Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Wibawa


__ADS_3

Di halaman belakang sebuah rumah yang asri, Ummi duduk menatap tanaman mangga Rendi, yang mulai rimbun daunya, juga pohon anggur yang mulai merambat ke susunan kayu, yang Abah rangkai membentuk atap sebagai kegiatan saat jeda mengajar dan ibadah.


“Kalau diam itu, dzikir, jangan ngalamun,” tutur Abah mengagetkan Ummi yang terbengong. Abah kemudian berjalan ke arah kamar mandi lalu membuka pakaian gamisnya yang baru dia gunakan untuk mengimami sholat. Abah pun letakan di bak pakaian kotor ruang tempat cucian yang tak jauh dari tempat Ummi.


Kini Abah tinggal mengenakan kaos putih dan sarung lalu mendekat ke Ummi.


Ummi pun menoleh ke suaminya yang baru pulang dari pesantren itu dan Ummi bangun menyambut suaminya, meraih tangan kanannya dan menciumnya, sebagai tanda hormat dan pengabdianya sebagai istri.


“Ummi kepikiran Akbar, Bah!” tutur Ummi.


Abah kemudian duduk di bangku kesayangannya di halaman belakang.


Ya, halaman belakang rumah Abah kan memang dibuat kebun yang langsung bisa melihat bentangan sawah yang luas dan indah. Kadang menghampar tanaman hijau, kadang keemasan jika hendak panen. Rasanya sejuk dan menenangkan. Ummi dan Abah bisa menatap langit yang tak membentang dan burung- burung beterbangan. Meski begitu tetap dibatasi pagar kecil sebagai batas rumah, juga kebun tanaman sayur buah dan juga bunga- bunga tanaman Ummi.


Ummi kembali duduk di bangku kayu samping Abah.


“Kepikiran apalagi memangnya?” tanya Abah.


“Ck. Barusan Ummi telepon Nila, Akbar belum pulang. Katanya dua hari, ini sudah 3 hari. Kasian Nila Bah!” tutur Ummi menyiratkan kesedihanya.


Ya hari sudah berlalu, Ummi dan Abah sudah kembali ke pesantren dan mengerjakan hari- harinya seperti biasa. Meski begitu, Ummi tidak pernah absen menelpon Nila, melalukan panggilan video pada Nila dan Rendi, sampai Nila bingung karena baik orang tua dan besanya perhatian semua. Apalagi saat mereka telepon bersamaan padahal di satu saat Nila dan Rendi sedang video mesra ingin berdua dan lebih in tim.


“Anakmu sudah tanda tangan kontrak, sebaagai ikrar janji menjadi tenaga pengajar yang siap ditugaskan di sana. Memenuhi janji, menunaikan tanggung jawab, itu wajib. Ditambah jika diniatkan membagi ilmu yang bermanfaat, kalau niatnya karena Alloh juga ibadah, mulia. Ya biarkan dia menunaikan tugasnya!” jawab Abah tenang.


“Ummi tahu. Maksudh Ummi, kerja ya nggak begitu juga, memang hanya Akbar yang bisa? Dia baru menikaah, baru! Selama bertahun- tahun dia yang muda yang banyak disuruh ini itu, kasian kan istrinya? Harusnya biarkan istirahat dulu!” jawab Ummi lagi mengadu pada suamiinya tentang isi hati yang mengganggunya.


“Ya kan Namanya bekerja itu butuh pengorbanan termasuk waktu, itu kan wajar! Nila belajar mengerti,” jawab Abah lagi.

__ADS_1


“Kalau itu, Ummi yakin Nila ngerti. Tapi Tetap saja, kasian Nila. Ummi inginya udah Rendi nggak usah ngajar di sana. Keluar! Jual aja rumahnya, bikin di sini. Ngajar di sini di kampung sendiri, Ummi setuju sama ide Mas Handoko dan Farid. Kita bisa buka universitas di sini. Nggak apa- apa merintis muridnya sedikit!” tutur Ummi bicara Panjang kali lebar kali tinggi kepikiran ingin memperbesar yayasanya, agar pesantrenya bukan hanya sampai tingal Madrasah Aliyah, tapi juga universitas.


Abah sang suami, diam tenang mendengarkan. Setelah Ummi selesai bicara, Abah menghela nafasnya sejenak, lalu melirik ke meja, dimana, Ummi sudah menyiapkan secangkir kopi, karena itu memang sudah wajibnya.


Abah pun menyeripit pelan kopinya, meneguknya dengan nikmat.


Akan tetapi Ummi masih tampak manyun.


“Rumah Fatma sebentar lagi jadi, siapa yang akan menempati rumah ini kalau kita sudah tidak ada! Pak Ardi itu sepertinya inginya mengontrol dan mengatur semuanya, Ummi kasian sama Akbar! Kaya didikte!” lanjut Ummi sifat perempuan dan ibunya masih sangat kentara.


