
“Udhe Anunn….,” tutur Zainab dengan suara jernih dan imut menarik selimut Nila.
“Hmm..,” Nila yang masih terlelap menggeliat sejenak.
“Anuun…dhee,” ucap Zainab lagi mengembangkan senyum dan menampakan satu giginya yang mulai tumbuh.
“Zainab,” pekik Nila kaget tau tau anak bayi yang beberapa bulan lalu belajar jalan sudah duduk di sampingnya, Nila pun segera mengucek matanya dan menyingkap selimut. “Hai kamu di sini? Masya Alloh, ponakan budhe udah besar aja, Umm… pengen tak toel pipimu, makasih ya, udah bangunin Budhe, sinih” tutur Nila langsung memasang senyum manisnya merentangkan tangan memeluk Zainab.
Sembari memeluk, Nila melirik ke walk in closet, Rendi tampak berjalan ke lemari hendak mengambil pakaian.
Ya rupanya, Zainab masuk Bersama Rendi. Sepertinya Rendi juga yang meminta Zainab membangunkan Nila, tapi kenapa tidak Rendi sendiri. Pintar sekali Zainab mau disuruh.
“Udhe anun! Anun!” tutur Zainab lagi dengan pintarnya tanpa takut sedikitpun, padahal sudah hampir tiga bulan tidak bertemu Nila.
“Iya, bentar yah? Oh ya. Budhe belum sholat subuh, Zainab tunggu sini ya! Jangan kemana- mana ya! Budhe sholat dulu,” tutur Nila melirik jam rupanya sudah jam 05.30. Nila benar- benar kesiangan.
Zainab pun mengangguk dengan wajah manisnya. Walau Nila masih cantik, tapi Aisyah mengajari Anaknya memanggil Nila budhe. Bahkan kasih tahu namanya Budhe. Kan budhenya Zainab hanya Nila.
"Anak pintar!" ucap Nila tersenyum.
Nila buru- buru bangun dan turun ke kamar mandi.
“Astaghfirulloh, aku kesiangan, kenapa Mas nggak bangunin Nila?” tanya Nila ke Rendi saat ambil wudhu berpapasan dengan Rendi.
Nila berusaha mengajak ngobrol Rendi.
Sayangnya bukanya menjawab, Rendi malah masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya mengacuhkan Nila.
Tentu saja Nila terhenyak, ada yang menusuk dadanya hingga rasanya sakit, ingin sekali Nila mengetuk pintu dan bertanya kenapa Rendi begitu, tapi waktu subuh sudah di ujung waktu, Zainab juga tampak bermain sendiri di atas Kasur Nila. Nila harus segera sholat.
Untungnya waktu subuh hanya dua rakaat, tidak butuh waktu lama.
Nila selesai sholat lalu menghampiri Zainab yang sedang lompat- lompat mengacak- acak bantal dan guling di kamar Rendi. Zainab cukup kuat menjadi obat penawar bagi sakit hati Nila.
“Ponakan Udhe yang cantik, Udhe kangen…, Budhe peluk ya… mmwah,” pekik Nila langsung menangkap Zainab masuk dalam pelukan Nila dan mencium pipinya.
Ya, saat bayi, Zainab memang kerap bermain bersama Nila, saat Umma Zainab, Ustadzah Aisyah mengajar di asrama Nila, juga saat Nila pulang ke rumah Abah.
Zainab juga anak yang manis dan sangat jarang menangis, bahkan terhadap orang baru cepat akrab.
Zainab yang didekap erat pun menggerakan tubuh gemoynya merosot ingin lolos lalu menatap Nila. Sayangnya tatapan Zainab berbeda.
“Ata Udhe Atit?” celetuk Zainab dengan polosnya.
“Hoh?” pekik Nila tidak mudeng.
Tangan Zainab yang mungil terulur dengan jujur menyentuh wajah Nila di bagian pipi dekat mukanya.
“Inyi atit?” tanya Zainab lagi, dan tepat saat itu pintu kamar mandi terbuka.
Ditanya seperti itu oleh anak bayi, Nila menelan ludahnya tersentak, Nila tidak sakit tapi memang rasanya sembab. Rasanya matanya mendadak sipit dan berat. Awalnya Nila kira karena kesiangan.
