
Di dalam sebuah rumah bergaya minimalis dan asri, sepasang suami istri, tampak saling pandang di kamar mereka. Si istri baru saja menidurkan anaknya menatap suaminya terkejut.
"Bang... Abang nggak salah baca kan? Kok Abang diam aja dan kasih ijin? Sini ponselnya?" omel Jingga ke Bang Adip, setelah mendengarkan cerita suaminya.
Sejak menjadi ibu, sifat Emak- emak Jingga semakin kental. Manjanya memang berkurang tapi bawelnya meningkat tajam.
"Sshh... nggak usah ngegas gitu, nanti Dipta bangun lagi, kamu ngomel kecapekan lagi!" jawab Bang Adip tetap santui.
Tetap saja Jingga meradang mendengar cerita Bang Adip. Ternyata setelah ponsel Nila terisi, Nila ambil keputusan, memberitahu Buna, kakak dan Babanya akan pulang ke rumah Jingga karena rindu Baby Pradipta.
Nila tidak mau bohong tapi tidak jujur apa adanya juga. Dia menyembunyikan keberadaan saat ini, dan nanti Nila memang akan pulang ke rumah kakaknya.
Dan kepada Adip Jinggalah, Nila jujur sedang terjebak masalah bersama Rendi. Bahkan Nila menghubungi ponsel pribadi Adip ketimbang ponsel Jingga. Nila sangat percaya di keluarganya, selama ini Bang Adip yang paling bisa berpikir dengan kepala dingin.
"Issh... Abang. Sini ponselnya. Aku mau kasih tahu Baba. Kita jemput Nila. Jangan biarkan dia bersama si dosen tua bangkotan itu! Ketemu aja jangan kok bisa sampai bareng sih?" omel Jingga benar- benar kalap, meski suaranya direndahkan tapi tetap nadanya dengan penekanan.
"Pak Rendi masih 30an tahun, nggak boleh ngatain orang begitu. Kamu sekarang jadi ibu lho. Dijaga ucapanya," jawab Bang Adip tetap tenang.
"Lebih Bang. Intinya tua gila. Sini hapenya!" jawab Jingga lagi tetap marah dan berusaha merebut ponsel Adip karena Adip, tidak menggubris Jingga.
Saat Jingga merebut, Adip pun tetap tenang dan menyembunyikan.
"Sayaang.. dengar Abang!" tutur Adip malah sedikit membentak Jingga.
"Bang!" Jingga mengernyit, kenapa suami bucin_nya tidak memihak padanya.
"Ya, istriku Sayang. Yuk keluar dulu yuk, jangan ganggu Dipta!" ajak Adip ke Jingga keluar dengan lembut dan penuh sayang.
Jingga pun selalu luluh oleh perlakuan suami, yang dewasanya melebihi umurnya, itu.
Jingga menoleh ke Putra kesayanganya yang semakin hari semakin gembul. Dia tampak bergerak acak, sebaiknya mereka memang keluar kamar sejenak.
Jingga pun mengikuti suaminya, dengan mulut masih mecucu mereka melangkah pelan dan menutup pintunya lembut. Sementara Adip tetap tenang.
"Kok bisa sih, Nila sama Rendi? Kita jemput dia sekarang!" begitu keluar kamar Jingga langsung kembali menyala tanduknya.
"Duduk sini, dengerin Abang!"
"Abang mah gitu. Nila itu labil banget sama dosen gila itu. Dia pasti klepek- klepek kalau dirayu. Ini bahaya! Ck... Bang Adip gimana sih? Kasih tahu Baba!" celoteh Jingga lagi.
Jingga tahu betul kalau adiknya itu memang ngefans ke Rendi sejak Rendi mau jadi calonya Jingga.
"Nila sekarang sudah dewasa, Sayang!" jawab Adip tetap tenang.
"Dewasa apanya? Dia itu naif dan lugu banget. Kalau dia diapa-apain gimana? Nggak. Jingga nggak mau tinggal diam! Kalau Bang Adip nggak mau jemput dia sekarang, Jingga mau lapor Baba!" omel Jingga lagi malah mau ambil telepon rumah.
