
Pagi itu, matahari bersinar cerah, tak ada kabut ataupun mendung, apalagi rintik hujan. Yang terasa hanya sentuhan sang mentari yang hangat mengusir sel- sel malas yang bersemayam dalam diri.
Yang terasa di hati Nila hanya semangat, semangat menjalani pagi dan memulai lembaran barunya. Lembaran baru menyandang status mahasiswi, bak naik satu tahap, buka jendela dan melihat dunia luar yang tidak pernah dia tapaki.
Pendidikan sekolah menengah Nila jalani di luar negeri di pesantren yang ketat, seharusnya dilanjut seperti Hanan. Akan tetapi Nila memutuskan pulang. Giliran pulang berharap dekat dengan keluarga dan hidup normal, Nila ternyata lanjut di pesantren orang Tua Rendi, lebih ketat lagi.
Jadi walau Nila sudah 6 tahun jauh dari orang
tua, ini adalah pertama kalinya, Nila akan menjalani kehidupan yang lebih luas. lebih beragam, dan yang pasti dalam keadaan yang lebih dewasa.
Nila pun sudah berdandan rapih, tidak banyak memakai polesan make up karena Nila memang tak terbiasa ber make- up, hanya krim wajah yang menutrisi kulitnya juga pelindung matahari yang melindungi kulitnya agar tetap sehat.
Parfum pun tak ia pakai. Nila tahu, dirinya tidak ingin terlalu mencolok dengan wewangian di tempau umum yang banyak lawan jenis, yang justru akan menimbulkan hal negatif. Nila hanya memakai deodorant agar bau keringatnya tak merugikan orang lain.
Nila diajari yang penting tidak jorok, cukup memakai pewangi pakaian dari maid yang sudah menyampurnya saat menyetrika. Padahal parfum mahal berjajar di lemarinya, apalagi koleksi milik Jingga, sudah dipersilahkan untuk Nila. Buat Nila itu untuk nanti saat dia bersuami, juga berkumpul bersama keluarga dan teman terdekatnya.
Penampilan yang begitu sederhana walau Nila terlahir dari keluarga konglongmerat, karena Nila hanya memakai kemeja berwarna putih polos, rok hitam juga jilbab segiempat yang menutup hampir seluruh dada dan perutnya. Pakaian itu memang aturan selama 3 hari pertama mereka akan orientasi bersama kakak tingkat mereka. Meski begitu, semua kesederhanaan itu tak menyurutkan pesona Nila, yang begitu ayu dan menenangkan saat dipandang.
Setelah hampir 2 minggu, Nila dan peserta didik baru menunggu, kini akhirnya tiba Nila memulai perkuliahan.
Sebelumnya mereka memang pernah berangkat ke kampus untuk daftar ulang mahasiswa, juga mengurus terkait administrasi dan beberapa sosialisai biaya. Akan tetapi itu momen berbeda, karena belum ada interaksi antar mahasiswa dan dosen. Lebih ke bertemu bagian administrasi juga didampingi orang tua.
Hari ini, hari pertama Nila akan masuk sebagai mahasiswi semester satu, masuk ke ruang kelas pembelajaran, dan berkumpul dengan mahasiswa lain.
"Ba...," tutur Nila pelan.
"Ya, Naak?" jawab Baba menoleh.
Hari pertama masuk kuliah, Baba Ardi walau sudah tua tidak ingin melewatkan momen berharga putrinyq. Baba menyempatkan mengantar Nila sebelum ke kantor. Kini mereka duduk bersebelahan di dalam mobil besar dengan harga Milyaran itu.
Nila pun menggenggam tangan hangat dan kuat, yang selalu terkucur kasih sayangya itu.
"Ba...makasih udah antar Nila. Seperti yang sering Nila pinta dan sampaikan ke Baba. Percaya ya sama Nila. Nila tidak ingin seperti Kak Jingga. Tidak perlu ada bodyguard atau mata- mata," tutur Nila lembut sembari mengelus tangan Baba.
Nila tahu bagaimana sifat Babanya. Sepanjang hari setiap mereka bersama, Baba selalu memberikan ceramah panjang kali lebar kali tinggi ke Nila untuk jaga diri, tidak terjerumus pergaulan yang salah atau jatuh cinta pada orang yang salah, harus cerita kalau ada perundungan atau yang bersikap tidak baik ke Nila, juga menawarkan bodyguard seperti Jingga dulu.
__ADS_1
Akan tetapi, Nila tidak ingin seperti Jingga. Bahkan Nila tidak ingin memperlihatkan dirinya Putri Gunawijaya. Nila ingin mengukir kisahnya sendiri. Itu sebabnya dia pun meminta pengertian ke Babanya.
Tentu saja Baba diperlakukan seperti itu menjadi tersentuh. Nila memang berbeda dari Jingga dalam hal bertutur kata dan meminta. Baba pun tersenyum dan mengangguk.
