dan malah langsung sarkasme menunjukan boroknya Farel di depan Nila.


"Gleg!" Nila terdiam, ya Farel tadi sedang melakukan perbuatan yang dilarang.


Jadi Rendi memukul, selain menolongnya juga memberi hukuman Farel.


Nila yang benar- benar baru tahu dunia luar, langsung diam dan menoleh ke Rendi sejenak dengan penuh kekaguman. Saat begini Rendi terlihat keren.


"Tapi kalau retak, butuh operasi. Orang tuanya pasti tidak terima. Mas bisa dilaporin ke polisi, ini akan jadi masalah besar!" jawab Nila lupa lagi manggil Rendi Mas dan menunjukan khawatirnya. Nila spontan dan kali ini benar- benar lupa status mereka.


"Nggak usah khawatirin Mas? Mas lebih khawatir kalau kamu terluka! Percaya dia akan baik- baik saja! Apalagi Mas. Yang penting kamu aman," jawab Rendi lagi menenangkan Nila dengan tatapan dewasanya.


Nila semakin nyaman dan tersanjung mendengarnya, walau dia tidak mampu mengurarakanya.


"Tapi kita harus cepat tolong dia!" tutur Nila lagi.


Rendi tidak menjawab, tapi hanya menghela nafas dan tanganya merogoh sakunya. Rupanya Rendi mengambil ponsel, lalu menghubungi seseorang. Nila pun paham Rendi sedang meminta bantuan


Sesaat, Nila yang sudah normal jadi berfikir, sekarang sudah sore, dia harus segera pulang, bahaya kalau tidak segera pulang, Baba bisa mencarinya. "Kak Ikun nungguin aku nggak ya? Dia udah pulang atau masih kerja? Gimana ini?" batin Nila. "Aku malu juga kalau nanti banyak orang yang tahu aku bareng Mas Rendi. Kalau nanti ke Up dan jadi masalah, gimana!" Nila jadi panik dan berfikir tidak jelas lagi.


"Kita bawa dia ke rumah sakit!" ucap Rendi mengagetkan Nila.

__ADS_1


"Ha..," pekik Nila terhenyak karena sedang melamun.


"Ya. Seperti katamu. Kita harus tolong dia. Kita bawa dia ke rumah sakit," jawab Rendi.


"Kita?" pekik Nila mengernyit.


"Ya iya. Mas sama adhek! Siapa lagi?" jawab Rendi, semakin senang menunjukan status kedekatan mereka.


"Gleg!" Nila yang sebelumnya galak dan jual mahal langsung mati kutu, akalnya ingin langsung menangkal dan marah tidak ingin dipanggil adhek, tapi bibirbya terasa kelu untuk menampik.


"Kenapa kaget gitu, pipimu juga tampak lebam? Apa dia memukulmu?" tanya Rendi lembut, dan tiba- tiba meraih pipi Nila memeriksa.


"Pak!" spontan Nila yang masih labil dengan panggilan ke Rendi apa, tanganya langsung menampik tangan Rendi. Padahal tadi dia yang memeluk Rendi nyaman tapi sekarang disentuh tidak terima.


"Kamu harus diobati! Kamu terluka," ucap Rendi lagi.


"Maaf, saya pulang saja. Di rumah Bunaku bisa mengobat_i" ucap Nila beralasan tapi langsung terpotong.


"Tidak!" jawab Rendi tegas.


Digalaki Rendi, Nila semakin tersadar, dan gemgsi tidurnya jadi bangun.


"Kenapa tidak boleh pulang?"


"Kamu harus ikut aku!"


"Untuk apa? Saya akan menemui bapak atau menyusul ke rumah sakit, tapi saya tidak bisa pergi dengan bapak! Jadi saya harus pulang dulu!" jawab Nila jual mahalnya benar- benar keluar.


Mendengar itu Rendi justru jadi gatal dan gemas. Nila benar- benar naif dan labil, tapi wajar sih. Nila kan masih abg. Rendi pun menatap Nila tersenyum.


"Kenapa harus pulang dulu. Ini sudah menjelang sore. Aku akan mengantarmu! Kamu juga harus cerita bagaimana kejadianya!".


"Tidak! Saya pulang sendiri saja! Saya akan ceritakan semuanya besok!" jawab Nila.


"Nila!" pekik Rendi galak lagi, sedikit terpancing emosi, rupanya sifat Buna yang sedikit ngeyelan ada yang menurun.


Nila semakin tidak terima kalau Rendi galak.


"Dengan bapak nolong saya, bukan berarti kita berbaikan. Mana barang- barang Ainun. Ini semua karena bapak yang suruh nunggu saya di sini. Bapak yang harus tanggung jawab. Saya mau pulang! Saya akan datang jika saya dibutuhkan terkait Farel!" jawab Nila lagi emosi walau sedikit gelagapan karena ucapanya sebenarnya berbalik dengan hatinya.