Nila pun menelan ludahnya tersenyum getir ke Zainab dan ikut memeriksa kelopak matanya, ternyata mata Nila bengkak.
Iya, semalam begitu Rendi keluar kamar, Nila berusaha memejamkan matanya tapi tidak bisa. Hatinya rasanya sakit sendiri, mendapat perlakuan Rendi yang mendadak ketus bahkan meninggalkan kamar.
Nila merasa bersalah, tapi Nila juga benar- benar takut dan gugup. Pernikahan yang Nila damba sebelumnya, dengan Rendi yang dewasa, Rendi akan mengerti semua keinginan Nila.
Nila mendamba mendapatkan kasih sayang yang tulus dari suami, bisa bermanja, berdua, deeptalk saling mengerti tanpa ada tuntutan. Nila mengira Rendi akan cepat mengerti apa yang Nila rasakan.
Nila mau, Nila mau memberikan hak Rendi sebagai suami, tapi Nila mendamba melalukan dengan hati yang siap, tanpa bayang- banyang ketakutan, dengan suasana yang membuatnya senang tanpa rasa salah ingkar dan tekanan pada siapapun.
Apalagi, walau status istri terpajang dalam diri sudah 3 tahun,tapi, komunikasi dekat dan intens Nila kan baru beberapa hari ini. Sebelumnya tak ada pacaran tak ada kedekatan. Semua masih terasa canggung.
Nila inginnya, semua berjalan sesuai ritmenya, ada stepnya. Baginya apa yang dia temui tadi sore benar- benar membuatnya tersentak. Nila masih ingin menikmati sentuhan kasih sayang seperti saling memeluk, membangun rasa percaya. Tidak buru- buru.
Tapi ternyata tidak begitu dengan Fitrah seorang laki- laki dewasa, yang ketika dekat dengan perempuan menarik sepertinya, menuntutnya melampiaskan hasratnya.
"Atit ya?" tanya Zainab lagi dengan ceriwis kembali mencolek mata Nila yang bengkak.
"Nggak kok, budhe nggak sakit!" jawab Nila sedikit melirik ke Rendi.
Rendi tampak sedang mengancingkan kemeja.
"Budhe nggak sakit, mata budhe bengkak karena tidur yang banyak sekali. Sampai kesiangan, sampai dibangunin Zainab. Jadi begini. Zainab kalau tidur jangan kesiangan ya!" tutur Nila sedikit keras berharap Rendi dengar dan peduli.
Sayangnya Rendi sama sekali tidak komentar bahkan menoleh pun tidak, entahlah dengar atau tidak. Tapi jaraknya kan dekat harusnya dengar.
"Hihihi ucu...," Zainab malah senyum senyum baginya mata Nila lucu karena jadi besar dan menutupi bola matanya. Zainab malah pencet- pencet mata Nila sesuka hati.
"Jangan dipencet- pencet, nanti sakit beneran!" ucap Nila menangkap tangan mungil Zainab yang bergerak sesuka hati.
"Oh ya. Zainab udah cuci muka belum. Kita lihat matahari terbit yuk. Yuk keluar yuk!" ajak Nila kemudian.
Zainab yang masih kecil menoleh ke Nila mengangguk- angguk.
"Tapi rapihin dulu bantalnya ya!" ucap Nila merapihkan lagi tempat tidurnya. Sementara Zainab malah lompat lompat di atas kasur.
"Yuk turun yuk, udah siang jangan di kasur terus!" ajak Nila ke Zainab keluar kamar.
Zainab mengangguk dan meminta digendong Nila untuk turun.
"Zainab!" tapi tiba- tiba mereka berdua dikagetkan suara Rendi.
"Kenapa Mas?" tanya Nila.
"Turunkan Zainab. Biar sama aku!" ucap Rendi dingin.
"Kenapa memangnya kalau sama Nila? Nila juga mau turun!" tanya Nila lagi.
Bukanya menjawab Rendi yang sudah rapih mengangkat tangan yang ada jam mahal dan dilihatnya.
__ADS_1
"30 menit dari sekarang harus sudah siap. Aku tunggu di mobil!" ucap Rendi lagi.
"Gleg!" Nila pun menelan ludahnya bingung. Kenapa Rendi kembali menampakan sisi dirinya yang kaku.
