Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Parfum


__ADS_3

"Heii...!" panggil Dita menepuk bahu Nila.


"Ha...ya!" jawab Nila kaget.


"Liatin apa sih?" tanya Dita heran


"Ehm...," dehem Nila gelagapan lalu tersenyum, "Nggak liat apa-apa!" jawab Nila menyeringai.


Mendengar jawaban Nila, Dita tidak percaya dan ikut mengedarkan pandangan ke sekitarnya, namun di depan serambi masjid itu, hanya lalu lalang teman sesama mahasiswa dan beberapa pekerja. Tak ada yang istimewa menurut Dita. Dita pun kembali menoleh ke Nila.


"Setiap kamu ke sini, wajahmu terlihat gelisah dan sering melamun? Kamu kenapa sih?" tanya Dita akhirnya.


Walau sering polos, tapi sesungguhnya Dita orang yang cerdas dan titen (bahasa jawa yang artinya mengingat setiap hal atau detail).


Ya, sudah hampir sebulan mereka kuliah setiap ada kuliah sore dan menyempatkan sholat ashar di masjid, Nila memang sering kecarian Rendi.


"Nggak apa- apa!" jawab Nila masih ingin menyembunyikan masalahnya.


"Ya udah ayuk. Katamu sebelum maghrib kamu harus pulang. Jadi kan?" tanya Dita mengajak Nila segera pulang tidak ingin mengorek lebih dalam.


"Ayuk!" jawab Nila.


"Lets go!"


Mereka berdua pun bergegas, bangun memakai sepatu mengeratkan pegangan tas punggungnya, melangkahkan kaki menuju ke halte bus depan kampus.


Seriring berjalanya waktu, Baba benar- benar sudah mempercayakan Nila menjadi pelajar yang mandiri dan rela menanggalkan segala keistimewaan sebagai anak orang kaya.


Bukan hanya sekali, tapi sudah beberapa kali, jika ada tugas kelompok, Nila pergi tanpa supir atau pengawal. Karena Dita kos, tak ada teman mereka pun lebih suka mengerjakanya di kos Dita. Meski begitu seringkali supir atau Baba sendiri yang jemput jika sudah selesai, itu sebabnya Baba sudah percaya Dita.


Nila semakin menikmati perjalananya yang hanya menggunakan bus kota setelah itu naik becak, atau bajai atau jalan kaki melewati jalan kecil, karena kosan Dita agak masuk dari pusat kota.


Jika tidak lelah Dita lebih suka jalan kaki. Namun jika cuaca panas dan lelah mereka memilih becak motor atau bajai. Hari itupun mereka memilih naik bajai. Dan saat melewati sebuah jalan di pinggiran sungai, focus Nila pun teralihkan, oleh seseorang.


“Itu kan Farel? Dia anak orang kaya kaan? Dia ngapain di tempat seperti ini?” gumam Nila melihat Farel.


“Ada apa Nil?” tanya Dita karena Nila terus melihat keluar.


“Itu Farel bukan sih?” ucap Nila menunjuk kea rah dia lihat Farel, Dita pun mencoba melihat, tapi sayangnya mobil sudah belok, jadi Dita tidak melihatnya.


“Bukan ah… kamu kepikiran Farel kali,” jawab Dita.


“Untuk apa aku memikirkanya, itu beneran Farel,” jawab Nila tidak terima,


“Ya barangkali, eh tapi ya mungkin aja sih? Daerah situ katanya daerah lokalisasi!” jawab Dita kemudian.


“What? Kamu bilang apa tadi?” tanya Nila kaget.


“Sssstt… nggak usah keras- keras, rumah di pinggiran sungai yang kita lewati tadi, konon katanya banyak tempat yang nyediain perempuan begituan!” bisik Dita.


“Astaghfirulloh,” jawab Nila mengelus dada.


Nila pun kembali menoleh ke jalanan yang dia lewati.


“Masa sih?” batin Nila, entah kenapa, menurut Nila, walau Farel nakal, tapi tidak ada tampang Farel doyan ada di tempat seperti itu, “Aih, astaghfirulloh, ngapain aku mikirin dia, dia sehina itu ataupun tidak bukan urusanku,,” batin Nila kemudian melupakan tentang Farel.


Tidak berselang lama mereka sampai ke pertigaan jalan sesuai yang dituju, Dita. Mereka pun turun, lalu berjalan sejenak masuk gang.


Kosan Dita ternyata cukup asri walau kecil. Dita juga tinggal sendiri. Nila pun langsung suka dan langsung mengeksekusi pekerjaan dan rencana mereka.


****

__ADS_1


Di Bambu Teduh.


“Umiii…, Umiii..” panggil Rendi mencari Umminya.


“Ya, ada apa?” jawab Ummi dengan penuh kelembutan.


