Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Ijin dulu


__ADS_3

"Janjinya 15 menit ini udah setengah jam, Xel!" ucap Vallen gusar.


Vallen dan Axel sudah memesan kamar di lantai 4. Kamar besar yang harganya sebanding dengan kamar yang Nila pesan.


"Macet mungkin. Santai aja!" jawab Axel menyesap rokoknya.


Vallen bukan perempuan bodoh. 5 menit sebelumnya Vallen melewati jalan yang sama, karena Rendi memintanya. Jalanan di jam dzuhur lengang, perjalanan Vallen hanya sekitar 6 menit.


"Nggak macet kok!" ucap Vallen membuktikan memperlihatkan google map ke Axel. Aplikasi navigasi menunjukan jalanan lancar.


"Ya tadi dia menolak pergi bersamamu katanya mau apa? Coba telepon!" jawab Axel lagi.


"Katanya mau kasih kejutan?" jawab Vallen


Axel tersenyum


"Tuh kan. Laki- laki seperti dia nggak akan bisa jatuh cinta. Masih kamu perempuan satu- satunya, pasti kasih hadiah buat kamu. Dia nggak ngerti cara nakhlukin perempuan. Dijodohkanpun seperti sebelumnya. Gagal! Dah sikat! Buat dia tidak punya pilihan lain kecuali nikahin kamu!" jawab Axel percaya diri.


Axel dari dulu selalu merendahkan Rendi dalam hal asmara. Axel begitu mudah bergonta ganti pasangan, tapi setiap kali bertemu atau main Rendi selalu sendiri. Bahkan hidup di luar negeri yang terkesan bebas. Rendi juga sendiri.


Itu sebabnya Vallen tertantang mendekati Rendi. Semakin Rendi tenang dan menjaga jarak dari Vallen, semakin Vallen ambisi.


Ya. Rendi selalu memperlakukan Vallen dengan terhormat. Padahal Vallen berulang kali menyatakan cintanya pada Rendi, dan hanya Vallen yang cukup keberanian terus menghampirinya. Hingga Rendi hanya mengenal Vallen saat itu.


"Oke. Aku telpon dia!" jawab Vallen.


Valen telpon, tapi tak kunjung diangkat. Axel pun mencoba menelpon, tidak diangkat juga.


"Lagi nyetir kali. Whatsap aja!" ucap Axel


Vallen pun mengirim pesan, dibaca tidak, dijawab, hingga mereka berfikir kalau sempat baca harusnya memegang ponsel.


Vallen dan Axel yang sudah memperkirakan berapa waktu obatnya bekerja langsung saling tatap.


"Jangan sampai gagal. Dia harus segera kesini?" ucap Vallen, lalu menelpon lagi.


"Diangkat!" ucap Vallen berbinar.


Axel pun mengedikkan matanya mempersilahkan Vallen menjawab telepon.


"Ehm...," Valen berdehem bersiap mengatur kata.


"Halo Ren...," sapa Vallen lembut.


"Halooh," terdengar suara lembut Nila di balik telpon.


"Gleg!" seketika itu Vallen membelalakan matanya dan dadanya terasa sesak. Vallen langsung tergagap.


"Ini nomer Rendi kan? Ini siapa yah?" tanya Vallen cepat.


"Ah iya. Ini nomer Mas Rendi. Anda sendiri siapah?" tanya Nila lagi suaranya semakin serak- serak halus dibisiki Rendi.


Valen semakin tergagap wajahnya langsung merah padam.


"Ah hh.. Mas! Jangan!" belum Valen menjawab, dibalik telepon Nila memekik kaget dan manja suaranya sangat sek si.


"Brak!" seketika itu Vallen merem mas ponselnya dan membantingnya ke meja.


Axel kemudian melotot heran. "Ada apa?" tanya Axel.


"Fu ck You!" umpat Vallen dengan emosi membuncah ke Axel.


Axel gelagapan. "Ada apa Len?"


"Dia bersama perempuan. Sial. Aku beli obat ini mahal. Malah orang lain yang menikmati!" ucap Vallen kesal.


"Kok bisa? Katanya istrinya di pesantren?" ucap Axel lagi.


"Argh....." Vallen mengusap rambutnya kasar. "Praang" semua yang ada di depanya tak lupus dari kekesalanya.


"Sabar Len!" ucap Axel menenangkan. Axel jadi gelagapan dan mukanya pucat.