"Ikut aku titik!" jawab Rendi tegas.


Lalu mereka saling tatap sama- sama emosi, padahal baru saja ketegangan di antara mereka memudar.


Rendi menghela nafasnya, menyadarkan diri dan mencoba sabar.


"Nila... Mas minta maaf, lupakan urusan pribadi dan status kita sejenak," tutur Rendi pelan


"Lihatlah wajahmu dan keadaanmu. Lihatlah Farel juga. Kamu sendiri kan yang bilang kita harus tolong dia juga. Oke, Mas salah, mas akan tanggung jawab. Tapi kita butuh kamu, kamu yang ada di sini. Aku juga harus lapor Dekan dan pihak keamanan soalnya. Kamu saksi kunci! So... Ikut aku!"


"Babamu urusanku! Kalau kamu pulang sekarang, tambah ruwet urusanya. Kita selesaikan dulu ya!" tutur Rendi panjang dan suaranya merendah, mencoba memberi pengertian ke Nila.


Diajak bicara lembut, Nila jadi malu kalau mau ngotot- ngototan. Apalagi di depan terdengar suara mobil terparkir. Nila juga ingat Farel tidak sendiri. Nila memang harus beritahu Rendi.


"Ambulan kampus sudah datang. Kamu ikut mobilku. Barangmu ada di mobil," ucap Rendi lagi.


Nila pun menunda ceritanya.


Dan benar langkah kaki terdengar. Sekelompok pria berseragam datang membawa brankar. Mereka tampak menyapa Rendi dan memberi hormat ke Rendi. Sepertinya Rendi populer dan mempunyai value baik. Nila menundukan kepala menepi, rasanya malu ada banyak orang yang melihat dia bersama Rendi.


Dengan segera mereka membawa Farel.


"Aku di belakang kalian ya!" ucap Rendi menepuk ketua tim pembawa brankar itu.


"Siap Dok!" jawab petugas dari rumah sakit. Rendi mengangguk dan menoleh ke Nila.


"Ayo..!" ajak Rendi ke Nila.


Nila memilin jarinya ragu.


"Nila,...," tutur Rendi pelan lagi. "Nggak usah khawatir tentang Baba. Semua akan baik- baik saja. Babamu akan lebih marah jika kamu pulang seperti ini!" tutur Rendi tahu betul apa masalah Nila.


Rendi juga tahu betul kalau sebenarnya Nila masih sangat mencintainya, terbukti, walau sudut bibirnya lebam, pipi Nila sedari tadi tampak merona. Apalagi, Rendi kan sudah baca diari Nila yang dulu tertinggal di laci kamar.


"Ayok! Keburu malam!" ajak Rendi lagi tanganya meraih tangan Nila.


"Nila bisa jalan sendiri!" jawab Nila menepis tangan Rendi

__ADS_1


"Ya.. ya udah ayok!" jawab Rendi kembali ajak Nila, sekarang penuh kelembutan lagi. Rendi memang harus ekstra sabar. "Keburu malam!"


Nila yang hati terdalamnya juga masih rindu pun melangkahkan kakinya, Rendi berjalan di depan dan dia di belakang. Nila malu sekali ke parkiran kalau nanti masih ada orang kampus yang melihat mereka.


Benar saja begitu keluar dari area minihospital lab, mahasiswa semester atas masih ada yang beraktivitas di kampus. Mereka tampak memberi hormat ke Rendi tapi langsung fokus ke Nila, meski begitu, dari kasak kusuknya, merea saling berbisik tentang ambulan yang bawa Farel, bukan tentang Nilanya.


Nila semakin tidak nyaman, takut kalau namanya akan terseret dan ketahuan banyak orang mengenai perkelahianya dengan Farel.


Rendi yang dengar mendekat ke Nila dan berbisik agar berjalan cepat. "Tidak usah di dengar! Bergegaslah!"


Nila pun berjalan cepat ke mobil. Sesampainya, tanpa malu diliat orang. Rendi membukakan pintu untuk Nila.


"Masuklah!" ucap Rendi mempersilahkan


Untuk pertama kalinya, Nila masuk ke mobil Rendi. Rendi pun segera menyusul ke dalam sehingga mereka kini berdampingan


Nila masih menunduk, menahan detak di dadanya agar tak bersuara, sebab di dalam diri Nila sedang ada pertempuran hebat, antara hati dan akalnya. Dia juga bingung ingin cerita banyak. Tapi Rendi tampak diam dan fokus nyetir.


"Pria itu pasti pengedarnya, kemana dia pergi? Cerita nggak ya? Ah tapi malah panjang urusanya," gumam Nila.


