
“Buna mau kemana?” tanya Baba dengan wajah penuh telisik mengagetkan Buna yang sibuk bersiap pergi.
Baba heran ke Buna, sebelum subuh, Buna sudah bangun, matanya juga terlihat sembab. Dan sekarang begitu subuh selesai, Buna memakai baju rapih, juga sedikit berdandan padahal Baba tidak mengajak pergi. Anak- anak belum bangun, tak ada orbrolan juga, kalau Buna ada agenda.
“Ehm… Ba...anak- anak biar sama Susnya dulu ya? Ada Mbak Mini, Mbak Ida, sama Mbak Nurul juga, titip ya Ba… Baba nggak kemana- mana kan? Baba ke kantor siang kan?” jawab malah menitipkan anak- anak ke Baba.
Buna mukanya panik, tergesa, bahkan bicara dengan Baba sembari mengambil tasnya.
“Baba Kemana- mana! Dan banyak acara!" jawab Baba enteng dan seperti biasa menunjukan wajah garangnya kalau hatinya sedang tidak pas.
“Gleg!” Buna langsung terdiam, berdiri mematung menatap suaminya. “Kemana, Mas? Kan katanya, Baba bebas ke kantornya, kan ada Amer?” jawab Buna sedikit kecewa.
“Ada, Baba ada agenda, Baba mau nemenin, Buna. Buna mau kemana memang?” jawab Baba cerdas, Baba menangkap curiga ke Buna menyembunyikan sesuatu.
Buna kan baru di tahap memendam curiga dan prasangka, Buna niat hanya ingin memastikan dan menanyakan ke Jingga, Nila tidur dimana? Semalam bersama siapa? Jadi Buna memilih menyembunyikan dulu dari Baba.
“Buna cuma sebentar, Ba. Buna bisa pergi sendiri!” jawab Buna alasan menolak.agar Baba tidak ikut.
“Baba antar!” jawab Baba nekad.
"Tapi.. Ba!" Buna jadi semakin gelagapan. Dan Baba pun jadi ikut tambah curiga.
“Buna punya selingkuhan!” tanya Baba langsung mengeluarkan sifat posesif dan cemburuanya. Tentu saja Buna langsung melotot kaget.
“Astaghfirulloh, Baba, dijaga kalau bicara! Kita udah punya cucu Ba!” jawab Buna.
“Ya, Buna yang harusnya istighfar, Buna udah jadi Oma, ngapain dandan- dandan kaya anak muda, ngumpet- ngumpet dari suami!” jawab Baba emosi.
“Haduh, astaghfirulloh, Ba! Buna nggak dandan dan nggak ngumpet!”
“Ya apa namanya nggak ngumpet, langit aja masih petang, Buna udah mau pergi aja, ditanya suami nggak jawab, Baba mau antar aja nggak boleh!” jawab Baba lagi.
Buna pun menelan ludahnya, nggak bisa memang sembuhkan posesifnya Baba. Semua hal yang Buna lakukan tidak boleh lepas dari pengetahuan Baba.
“Buna mau jemput Nila!” jawab Buna akhirnya.
Bukanya percaya, Baba malah tersenyum mengejek. “Bun, sejak kapan Buna belajar bohong? Kenapa jemput Nila sepagi ini? Nila di rumah kakaknya, dia bisa pulang sendiri, atau Jingga suruh antar,” jawab Baba..
“Biar nggak macet Ba!”
“Terus kenapa, Baba nggak boleh ikut? Nila dan Jingga juga anak Baba. Buna nemuin siapa di jalan, laki- laki mana yang mau Buna temui!” tuduh Baba cemburu lagi.
“Astaghfirulloh, Baba. Baba udah jadi Opa, jangan curigaan begitu? Mana ada Buna mau nemuin laki- laki!” jawab Buna.
“Ya udah, ayok pergi, Baba antar!” jawab Baba lagi.