"Mas tapi, kan tapi kul...," tanya Nila tergagap masih tidak mengerti maksud Rendi. Nila ingin marah dan bertanya tapi melihat ada Zainab.
"Fungsi ponsel itu untuk komunikasi dan update info. Bukan cuma pegangan tanpa manfaat!" ucap Rendi random memotong Nila, tidak Nila tahu maksudnya apa.
"Maksud Mas apa?" tanya Nila.
"Ayo Zainab. Sama Pak Dhe. Budhe bau, biar mandi dulu!" bukanya menjawab Rendi malah mengulurkan tangan meminta Zainab berpindah ke gendonganya.
"Hoh?" Nila benar- benar hanya bisa mengernyit menahan hatinya yang semakin tidak nyaman, mematung berdiri di tepi kamar melihat Rendi keluar membawa Zainab.
Rendi yang dingin terhadap Nila mendadak terlihat begitu ramah, menggendong Zainab. Sembari berjalan Rendi sambil membercandai Zainab juga menciumi pipi gembul Zainab. Rendi sudah sangat pantas menjadi ayah.
Nila pun tertegun. "Apa kesalahanku sangat fatal? Dia masih marah? Apa dia sangat kecewa? Kenapa susah sekali mengerti maksudku? Apa aku memang tidak pantas bersanding denganya?" batin Nila jadi merasa bersalah dan overthingking
Namun kemudian, Nila memikirkan kata Rendi.
"Apa maksud dia aku suruh periksa ponsel? Apa dia wa aku?" gumam Nila lalu segera mencari ponselnya.
Nila memeriksa grup whastap. Ternyata di grup kelas Rendi mengubah jadwal. Meminta jam dosen lain untuk di isi Rendi, dan jam Rendi di isi dosen lain, itu juga waktunya dimajukan dan dimundurkan.
"Ish... semena- mena banget sih? Kenapa dia tiba- tiba mengubah jadwal sepagi ini?" gumam Nila kesal.
Nila tidak tahu, demi dia, Rendi seperti itu, bahkan mengorbankan mahasiswa lain yang takut akan Rendi jadi kelimpungan, karena ada pre test. Tapi bagi beberapa yang belum mengerjakan tugas dosen yang sebenarnya jadi senang karena jam mengumpulkanya diundur.
Tau jam kuliahnya dimajukan Nila segera mandi. Apalagi waktunya 30 menit. Dan saat Nila berdandan benar saja mata Nila sembab, sangat kentara, kelopak mata Nila menggembung, seperti alergi. Apalagi karena kulit Nila yang putih.
"Hahh.... ini gimana? Kenapa mataku sesembab ini? Ah, ck," keluhnya cemberut bingung dan menyesal.
"Make Up?" keluar ide Nila untuk memberinya make up.
Sayangnya saat Nila memeriksa tasnya, make up lengkap Nila tidak dibawa, adanya kacamata. Ya Nila pun memilih meraih kacamata untuk menutupinya.
Di bawah, saudara dan teman- temanya sudah sibuk bersih- bersih juga menghias hantaran untuk keluarga Nila. Hati Nila pun dibuat semakin teriris. Orang lain mempersiapkan acara dia dan Rendi. Mereka malah bertengkar.
Saat Nila turun tangga, semua pun menoleh ke Nila, Nila bak putri yang ditunggu- tunggu. Nila sangat malu, pertama dia kesiangan, keduanya matanya sembab jadi Nila terus menunduk tidak percaya diri.
Rendi sendiri tidak terlihat batang hidungnya, padahal Zainab ada bermain bersama teman- teman Nila.
"Udah mau berangkat, Ning?" tanya Aisyah.
"Iya, Kak!" jawab Nila.
"Hh... Sayang banget. Kita pada mau ke jalan- jalan lho. Ntar siang. Harusnya ikut!" celetuk Fatma.
"Hush... jangan! Mau nikahan nggak boleh main- main!" sahut Mertua Fatma.
"Tapi kan Nila udah jadi istri lama ini tinggal formalitas aja! Larangan nggak berlaku!" sahut Aisyah lagi.
"Nggak, kuliah aja!"
