Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Harus Telepon


__ADS_3

Nila syok mendengar Farel dikeluarkan, hanya saja belum sempat Nila menjawab dan menjelaskan tentang dirinya dan Rendi, dosen datang. Dosen yang datang juga dosen perempuan yang killer.


Nila dan Celine memilih membungkam mulut mereka, mengakhiri percakapan seru mereka.


Sayangnya Nila langsung lemas, otaknya nge_lag. Tidak bisa fokus akan mata kuliahnya. Nila ingin cepat menghubungi Rendi tapi tidak bisa, sebab kalau ketahuan mengambil ponsel oleh dosenya bisa disuruh keluar.


Nila juga jadi berfikir, selama di mobil tadi Nila membaca artikel. Pernikahanya yang belum didaftarkan ke KUA, atau lebih tepatnya misyar atau orang menyebutnya sirih, itu dipandang rendah oleh orang modern dan mahasiswa sepertinya. Nila harus benar- benar siap mental untuk menyampaikanya.


Benar kata Rendi kalau ketahuan pernikahan mereka dilakukan 3 tahun lalu saat Nila masih SMA, keluarga mereka juga Rendi bisa kena pasal, walau kenyataanya Rendi menggenapi janjinya pada Baba dan memberikan hak Nila untuk tumbuh dan belajar sampai lulus Aliyah sampai Nila siap menjalankan kewajibanya.


Nila pun menahan diri untuk diam. Biarlah hanya warga pondok, dan keluarga Nila yang mengetahui pernikahan mereka. Nila pun menahan semua pedih dituduh Celine tanpa membantah atau membenarkan.


"Tak!" begitu perkuliahan selesai dan dosen mengucap salam pamit Celine meletakan selembar kertas dengan sedikit hentakan.


Lalu Celine bangun dan pergi begitu saja mengajak teman- temanya. Nila tidak mau ribut dan membiarkan Celine pergi.


Nila paham itu pesan untuknya.


"RSJ Harapan Indah, Ruang Nusa no 3!"


Seketika itu, Nila melotot, Celine pergi meninggalkan alamat rumah sakit Jiwa terbesar di kotanya.


"Rumah Sakit Jiwa? Apa Farel di rawat di sini? Astaghfirullah...," gumam Nila menebak jika Celine memberikan alamat itu padanya karena Farel dirawat di situ.


Nila langsung menyimpanya dengan gusar.


"Hai....," sapa Hanan mengagetkan Nila. Pertemuan mereka tadi membuat Hanan jadi ingin menemui Nila lagi.


Nila pun gelagapan, tidak menyangka Hanan menyambanginya.


"Bang Hanan?" pekik Nila kaget.


"Kok aku nggak lihat Farel? Dia beneran nggak lanjut kuliah? Kemana dia?" tanya Hanan dengan polosnya melihat sekeliling.


Nila tambah gelagapan, Nila langsung menoleh ke kanan dan ke kiri juga.


"Ehm... Farel... Farel sakit. Udah beberapa hari, tidak berangkat Bang!" ucap Nila takut.

__ADS_1


"Oh... Sakit apa? Kasian banget? Padahal kudengar dia juga pandai bisnis lho, aku ingin tanya- tanya," jawab Hanan lagi


Nila menunduk tidak nyaman. Hatinya sangat gelisah ingin cerita tapi Nila tahu batasan. Berbicara masalah pribadi tidak boleh sembarangan.


Nila tidak ingin terlalu dekat dengan Hanan karena dia tahu Rendi pasti marah jika lihat dan tahu. Nila juga takut dosa.


"Bang Hanan jadi ketemu Kak Ikun?" tanya Nila mengalihkan.


"Jadi. Inih. Dia kasih ini buat kamu. Sama dia pesan. Dia ada meeting, nggak bisa jemput. Boleh aku yang antar?" tanya Hanan cepat menawarkan diri.


"Ha?" pekik Nila kaget yang benar saja pulang bareng.


"Iya. Kalau nggak ada yang jemput ikut mobilku aja!" sambung Hanan.


Nila langsung berdehem tidak nyaman dan menyeringai.


Nila geram ke Ikun, bisa- bisanya Ikun meminta Hanan mengantarnya. Dia tahu kan, kalau Nila dan Rendi balikan itu berarti Nila seorang istri. Nila juga tidak mau pulang berdua bukan mahramnya kecuali supir yang sudah jadi abdi Babanya sejak Nila kecil.