Satu bulan Rendi tinggal di pondok dan satu rumah dengan Ibunya, Rendi kembali menjadi seorang anak, walau sudah tua dan terbiasa mandiri, tapi di hadapan Ibu dan Ayahnya, Rendi tetap menjadi anak.


“Mi… ini kok parfum bajunya beda? Rendi lebih suka wangi yang sebelumnya,” ucap Rendi mengadu ke Ibunya, seperti anak kecil.


“Hmmm…,” Ummi yang sedang murajaah di ruang baca hanya berdehem lalu membetulkan kacamatanya.


Rendi jadi mencebik melihat respon ibunya.


“Minta tolong kasih tahu, ke mbaknya Mi… suruh beli parfum yang kemarin saja! Rendi suma parfum laundry yang kemarin jangan diganti!” ucap Rendi lagi.


Rendi sekarang stay lebih lama, jadi ganti pakaianya tak seperti biasany yang hanya ganti satu baju, meninggalkan baju kotornya dan seenaknya kembali ke Ibukota.


Sekarang setiap hari ganti, sampai tumpukan baju Rendi sudah dia gunakan semua dan berganti. Dan Rendi protes saat parfum pakaianya berbeda bau.


Ummi kemudian menandai sampai mana dia baca dan menutup mushafnya, juga melepas kaca matanya dan menatap Rendi. Rendi yang ditatap jadi salah tingkah.


“Kamu suka wangi parfum pakaianmu yang sebelumnya?” tanya Ummi tegas dan pelan.


“Iya. Ini sekarang beda, Rendi cocok sama wangi yang sebelumnya, segar dan wangi, kasih tau Mbak yang nyuci, jangan ganti Mi!” jawab Rendi lagi.


“Mbak yang nyuci nggak ada yang tahu sama wangi pewangi pakaianmu dimana belinya,” jawab Ummi kemudian.


Rendi pun mendelik mendengar kata Umminya.


“Lha kok gitu, ya kan tinggal jangan ganti, yang biasanya aja!” jawab Rendi lagi seenaknya.


“Mereka ganti karena mereka tak punya pewangi pakaian yang kemarin?"


"Karena pewangi pakaian yang biasanya hanya Nila yang tahu beli dimana? Apa namanya? Hanya Nila yang tahu!” jawab Ummi.


"Gleg...," Rendi sejenak terdiam. “Nila?” tanya Rendi memastikan..


“Ya kamu pikir siapa yang berani masuk ke kamarmu, selain Ummi dan istrimu? Juga membereskan pakain dalammu?” tanya Ummi secara gamblang.


Seketika itu, mendengar penuturan Ummi, Rendi langsung salah tingkah, bahkan mukanya merah.


“Bukan simbok Rumi, atau embak Umii?” tanya Rendi menyeringai.


“Hmmm… mbok Rumi sudah tua, sejak ada Nila, Mbok cuma ikut bantu masak sama mbak- mbak yang piket ndalem. Nila kan pulang tiap jum’at. Ya mana ada yang berani masuk ke kamarmu setelah tahu kamu punya istri!” jawab Ummi lagi.


“Ehm…,” Rendi langsung malu mendengar kata Ummi. Rendi tidak bisa berrkata- kata lagi dan kembali ke kamar. Nila yang mencuci dan membereskan pakaian dalamnya selama ini.


Sesampainya di kamar, Rendi langsung terduduk, memejamkan matanya, tanganya pun meraih bantal dan guling yang ada di dekatnya, walau tak bersama kasur dan bantal guling dia sudah berbagi dengan Nila.


Catatan diary Nila bukan hanya sebatas rentetan kata. Lebih dari itu, tulisan itu hanya sedikit cerita yang mewakilkan bagaimana penantian dan pengabdian Nila yang tak terbalas.


Rendi pun tersadar. Nila sudah memerankan tugasnya sebagai istri sebaik mungkin, semampu dia lakukan, berbakti pada orangtua Rendi, meninggalkan semua kemewahan orang tuanya.


Nila juga yang selalu menjadi wakil nama Rendi di setiap acara keluarga. Nila juga setiap akhir bulan selalu menanti kepulanganya, menyiapkan masakan di hari biasa Rendi seharusnya pulang, Nila berharap bertemu walau hanya disapa.


Sayangnya, setiap Nila pulang ke rumah Ummi, Rendi tidak datang. Rendi pulang setiap Nila sedang sekolah, saat Nila berlari pulang setelah diberitahu, dia hanya berjumpa dengan pakaian kotor dan amplop yang katanya nafkah, tak ada salam riindu atau salam kehangatan, apalagi belaian kasih sayang.


Itu saja Nila sudah bahagia, sebab hatinya selalu percaya, Rendi melakukan itu karena dia memenuhi janji Babanya, tidak menyentuh Nila sebelum Nila lulus.


Namun sayangnya keyakinan itu dihancurkan tatkala Nenek cerita kalau Rendi memang tidak mengakuinya.