Keluarga Nila malah ribut sendiri, sementara Nila hanya menunduk menyeringai. Entah mereka mau jalan- jalan kemana, tapi tujuan mereka berangkat lebih awal selain agar bisa siap- siap, memang ingin jalan- jalan.
"Sarapan dulu, sudah ada yang matang kok masaknya, yuk Ummi temani," tutur Umi tiba- tiba menyela, mendekati Nila dan menggandeng tanganya.
Sepertinya Umi tahu Nila tidak nyaman, bahkan rupanya Ummi memperhatikan mata Nila.
"Iya...Ummi...," jawab Nila sedikit gelagapan.
Yang pada ribut pun terdiam, karena si Nilanya malah pergi.
Nila ikut Ummi ke ruang makan berdua, tidak tahu dimana Rendi, hanya saja suara laki- laki terdengar di teras depan.
Di dapur, Bu Siti dan teman Nila tampak masih sibuk, sepertinya masih ada yang belum matang tapi di meja sudah ada sepiring ayam goreng.
Walau sedikit sungkan karena Ummi tampak seperti sedang mengawasi dan menunggu Nila, Nila pun ambil makanannya cepat- cepat, melahapnya juga cepat, sangat tidak nyaman.
"Apa kalian bertengkar?" celetuk Ummi tiba- tiba saat nasi di piring Nila hampir habis.
"Ha?" pekik Nila kaget hampir tersedak.
"Minum dulu!" tutur Ummi. Nila pun meminumnya.
"Kamu habis menangis kan? Akbar juga semalam tidur di luar," tutur Ummi lirih.
Nila pun menunduk merasa malu, dan meletakan gelas setelah, meneguk air putih di depanya.
"Ummi minta maaf ya," tutur Ummi lagi.
"Kenapa Ummi minta maaf? Kita nggak apa- apa Ummi!" jawab Nila cepat merasa tidak nyaman menutupi masalahnya.
"Boleh Ummi bicara? Dan Ummi minta jangan potong Ummi selain jawab pertanyaan Ummi?" tanya Ummi kini serius.
Nila menelan ludahnya sedikit tertegun, tapi tubuhnya reflek mengangguk.
"Pertama, Ummi sebagai Ibunya Akbar, Ummi mau minta maaf, atas semua salah Akbar dan juga salah Ummi! Apa kamu mau memaafkan?" tutur Ummi.
"Iya. Tapi Ummi nggak salah, Ummi.., Ummi nggak perlu minta maaf," jawab Nila.
Ummi tersenyum menggelengkan kepala.
"Ummi, sadar, kamu masih sangat muda. Pernikahan kalian dulu, seperti dipaksakan. Kamu berkorban untuk kakakmu. Ummi juga setengah memaksa Akbar untuk mau melanjutkan perjodohan. Ummi minta maaf ya!" tutur Ummi
"Nila sayang sama Ummi, Ummi tidak salah," jawab Nila.
Ummi mengangguk tersenyum lagi.
"Ummi tahu kamu berbeda dari kakakmu, itu sebabnya, Ummi juga sangat sayang ke kamu. Tapi Nak, sungguh Ummi minta maaf. Kamu masih muda, masa depanmu masih panjang. Kamu punya bisa punya masa depan yang bagus. Keluargamu juga berada. Kemarin- kemarin mungkin kita semua masih terbawa ambisi.
__ADS_1
Sungguh, Ummi tidak menyesal pernah menjadi ibumu. Ummi juga akan menghormati pilihanmu. Masih ada satu hari lagi, untuk tidak salah melangkah. Apa kamu yakin dan mantap untuk melanjutkan pernikahan ini?" tanya Ummi pelan.
"Gleg!" Nila langsung membuka matanya lebar, kaget mendengar pertanyaan Ummi. Kenapa Ummi tanya begitu? Dan heranya, Nila malah sakit ditanya seperti itu.
"Kenapa Ummi tanya begini?" jawab Nila.
"Ummi sayang ke kamu. Ummi hormati keluargamu. Dulu Ummi memaksa Akbar menerima pernikahan ini. Karena keluargamu sepertinya bahagia dengan pernikahan kalian. Tapi kalau memang masih ada ganjalan. Kami sangat menghormati itu. Apalagi kamu masih belia. Ummi tidak mau menghalangi jalanmu hanya karena keinginanku dan anakku! Pumpung belum masuk ke KUA, dan urusanya jadi susah. Ummi tidak mau salah langkah," tutur Ummi ternyata sangat perasa dan tersinggung oleh Baba tempo hari.
