
“Kenapa aku bahagia mendengar cerita, Kak Amer? Huftt astaghfirulloh, kenapa juga aku mimpiin dia? Ingat sekarang dia bukan muhrimku lagi” gumam Nila bersandar di pintu kamarnya setelah dia tutup.
Nila melihat jam dinding di kamarnya, ternyata sudah malam, dia pun tidak mau melamun terlalu lama karena besok sudah harus kembali kuliah. Nila kembali mengambil air wudzu, sebab seperti yang Nila tahu itu sunnah.
Setelah itu, Nila pun membaringkan tubuhnya pelan, dan memejamkan matanya. Dan di saat itulah, setiap kali Nila memejamkan matanya, hatinya kembali berdebar, begitu kuat, terus begitu.
Nila juga teringat mimpinya tadi sampai dia terbangun, terasa nyata.
Seperti Rendi sebelumnya, mungkin karena terlalu banyak memikirkan, di alam bawah sadar Nila pun yang datang Rendi.
Nila bermimpi mereka menjadi sepasang suami istri yang saling menyayangi, di mimpi Nila, Nila belajar bersama Rendi diselingi gelak tawa. Seperti halnya di kelas, Rendi membimbing Nila sebelum Nila menghadapi ujian.
“Ya Alloh, tolong bantu, tuk aku lupakan dia,” batin Nila memegangi dadanya.
Sejak awal Nila memang selalu menyimpan semua yang dia rasa sendiri, sehingga hanya Alloh dan dirinya yang tahu betapa kuat debaran di hati Nila. Baba Amer Jingga mereka semua tidak ada yang paham.
“Hooh,” Nila menghembuskan nafasnya pelan. “Jika dulu aku memikirkan dan mendoakanya adalah pahala karena aku masih istrinya, sekarang bukankah kami sudah bercerai, bantu hatiku agar tak tersesat ya Alloh, aku tidak boleh begini terus, mampukan aku tanpanya, bantu aku ikhlaskan dia, bantu aku hilangkan semua sakitku?” lirih Nila lagi memegangi dadanya menahan sesuatu yang tidak bisa Nila mengerti.
Tidak bisa Nila jelaskan bagaimana, semakin Nila ingin melupakan, semakin Baba dan Amer menasehati, semakin kuat juga Nila terbayang akan Rendi. Padahal Nila sendiri merasa kesal dan sakit jika mengingat cerita nenek dan semua pengorbananya dalam penantian.
“Tidur Nila… tidur!” ucap Nila sendiri berusaha mengosongkan pikiranya. Untuk mengusir semua itu, mulut Nila pun komat kamit membaca doa hingga Nila tertidur.
****
Di tempat lain.
__ADS_1
“Aku yakin Amer dengar ucapanku, semoga dia mengerti dan tidak salah paham!” gumam Rendi sambil berjalan membawa kunci mobilnya masuk ke rumah.
Rendi langsung menuju ke kamar mandi melepas pakaian yang tadi dia pakai.
Pakaianya bau Alkohol dan bau rokok, meski Alkohol mahal, tapi tetap saja berbau. Rendi kan dokter, dia memang tidak mengomentari atau melarang kawanya, tapi Rendi tidak suka. Bahkan sesampainya di rumah Rendi langsung mandi.
Sebelum berangkat memenuhi panggilan Axel yang mendadak, sebenarnya Rendi juga sudah mandi dan sholat Isya. Tapi karena gurunya sama, seperti Nila, sebelum tidur, Rendi membersihkan dirinya, berwudzu, menyempatkan sholat sunnah dan menyempatkan surat Al Mulk.
Itu sebenarnya petuah dari Ummi agar kita tetap selalu dalam lindungan Alloh juga bekal saat kita nanti sudah meninggalkan dunia yang fana ini. Saat kita memejamkan mata untuk tidur, kita juga tidak pernah tahu, Alloh akan membangunkanya dalam keadaan apa? Itu sebabnya Nila dan Rendi diajarkan untuk membiasakan diri, beribadah sunnah sebelum tidur.
Akan tetapi, selama ini Rendi banyak bolongnya karena sibuk dengan karir dan ambisinya. Dia baru- baru ini saja, setelah dia tertampar masalah, merasa sakit dimarahi dan dijauhi semua keluarganya. Rendi kembali ingat pesan- pesan Ummi, Rendi jadi kesepian dan ingin kembali menjadi anak Ummi yang baik.
Dan sekarang, di atas sajadah di dalam kamarnya, Rendi pun memanjatkan doa yang sama.
“Aku menyadari kesalahanku ya Alloh, aku menyadari kebodohanku, aku salah, tolong maafkan aku?” lirih Rendi dengan setulus hati menyadari kesalahanya.
Rendi juga anak laki- laki satu- satunya yang jadi kebanggaan dan menaruh harapan tapi malah dia yang meninggalkan rumah dan jauh dari orang tua. Juga dia yang terus membuat Abi dan Umminya banyak berfikir dan khawatir.