"Santai aja. Aku nggak sendirian kok. Aku berangkat dan pulang bareng Adit." tawar Hanan lagi berfikir Nila menolak tidak mau pulang berdua dengan Hanan.


Nila langsung menunduk sejenak mengatur nafasnya.


"Aku mau futsal di stadion dekat rumahmu... Maksudku sekalian aja, pulangnya. Kita nggak berduaan kok!" sambung Hanan lagi meminta.


"Ehm... Nggak bakalan mau, Hanan. Nanti ada yang marah. Aku kasih tahu ya. Paling dia abis ini udah ada janji. Dia mau kencan. Kencan sama orang lain. Dia maunya sama Om - Om!" sahut Mikki sambil jalan tahu Hanan sedang menawarkan Nila pulang.


Tentu saja Nila dan Hanan langsung kaget dan melotot.


"Maksud kamu apa Mik?" tanya Hanan malah Hanan yang tersinggung.


"Tanya aja sama orangnya. Hanan, aku kasih tahu ya, nggak usah dekat- dekat sama dia. Sayang kamunya! Kamu anak baik. Jangan mau ketipu sama penampilan dan muka polosnya. Kamu akan kecewa dan syok kalau tahu siapa dia?" ucap Mikki lagi.


Nila semakin dibuat terperangah, tapi Nila memilih diam, hanya menelan ludahnya menahan amarah dan memperhatikan dengan pasti arah tuduhan Mikki.


"Bicara yang jelas. Berani sekali kamu memfitnah Nila. Aku tahu Nila aku tahu keluarganya dan Nila sahabatku sejak kecil! Siapa kamu dengan keji menuduh Nila begitu!" jawab Hanan cepat dan lantang membela Nila. Hanan jadi emosi Nila dikatai oleh teman- temanya.


Mikki yang terlanjur benci langsung tersenyum sinis.

__ADS_1


"Teerserah kamu sih. Tunggu aja waktunya! Aku nggak fitnah kok. Aku cuma ingetin kamu!" ucap Miki lagi.


Hanan mengepalkan tanganya lalu menoleh ke Nila yang memilih menunduk dengan wajahnya yang manis dan tenang.


"Nila kok kamu diam aja. Apa maksud Miki?" tanya Hanan ke Nila.


"Ya iyalah Nila diam. kan emang nyatanya, Nila sukamya Om- Om bukan kamu. Jadi ngapain Ngapain Nila jawab pembelaan. Aku tahu kok, La. Jujur aja!" ucap Miki lagi.


"Mikki!" bentak Hanan lagi jadi emosi dan terpancing amarahnya.


"Bang!" Sahut Nila jadi angkat bicara melerai. Nila tidak ingin ribut dan anak kelas jadi salah paham.


"Maaf Mik. Aku nggak ngerti apa maksud kamu. Maaf juga ya. Setahuku nimbrung pembicaraan orang itu juga tidak sopan, terserah kamu ngomong apa, aku tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan. Buat Bang Hanan. Maaf ya. Nila ada perlu jadi Nila harus segera pergi. Terima kasih atas tawaranya!" jawab Nila sangat tenang.


Miki tambah sinis dan tersenyum mengejek.


Sementara Hanan mengangguk dewasa menerima.


"Permiisi aku mau lewat!" tutur Nila lagi


"Mau sampai kapan kamu sandiwara. Cepat atau lambat bangkai akan tercium juga!" ucap Miki lagi sedikit keras menyindir.


Nila dengar. Tapi Nila memilih terus berjalan walau tanganya mengepal.


"Sepertinya Celine sudah memberitahu teman- temanya tentang aku dan Mas Rendi. Sepertinya hanya undangan nikahan yang pas untuk bungkam mulut mereka!" batin Nila tidak mau banyak cakap.


"Aku harus telepon Mas Rendi dan datang ke rumah sakit ini?" batin Nila jadi penasaran maksud Celine...


****


Maaf ya Kaak.


dalam menulis aku beneran amatiran sungguh.


Aku beberapa hari terakhir dalam dunia nyata banyak agenda dan tugas. Baik di kerjaan, atau rumah. Jadi nulisnya nggak jelas. Alhamdulillah sih ujian udah terlewatkan.


Pokoknya terimakasih buat yang masih mau menunggu dan mau baca.

__ADS_1


Bismillah ya. Bisa dilanjut lagi.


I love you Kakak semua.


__ADS_2