Nila sedikit tergagap, tapi justru ucapan Ummi membuat Nila terharu.
"Nila mantap Ummi. Nila cinta Mas Rendi!" jawab Nila cepat.
Ummi pun tersenyum mendengarnya
"Kamu ikhlas mengorbankan masa mudamu? Rendi bukan pengusaha atau eksekutif muda yang kaya. Dia seperti itu adanya. Di luar sana banyak laki- laki yang lebih dari dia. Kamu juga masih sangat belia, kamu bisa menggapai dunia yang begitu indah sesukamu, yakin tetap ingin membina rumah tangga?" tanya Ummi lagi.
"Insya Alloh, Nila ridzo Ummi!" jawab Nila sedikit bergetar.
"Alhamdulillah kalau memang begitu. Ummi senang dan lega mendengarnya. Kamu tetap memilih mempertahankan rumah tanggamu. Solekhah, ya Nduk!" tutur Ummi memuji Nila.
"Aamiin, Ummi," jawab Nila tersipu.
"Tapi dengar Ummi ya! Sekarang Ummi ingin bicara sebagai guru kamu, karena kamu pernah belajar di Bambu Teduh bersama kami! Masih mau dengar Ummi?" tutur Ummi kemudian menggenggam tangan Nila.
Nila pun mengangguk mendengarkan. "Tentu saja, mau!"
"Kitab, dan juga buku, bisa kita baca, beberapa bisa dihafal. Perlu perjuangan juga untuk bisa mengerti dan memetik buahnya. Tapi... mengamalkannya itu lebih butuh perjuangan, tidak mudah. Tidak Mudah!" tutur Ummi menekankan.
"Bahkan sampai hampir 35 tahun Ummi berumah tangga, Ummi sendiri juga terus belajar. Kamu mengerti maksud Ummi?" tanya Ummi.
Nila menggeleng karena ingin dijelaskan.
"Ummi yakin kamu sudah hatam banyak kitab tentang pernikahan selama di pondok bareng asatidz. Tapi penerapanya itu susah, bahkan hal sepele. Ummi rasa kamu juga begitu? Ucapan Ummi benar kan?"
"He..iya Ummi!" jawab Nila menyeringai malu.
"Kamu tahu kenapa?" tanya Ummi lagi.
Nila menggelengkan kepalanya lagi.
"Menikah itu, ibadah terpanjang, bahkan menyempurnakan setengah agama kita. Yang haram menjadi halal, buanyak sekali keberkahan dan pahala, ada di dalam rumah tangga yang bisa kita dapatkan. Itu sebabnya syaiton tidak mau tinggal diam pada orang yang menikah. Pasti akan didatangkan banyak cobaan, mulai dari hal yang paling ringan sampai yang berat. Karena baginya membubarkan pernikahan yang diniati niat yang suci, ibadah untuk Alloh, itu prestasi untuk setan!"
"Gitu ya? Ummi!"
"Ya. Pertengkaran dan persilisihan. Itu akan terus setan upayakan pada setiap rumah tangga! Bahkan dimulai dari perkara sepele," lanjut Ummi memberi tahu.
Nila hanya menelan ludahnya menunduk.
"Besok selesai acara Ummi pulang. Kamu akan hidup berdua dengan Akbar. Ummi tahu, kalian menikah sudah lama, tapi kalian bersama baru sangat sebentar. Kalian belum saling mengenal. Pasti akan banyak perselisihan.
Ummi kasih tips sedikit ya. Laki- laki itu, egonya sangat tinggi, kuncinya, ingin dihargai. Buat dia merasa dihargai.
Ummi tidak tahu apa masalah kalian. Tapi.... Ummi berharap, kalian kalah jangan dengan syaithon. Jangan kalah sama Ego. Apalagi ada pihak luar yang masuk ke rumah tangga kalian. Jangan! Kalau sudah mantap menikah, ya harus kuat!" tutur Ummi menatap Nila tajam.
