Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Kasian Anakmu


__ADS_3

Acara pengajian berjalan lancar, keluarga Rendi juga datang walau hanya diwakili keluarga inti Abah Umi dan juga kedua ipar Nila sekeluarga.


Meski tidak memakai adat lengkap dan acara sederhana. Akan tetapi keluarga Rendi tetap membawa oleh- oleh seperti di adat tempat Rendi sampai keluarga Buna speechless dan heran sendiri.


Sayangnya di acara pengajian, walau dibuat setertutup dan sesederhana mungkin, tetap saja ramai tamu. Hanya dari rekanan dan kerabat Gunawijaya saja rumah Baba yanh begitu luas dan dibuatkan tenda, sudah full. Seperti sepupu Baba, orag- orang kepercayaan Baba, teman- teman Buna di panti juga anak- anak asuh Buna dan keluarga Bang Adip.


Nila dan Rendi jadi tidak ada waktu ngobrol berdua. Padahal Nila ingin sekali bersua rindu, bertanya, ngapain bawa barang banyak begitu. Untuk apa pula ada bawa ayam hidup, segala beras dan bumbu dapur. Keluarga Baba kan juga tidak memakai adat apapun, orang mereka hanya ingin pengajian sebagai amal ke warga sekitar juga berdoa Bersama keluarga agar Nila dan Rendi Bahagia.


Keluarga Rendi sepertinya ingin memberikan sesuatu, juga termasuk amplop, sebagai tanda, kalau Rendi ingin jadi suami yang bertanggung jawab. Sebanyak dan sekaya apapun Baba, Rendi ingin tetap menunjukan, andilnya dalam acara Nila.


Sekitar pukul 19.30 bakda sholat Isya, karena acara pengajian sekalian dibersamakan dengan jamaah maghrib lalu makan Bersama dan jamaah Isya. Keluarga Rendi pulang.


Sama sekali, dalam rangkaian acara yang lumayan molor dan lama, padahal acaranya di rumah Baba yang menyerupai aula, Rendi tak menyapa Nila sedikitpun sepertinya menoleh atau mencari juga tidak.


Bunga dan Jingga jadi heran, Rendi malah sibuk mengobrol dengan Adip berkenalan dengan teman- teman Baba. Bukan bersikap sebagai calon mempelai tapi malah membaur duduk di belakang dengan tamu.


Begitu tamu dan keluarga Rendi pergi, Jingga dan Bunga pun terus menanyai Nila.


“Nila ngantuk mau tidur, Kak. Jangan tanya terus!” keluh Nila kesal ke kakaknya.


“Jawab dulu pertanyaan Kaka!” ucap Jingga.


“Iya, daritadi abisan Kak Nila nggak mau jawab!” sambung Bunga.


“Lah kalian tanyanya nggak penting, ngapain sih tanya- tanya Kita udah ngapain aja, mas Rendi ke Nila gimana? Itu kan rahasia dan pamali!” jawab Nila sewot.


Bunga dan Jingga langsung mencebik.


“Kakak Cuma khawatir sama kamu. Kamu kan suka bohong pura- pura kamu baik- baik aja padahal enggak. Masa dia nggak nyapa kamu sama sekali, dia beneran tertarik sama kamu nggak sih? Kan di medsos baru ramet uh, cowok yang nikahin buat kedok aja!” sambung Jingga benar- benar bawel dan overthingking.


“Hhhrrgghh…,” Nila pun mendengus benar- benar kesal ke Jingga.


Hanya karena Rendi tak menyapanya dan di media sosial ramai berita banyak pernikahan yang hanya untuk modus dan tujuan tertentu, Jingga jadi paranoid. Begini efek Jingga break jadi dokter. Jadi kebanyakan liat gosip.


Sementara Bunga tidak sabar melihat Nila yang lebih muda darinya dan terkesan tidak berani dengan pria akan seromantis apa jika bersanding dengan laki- laki yang jadi suaminya.


“Kalau Bunga sih lebih ke penasaran, Pak Rendi itu kaya cuek banget. Bunga nggak kebayang, Kak Nila nanti kalau hidup berdua sama dia gimana? Terus kan Kak Nila bilang selama ini kalian LDR! Kalian ngobrolin apa?” sambung Bunga lagi.