Adip langsung meraih tangan istrinya dan memintanya duduk.
"Sayang, dengerin Abang!" ucap Adip kini mengeluarkan sifat tegasnya.
Digertak, Jingga pun gemetar takut.
"Duduk dulu!"
"Hmm...," Jingga berdehem manyun.
"Nila wa abang itu berarti dia percaya ke kita. Abang tahu, Nila bukan adik yang suka bohong. Dia pasti punya alasan kenapa dia memilih cerita ke kita dan kenapa dia memutuskan mau pergi bersama Pak Rendi. Kita juga belum tahu apa yang terjadi. Kalau kita kasih tahu Baba dan yang lain, kita langgar kepercayaanya. Pada siapa lagi nanti Nila akan percaya. Kita bersyukur Nila masih mau cerita ke kita. Tinggal kita pantau dan kita beri kepercayaan ke dia!" tutur Adip lembut dan panjang memberi pengertian ke Jingga yang diam
"Tapi Bang!" jawab Jingga masih mau menyangkal karena isi otaknya masih mendidih mendengar nama Rendi.
"Tapi apa?"
"Kalau Nila diapa- apain gimana?"
"Nggak mungkin, Nila itu bukan perempuan bodoh kok! Pak Rendi juga orang yang dewasa!"
"Ya tapi Si Rendi itu jahat! Dia itu tua, bukan dewasa!" jawab Jingga tetep ngeyel.
"Nggak. Menurut Abang, Pak Rendi itu baik!" jawab Bang Adip menentang istrinya.
Jingga pun mengernyitkan matanya tambah meradang. "Baik, Bang? Dia jahat sama Nila! Dia nyakitin Nila,"
"Sayang... Baba itu tipe ayah yang selektif. Kalau Pak Rendi bukan orang yang berkualitas, nggak mungkin Baba menawarkan kedua putrinya jatuh ke tanganya dengan mudah, siri lagi!" jawab Adip lagi.
"Bang. Baik dari mana? Baba begitu karena melihat ke kebaikan Bapaknya Pak Rendi dan Pak Dhe Farid. Anak orang baik tak selamanya baik, liat aja di televisi, anak Kyai besar juga banyak berulah!"
"Itu di TV, kamu kebanyakan nonton gosip! Jadi suudzon kan?"
"Nyatanya Si Rendi itu nyakitin Nila! Dia jahat dan kecewain keluarga kita! Oma sakit karena dia!" jawab Jingga lagi.
Adip malah menghela nafasnya tersenyum.
"Yang jahat itu sebenarnya keluarga kita! Oma sakit karena kenyataan tak sesuai harapan dan perkiraanya," ucap Adip lagi.
"Kook Abang bisa gitu? Abang suami aku lho!" pekik Jingga kesal keluarga besar kebanggaanya disalahkan oleh suami tersayangnya sendiri.
"Kalau Pak Rendi jahat, dia bisa hamili Nila, atau sentuh Nila semau dia. Setelah itu dia bisa tinggalin Nila begitu aja! Lalu Pak Rendi memilih perempuan lain. Tapi nyatanya tidak kaan? Dia tetap kasih nafkah lahir walau tak menemui Nila! Dia juga membiarkan Nila tumbuh dengan limpahan kasih sayang keluarganya!" tutur Adip lagi.
Mulut Jingga pun langsung bungkam, kenyataanya memang Nila secara fisik tidak disakiti, tapi secara hati Nila dan keluarganya tersakiti karena seperti tak dihargai padahal mereka sangat menyayangi Rendi dan keluarganya.
"Coba Sayang renungi, pernah nggak kita mikir hatinya Pak Rendi? Baba udah janjikan dia banyak hal tentang kamu. Tapi kamu tiba- tiba nikah sama Abang dan batalin semuanya, Abang di pulau P dengan dia kenal baik lho. Lalu setelah itu, Pak Rendi dipaksa nikahin Nila yang notabenya anak- anak. Menurut Abang, wajar sih Pak Rendi marah!" tutur Adip mencoba berfikir dari sisi perasaan Rendi.