"Aku nggak percaya lagi dengan semua trik dan akal busukmu! Semua gagal!" ucap Vallen menatap benci ke Axel. Vallen menyambar tasnya dan beranjak


"Len tunggu!"


"Apalagi? Aku udah merendahkan harga diriku Xel!" ucap Vallen kesal.


"Iya maaf kan kita usaha. Kita bicarain baik- baik!" rayu Axel dengan pelan


"Nggak ada yang lebih sakit dari memupuk harapan semu dan bertepuk sebelah tangan. Gob lok!!" ucap Valen rasanya sudah sangat sesak. Vallen pun berlalu, berjalan menghentakan kakiknya.


Axel gelagapan. "Ini yang bayar siapa? Kamar juga udah didekorasi dan diberi parfum mahal?" gumam Axel menggaruk tengkuknya.


Valen berjalan cepat sembari menahan air matanya.


Ya, sejak awal mengenal Rendi, Vallen memang sangat tertarik pada Rendi. Pria tampan yang begitu pendiam, tidak banyak kata. Tapi Rendi menjadi laki- laki yang memperlakukan Vallen menjadi perempuan yang dilindungi dan dihormati.


Vallen tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari siapapun termasuk mantan suaminya, .emberikan Vallen hak berpendapat, mendengarkan Vallen saat Vallen butuh tempat cerita, berdiskusi beberapa hal, memberikan perhatian tanpa melecehkan.


*****


Di kamar


"Mas.. Jangan!" pekik Nila kaget

__ADS_1


Saat Nila mengangkat telepon. Rendi di sampingnya berbisik mengajari Nila, lalu Rendi iseng menarik selimut Nila sembari terkekeh.


Sebelumnya Nila kalut, terperangkap emosi. Nila melepas pakaianya dengan perasaan penuh salah.


Sekarang begitu sadar malunya kembali utuh. Malu dan geli sekali saat tangan Rendi bergerak menyentuhnya.


Nila pun menahan selimutnya agar tak terjatuh walau selimutnya sedikit melorot dan sembulan buah ranumnya terlihat. Leher dan dada Nila yang selalu tertutup hijab, ternyata sangat bersih tanpa noda, seputih susu. Nila juga tidak kurus tubuhnya terlihat kencang mulus.


Sejujurnya Rendi sangat senang melihatnya.


"Mas apaan sih?" jawab Nila tersipu.


"Itu teleponya masih nyala nggak?" jawab Rendi lagi dengan santainya.


Nila memeriksanya dan ternyata terputus.


"Dimatikan!" jawab Nila dengan polosnya memegang ponsel Rendi.


"Makasih ya! Ternyata kamu lebih pintar dari yang mas kira!" ucap Rendi mengambil ponselnya dari tangan Nila.


Nila kemudian menunduk, entah kenapa mendengar suara Vallen, walau Nila pemenangnya Nila kesal. "Pintar apaan?" cibir Nila sembari manyun.


"Ayo dipakai bajunya. Oma udah nunggu? Atau mau kasih liat Mas lagi?"


"Nggak!" jawab Nila rasanya jadi eneg.


"Beneran nggak mau pakai baju. Mas buka ya? Hidup lagi nih!" gurau Rendi lagi senang sekali menggoda Nila.


"Ish.. apaan sih?" jawab Nila langsung mendekap dirinya sendiri.


"Rambut kamu tebel ya? Wangi lagi! Mas jadi ingin nih, lihat dikit, sekali lagi boleh ya..." gurau Rendi lagi semakin berani. Malah mendekat, mengambil rambut Nila yang panjang dan menghirupnya.


Nila pun menjauhkan tubuhnya. Kalau diminta dan dirayu begini jadi illfeel.


"Katanya kalau udah keluar udah. Sana keluar!" usir Nila keluar ambeknya.


"Ish kok jadi galak? Tadi lembut banget!" jawab Rendi menatap Nila terkekeh.


Nila masih manyun dengan mata gerungnya. "Mas bohongin Nila!" jawab Nila mencibir.


"Bohong? Bohong gimana?" jawab Rendi lagi dengan suara dewasa dan teduh, meledek Nila.


"Pikir aja sendiri!" jawab Nila ambek lagi.


"Haish!" desis Rendi kembali mengusap tengkuknya. Kalau udah kambuh susah nyembuhinya.


"Bohong gimana sih?"


"Sana cepat keluar!"


"Keluar!" bentak Nila ternyata kalau sedang marah benar- benar galak.


"Wiiih...," ucap Rendi malah meledek Nila. "Galak bener?"