__ADS_1


“Maafkan aku,” gumam Rendi kini ikut merasakan bagaimana Baba dan Nila sangat membencinya.


Rendi kemudian menoleh ke foto yang ada di nakasnya.


“Masa Iddah kita masih ada 1 bulan lagi, Nila. Aku masih ada kesempatan kan sebelum kita benar- benar sah bercerai?” gumam Rendi bertekad. “Aku harus segera kembali,” gumam Rendi lalu Rendi menyambar sarung seadanya walau pewangi pakaian tidak dia suka. Rendi bergegas keluar kamar.


“Mau kemana Ren?” tanya Ummi melihat Rendi jalan tergesa.


“Ke pondok Ummi,”


“Makan dulu!” tutur Ummi lagi.


“Emang Abah di rumah?” jawab Rendi malah balik bertanya.


“Ya, kalau jam segini Abah lagi di masjid!” jawab Ummi.


“Makannya nanti, Ummi!” jawab Rendi lalu bergegas lari ke pondok.


Ummi pun hanya memperhatikan dan mengedikkan matanya sembari menghela nafas. Ummi tidak pernah melihat Rendi, berangkat ke Pondok setergesa begitu.


“Apa dia sudah mulai betah dan mau mengajar? Atau malah dia mau kembali ke Ibukota?” gumam Ummi. “Semoga Engkau beri ketetapan hati bagi putraku, ya Alloh, berikan dia petunjuk. Kalau boleh aku meminta, aku ingin dia tinggal, aku sangat bahagia jika dia mau kembali di sini, berumah tangga di sini,” gumam Ummi dalam hati.


Ummi pun kembali mengenakan kacamatanya, membuka kembali mushafnya dan kembali murajaah.


****


Sesampainya di pondok, Rendi langsung berlari ke masjid. Sudah 3 hari ini, setelah rutin minum obat dan olah raga jalan pagi, juga Rendi melarang aabinya merokok, kini Abah Rendi kembali mendatangi pondok, bersua dengan para santri dan ustadnya. Rendi pun bernafas dengan tenang.


Sayangnya saat 3 hari lalu ijin pulang ke Ibukota, Abi Yusuf masih memberikan satu tugas ke Rendi. Sebenarnya tugasnya sangat ringan, hanya diminta menanam buah anggur di belakang rumah. Namun Rendi tidak boleh pergi sampai pohon itu tumbuh ditandai dengan timbul daun baru, entah apa maksudnya.


Di depan mimbar, lelaki tua bersarung dan bersurban itu tampak duduk bersila dengan satu kitab terbuka didepanya. Rupanya sekarang waktu Abah mengisi kajian kitab, untuk bisa bicara dengan Abinya, Rendi harus menunggu 2 jam lagi. Rendi pun melirik jamnya, hari ini ada jam kuliah Nila sudah selesai, tapi dokter Santi belum laporan. Dia pun ingat besok juga ada jadwal mata kuliah dia di kelas Nila.


Rendi pun berinisiatif ambil alih tugas dokter Santi.


“Ayo Bah, ijinkan aku kembali ke kota…. Mana bisa aku ajak Nila kembali kalau aku tidak pernah mendekatinya?” gumam Rendi tergesa dan melirik Abinya.


Rendi kemudian memutuskan, berbalik ke rumah memastikan pohon anggurnya. Tadi pagi saat dia siram daunya sudah tidak layu, dan seketika itu senyumnya merekah, walau masih melengkung, kuncup bakal daun baru sudah muncul. Dia pun semangat kegirangan.


Rendi lalu pun segera berkemas lebih dahulu dan setelah siap akan pamit ke Abah.


****


Minal aidzin Wal Faidzin kakak Readers kesayanganku semuanyaah.


Mohon maaf lahir dan batin ya.


Selamat lebaran bagi yang merayakan


Maaf telat...


Oh iya, maaf juga kalau Updatenya suka bolong2.


Curhat lagi boleh ya.


*Sebenarnya pekerjaan utamaku bukan penulis. Aku tidak seperti penulis lain yang pandai menulis, rajin, dan bagus ceritanya.


Aku masih acak adul nulisnya, terkesan lambat bahkan bolong- bolong. Tapi aku seneng aja dan cinta dengan dunia Nila dan semua tokohku. Dan perlu kakak2 tahu, aku sejak desember tahun lalu nggak gajian. Jadi emang nulis bener2 suka- suka*. Kerja bakti buat kalian juga yang suka.


Soo... maafkan ya atas semuanya. Saling dukung, nulis itu tidak semudah ngomong dan koment. Makasih yang tetep sabar nunggu dan sayang sama semua tokohku.


Komitmenku sih apapun hasilnya aku berusaha menamatkan walau tak janji waktunya. Tapi aku usaha rajin kok kalau sempat dan ada waktu. Makanya kasih dukungan biar otakku cling yaaa....

__ADS_1


Pokoknya makasih ya...


I Love You kakak semua...


__ADS_2