"Ya harusnya dia nggak mau. Kenapa dia mau? Dia itu sengaja, niat nyakitin Nila!.Dia bilang sendiri ke aku Bang. Dia jahat!" jawab Jingga masih tetap anggap Rendi buruk.
"Sebenarnya itu adalah ujud marah dan sakit hatinya. Harusnya kita tahu itu. Dan kita nggak pernah tahu, di keluarga Pak Rendi seperti apa sampai dia mau menerima Nila? Menurut Abang, justru itu bukti baiknya Pak Rendi patuh ke orang tuanya! Nyatanya sampai sekarang dia belum menikah kan? Dan malah mau balikan?" ucap Adip lagi
"Gleg!" Jingga menelan ludahnya terdiam, kali ini benar juga kata Adip.
"Tapi dia nggak akuin Nila. Emang kita tahu kalau Pak Rendi udah punya pacar dan tidur dengan perempuan? Ini kan ibukota!" jawab Jingga lagi.
"Tak!" Adip langsung jitak istri bawelnya.
"Iish.. Abang!"
"Sukanya, suudzon! Menurut Abang, Pak Rendi sih bukan tipe yang begitu!" jawab Adip lagi.
"Ck. Terus intinya Abang mau bilang? Abang mau dukung mereka balikan? Nggak! Apapun alasanya. Jingga dukung Nila cerai dan kuliah aja. Ayo kita jemput Nila! Titik! Bete Jingga sama Abang!" tutur Jingga lagi walau hati membenarkan kata suaminya, tapi Jingga tetap tidak suka Rendi.
__ADS_1
"Lhoh kok marah? Abang lagi ngasih tahu kamu. Jangan marah. Percaya sama Nila. Abang kan kasih tahu kamu kalau Nila ijin pergi bareng Pak Rendi! Masalah mereka baikan ya terserah mereka." jawab Adip.
"Ish Abang. Harusnya jawab, kamu dimana? Kita jemput dia!"
"Lhoh lhoh.. kok kamu malah gitu!"
"Yaiya. Mereka nggak boleh bareng. Jangan sampai balikan. Biarin Nila kuliah!"
"Sayang. Jodoh itu bukan urusanya kita!"
"Bang Adip itu kenapa sih kok kaya dukung mereka?"
"Bang Adip bukanya dukung. Bang Adip mah terserah mereka. Cuma kasih percaya ke Nila, selesaikan urusanya. Kita kompromi kalau Baba tanya Nila satu suara. Kita tunggu dia. Kalau pulang, kita denger dan tanya baik- baik. Apa yang terjadi?"
"Tetep aja Jingga nggak tenang kalau Nila bareng dia!"
"Ini nih, malah Abang curiga ke kamu!" jawab Adip.
"Abang!" pekik Jingga kesal.
"Kamu tuh khawatir Nila atau cemburu ke Nila sama Pak Rendi?" tanya Adip pura- pura cemburu.
"Ish Abang apaan sih?"
"Ya wong Nilanya aja baik- baik saja, atau mungkin dia bahagia. Kenapa kamu yang ribut? Percaya sama adik sendiri!" jawab Adip lagi.
Jingga sebenarnya mau menjawab, tapi belum selesai, terdengar suara tangisan bayi. Mereka berdua pun bergegas masuk lagi dan menyudahi obrolanya.
****
Di tempat lain.
Nila yang bateraynya sudah terisi, tidak peduli dengan Rendi yang melamun di sampingnya. Nila fokus curhat ke Kakak Iparnya, yang menurut dia, saat ini paling tepat membantu dia.
Nila jelas tidak bisa pulang tepat waktu. Kalau Nila kasih tahu ke Ikun, apalagi Baba Buna, bisa geger. Masalahnya bisa runyam, Nila juga tidak ingin terlalu membawa nama Babanya di urusanya.