“Udah Nila jawab kan daritadi. Kita normal seperti pasangan yang lain, everything will be oke. Mas Rendi normal, dan kita bisa berkomunikasi dengan baik. Kemarin kalian semua suudzon kan kita udah ngapa2in. Dijelasin Pak Rendi jaga aku sekarang kalian jadi nuduh Pak Rendi. Ish. Udah tenang aja tak ada yang perlu dikhawatirkan! Dia baik kok!” jawab Nila setengah keras menegaskan saking kesalnya ke Jingga dan Bunga ysng ceriwis.


Mentang- mentang Dipta diasuh Oma- omanya, Jingga enak- enakan makan dan ngeledekin Nila.


“Yakin?” tanya Jingga masih tidak puas sementara Bunga sudah diam, nyalinya menciut karena Nila terlihat setengah marah.


“Kakaaak. Nila aduin ke Bang Adip, nih!” jawab Nila benar- benar sewot.


“Ih. Jawab dulu pertanyaan Kaka. Dia itu gimana sih? Dia nggak nyakitin kamu? Dia beneran memperlakukan kamu sebagai wanita kan? Masih ada waktu beberapa jam sebelum semua terlanjur, pumpung KTP mu belum berubah status! Kakak Cuma mastiin, kamu tuh nggak disakitin sama dia!” jawab Jingga tetep paranoid.


“Bunaaa… Omaaa, Bang Adiip!” Akhirnya Nila kelewat kesal dan berteriak memanggil pendukung. Nila kesal, Jingga labil, kemarin khawatir sangat Nila diapa- apain sekarang kebalikan. Lagian Nila mau ngapain aja dengan Rendi kan itu rahasia Nila. Tidak mau menceritakan pada siapapun kecuali ada kepentinga.


Sayangnya teriakan Nila langsung dibekap Jingga.

__ADS_1


“Apaan sih?” ucap Jingga melotot sembari menutup mulut Nila.


Tapi Oma Mirna terlanjut dengar dan langsung mendekat.


“Ada apa teriak- teriak, wong wes gede kaya anak kecil!” jawab Oma memarahi.


Sembari menyingkirkan tangan Jingga, Nila langsung cemberut mengadu.


“Ini lho Nek, nggak tahu Kak Jingga cemburu apa gimana sama Nila! Suudzon terus sama suami Nila!” adu Nila ke Oma Mirna .


“Heh… cemburu, enak aja amit- amit!” sergah Jingga cepat tidak terima dikata cemburu.


Dan sayangnya di waktu Nila Mengadu, Adip yang sedang mencari sesuatu dengar dan menoleh jadi ingin menyimak. Adip jadi diam- diam menguping.


“Suudzon gimana? Dulu disuruh Nikah sama Rendi nggak mau, milih Adip, kok cemburu,” tanya Oma. Tentu saja Jingga tambah kesal.


“Nggak Oma. Nggak begitu!”


“Tapi daritadi Kakak, nakal sama Nila Nek, masa bilang kalau Mas Rendi itu nggak cinta sama Nila,” jawab Nila lagi ngadu.


“Heh, kakak nggak bilang gitu yoo!” sanggah Jingga langsung.


“Astaghfirulloh Jingga!” jawab Nenek cepat “Kamu lho udah ada Dipta, udah punya Adip. Jangan begitu!”


“Jingga nggak gitu, Nek!” jawab Jingga jadi terpojok melirik ke Bunga. Kan yang penasaran Nila kalau berdua dengan Rendi sikapnya gimana kan nggak Cuma Jingga tapi Buna juga. Sebab Rendi benar- benar bersikap seperti tidak kenal Nila. Melihat penampakan masing- masing juga rasanya seperti aneh, Nila masih mungil muda dan wajahnya polos belia, sementara Rendi kan kalau di acara resmi memakai kacamata, pakaian formal juga sikapnya dingin dan serius.


Sayangnya, kalau Oma Mirna sudah turun Bunga ambil aman, dia langsung menyembunyikan diri dan mengunci mulutnya.


“Heii… Jingga itu Cuma tanya. Kalau sikap dan perlakuan Rendi ke kamu sebenarnya gimana? Bukan gnomon gitu!” jawab Jingga menyangkal.


