
Seketika itu, baik Nila dan Dita langsung pucat.
Mereka langsung mundur dari garis yang terdapat alat detektor agar tak berbunyi terus.
"Aku nggak ambil apapun, Nila. Sungguh!" ucap Dita merasa tertuduh dengan wajahnya yang ketakutan.
Dita segera mengambil tas punggungnya dan membukanya. Dita bahkan gemetaran sampai matanya memerah hampir menangis. Walau belum di geledah. Dita dengan sendirinya, mengeluarkan isi tasnya untuk membuktikan dia tidak membawa apa- apa.
"Aku percaya Dita, tenang ya!" ucap Nila menenangkan Dita.
Nila hatinya juga panik, tapi Nila lebih sabar dan tenang dari Dita. Nila diam dan berfikir, sepertinnya Dita gadis yang polos dan baik, Dita juga serius belajar ke Ibu kota untuk meraih cita, tidak mungkin Dita nyuri. Nila sendiri sama sekali tidak ada minat untuk mencuri.
"Farel?" gumam Nila langsung datang nama itu.
"Kalian ikut kami!" ucap Petugas keamanan mendekat ke mereka.
"Pak Saya nggak ambil dan bawa apapun. Lihatlah isi tas saya Pak. Silahkan dicek!" ucap Dita menggebu dengan mata berkaca- kaca ketakutan.
Nila masih diam, Nila justru mengedarkan matanya ke sekeliling. "Dimana Farel? Dia pasti sedang menonton adegan yang dia inginkan," Sayangnya Nila dan Dita justru jadi tontonan pengunjung lain tak ada tampang Farel.
"Ikut saya. Ayo! Kita selesaikan di kantor!" ucap Satpam. Mereka punya cara sendiri menyelesaikan masalah pencurian.
"Pak saya nggak mencuri!" Dita yang polos sangat ketakutan jika dibawa satpam. Dita juga keberatan ikut satpam.
"Dita, tenang, kita ikut aja, kita buktikan di kantor saja!" ucap Nila menenangkan
Sayangnya bukanya tenang, Dita yang panik malah tertuduh.
"Kamu nggak percaya sama aku? Aku beneran nggak ambil Nila?" jawab Dita emosi.
"Aku percaya kamu. Tapi kita lagi diliatin banyak orang. Mungkin aaja, barang malah ada di tasku. Sepertinya Ada yang ngerjain kita! Kita jadi tontonan, ikut aja ya" ucap Nila langsung tahu apa yang terjadi dan menasehati Dita.
Dita yang mendengarnya hanya menelan ludahnya. Baru kepikiran, Farel kan anak yang kelewat nakal. Dia tadi sambil mengejek Nila sempat mendekat ke Nila.
"Farel?" lirih Dita paham. Nila hanya mengangguk.
"Hei.. kalian cepat ikut kami!" bentak satpam sedikit keras.
"Iya Pak!" jawab Nila tetap tenang.
Dita yang sekarang sudah tahu berubah tidak panik, tapi langsung mengepalkan tangan. Lalu Nila mengedikkan matanya ajak Dita ikut ke kantor keamanan di mall itu, agar masalah tak panjang atau jadi tontonan.
Dita pun mengangguk. Nila berjalan mengikuti satpam, sembari memutar tasnya ke depan dan memeriksa. Apa yang Farel taruh di tasnya? Di otak pun berjalan apa yang akan dia lakukan? Bagaimana dia kalau ditanya dan benar ditemukan barang yang belum dibayar.
__ADS_1
Nila belum menemukan solusi, mereka sudah sampai di ruang kecil. Di situ bapak- bapak berseragam langsung melirik sinis ke Nila dan Dita.
"Masih muda cantik- cantik sudah nyuri? Apa yang kalian curi?" bentak Pak Satpam.
Dita langsung mendelik tidak terima.
"Pak Kami nggak nyuri. Kami bayar? Maksudnya temenku ini sudah bayar," jawab Dita langsung menggebu.
Sementara Nila tampak tenang.
"Kami tidak mencuri Pak. Demi Allah!" ucap Nila tenang.
"Kalian sudah ketangkap basah masih juga beralasan. Jawab jujur dan tanggung jawab. Bayar barangnya. Kami akan memaafkan dan ijinkan kalian pergi. Apa mau kami bawa ke jalur hukum!" tanya Petugas keamanan sedikit mengancam dan menjelaskan prosedur penanganan mereka.
"Pak kita beneran nggak nyuri? Mana buktinya Bapak mau laporin kita? Bapak jangan sembarangan?" jawan Dita masih menggebu dan terbawa emosi..
"Mana tas kalian!" ucap satpam lagi menjawab Dita.
"Nih...Pak. Sok di periksa!" jawab Dita lagi menyerahkan tasnya
Nila juga menyerahkan tasnya walau tetap tenang.