Sesaat begitu pesan Nila terbalas oleh Adip, adzan maghrib berkumandang. Rendi yang tadinya melamun ingin membicarakan kembali status mereka jadi tersadar.
"Maghrib...," pekik Nila dan Rendi berbarengan dan saling tatap. Seketika itu keduanya pun sama- sama salah tingkah, karena sama- sama terbangun dari lamunanya.
"Kita sholat dulu ya!" ajak Rendi yang lebih dewasa menetralkan kecanggungan.
Diajak melakukan kebaikan tentu saja Nila mau.
"Iyah!" jawab Nila mengangguk.
"Bawa aja chargernya siapa tahu di masjid ada stop kontak," tutur Rendi memberi saran.
"Nggak usah, takutnya ketinggalan!" jawab Nila.
"Hmmm...udah isi emang bateraynya?" tanya Rendi pelan.
"Udah. Nila udah kabari orang rumah,"
"Oke!" jawab Rendi.
Sesampainya di masjid. Nila masuk ke tempat wudzu putri Rendi ke tempat wudzu Putra. Karena Nila perempuan tentu saja. Nila lebih lama kembali. Sementara Rendi lebih cepat.
Niat Rendi tidak menjadi imam, akan tetapi kebetulan, saat Rendi hendak sholat, koas yang pernah diajar Rendi juga sedang ikut sholat. Mereka menghormati Rendi dan meminta Rendi menjadi imam.
Rendi tidak menolak sehingga, akhirnya Rendi menjadi imam. Saat Nila selesai wudzu dan sudah rapih, sesampainya di masjid, hati Nila bergetar. Masjid dipenuhi jamaah, baik dari civitas rumah sakit pendidikan di dekat kampus itu, dokter, koas, perawat, petugas kebersihan juga pengunjung rumah sakit. Dan suara indah Rendi terdengar begitu menggema melafalkan alfatihah, entah kenapa, setiap detail bacaanya terdengar begitu mengena, menembus kalbu Nila, membuat Nila ingin segera merapat.
Nila pun ikut merapat ke shaf perempuan, menjadi jamaah Rendi untuk kedua kalinya, jika saat pertama hanya mendengar takbiratul ikhramnya, kini Nila merekam, lantunan yang begitu indah, surah yang tak begitu panjang, namun tidak terlalu cepat, kalam Alloh yang jika diresapi membuatnya meneteskan air mata.
Tidak terasa Rendi sudah mengucapkan salam. Sebagai jamaah, Nila pun ikut. Entah kenapa sesaat hati Nila pun merasa nyaman menyadari sekarang dia bersama Rendi, ada ketenangan, rasa bencinya surut perlahan, walau ego masih enggan menyatakan.
Menyadari masih banyak urusan, Nila pun mengatur waktu dengan baik, tidak terlalu lama berdoa dan segera keluar.
****
Rendi pun menjadi imam yang cerdas, karena ini di tempat umum dan semua punya kesibukan, bukan di majlis taklim seperti di pesantren ayahnya, di memilih bacaan dan doa yang cepat.
Rendi juga tidak ingin Nila menunggunya, Rendi pun keluar ke serambi tempat mereka berpisah.
"Rendi!" sapa seseorang mensejajari Rendi di undak serambi masjid.
Rendi pun menoleh, lalu teman itu melebarkan senyum, Rendi pun mengernyitkan matanya berfikir.
"Tunggu..tunggu...," ucap Rendi mau menebak.
"Ya...ya... pasti kamu lupa dengaku!" ucap teman Rendi.
"Ya.. aku ingat, bapak CEO, Dioan Agashi Laksana, betul?" tebak Rendi ingat nama temanya.
Teman Rendi pun mengangguk lalu merangkul Rendi.
"Ya, aku tidak lupa dengan suaramu, ternyata benar kamu. Masih lurus aja kamu!" ucap teman Rendi.
"Aish... oh ya ngomong- ngomong siapa yang sakit?" tanya Rendi.
Sejenak teman Rendi itu menunduk dan mengulum lidahnya.