Tak, Abah pun meletakan cangkir kopinya pelan lalu tersenyum menatap istri tercintanya yang sudah melahirkan 3 anaknya.


Jika tidak kenal Ummi, sekilas Ummi terkesan cerewet dan tegas, itu sebabnya dulu Jingga tidak suka. Tapi sebenarnya Ummi hatinya tulus dan sangat perhatian terhadap semua yang dia sayangi. Itulah kelebihan Ummi untuk Abah,selain parasnya yang cantik dan membuat Abah sangat sayang pada Ummi. Ummi juga diam- diam yang banyak memberikan ide pada Abah untuk kemajuan pesantrenya.


“Mi… jadi orang itu harus banyak syukurnya,” tutur Abah pelan.


“Jangan serakah juga," kok serakah Bah


"Sabar!" lanjut Abah.


"Ya. Ummi sudah sabar kan?" jawab Ummi.


"Kalau sabar jangan marah- marah!"


"Ummi nggak marah. Ummi cuma cerita keinginan Ummi ke Abah!" jawab Ummi lagi.


Abah kemudian menegakan duduknya dan menatap pohon mangga juga, lalu Abah menoleh ke Ummi.

__ADS_1


"Kemarin Alloh uji kita dengan kekhawatiran, Akbar hampir tersesat dengan perempuan teman kuliahnya itu, Alloh selamatkan lewat Jingga. Alloh kemudian buat uji lagi untuk Akbar, merasa sakit diingkari Nak Jingga, Alloh kasih Nila. Alloh kasih lagi ujian, kita hampir kehilangan Nila, tapi lihatlah, Nila dan Akbar sekarang Bersatu. Intinya apa? Husnudzon, tawakal, sudah percaayakan pada Alloh. Biarkan anak- anak melalui kehidupanya sendiri agar mereka dewasa mengambil sikap. Sebagai orang tua kita doakan saja!” jawab Abah Panjang.


“Ya itu benar, tapi kan kita bisa arahkan mereka, kita beritahu mereka harapan kita. Lalu diupayakan yang terbaik?” Sambung Ummi.


“Kalau Ummi begitu, apa bedanya dengan Pak Ardi?” tanya Abah bertanya singkat.


“Gleg!” Ummi menelan ludahnya tercekat.


Iya juga, Baba Ardi kan juga banyak menyampaikan kemauanya.


“Kamu ibunya Akbar, jangan cerewet dan banyak mengeluh, doa! Doa saja. Sudah jangan terlalu kita atur mereka. Biarkan yang di atas yang tentukan jalanya. Kalau Ummi percaya doa, kalau Ummi ingin Akbar dan Nila ke sini. Sampaikan keinginan kita sama Alloh, itu juga kita nggak boleh maksa, apapun kehendakNya, syukuri. Satu yang penting, jangan campuri dan dikte mereka!” tutup Abah tegas memperingati Ummi.


“Astaghfirullohal’adzim…Ya Bah. Maafin Ummi!” jawab Ummi lesu.


Abah menghela nafas dan menghabiskan kopinya.


“Abah sama Syamsul ada undangan nanti siang. Abah mau tidur, nanti bangunkan Abah ya!” tutur Abah pamit.


Ummi mengangguk mengerti, namun Ummi masih duduk di tempatnya.


Ummi kembali menatap pohon mangga tanaman Rendi, yang ditanam saat Rendi dihukum Abah. Ummi menghela nafasnya dalam, tasbih digital melingkar di jarinya dan kembali Ummi Gerakan karena tadi terjeda melamun dan mengobrol dengan Abah.


“Ya Alloh, ya Rahman ya Rahim. Apa salah hamba berharap anakku dan mantuku kembali ke sini dan hidup di sini bersamaku? Tapi bagaimana caranya? Engkau Penguasa langit dan Bumi, tunjukan kuasa dan JalanMu,” lirih Ummi dalam hati sembari berdzikir.


Ya, sejak Ummi melihat perlakuan Baba saat mereka Bersama, hati Ummi sebagai Ibu Rendi jadi gelisah dan ingin Rendi atau Nila tidak hidup di Ibukota, melainkan bersamanya.


Ummi ingin agar Rendi menjadi suami yang “Kajen” atau mempunyai wibawa. Ummi tidak suka anak laki- lakinya jika diatur mertuanya. Ummi ingin Rendi menjadi pemimpin yang gagah menata rumah tangganya sendiri.

__ADS_1


Tapi Ummi juga bingung, bagaimana bisa mewujudkan impianya. Benar kata Abah kalau Ummi meminta dan memaksa jatuhnya tidak bijak seperti Baba.


__ADS_2