“Buna pergi sendiri!” jawab Buna kekeh.
“Kalau gitu nggak usah pergi, Baba larang Buna pergi!” jawab Baba tegas tidak mau kalah.
Kini bukan hanya Jingga dan Adip yang bertengkar karena Nila, Buna dan Baba juga bertengkar. Buna kemudian menggaruk pelipisnya yang tidak gata lalu meredam emosinya.
“Baba.. kita udah jadi Kakek dan nenek, Baba kok masih egois dan curigaan begini sama Buna?” jawab Buna merendahkan nada bicaranya.
“Ya udah, Buna udah jadi Oma kenapa, Buna masih nggak terbuka sama Baba dan nggak nurut sama Baba!”
“Ya Alloh, Ba.. dimana nggak letak nurutnya Buna ke Baba, hampir 24 tahun Buna jadi istri Baba, dimana letak ketidak nurutan Buna? Bahkan Buna nggak kerja buat Baba. Buna asuh anak- anak Baba, Buna tinggalin kampung halaman Buna demi Baba!” jawab Buna emosi lagi malah melebar kemana- mana.
“Oh jadi, Buna nyesel karena nggak kerja? Buna masih mau kerja? Baba kurang ngasih uangnya? Atau gimana? Hah!” jawab Baba ikut emosi pula.
“Astaghfirulloh, bukan Ba bukan gitu!” jawab Buna menghela nafasnya pusing sendiri, kenapa malah jadi salah paham dan bertengkar begini? Buna ini ingin meluruskan kecurigaanya, malah tambah masalah baru.
“Oke… katakana kalau Buna masih mau kerja, Buna mau kerja dimana? Bilang, biar anak- anak Baba yang asuh!” ucap Baba lagi masih emosi.
“Buna mau jemput Nila, Buna khawatir dan curiga sama Nila!” ucap Buna akhirnya.
Buna kemudian terduduk lemas, mau tidak mau harus cerita ke Baba.
“Curiga apa?’ tanya Baba kemudian ikut duduk.
Baba dan Buna kemudian saling pandang dan kembali menjadi Opa dan Oma yang bijak dan saling mengerti.
“Wajar nggak sih Ba? Kalau Nila itu akrab dan dekat dengan Adip?” tanya Buna pelan..
“Ya bagus, itu artinya, Adip berhasil menjadi figure yang baik untuk adiknya,” jawab Baba.
__ADS_1
“Bukan itu maksud Buna. Kedekatan yang lebih!” jawab Buna.
“Buna itu ngomong apa sih? Ngawur, Baba lihat mereka wajar!”
“Tapi Nila kalau tanya kuliah, minta pendapat itu lebih banyak ke Adip timbang ke Jingga!” tutur Buna ternyata sudah lama memperhatikan Nila lebih akrab ke Adip.
“Ya karena memang Adip jauh lebih cakap dan punya banyak pandangan,” jawab Baba rasional lagi.
“Bukan, Ba!”
“Terus apa?”
“Buna masih nggak habis pikir, kenapa dulu, Nila mau dijodohkan dengan laki- laki yang hampir menjadi suami Kakaknya, apalagi, di usianya yang masih dikategorikan anak- anak, Buna khawatir, kalau Nila kelainan,” jawab Buna lagi mengeluarkan hipotesanya sendiri.
“Buna.. Nila itu anak kita!” jawab Baba tersinggung anaknya dijelekan.
“Justru itu, Ba! Karena Nila anak Buna. Buna merasa bersalah, karena Nila lulus SD langsung di pondok, sudah jauh dari kita, Nila seperti dewasa sebelum waktunya, dan Buna takut, Nila punya kecenderungan ingin memiliki apa yang jadi milik Jingga!” tutur Buna overthingking.