"Adikku bermasalah. Aku ditelpon pihak kampus katanya dia masuk ke rumah sakit ini. Entah aku juga belum bertemu!" jawab teman Rendi itu.
Mendengar jawaban Dion, Rendi paqaqun tercekat dan otaknya langsung konek.
"Siapa nama adikmu?" tanya Rendi.
"Farel!" jawab Dion cepat.
"Ehm...," Rendi langsung berdehem, dalam hati Rendi syok tahu Farel adik teman Rendi. Apalagi setahu Rendi, Dion termasuk anak yang lurus, tapi memang Rendi tahu, orang tuanya broken home.
Rendi pun bingung menyampaikanya, dia juga jadi berfikir ulang, apa iya dia tega laporkan Farel ke polisi, atau cukup dibahas kekeluargaan dengan pihak kampus agar Farel direhabilitasi, mereka kan juga tidak tahu, Farel sejak kapan konsumsi obat itu.
"Kamu sendiri apa kabar? Ngapain di sini? Siapa yang sakit?" tanya Dion membuyarkan Rendi yang sedang berfikir.
"Oh aku, aku bersama istriku, kebetulan aku bekerja di sini!" jawab Rendi dengan percaya diri menyebut Nila istrinya.
__ADS_1
"Oh ya kamu dokter ya? Lupa aku!" jawab Dion.
"Ehm...," tiba- tiba di belakang mereka terdengar deheman lembut dari perempuan, Dion dan Rendi pun menoleh. Rupanya Nila sudah menunggu Rendi.
Rendi pun tersenyum layaknya suami yang menunggu istrinya.
"Oh udah selesai?" tanya Rendi ke Nila
Nila menganguk menunduk.
"Istrimu?" tanya Dion menoleh ke Nila.
Nila pun mendengarnya dan spontan menoleh ke Rendi
"Iyah. Kenalin. Istriku, namanya Nila. Dhek...ini teman kos Mas pas kuliah dulu!" ucap Rendi lancar dan percaya diri.
"Gleg! He...," Nila pun menelan ludahnya, dan menyeringai memaksa senyum.
Nila syok, kaget, berdebar namun diikitu geram, tapi dia tidak bisa menyanggah sehingga terpaksa mengikuti pernyataan Rendi.
"Nila...," ucap Nila tanpa sadarnya tetap memperkenalkan diri sebagai istri Rendi dan mennangkupkan tanganya.
"Dhek.. nama lengkap Farel siapa?" tanya Rendi membuka obrolan untuk memberi tahu Dion. Mendengar nama Farel, baik Nila dan Dion tentu saja saling pandang dengan isi otak saling bertanya.
"Adik Dion juga namanya Farel! Apa dia orang yang sama?" tutur Rendi lagi menjembatani.
Dion yang sedang pusing langsung menjawab lebih dulu.
"Iyah itu nama Farel!" jawab Nila.
"Jadi kalian kenal adikku?" tanya Dion
Nila langsung menoleh ke Rendi dengan sorot mata takutnya, Rendi pun menghela nafas.
"Ayo temui dia. Kita jelaskan akar permasalahanya!" tutur Rendi bijak.
"Jadi Farel bermasalah dengan kalian?" tanya Dion sedikit panik.
"Yok.. kita lihat yuk!" ajak Rendi ke ruang IGD.
Dengan langkah cepat mereka ke ruanhan Farel dirawat. Dion pun segera memeriksa lalu bertanya pada perawat. Seketika itu Dion Syok saat dokter memberitahu hasil test urin Dion.
Dion pun segera menghampiri Rendi.
"Apa yang kamu tahu tentang adikku?" tanya Dion.
"Aku minta maaf. Aku yang memukul adikmu?" ucap Rendi jentle mengakui kesalahanya.
"Kamu? Jadi kamu. Tunggu. aku masih nggak ngerti tolong jelaskan!" ucap Dion lagi.
Rendi pun menoleh ke Nila.
"Tolong jelaskan Dhek!" ucap Rendi tenang.