Nila masih mendengarkan.
"Memang, perceraian itu dibolehkan. Tapi itu dibenci Alloh. Ummi ingin kalian belajar, turunkan! Kalahkan ego masing- masing. Ingat... tujuan kalian menikah apa? Baik menghadapi masalah kecil dan besar, pilih jalan keluar, mana yang paling mendekatkan kalian pada tujuan kalian, ridzo Alloh! Mana yang sekiranya membuat Alloh ridzo, itu yang kalian ambil! Paham maksud Ummi?" tanya Ummi.
Nila mengangguk, walau dalam hatinya masih mengabur kemana arah tembakan Ummi.
"Entah siapa yang salah, jangan berebut benar, jangan berebut ingin dimengerti. Tapi berebutlah sabar, mengakui salah dan berebutlah meminta maaf. Anggaplah kita sedang berebut kebaikan dan ridho dari Alloh juga. Jadi ringan. Kan tujuan kita ridzo Alloh, bukan menjadi paling benar!
Bukan Ummi membela akbar dan menyuruhmu minta maaf dan mengalah terus, bukan. Ummi juga katakan ini ke Akbar. Tadi sudah Ummi tegur. Ummi juga selalu wanti- wanti ke semua anak Ummi, ke semua santri Ummi juga. Tujuan kita adalah cari ridzo Alloh. Dalam melakukan apapun, dipikir. Kalau aku begini, Alloh ridzo nggak ya? Biar kita selamat, biar kita jadi orang yang takwa. Jika tujuanya Alloh, insya Alloh hati lapang apapun yang dihadapi. Alloh juga akan kasih rohman dan rahimnya ke kita. Begitu. Paham?" tanya Ummi.
Nila mengangguk tersenyum sekarang mengerti.
"Ehm...." tiba- tiba terdengar deheman dari pintu.
Ummi dan Nila menoleh, aroma wangi parfum Rendi pun tercium di indra Nila. Ya Rendi sudah rapi membawa tas samping.
Entah kenapa mendadak Nila jadi berdebar jantungnya.
"Jam kerja biasanya macet. Sudah jam 06.15. Ayok berangkat!" ajak Rendi kaku.
Ummi hanya tersenyum. Nila mengangguk canggung ke Ummi.
"Nila, kuliah dulu Ummi," pamit Nila lirih meminta tangan Ummi untuk dicium
Rendi pun melakukan hal yang sama. Lalu Nila pamit ke yang lain meski Rendi berlenggang tidak menatap adik- adiknya dan teman Nila.
Mereka berdua masuk ke mobil. Entah kenapa, Nila rasanya sangat gugup menghadapi Rendi, jika Rendi sedang mode diam.
Namun kata- kata Ummi terus terngiang. Iya, Nila tahu Nila harus minta maaf lebih dulu., Tapi kenapa suasananya begitu mencekam begini. Rendi tampak menatap lurus ke depan dan rahangnya tampak tegak mengeras, tampan sih, tapi menakutkan juga.
Dan benar kata Ummi, walau tau teorinya, tau apa yang harus dilakukan, berat sekali menggerakan, bahkan pada bibir yang tak bertulang.
Kata Ummi Rendi juga sudah dinasehati, tapi kenapa Rendi juga diam. Apa ini yang Ummi katakan jangan kalah sama Ego.
Mereka berdua pun terjebak dalam suasana diam sepanjang jalan. Rupanya susah sekali mengalahkan ego. Hingga tidak terasa mereka sudah masuk ke parkiran kampus.
Rendi masih diam, bahkan membuka pintu mobil masing- masing. Sungguh, ternyata sangat menyesakan dada Nila.
Nila pun terus menegakan hatinya. Kata ustadzahnya, maratusholihah adalah yang membuat suaminya tersenyum. Nila harus bisa melalukan itu.
"Mas!" panggil Nila dengan suara berat mengusir sesak di dada.
Rendi pun berhenti dari jalanya. Tidak bisa banyak berkata, tidak peduli akan dilihat temanya atau tidak.
Nila langsung berlari mendekat dan memeluk Rendi dari belakang dengan erat.
"Gleg!" Rendi terdiam menelan ludahnya, seketika itu, senyum terlukis di wajahnya.
__ADS_1