"Keluar nggak? Nila mau ganti!" ucap Nila cemberut.


"Yaya!" jawab Rendi mengalah. "Tapi tadi kamu buka sendiri emang tadi niatnya mau apa?" ucap Rendi masih gatal terus menggoda Nila. Padahal Rendi tanpa ditanya tahu semuanya.


"Aku banting nih hapenya kalau nggak keluar!" ucap Nila benar- benar ambek bahkan ancam Rendi.


"Iya iya. Mas keluar. Mau makan siang sama apa? Biar mas pesankan!" ucap Rendi akhirnya normal dan berhenti menggoda Nila.


"Serah!" jawab Nila.


"Ya jangan terserah. Takutnya kamu alergi!"


"Nila bilang terserah ya terserah!" jawab Nila galak lagi.


Rendi yang dewasa dan sayang Nila pun mengangguk dr mengalah. "Oke. Harus dimakan ya!" ucap Rendi.


Rendi kemudian menyambar kunci kamar hotel. Karena tenaga, dan jantung Rendi baru saja dipacu tidak alami bahkan Rendi menyembuhkannya juga dengan tenaganya sendiri. Rendi jadi merasa sangat lapar. Rendi ingin liat menu di resto hotel dan mau pesan nasi yang banyak.


Tepat di lobby Rendi berpapasan dengan Vallen.


Vallen tampak keluar lift berjalan tergesa dan menunduk. Sementara Rendi tampak segar, rambut basahnya belum dikeringkan, bahkan pakai pakaianya cepat- cepat karena khawatir akan Nila, Rendi hanya memakai kaos pendek dan dada kekarnya tercetak jelas.


"Hai Len?" sapa Rendi percaya diri dan santai.


"Gleg!" Vallen pun kelimpungan malu apalagi mukanya sembab.


"Mau kemana? Katanya mau makan siang? udah? Baru aku mau naik!" ucap Rendi santai, ingin mengerjai Vallen.


"Ehm...," Vallen gelagapan. "Aku tadi telpon kamu? Aku kira, kamu!" ucap Vallen usaha bohong.


"Oh ya. Kata istriku kamu tadi telpon. Kok dimatiin?" sahut Rendi cepat semakin ingin liat ekspresi Vallen yang tertangkap basah.


"Ehm.. maaf aku tadi ganggu. Aku nggak mikir kamu bersama istrimu? Perasaan tadi dari kampus? Mana dia?" jawab Vallen masih berusaha sandiwara.


Rendi tersenyum tipis.


"Dia masih mandi di kamar. Aku pesan kamar di situ!" ucap Rendi menunjukan kamarnya.


Valen ikut melirik dengan sorot getirnya.


"Kamu udah pernah menikah? Pasti pahamlah suamimu kalau ingin gimana? Aku nggak suka nahan soalnya. Kapan istriku bisa dan aku mau. Kapandan dimana, gas! Kamu dulu juga gitu kan? Pumpung di hotel. Enak ternyata hotelnya." jawab Rendi malah memanasi Vallen.

__ADS_1


Vallen gelagapan, dadanya semakin terbakar, Vallen bingung mau jawab apa. Vallen pun memaksa tersenyum. "Oh...,"


"Oh ya. Aku baru tahu lhoh. Selain segar ternyata jus sirsak bikin semangat, ehg!" bisik Rendi lagi dengan bahasa isyarat membahas hubungan suaami istri, semakin memojokan Vallen.


Rendi mendadak jadi sangat cerewet dan centil.


Vallen menyeringai dan menelan ludahnya. Dia semakin terpojok. Vallen takut ketahuan dan Rendi menyadari ada yang salah dengan minuman yang Vallen pesan khusus.


Melihat Vallen gelagapan, bagi Rendi semakin menyenangkan.


"Eh dimana Axel? Beneran kalian udah makanya, ayolah jangan pulang dulu. Temani kita makan! Aku lapar banget, ini istriku juga kelelahan. Aku mau kenalkan istriku ke kalian. Ya maaf. Penganten baru sepertiku masih susah menunda. Istriku akan segera menyusul keluar. Aku pesan makan dulu!" ucap Rendi lagi.


Vallen yang sudah hancur hatinya jadi malas bosa basi.


"Kamu telat. Aku masih ada meeting lagi. Lain kali ya!" jawab Vallen singkat.


"Oh oke. Sayang banget ya. Padahal kamu katanya mau kenalan sama istriku!" ucap Rendi lagi.