"Pak saya minta tolong cek cctv. Sepertinya ada yang ngerjain kita dan memasukan barang ke tas kami Pak!" tutur Nila tenang menjelaskan walau satpam belum selesai memeriksa.
Satpam bukanya percaya malah menertawai Nila.
"Pak. Saya minta tolong. Cek cctv. Saya akan tanggung jawab bayar. Tapi saya bersimpah tidak mencuri apapun. Silahkan cek cctv!" ucap Nila lagi.
"Tak!"
Satpam yang membuka tas Bening tersenyum kecut dan melemparkan satu buku dari tas Nila.
Dita pun syok melirik ke Nila. Sementara, Nila yang yakin dikerjai berusaha tenang. Nila sama sekali tak tahu buku apa itu.
"Kalian umur berapa sih? Ngeri amat bacaanya beginian?" ucap Satpam lagi. ternyata buku yang Farel masukan Buku panduan orang dewasa.
"Pak. Saya sudah jelaskan sejujurnya. Saya akan bayar walau saya tidak ambil buku ini. Dan Tolong. Silahkan cek cctv." ucap Nila tegas.
Kali ini Dita terdiam melihat sisi Nila yang berani walau terlihat diam.
Satpam masih menggelengkan kepala dan seakan melecehkan.
"Nak masa mudamu masih oanjang. Jangan beginilah!" ucap Satpam lagi menghina Nila dikira Nila gadis tidak baik.
__ADS_1
Nila pun tahu diri. Nila.langsung mengambil dompetnya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan juga ktp.
"Pak. Apa perlu, Saya telponkan Ayah dan Om saya agar mereka yang cek cctvnya? Saya bersumpah ada seseorang yang memasukan ini ke tas saya! Dan tolong cek cctv!" ucap Nila lagi kali ini sedikit menggertak dengan menunjukan jati dirinya.
Dan satpam yang sebelumnya melecehkan Nila setelah membaca ktp Nila langsung gelagapan. Dia pun menatap Nila dengan seksama.
"Ehm...Non Putrinya Pak Ardi?"
"Ya!" jawab Nila tegas.
Satpam langsunh salah tingkah dan mendadak baik.
"Ya ini saya Cek! Non, di toko buku ya Non. 10 menit lalu, " jawab Langsung tidak banyak omong lagi segeea perikaa cctv.
Dita pun dibuat melongo. Dita sedikit mengintip ktp Nila, tapi Dita tetap tidak mengerti. Untungnya satpam yang ada di situ merupakan kepala satpam yang senior. Dia paham nama Nila tersemat nama Gunawijaya, keluarga Nila yang mempunyai Separuh saham di mall yang di pijak mereka.
"Dimana saya harus bayar buku ini?Atau saya kembalikanp?" tanya Nila ingin segea menyelesaikan masalah.
"Taruh sini saja Non. Biar nanti kami yang antar!" ucap Satpam sungkan.
"Baiklah makasih ya Pak. Kalau gitu saya pamit!"
"Tunggu Non. Ini cctv nya. Benar ada pria yang bawa buku ini?" ucap Satpam menunjukan cctv.
Dita ikut geram melihatnya dan mengepalkan tangan. Sementara Nila hanya tersenyum
"Makasih Pak!" tutur Nila.
"Terus gimana? Mau dibawa ke jalur hukum nggak? Pria ini hampir membuat Non masuk ke perbuatan kriminal? Dan mempermalukan Non?" tanya satpam lagi.
"Udah Pak. Nggak usah diperpanjang biarin aja. Yang penting cctvnya selalu diservis ya Pak! Takutnya ada kejadian serupa!" ucap Nila malah memberi tahu.
Satpam pun mengangguk dan sangat sopan ke Nila. Bahkan mereka meminta maaf.
Nila lalu mengajak Dita pergi. Dita yang orang daerah dan tidak apapun jadi terheran- heran.
Sembari berjalan Nila tersenyum kecil. "Pria bodoh,, cara dia sangat rendahan. Tapi kenapa dia amat benci aku? ada masalah apa dia? Sepertinya dia sakit?" gumam Nila mengingat Farel.
"Niil...kamu siapa sih sebenarnya? Kok meeeka kaya takut ke kamu?" tanya Dita polos penasaran.
Nila pun tersenyum menatap Dita.
"Aku bukan siapa- siapa. Mereka takut karena kita benar. Santai aja!" jawab Nila ramah dan tidak mau menjelaskan ke Dita siapa Babanya.
__ADS_1
"He.. iya!" jawab Dita. "Kita harus temuin Farel Nil. Kurang ajar tuh dia? Dia perlu diberi pelajaran." ucap Dita menggebu.
"Itu biar jadi urusanku Dit. Jangan bilang ke temen- temen ya. Kamu tenang santai. Yang penting kalau ada Farel hati- hati ya! Kalau bisa jaugi!" ucap Nila memberitahu ke Dita dengan ceria.