
Semakin lama langkah Nila semakin maju, skala tubuh Nila pun semakin besar seiring jaraknya yang semakin dekat, wajah Nila pun semakin nampak jelas, dalam tangkapan layar komputer yang Rendi lihat.
Rendi pun membulatkan wajahnya dan dadanya semakin bergemuruh. Bibir Nila tampak melebar merekah tersenyum, entah apa yang Nila dan kawannya obrolkan. Yang pasti, Nila benar- benar cerah bersinar padahal baru saja menghabiskan waktu 90 menit dalam ruang tertutup duduk menghadap komputer.
Tanpa sadar, tangan Rendi pun mengepal, dan Rendi terbangun bergegas keluar menghadang Nila.
Akan tetapi, begitu keluar dari post satpam, Rendi langsung gemetar dan menarik kakinya untuk berhenti.
"Itu dia putriku," terdengar suara seorang ayah menunjuk ke Nila pada seseorang.
Rendi langsung berbalik, untuk fokus Baba lurus ke depan bukan ke bilik post satpam di sampingnya.
"Sudah besar yaa...," terdengar jawaban dari seseorang
Rendi tanpa berani menoleh langsung maju berlindung di balik dinding pos satpam.
"Assalamu'alaikum.. Om...Tante!" terdengar suara Hanan menyapa Baba Ardi.
"Lhoh.. ini kan? Siapa ya? Ck.. anaknya Mas Fahri?" jawab Baba menyambut Hanan
Rendi tidak berani menoleh, dia membeku dan mematung bersandar di tembok satpam. Percakapan Baba dan Hanan tampak hangat, seperti sudah saling mengenal
__ADS_1
Ya. Hanan dan Nila memang 2 dari 10 siswa di negaranya uang menempuh pendidikan di luar negeri. Tentu saja mereka saling mengenal dan ingat.
"Iya.. Om.. apa Kabar Om Ardi sehat?" jawab Hanan lalu mendekat ke Baba dan meraih tangan Baba menciumnya.
"Sehat.. Alhamdulillah. daftar sini juga?" tanya Baba.
"Iya Om?"
"Nggak lanjut di Mesir apa Yaman? Lanjut perdalam ilmu hadist?" tanya Baba.
Hanan tampak tersenyum dan melirik ke Nila.
"Kasian ayah sama Ibu? Pengen kumpul keluarga Om! Kangen sama kampung halaman!" jawab Hanan.
Rendi semakin mengepalkan tanganya merasakan sesak. Wajahnya yang memang dingin semakin membeku, akan tetapi tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut, Nila.
Rendi sangat ingin mendengar suara Nila, juga ingin menoleh. Tapi terasa berat. Yang dia dengar hanya percakapan Baba dan Hanan yang tampak akrab sampai berpamitan dan kemudian menghilanh sepi.
"Huuuft," Rendi menghela nafasnya pelan, lalu memejamkan matanya bersandar pada tembok.
"Pak Ardi Gunawijaya..orang yang sangat baik. Seharusnya aku bersyukur mendapatkan mertua dan ayah sebaik, dia?" gumam Rendi sekarang sadar.
__ADS_1
Ya. Baba memang selalu ramah dan mengayomi para anak muda, apalagi yang berprestasi. Rendi masih sangat ingat bagaimana Baba begitu mendukung Rendi saat Rendi mempunyai ide- ide tentang pesantrenya.
Rendi dan Baba juga beberapa waktu bersama- sama mendukung komunitas anak muda dalam hal olahraga. Rendi yakin Baba dengan Hanan juga begitu, dan semua anak pasti senang bergaul dengan Baba.
Bukan hanya senang tapi ingin.
"Apa aku masih bisa mendapatkan maafnya dan diterima sebagai anaknya? Apa yang harus aku lakukan?" gumam Rendi.
"Pak Ardi akan menjadi orang yang paling galak dan seram jika menyangkut putrinya. Bagaimana caranya aku bisa menghadapinya?" gumam Rendi lagi.
"Huuft...," Rendi membuka matanya lagi, dan mengintip memastikan Baba sudah pergi.
Benar mobil Baba sudah tidak ada. Rendi pun menelan ludahnya. "Aku harus tahu jadwal pertemuan mahasiswa baru. Aku harus bisa temui Nila," gumam bertekad karena hari ini tidak berhasil menemui Nila.
Rendi pun membersihkan tanganya dan kembali ke kantornya dengan langkah gontai.
****
Baba langsung memeluk Nila dan menciuminya bangga saat tahu Nilai Nila. Baba dan Nila pun langsung berencana menjemput Baby Boynya Jingga.
Sayangnya sepanjang jalan Nila.tampak murung, padahal dia jadi buah bibir. Tatapan Nila juga diam- diam ke arah spion.
__ADS_1
Nila menelan ludahnya tanpa Baba tahu terus menoleh ke pagar kampus
"Itu kan Pak Rendi? Untuk apa dia di sana?" gumam Nila ternyata tahu kalau Rendi menempel di balik tembok pos satpam.