
Saat asa melambung tinggi, juga cinta tumbuh subur dan bersemi, namun dalam sekejap dipatahkan pada kenyataan yang tak bisa diubah, sehingga mau tidak mau, asa harus hempas, jua tangga diambil paksa, maka jatuhnya terbanting cepat dan sakitnya berkali- kali lipat.
Hanan memang sangat sakit, rasanya terkhianati, rasanya terbohongi, hatinya remuk redam. Hanan ingin marah tapi pada siapa. Hanan ingin teriak tidak terima tapi dia juga tak pernah memiliki Nila.
Hingga dia hanya bisa melampiaskan remuknya hati lewat air mata dan tekad tidak ingin berurusan apapun dengan Nila.
Namun hubungan bisnis, sebagai senior dan junior dengan Ikun masih terjalin. Mau tidak mau Hanan masih terhubung dengan Nila. Ikun pun menjelaskan kebenaranya, hingga mau tidak mau, Hanan harus membalut semua luka menganganya dengan selimut kedewasaan.
Amarahnya pun redam tatkala akal imanya kembali datang. Ini perkara takdir. Sakitnya harus dia hadapi.
Hanan pun datang ke rumah Nila atas undangan Ikun.
“Bang Hanan!” pekik Nila kaget.
“Hai…,” jawab Hanan kaku, bahkan senyumnya sangat masam, Hanan mengangguk memaksa menyapa Nila.
Hati Nila rasanya sangat tidak nyaman, entak kenapa Nila merasa Hanan berubah, Hanan jadi terkesan kaku. Padahal sebelumnya sangat ramah dan baik ke Nila. Nila yang merasa, menganggap Hanan sebagai teman jadi bingung. Nila kan tidak merasa melukai atau membohongi Hanan, tapi kenapa Hanan berubah drastis. Nila jadi bingung mau ngobrol atau gimana.
“Emm… Bang Hanan mau ketemu Kak Ikun? Atau…,” tanya Nila terbata.
“Nggak!” jawab Hanan cepat walau mukanya tampak gugup.
Nila pun langsung menelan ludahnya tidak nyaman, kalau bukan ketemu Ikun berarti ketemu dia.
“Oh, terus?” tanya Nila lagi.
“Bisa kita bicara sebentar? Suami kamu boleh kan, kita bicara sebentar? Ehm…,” ucap Hanan sangat sopan dan sekarang benar- benar mengerti, dia ada batas dan benteng yang harus dijaga.
Nila sedikit menunduk, jadi merasa bersalah sudah merahasiakan statusnya ke Hanan.
“Ini, Mas Rendi lagi telpon, Bang Hanan duduk dulu, sebentar ya!” jawab Nila lagi semakin menegaskan kalau suami Nila adalah Pak Rendi. Nila keluar memang hendak mengangkat telepon Rendi.
Hanan pun menelan ludahnya menatap Nila sayu, hatinya tambah patah, namun terus ia kuatkan dengan keimanan. Niat dia datang adalah dengan gagah ingin memberikan ucapan selamat dan kado serta doa sebagai ujud cinta tulusnya pada Nila.
Nila tersenyum menyeringai, menghargai tamunya untuk menunggu, sebentar, Hanan pun mengangguk duduk di bangku teras rumah Nila. Suasana di halaman memang banyak dekor tapi agak jauh dari tempat mereka berada.
Nila tampak menepi di bawah pohon hias Buna yang dibonsai dibentuk indah, Hanan tak kuat menoleh atau melihatnya. Nila tampak tersipu dan manis sekali padahal hanya berbicara dengan benda kecil dalam genggaman. Entah kenapa senyuman Nila justru seperti sembilu tajam yang mengiris hatinya jika dilihat.
Hanan tahu Nila sesang mengobrol dengan dosenya, yang ternyata suaminya, saingan yang tidak mungkin bisa Hanan kalahkan. Hanan pun memilih melihat bunga daun- daun aglonema Buna Alya yang sengaja di pajang di depan rumah. Itu semua lumayan membantu menetralkan hatinya menguatkan Hanan untuk menyiapkan kata- kata.
__ADS_1
“Maaf lama ya nunggunya,” ucap Nila tiba- tiba.
Rasanya Hanan baru saja bernafas ringan mengurangi sakit dan sesak, otaknya terselimur oleh kupu- kupu yang terbang di atas daun, Nila sudah kembali menyapa di dekatnya. Hanan pun memaksa diri tersenyum.
“Nggak kok, udah selesai telponya?” tanya Hanan.
“Udah, Bang Hanan, Nila mau min” ucap Nila hendak bicara tapi terpotong karena Hanan juga langsung angkat biacar.
“Nila selamat ya!” ucap Hanan cepat memotong ucapan Nila.
“Ehm…,” dehem Nila tidak nyaman ucspanya terpotong, “Iya! Makasih Bang!” sambung Nila jadi mengurungkan niat ucapan Nila yang tadi.
“Kak Ikun udah cerita semuanya. Sebelum daftar kuliahpun, ternyata kamu udah sama Pak Rendi ya? Tapi kalian seperti tak saling mengenal ya?” tanya Hanan lagi.