Tapi sayangnya Nenek memihak ke cerita Nila.


“Jingga!” potong Nenek cepat. “Kamu itu jangan GR, mengira Rendi masih suka kamu!” ucap Nenek lugas semakin membuat Jingga mengernyit sakit hati dikatain GR.


“Kamu nggak usah khawatirin Nila dan Rendi, dan Nila kamu nggak usah sedih- sedih. Nenek yakin dan melihat, Rendi itu suami yang penuh asih dan tanggung jawa.” Jawab Nenek.


“Jingga nggak GR, Nek! Jigga Cuma tanya, kok Si Pak Rendi itu udah sampai sini, nggak nyapa Nila! Dia jadi suami gimana sih?” jawab Jingga lagi.


“Halah, itu bukan masalah, wong ini juga acaranya mereka. Titenono, sebentar lagi akan ada Rendi kecil!” jawab Nenek.


“Ehm…,” Nila jadi malu dan menunduk.


“Hh… kata Baba kan nggak Nila nggak boleh hamil dulu!” jawab Jingga mencebik tetap ngeyel.


Nenek jadi mengernyit.


“Benar begitu La?” tanya Nenek.


“Ehm…. Baba ingin Nila lulus tepat waktu!” jawab Nila.


“Nah kan Nek, benar!” jawab Jingga.

__ADS_1


“Lhoh, ndak ndak, kasian Rendi sudah tua!” jawab Nenek.


“Tapi Nila masih muda, Nek!” jawab Jingga masih terus tidak pro Rendi.


“Suami, Nila sekarang itu Rendi, kamu nurutnya jangan Baba, tapi Rendi,” ucap Nenek.


“Tapi, Nek!” ucap Jinga tetep bawel, padahal Nila yang bersangkutan diam, tenang mendengarkan.


“Mama Dipta!” panggil Bang Adip tiba- tiba sudah di belakang sofa tempat Jingga duduk.


“Gleg!” seketika itu Jingga gelagapan menoleh.


Oma dan Nila juga menoleh kaget.


“Dipta Mana?” tanya Bang Adip.


“Sama Budhe Anya!” jawab Nila enteng, Budhe Anya, atau dokter Anya, teman Buna, istrinya Pak Dhe Farid yang dulu teman Baba Buna sekaligus kakak sepupu Rendi mala mini juga datang.


“Ambil Dipta kita pulang!” ajak Adip serius.


“Kok pulang? Katanya kita nginep?” pekik Jingga panik.


Nila pun menunduk menggigit bibirnya senang.


“Ambil Dipta kita pulang!” ucap Adip tegas.


“Bang…” pekik Jingga merayu.


“Besok subuh kita kesini lagi. Sekarang pulang!” ucap Adip lagi.


“Tapi Jingga kangen Buna, kangen rumah ini, nginep sekali aja!”


“Kangen Buna, sedari tadi juga nggak ada sama Buna kok! Kalau nggak mau, Dipta Abang bawa!” jawab Adip mempertegas.


“Iya- iya!” jawab Jingga akhirnya.


Nenek dan Nila senyum- senyum sendiri, sementara Jingga mencebik ikut suaminya.


Selepas Jingga pergi, Nenek pun menatap Nila dengan seksama.


“Apa benar yang dikatakan Jingga?” tanya Oma tiba- tiba serius.


“Kata Kak Jingga yang mana Oma?” tanya Nila


“Bapakmu melarang kamu hamil?” tanya Oma.


Nila pun menunduk tiba bisa menjawab.


“Jingga itu hanya bercanda, jangan dibawa serius, biar dia diajar sama suaminya, sekarang takutnya Cuma sama Adip. Dan kamu juga, setelah jadi istri, dahulukan suami asal suamimu benar dan tidak melanggar aturan!” ucap Oma lagi.


“Iya Nek.!”

__ADS_1


“Oma juga setuju, kuliahmu harus diluluskan, tapi pesan Oma, kalau memang hamil ya udah hamil aja. Oma nggak setuju kalau belum punya anak kok ditunda- tunda. Apalagi Rendi sudah tua. Kasian anakmu nanti,!” tutur Oma


__ADS_2