
"Emmpt...," leenguh Adip mendapat serangan dari Istri yang perutnya membuncit.
Bukanya menanggapi perkataan suaminya, Jingga malah dengan agresif mencium Bang Adip, tentu saja Adip yang sudah berhari- hari berpisah dengan istrinya sangat senang mendapatkanya.
Apalagi riwayat kehamilan pertama Jingga yang pernah keguguran membuat mereka sangat hati- hati dan Bang Adip mengalah menahan untuk tidak melakukan aktivitas inti, jadi walau hanya sekedar ciuuman itu sangat berarti.
"Jangan bahas lagi. Itu urusan Baba, Nila dan Pak Dhe Farid!" ucap Jingga kemudian, karena perutnya besar jadi tidak nyaman dan leluasa menempel berhadapan dengan suaminya. Jingga pun duduk bersandar di samping Bang Adip.
"Ehm...," Bang Adip pun menegakan duduknya.
"Abang nggak bermaksud mencampuri urusan mereka. Kalau memang yang terbaik mereka pisah sih nggak apa- apa. Cuma kalau berdasar cerita kamu, Baba memutuskan sepihak, ya nggak fair. Tetep ada titik temu kedua belah pihak dan kesepakatan!" tutur Adip menjelaskan.
"Ya..ada Bang. Kata Baba... diurus sama Pak Dhe Farid. Biar Pak Dhe Farid dan Amer yang urus," tutur Jingga memberitahu.
"Lhoh Nila nggak dilibatin?" tanya Bang Adip lagi.
"Nila nggak boleh nemuin Pak Rendi. Baba terlanjur sakit hati. Ternyata selama ini, Nila nggak pernah ditengok Pak Rendi. Padahal Baba dan Buna saking percayanya, kadang di perkumpulan wali santri Baba dan Buna nggak datang!" ucap Jingga memberitahu.
"Kan ada Abah dan Uminya Pak Rendi!"
"Ya tapi kan suaminya siapa? Udah. Dari awal emang Pak Rendi itu nikahin Nila buat pelampiasan. Udah bener Nila lanjutin sekolah. Biar si tua bangkotan itu nikah dengan yang lain. Abang nggak usah ikut- ikutan!" omel Jingga lagi.
"Abang cuma nanya.. nggak ikut- ikutan,"
"Hmmm," Jingga pun berdehem manyun.
"Eh gimana tadi kata dokter. Jagoan Abang sehat kan? HPL kamu udah deket kan?" tanya Bang Adip tiap hari menghitung hari perkiraan lahir istrinya.
__ADS_1
"Ya.. sehat sih. Kata dokter Tinggal nunggu kenceng aja. Udah matur kok! Jingga nggak sabar juga!" jawab Jingga.
Bang Adip kembali tersenyum dan mengelus perut Jingga lagi.
"Papa mandi dulu ya!" ucap Bang Adip pamit.
Jingga pun mengangguk. Adip ke kamar mandi membersihkan diri dan mengganti pakaianya.
"Turun yuk.. nggak enak sama Buna. Kayaknya Baba samq Amer udah pulang!" tutur Jingga mengajak suaminya meriung bersama keluarganya.
Adip kan baru pulang, tidak sopan rasanya kalau di kamar terus apalagi di rumah mertua
"Bentar tak sholat dan keringin rambut. Kamu juga dong! Yuk sholat!" ajak Bang Adip.
Jingga mengangguk. Dengan bangun perlahan memegangi perut besarnya, Jingga turun dan mengambil air wudzu. Mereka pun berjamaah sholat di kamar
"Kaak..., Nila boleh masuk? Baba manggil!" tutur Nila.
"Kaak...!" panggil Nila lagi.
Nila takut pengalaman tiga tahun lalu terulang. Nila berniat pergi. Karena mendengar pintu diketuk, Adip mengeraskan bacaan takbirnya. Sehingga Nila dengar.
"Apa mereka sedang sholat?" gumam Nila.
Akhirnya Nila berani membuka sedikit celah. dan benar kakaknya sedang sholat.
Nila pun memilih pergi, melihat kakaknya sholat ada sesuatu yang mengusik hatinya. Bang Adip bukan anak Kyai, umurnya juga jauh lebih muda. Tapi Bang Adip begitu sempurna membimbing kakaknya.
__ADS_1
Nila pun mulai berfikir, perbedaan laki- laki yang menghargai istrinya atau tidak.
" Jika benar seorang suami mencintai istrinya, dia akan memuliakanya. Bang Adip juga menunjukanya. Bahkan cinta yang benar membawa kita mendekat dalam ketaatan.
Seharusnya, walau Pak Rendi tidak mencintaiku? Setidaknya jika dia menghargai agama dan keluarganya, dia akan memperlakukan aku dengan baik kan? Apa ini artinya, aku memang harus merelakan pernikahanku? Kata Buna, perempuan akan berat jika harus mencintai!" gumam Nila sepanjang langkah kembali ke ruang keluarga sembari mengepalkan tangan bertekad.
Belum sampai ke ruang keluarga, Nila sayup- sayup mendengar percakapan Baba dan Amer. Nila pun berhenti di dekat pintu ingin dengar.
"Baba tidak mau tertipu dengan pria pecundang seperti dia lagi. Bisa- bisanya dia menolak menceraikan Nila! Sudah jelas- jelas dia tidak bertangguny jawab dan mengabaikan putriku. Enak saja!" ucap Baba mengadu ke Amer.
"Kita bisa ajukan perceraian ini, Ba. Insya Alloh nikah siri akan lebih cepat prosesnya?"
"Ya. Urus secepatnya. Baba tidak mau ketemu lagi!" jawab Baba.
"Di sini, Nila harus tegas meminta!" ucap Amer lagi.
"Nila mantap Kak! Nila akan lakukan kata Baba!" ucap Nila keluar.
Baba dan Amer pun tersenyum.
"Nila...,"
"Dampingi Nila ya Kak!" ucap Nila.
"Ya tentu!" jawab Amer.
*****
__ADS_1