“Astaghfirulloh, Buna! Bisa- bisanya Buna ke anak sendiri begitu? Tidak ada begitu! Nila mau dijodohkan dengan Rendi dulu, karena dia anak Baba yang baik. Dia mau bahagiakan Baba. Dia tahu, anak perempuan akan bisa membawa neraka bagi ayahnya juga bisa membawa surga untuk ayahnya. Nila paham pacaran itu dosa. Jadi dia mau dijodohkan. Dia percaya kalau perjodohan sedari dini mencegah dia dari pergaulan yang tidak benar. Rendi saja yang kurang bersyukur!” jawab Baba tidak terima Nila dikatai oleh Ibunya sendiri tidak normal.
Baba, Abah, dan Pak Dhe Farid memang bercita- cita jadi keluarga dengan jalan perjodohan. Berharap anak- anak mereka mempunyai bibit bobot yang jelas baik di pandangan mereka.
Baba kan juga melarang keras anak- anak perempuanya pacaran atau kenal laki- laki sembarangan. Baba setuju mengikat Nila halal dengan Rendi, dan mereka membuat suatu perjanjian, tidak satu rumah, membiarkan Nila menyelesaiakn sekolah, tapi semua orang tahu, Nila milik Rendi.
“Buna juga yakin anak Buna begitu, tapi Ba. Semalam Buna denger sendiri!” jawab Buna lagi mengingat semalam.
“Denger apa?” tanya Baba mendelik.
Buna pun cerita apa yang membuat hatinya risau. “Buna telepon Nila, masa Nila di samping Adip yang tidur ngorok dan tidak ada Jingga,” ucap Buna dengan suara ngerinya.
“Buna salah dengar kali!” jawab Baba sedikit melemah nada bicaranya masih menolak cerota Buna, Baba juga ikut speechless mendengar cerita Buna.
“Buna telepon lagi Ba, malah diangkat sama Adip, seperti, seperti… tidak takut, dan malah bermesra!” jawab Buna dengan wajah panik dan ngeri menceritakan ke Baba. Buna mengingat masanya dulu, saat Buna dan Baba awal nikah, yang Baba, bangga ingin tunjukan ke Oma Nurma, kalau anaknya bahagia.
“Bermesra gimana?” tanya Baba mulai panik lagi.
“Ya gitu, Mas jangan angkat, kenapa? Buna telpon kok nggak diangkat, gitu gitu Ba, Buna malu dan ngeri dengernya, terus untuk apa Nila harus tidur di rumah Jingga?” tutur Buna panik lagi menirukan apa yang dia dengar.
Baba tercekat, lemas, mendengarnya, seperti ada yang lepas dari tubuhnya, dulu Baba sangat percaya Rendi dan membanggakanya, tapi cerita Oma, Rendi tidak mengakui Nila membuatnya patah hati.
“Adip dan Nila sama- sama santri, tidak mungkin mereka begitu,” gumam Baba masih denial dengan cerita Buna.
Baba dan Buna tidak sedikitpun berfikir, Rendi dan Nila balikan apalagi di rumah Adip. Sebab menurut Buna dan Baba, Rendi tidak akan mendekati Nila lagi, dan Nila patuh tidak menemui Rendi.
“Itu sebabnya Buna ingin ke sana, Ba. Apa maksud telepon Buna semalam? Apa yang mereka lakukan. Buna sangat khawatir! Pikiran Buna macam- macam, apa mungkin Nila patah hati dengan Rendi lantas ingin jahat ke kakaknya? Nila tadinya ingin kuliah gizi, tapi belok ke kedokteran seperti kakaknya, Buna takut Ba, Nila kena mental, dan salah jalan. Kita 6 tahun tidak bersamanya dan dia hanya diam saat bersama kita!” tutur Buna panjang dan memburu, mimic wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang banyak, dan di kepala Buna berputar benang yang membundhet sulit dipecahkan.
"Usia Nila kan Usia pubertas Ba. Nila juga tidak kenal laki- laki lain selain Adip dan Kakaknya!" sambung Buna menegaskan.