“Setidaknya ijinkan aku membahagiakan Ummi dan Abi ya Alloh, tolong ampuni aku?” lirih Rendi lagi tiba- tiba hatinya sakit membayangkan hal yang jauh. Kali ini, Rendi pun dengan mantap ingin mengakhiri masa lajangnya.
“Rasa ini setiap saat semakin kuat, jika ini naafsu, tolong bantu kikis. Tapi jika ini anugerah darimu, permudah jalanya ya Alloh?Aku sudah berusaha meminta maaf pada Nila. Kalau memang Nila bukan jodohku, aku ikhlas, tapi bantu aku lupakan dia tanpa ada dendam dan permusuhan, perbaiki hubungan kami, ijinkan aku kembali merajut silaturrahim yang baik dengan keluarga mereka. Berikan keikhlasan untukku, dan tunjukan jodoh terbaikku, jauhkan aku dari orang- orang yang salah,” batin Rendi dengan tulus.
Di hadapan Alloh, kini Rendi pun pasrah sepenuhnya, melepaskan semua ambisi dan egonya, menyadari dirinya memang hanya manusia yang tak bisa apa-apa dan banyak dosa. Rendi lalu teringat Valen, kenapa Valen tiba- tiba datang lagi, kenapa juga dia tiba- tiba menjadi pasangan dansanya, padahalan sebelumnya dia bersama Axel. “Apa mereka sengaja?” gumam Rendi berfikir.
“Huuuft…, tapi aku sudah benar- benar tidak ada rasa denganya,” batin Rendi lagi.
__ADS_1
Walau tak sengaja, dalam bayanganya, pun tergambar perbedaan Vallen dan Nila. Vallen memang jauh lebih mandiri, dewasa matang, cakap dan juga cantik. Vallen pula teman Rendi yang tahu perjuangan Rendi.
Vallen juga yang terus mendekati Rendi yang diam dan juga dingin. Vallen juga yang tahan dengan cueknya Rendi.
Dia juga rela melakukan apapun untuk Rendi dulu. Bahkan Vallen pernah mengajak Rendi untuk kaawin lari agar orang tuanya merestui. Bahkan pernah mengatakan rela menyerahkan tubuhnya untuk dia. Meski begitu saat itu Rendi memilih tidak. Rendi tetap teguh memilih fokus sendiri daripada harus melanggar keyakinanya.
Tidak seperti Nila yang di luar terlihat lemah tapi saat di dekati ternyata judes. Jika Vallen dulu yang mendorong Rendi menjauh dan membangkang orang tua, tapi Nila amat disayang ibu dan bapak juga kedua adiknya.
“Aku harus hati- hati dan tidak boleh terlena lagi?” gumam Rendi kemudian menyimpulkan.
Saat Rendi diam menangkupkan wajahnya dan membaca Alfatihah, ponsel Rendi berbunyi
“Siapa lagi, sih? Ini kan sudah malam?” gumam Rendi sedikit kesal, dia paling tidak suka orang lain tidak sopan menelpon malam- malam.
Meski begitu, dia tidak mengacuhkan panggilan dan tetap memenuhi kewajiban menjawab. Rendi pun segera bangun tanpa melipat sajadahnya dan melihat ponselnya.
“Syamsul?” gumam Rendi, seketika itu dadanya langsung berdebar dan segera mengangkat telponya dari adik iparnya. Tumben sekali, Syamsul yang telepon Rendi, biasanya Aisyah, apalagi tengah malam.
“Baik… iya, Abang segera pulang. Di ruang apa? Nomor berapa?” tanya Rendi panik ke adik iparnya di balik telepon. Setelah seseorang menjawab pertanyaan Rendi, Rendi segera mematikan ponselnya.
Dan saat itu juga, walau sajadahnya masih terhampar, walau masih mengenakan sarung dan baju koko, Rendi bergegas setengah berlari menyambar jaketnya. Tidak peduli harus melawan dingin dan membelah jalanan yang gelap, malam itu Rendi langsung melajukan mobilnya kencang menuju ke kampong halamanya. Syamsul telepon, Abinya sesak nafasnya kambuh dan dibawa ke rumah sakit.
“Huuft, Abi…,” lirih Rendi hatinya langsung hancur mendengar Abinya sakit, beruntung perjalanan malam tidak macet, Rendi menginjak pedal gas dengan mantap. Rendi tidak bisa berfikir apapun kalau sampai bayangan dia terjadi, saat ini, bahkan dia sedang membuat Abi dan Umminya kecewa.
Rendi tidak mau, Abinya meninggalkan dia saat dia masih belum memaafkannya, dan marah. Sambil memutar setir mobil sesekali Rendi menggigit kuku jarinya kaena saking geroginya dan Paniknya Rendi, bahkan tanpa ada yang melihat, Rendi menitikkan air mata.
__ADS_1
“Abi tolong kuat, please tolong ya Alloh tolong Ayahku. Semoga semua akan baik- baik saja, sehat- sehat Abi….Rendi akan patuhi semua mau Abi,” batin Rendi bertekad.