Sebenarnya Rendi diam, karena Rendi mencoba mengerti Nila dan dia membiarkan Nila tenang dalam diamnya. Rendi hanya melirik Nila sesekali sembari mengendalikan stir mobilnya.


"Do'a Abah sangat manjur. Abah terbaik memang. Benar ternyata... orang yang banyak sholat malam didengar Alloh," Rendi malah bergumam sendiri dalam hati. Rendi sangat berbunga. Setelah selama ini mencoba ajak Nila bicara empat mata kini ada di dalam mobilnya.


Perjalanan begitu hening karena keduanya terdiam dengan gejolak hati masing- masing. Karena di dekat kampus fakultas kedokteran memang ada rumah sakit pendidikan, tidak butuh lama mereka sampai. Rendi pun membuka mobil untuk Nila.


"Saya bisa buka sendiri kok!" jawab Nila gengsi diperlakukan istimewa oleh Rendi.


"Ya...," jawab Rendi tetap sabar, Rendi hanya menggaruk pelipisnya membiarkan Nila turun. Menghadapi abg labil tidak boleh emosian.


"Biar Farel ditangani. Kamu juga harus diobati dulu ya! Kita berobat juga ya!" ucap Rendi ke Nila.


Walaua setuju Nila tidak menjawab, hanya mengangguk. Rendi pun membawa Nila ke dokter, lalu dokter dan perawat memeriksa Nila.


Sementara Rendi keluar ruang. Nila melirik sejenak, dia tampak berbicara di telepon, seperti sedang berkoordinasi terkait Farel.


Saat diperiksa tangan Nila juga ada yang bengkak, rupanya saat Nila melawan dan memaksa mengeluarkan ilmu bela dirinya yang tidak sempurna karena sering ijin, Nila terluka. Nila pun mendapatkan obat, wajahnya yang bengkak juga diobati, kini dirinya sudah kembali rapih.


Rendi pun kembali masuk, lalu menyelesaikan administrasi pengobatan Nila, hingga semua beres mereka kembali bertemu.


"Kamu sudah makan?" tanya Rendi kemudian.


"Kita lihat Farel. Setelah itu antarkan saya pulang!" jawab Nila mengabaikan pertanyaan Rendi.


"Hmm.. aku akan antar kamu setelah ke polisi!" jawab Rendi kembali tegas tidak mau diatur Nila si anak kecil yang labil.


"Polisi?" tanya Nila hampir lupa.


"Ya iya. Kan Mas udah bilang. Tas Farel isinya, obat- obat terlarang. Ini sudah kejahatan. Status kemahasiswaan Farel juga perlu dibahas. Orang tua Farel juga harus datang. Kita selesaikan ini dulu! Sabar dulu pulangnya, oke?" tutur Rendi.


Nila hanya diam mendengarkan


"Kabari Buna dulu kalau kamu ada urusan! Kita ceritakan saat sudah ketemu nanti, biar mereka nggak panik," tutur Rendi beri nasehat lagi ke Nila.


"Gleg!" Nila menelan ludahnya, iya dia harus kasih kabar Ikun dan Baba. Tapi ponselnya kan mati.


"Maaf, Bapak bawa charger nggak?" tanya Nila pelan.


"Charger?" tanya Rendi.


"Ponselku mati!" jawab Nila pelan.


"Oh...," jawab Rendi mengangguk, dan matanya bergerak berfikir.


"Kayaknya di mobil ada. Pakai yang biasa atau tabsi?" tanya Rendi lagi.


Nila pun mengambil ponselnya dan menunjukan ke Rendi.


"Oke kayaknya sama. Mau charge di mobil apa di sini? Di mobil aja ya?" tanya Rendi sembari melihat sekeliling. Di rumah sakit tampak ramai dan di dekat stop kontak sudah antri pengunjung yang charge juga.


"Di mobil boleh!" jawab Nila ikut melihat sekeliling.


Rendi mengangguk dan ajak Nila ke mobil.


Mereka kembali berjalan beriringan. Rendi sangat senang dan ingin terus mengulur waktu, bahkan berharap di kantor polisi semoga lama.


Sesampainya di mobil, Rendi pun membukakan pintu dan menyalakan mesinya, mempersilahkan Nila mengisi daya ponselnya. Nila pun kembali masuk, duduk di kursinya dengan tenang menyambungkan kabel itu, menunggu sejenak agar terisi dan bisa digunakan.

__ADS_1


Rendi menemaninya dengan diam, meski begitu matanya tak mau terlewat dari memperhatikan Nila. "Jujurlah pada hatimu, Dhek... katakan ya kita baikan, kamu masih halal untukku? Kita masih suami istri!" batin Rendi menelan ludahnya tertegun menatap Nila.


__ADS_2