“Ayo cepat kita kesana!” jawab Baba cepat ambil keputusan.
"Ayo!"
Baba dan Buna pun bergegas, pamit menitipkan anak- anak ke maid mereka, walau Baba belum mandi Baba langsung cuss ke rumah Adip.
****
Di perumahan elit di dekat Universitas, di sebuah kamar luas di lantai dua, Rendi menggelar sajadahnya membuka al – Quran, tadarus dengan suara indahnya.
Sebelum berangkat, Abah memang sudah banyak memberi nasehat, Rendi sudah tua, jangan terlalu banyak mengejar ambisi dan cita dunia, sampai melupakan amal- amal kecil yang menjadi kebiasaan seorang Gus Akbar dulu sebelum pergi dari rumah.
Rendi jamaah subuh di masjid komplek, jika biasanya langsung olahraga, menghadap computer atau tidur lagi, kini menyempatkan tadarus dulu, Rendi suka membaca Ar Rahman dan Dzikir petang.
Setelah selesai, karena kemarin siang sampai malam Rendi bersama Nila banyak dilalui, malam yang biasa Rendi gunakan menyiapkan materi kuliah jadi terganggu. Bukan berolahraga, Rendi membuka laptop dan memeriksa pekerjaanya lagi.
Saat hendak memeriksa, Rendi pun mencari flashdisk nya. Sayangnya sudah diobrak abrik tidak ketemu. Rendi pun diam mencoba mengingat, seketika itu dia tersenyum.
"Oh iya? Kemarin aku masukan di dompet. Hh.. dompetku kan ada di istriku," gumam Rendi ingat lalu terkekeh sendiri. Iya dia kan punya istri.
Rendi pun bergegas bangun dengan semangat. Walau belum jamnya kerja. Rendi segera bersiap, membersihkan dirinya dengan sabun dan sampo yang wangi, memilih kemeja terbaiknya, dan menyisir rambut pendeknya rapi.
Rendi menanggalkan kacamatanya dan mencukur kumisnya.
Jika sebelumnya terlihat menjadi Om- om tampan, berwibawa kebapakan, Rendi kini ingin terlihat lebih muda agar bisa mengimbangi Nila.
Meski begitu rahangnya yang tegas dan alisnya yang tebal tetap membuatnya terlihat gagah dan maskulin.
__ADS_1
Bukanya menuju ke Kampus Rendi menuju ke rumah Adip.
Sepanjang jalan Rendi senyum- senyum sendiri.
"Aku kira keindahan perempuan yang terpenting parasnya dan penampilanya, seperti Jingga. Tapi rupanya, kamu lebih menarik Nila. Entah mantra apa yang kamu lafalkan, kamu lebih banyak menebarkan pesona yang membuatku tak berdaya." batin Rendi mengingat wajah Nila saat lampu jalan menyala merah.
Saat mengincar Jingga dulu, Rendi lebih banyak ambisi. Tapi sekarang Nila lebih banyak menyadarkan Rendi kalau dirinya lemah, salah, tapi saat bersama Nila. Nila selalu membuatnya gemas dan tak jemu memandangnya.
****
Di rumah Adip
Setelah makan malam, dan menidurkan Baby Dipta. Adip berusaha meluluhkan hati Jingga.
Adip meyakinkan, kalau tentang Nila biar esok dibahas oleh yang bersangkutan dan Baba Buna. Adip juga melarang Jingga mengabari lewat telepon karena akan menimbulkan persepsi yang salah
Jingga luluh, walau hati kecilnya malah mengira Nila diguna- guna. Jingga kan selama nganggur dan Baby Dipta tidur temanya infotainment, ilmu pengetahuanya jadi sedikit tersamarkan.
Meski begitu, malam itu Jingga berbaikan dengan Adip. Bahkan mereka tidur bersama setelah dipastikan nifas Jingga berhenti.