Nila pun mengangguk menyeringai, sedikit malu karena dia di kampus sama sekali tak pernah menampakan kedekatanya kecuali hari ini.
“Iya, tapi…”
“Kenapa nggak kasih tahu?” tanya Hanan dengan raut kecewa menyergah Nila.
Nila menghela nafas dan mengangkat wajahnya menatap Hanan. Nila tahu Nila salah, tapi kan masalahnya karena Nila juga merasa hubungan dengan Rendi hampir berakhir.
“Setidaknya orang lain tidak akan salah paham, dan tidak menyakiti orang lain!” tutur Hanan lagi.
“Hoh, menyakiti?” pekik Nila spontan, Nila tidak merasa menyakiti siapapun.
“Ehm…,” dehem Hanan lagi.
“Ya. Maksudnya. Orang lain nggak ada yang tahu kalau kalian suami istri, padahal kan ada banyak hukum yang berlaku untuk kalian! Kalian hidup di tempat yang sama, padahal kalian suami istri tapi tidak ada yang tahu!” sambung Hanan sedikit emosi dan membuat Nila diam tertunduk.
Tapi sepersekian detik, Hanan juga langsung gelagapan karena Nila diam dan suasana jadi hening.
“Ehm…,” dehem Hanan memancing.
“Bagaimana aku menjelaskanya tidak ada yang bertanya kan Kak?” jawab Nila dengan polosnya membela diri.
“Maaf…,” ucap Hanan lagi gelagapan, malu kalau ketahuan dia patah hati. Maksud Hanan. Hanan ingin bilang, kalau tahu dari awal kan Hanan nggak berharap, tapi Hanan kadung malu.
“Nila yang minta maaf, Nila rasa Nila nggak pernah sakiti siapapun, atau berniat nyakitin siapapun. Tapi benar Bang Hanan bilang. Agar tidak salah paham, kita memang harus beritahu tentang hubungan kami, tapi kita tidak berniat untuk tidak memberitahu, hubungan kami memang belum waktunya diberitahukan ke orang lain saat kemarin, ada banyak hal yang tidak bisa kita bagi. Tapi nanti pasti kita kasih tahu kok!” jawab Nila Panjang kali lebar kali tinggi menjelaskan.
__ADS_1
Hanan jadi tambah tercekat, ya memang tidak ada yang tanya tentang hubungan Rendi dan Nila, mereka saja tidak pernah Bersama dan bersikap seperti tidak saling mengenal.
“Aku cuma mengingatkan kok! Barangkali ada yang mendekati Pak Rendi atau menyimpan rasa terhadapmu. Kan orang lain jadi tahu tempat!” sambung Hanan menambah alibi.
“Terima kasih, sudah diingatkan! Insya Alloh akan segera kita beritahukan kok!” jawab Nila menelan ludahnya, menerima saran Hanan.
“Ini, aku ingin kasih ini, diterima ya. Selamat. Semoga kalian Bahagia jadi keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah!” ucap Hanan dengan sikap beraninya, dia pun dengan cepat menyodorkan bingkisan kecil, tapi sedikit kasar, sehingga Nila serasa dibentak. Nila jadi bingung.
“Semoga acaranya lancer ya. Permisi!” sambung Hanan lagi sembari bergegas berdiri.
Nila jadi gelagapan, Hanan seperti anak kecil yang sedang ngambek.
“Bang Hanan, mau pulang?” tanya Nila pelan memastikan.
“Iya!” jawab Hanan berdiri.
“Acara pengajian sebentar lagi, nggak ikut ngaji?” tanya Nila lagi.
Sayangnya Hanan tampak mengencangkan tas.
“Aku ada acara,” jawab Hanan singkat.
“Oh… nggak nemuin Baba Buna? Kak Ikun bentar lagi pulang lhoh!” sambung Nila lagi.
“Salam aja.” Jawab Hanan sambil merogoh sakunya. “Oh iya, titip buat Kak Ikun. Aku mundur, aku nggak jadi ikut bisnis Kak Ikun! Aku mau fokus kuliah!” sambung Hanan menyerahkan sebuah flashdisk.
Nila pun melotot, dan tersentak sambil menerima. “Mundur?” tanya Nila memastikan.
“Aku pulang ya. Assalamu’alaikum!” ucap Hanan cepat.
“Wa..walaikum salam!” jawab Nila terbata, heran sendiri, Hanan sangat buru- buru pulang.
Sembari memegang flash disk Nila pun hanya terbengong melihat Hanan pergi.
"Apa yang Mas Rendi katakan sepertinya benar? Dia kemarin semangat sekali mau kuliah sambil bisnis. Baru berapa hari ko mundur? Ya. Alloh. Kenapa aku jadi merasa bersalah begini? Apa Iya dia jatuh hati ke aku?" batin Nila sekarang bisa menebak.
Tidak berselang lama, berpapasan dengan Hanan, mobil tamu Baba tampak datang. Nila jadi segera memasukaan flash disk itu dan bersiap menerima tamu pengajian.
Tidak lama tamu Nila datang, Nila pun beramah tamah dan menyilahkah tamunya masuk, sehingga Nila pun disibukan dengan keluarga sampai acara pengajian dimulai dan selesai.
__ADS_1