Nila yang sedari tadi mengekori Rendi pun paham keadaanya. Nila kemudian menceritakan semuanya. Saat, Nila cerita, Dion tampak termenung.
Hingga Rendi pun angkat bicara.
"Aku benar- benar tidak menyangka kalau dia adikmu? Rencananya, setelah sholat kami akan ke kantor polisi dan!"
"Ren!" potong Dion.
Dion menyatakan keberatanya dan memohon pada Rendi untuk membuat kesepakatan. Dari pihak Farel akan memaafkan Rendi. Sementara dari kampus akan mengundang keluarga Farel dan menyelesaikan dengan Musyawarah.
"Oke... secepatnya aku akan datang ke kampus!" ucap Dion.
Rendi pun mengangguk.
Setelah deal, Rendi kemudian mengajak Nila pulang. Nila pun bernafas lega karena dia bisa pulang lebih awal tanpa ke kantor polisi. Mereka berdua pun kembali berjalan berdua menuju ke mobil.
Dan begitu mereka keluar dari area rumah sakit, Nila pun langsung mengeluarkan tanduk yang sedari tadi dia sembunyikan.
"Maksud bapak apa? Bilang aku istri Bapak?" tanya Nila langsung menghentikan langkah, matanya gerung dan mulutnya manyun.
Gleg.
Rendi pun ikut berhenti dan menoleh ke Nila tersenyum.
"Di depan ada penjual Soto yang enak. Kita makan dulu ya!" jawab Rendi santai.
"Urusan kita sudah selesai kan? Saya harus pulang. Dan saya tegaskan ke bapak. Di antara kita sudah bukan suami istri lagi!" ucap Nila tegas.
Bukanya takut atau menjawab, Rendi menghela nafasnya, menggaruk pelipisnya yang tidak gatal lalu menatap Nila tajam.
"Kita masih suami istri!" ucap Rendi mantap.
Sebenarnya mendengar jawaban Rendi yang begitu mantap, hati Nila sedikit berdebar, tapi Nila masih bingung. Antara ingin menyadarkan diri agar tak berharap atau menegaskan kenyataan yang ada. Kenapa Rendi begitu yakin.
"Pak, bukan karena saya spontan meluk bapak dan kita pergi bersama lantas kita jadi jadi suami istri lagi kan? Kenapa bapak percaya diri sekali?" jawab Nila sedikit tersipu karena harus mengingat kecerobohanya tidak menjaga tindakanya saat panik tadi.
Rendi melihat sekeliling, di bawah pohon tersadapat cor- coran semen yang bisa untuk duduk.
"Di sana ada tempat duduk. Ayo kita bicara serius! Kamu harus dengarkan kenyataan yang ada di antara kita!" ucap Rendi serius lagi.
Nila ikut menoleh, tidak menunggu jawaban Nila, Rendi berjalan menuju ke semen tempat duduk itu. Akhirnya Nila pun ikut.
Mereka berdua pun kini duduk bersebelahan memandang jalanan dengan lampu pohon yang temaram. Rendi menghela nafasnya lembut, pengalaman menghadapi Jingga membuatnya belajar untuk hati- hati.
"Kamu sudah Ummi ajari tentang pernikahan kan?" ucap Rendi lembut.
Nila hanya menelan ludahnya. "Intinya saja!"
"Talak Kinayah dianggap sah dan jatuh talak 1, apabila niat suami mengikrarkan itu semua memang tidak menginginkan pernikahanya, menampikan pernikahanya dan menginginkan pernikahanya usai. Tapi apa kamu tahu bagaimana hatiku saat itu mengucapkanya?" tanya Rendi serius.
Nila sedikit gelagapan,
"Siapa yang bisa mendengar hatiku? Aku sudah berusaha menjelaskan ke Baba, tapi kalian tidak mau mendengar itu. Dan kalaupun itu benar, talak satu terjatuh. Bukankah kita punya waktu 3 bulan untuk berfikir ulang? Dan yang mas yakini. Kita belum bercerai,"
__ADS_1