Pagi- pagi Jingga ingin menjemur Baby Dipta agar terkena sinar matahari. Adip sedang mandi, maid sibuk di dapur, sementara Nila di kamar mempersiapkan kuliahnya.
Jingga pun mendorong stroller Dipta sendiri. Tepat Jingga di ruang tamu, bel pintu berbunyi. Karena Jingga yang di ruang tamu, Jingga akhirnya yang membuka pintu.
"Gleg!" Jingga langsung menampakan muka kusamnya begitu pintu terbuka dan melihat wajah siapa di depanya.
"Pagi.. Ibu Jingga," sapa seorang Pria matang yang umurnya kurang lebih tua 10 tahun darinya.
"Hmm...," Jingga berniat menutup pintu tapi ada stroller Baby Dipta.
"Hai ponakan ganteng," Rendi malah melebarkan senyum menyapa Dipta yang gembul dan mata beningnya menatap Rendi sambil bergerak acak ajak bercanda.
"Dia bukan ponakan anda, Pak. Mau apa Anda kesini? Mau menaburkan ilmu hitam sehingga adik dan suamiku luluh? Maaf, tidak bisa!" tuduh Jingga kasar hendak mengusir.
"Gleg!" Rendi langsung menelan ludahnya terdiam, dia hanya mengulum lidahnya menahan sabar.
Rendi tahu dirinya dan Jingga ada masalalu. Rendi sendiri malu mengingat bagaimana dia dulu mengancam Jingga agar patuh padanya, tapi itu semua menjadi bekalnya belajar bagaimana memperlakukan wanita.
"Maaf, Ibu Jingga yang terhormat. Ilmu hitam apa ya? Saya baru tahu kalau ada ilmu hitam. Saya tahunya saya lulusan kedokteran. Dan!" ucap Rendi terpotong.
"Nggak usah bosa- basi. Aku nggak mempan, nggak terpengaruh. Jadi silahkan pergi!" usir Jingga kasar.
"Saya akan pergi. Tapi sebelumnya, saya kesini, hendak menemui istri saya!" jawab Rendi lagim.
"Istri?" pekik Jingga kesal
"Iya boleh saya menemuinya sebentar. Saya ingin ambil dompet saya?" jawab Rendi lagi
"Huh? Dompet?" pekik Jingga kaget dan kesalnya bertambah.
Entah kenapa Jingga merasa sakit saat mengetahui kedekatan Nila dan Rendi bahkan Dompet Rendi dipegang Nila.
"Iya! Soalnya Sim, ktp, uang kartu tol kartu parkir bahkan simcard saya ada di situ!" jawab Rendi lagi.
Jingga hanya menelan ludahnya spechless, sudah seperti apa hubungan Nila dan Rendi sampai dompetnya ada di Nila.
Belum Jingga menjawab, Adip yang baru selesai mandi dan hendak mencari sesuatu turun
"Ada siapa Yang?" tanya Adip melihat istrinya di depan pintu,, mendekat.
Rendi langsung menyapanya tentu Adip juga.
"Oh ada Pak Rendi. Kenapa hanya di pintu. Mari silahkan duduk Pak," tutur Adip malah mengajak Rendi duduk.
Jingga hanya cemberut diam
"Buatkan minum Yang!" bisik Adip.
Jingga langsung berbalik arah cemberut bahkan meninggalkan Dipta. Rendi yang melihat Dipta menatapnya senyum- senyum pun peka.
"Boleh saya gendong Baby mu?" tanya Rendi
"Silahkan.. silahkan. Semoga jadi orang pintar kaya Pak dosen ya?" ucap Adip.
Mereka kemudian mengasuh Dipta ke teras sembari berjemur.
__ADS_1
Baba dan Buna di jalan terkena macet. Sepanjang jalan Baba dan Buna terdiam murung membayangkan betapa ngerinya kalau Nila terkena mental.