"Axel masih di atas!" jawab Vallen memberitahu.


"Oke aku nanti menyusul!" jawab Rendi.


Vallen malas bosa- basi dan langsung berlalu. Begitu Vallen pergi Rendi menyunggingkan senyum memperhatikan langkah Vallen.


Rendi menghela nafasnya. "Kasian sekali kamu Len. Kamu perempuan yang cerdas dan terhormat. Kenapa kamu tidak bisa berfikir lebih sehat. Axel juga kenapa dia suka sekali memakai cara kotor?" batin Rendi.


Sesungguhnya Rendi masih mempunyai hati yang penuh kasih.


Rendi menyadari, Axel, Tyo, dan Vallen adalah teman seperjuangan mereka saat merantau. Saat di luar mereka kekurangan uang dan kiriman orang tua mereka terlambat. Mereka partner kerja part time yang saling bantu.


Vallen yang Rendi kenal dulu juga pelajar yang smart, menjadi teman diskusi yang asik dan berfikir kreatif.


Rendi tidak ingin membuat Vallen dan Axel dipermalukan meski seharusnya Rendi bisa marah. Tapi Rendi memilih tidak melakukan itu. Cukup, Rendi jadi tahu bagaimana dia akan bersikap setelah ini.


Rendi pun memilih Restoran di lantai satu dan tidak jadi menyusul Axel. Rendi hafal sifat Axel, nanti malah disuruh membayar tagihan.


Rendi kemudian mendatangi restoran sengaja ingin melihat langsung menu yang tersedia


Rendi pun memesan nasi ayam goreng 3 porsi, sebungkus dimsum udang, dua air mineral, dua jus strawbery dan sebungkus snack Taro.


"Aku sudah benar kan? Selera anak muda begini?" batin Rendi senyum- senyum sendiri menebak selera istrinya yang masih muda.


Rendi meminta pelayan restoran mengantar ke kamarnya.


Sesampainya di kamar. Nila sudah kembali rapih dengan pakaian tertutupnya.


Nila tampak menyeka air matanya dengan tisu.


"Kamu nangis lagi?" tanya Rendi mencondongkan muka melihat wajah Nila.


"Nggak usah tanya- tanya!" jawab Nila memalingkan wajah dari Rendi.


"Kamu nangis kenapa? Mas kan nggak apa- apain kamu? Mas salah apalagi?" tanya Rendi pusing.


Ternyata mempunyai pasangan anak kecil sedikit ribet, sedikit- sedikit menangis tanpa sebab.


"Pikir aja sendiri?"


"Ya mas nggak tahu? Ngomong dong? Kalau laper tunggu bentar. Udah mas bayar nanti diantar ke sini?"


"Aku udah kenyang. Ayo pulang!"


"Eh ya tunggu. Mas laper banget!" jawab Rendi.


Nila diam menunduk manyun


"Kamu kenapa sih? Mas bingung. Kamu beneran ingin mas menye tubuhimu? Ijin Baba dulu," tanya Rendi malah ngelantur lagi.


"Plak!" tentu saja spontan Nila kesal dan memukul Rendi.


"Auh. Sakit adek Nilaku cantik!" jawab Rendi.


"Nila kessel!" ucap Nila akhirnya.


"Ya kesel kenapa? Cerita! Emang mas ngapain?"


"Mas bohong. Mas ngerjain Nila!" ucap Nila akhirnya. "Mata Nila jadi ternoda!" ucap Nila lagi.


"Ehm....," Rendi berdehem mengusap tengkuknya malu. Ya Nila kan memergoki Rendi tidak memakai pakaian dan sedang melakukan aib.


"Tapi kamu suka kan?" jawab Rendi ngelantur.


"Mas bohong!" ucap Nila lagi.


"Bohong apalagi?"


"Ternyata Mas nggak sakit? Padahal Nila udah khawatir banget. Nila sampai telepon Ummi! Nih Kak Fatma sama Kak Aisyah jadi whastapin Nila!" ucap Nila cerita menggebu.


Ternyata Fatma dan Aisyah langsung ngeledekin Nila. Nila jadi malu.


"Oh...gitu!" jawab Rendi singkat.


"Terus kata Baba. Mas nggak pernah punya pacar. Cuma Kak Jingga yang pernah ada. Nyatanya? Siapa Vallen. Ternyata Mas punya pacar!" lanjut Nila lagi.


"Kamu cemburu?" tanya Rendi dengan entengnya.

__ADS_1


__ADS_2