"Ya Nak. Baba percaya, Baba percaya anak Baba bisa jaga diri. Baba hanya terlalu sayang pada putri putri Baba, Baba tidak rela kamu, Kak Jingga ataupun Vio sampai terluka atau menangis karena orang lain. Tapi kalian rupanya anak Buna. Kalian persis seperti Buna kalian, lebih suka mandiri, sebenarnya Baba tidak suka, Baba jadi terlihat tidak berguna," tutur Baba jadi melow.
"Baa... kata siapa Baba tidak berguna? Baba itu ayah terkeren di dunia ini buat Nila. Buna kan juga cinta banget sama Baba," jawab Nila membesarkan hati Baba
"Ck.... Pesan Baba. Kelak kalau bertemu dengan jodoh, bersama suami kalian, bermanjalah sedikit, jangan terlalu mandiri!" ucap Baba lagi.
"Baba.... kenapa harus menunggu bertemu jodoh, Ba. Nila kalau butuh bantuan Baba pasti akan kasih tahu Baba, Nila juga banyak manja kan ke Baba?" jawab Nila lagi sekarang memeluk erat lengan Baba.
Baba pun mengangguk tersenyum senang. Baba membalas menggenggam tangan halus putri cantiknya itu, lalu mengecup kening Nila hangat.
Nila pun menyandarkan kepalanya ke Bahu Babanya hangat. Tidak lama, Nila mencium telapak tangan Baba setelah pak Supir menghentikan laju mobilnya.
"Ya sudah...Nila berangkat ya Baa... assalamu'alaikum," pamit Nila.
"Waalaikumsalam.... Semangat kuliahnya Naak!" jawab Baba melepas Nila berangkat ke kampus.
Baba pun tersenyum mengangguk, dan setelah melambaikan tangan Nila berjalan tegap dan riang masuk ke dalam pagar kampus hingga tak terlihat lagi dalam pandangan Baba.
"Aku sudah tua ya Pak? Anak keempatku sudah kuliah dan tidak ingin diawasi aku?" gumam Baba ke supir sekaligus orang kepercayaanya itu.
Supir pun mengangguk dan tersenyum. Baba kan memang sudah tua, hatinya saja yang masih ingin selalu muda.
"Tapi Tuan Ardi tetap selalu tampan dan sehat Tuan!" jawab supir memuji Baba.
"Kamu bisa aja. Satu bulan ini tetap kirim orang untuk awasi putriku!" ucap Baba memberi perintah.
"Siap Tuan!"
Rupanya walau di depan Nila bilang iya. Baba tetap belum percaya Nila akan baik- baik saja di kampus. Mereka berdua kemudian melesat ke kantor.
*****
__ADS_1
"Bismillahi tawakaltu'alalloh, la haula wala quata illa billah, rodzitubilla hirobba wabil islami diina wa bi muhammadinnabiya wa roshula...."
Sepanjang langkah, mencari aula tempat mahasiswa berkumpul, hati Nila terus membaca doa, Nila tidak banyak jelalatan matanya toh tidak ada yang Nila kenal karena dia mahasiswa baru. Hingga Nila tidak sadar ada pasang mata yang mengawasinya.
"Ehm....," dehem seseorang sembari memencet klakson, karena ingin memarkirkan sepeda motornya dengan sengaja memalang di depan jalan Nila.
"Astaghfirullah!" ucap Nila dengan spontan karena kaget dan melotot melihat siapa dia.
Pria itu belok seenaknya lalu memberhentikan motornya dan membuka helmnya.
"Pria ini?" gumam Nila menelan ludahnya kesal setelah melihat wajah Farel.
Sayangnya Farel bersikap acuh. Nila pun menatapnya dongkol.
"Kenapa Bu liatin saya?" jawab Farel dengan muka tengilnya
Tentu saja Nila mendelik dipanggil Bu dan menatap Nila aneh.
"Bu?" gumam Nila, "Siapa juga yang liatin kamu? Ini tuh kampus jalan juga lebar kenapa harus minggir- minggirin orang dan bunyikan klakson keras- keras?" protes Nila ke Farel.
"Suka- suka akulah, motor aku!" jawab Farel enteng, sembari memasangkan headset di telinga dan berlalu begitu saja.
"Hiiiishh...," desis Nila geram, ada ya orang seperti Farel. "Hh.. Astaghfirulloh, sabar...Nila. Sabar!" batin Nila menahan sabar.
Nila pun tidak mau mempermasalahkan lagi, Nila ikut berjalan menuju ke aula tempat berkumpul.
Di Aula rupanya teman seangkatan dan satu fakultas dengan Nila sudah banyak yang datang. Karena memang disuruh seragam, maka semua bajunya pun sama. Berkemeja putih dan celana hitam. Beberapa ada yang berhijab seperti Nila, beberapa ada yang tidak.
Di tengah sekelompok teman- teman Nila, rupanya Hanan sudah tiba lebih dulu. Hanan juga terlihat dikelilingi teman- teman barunya. Nila pun tidak ingin mengganggu dan memilih mengambil tempat duduk sendiri.
Seketika itu, Nila mengedarkan pandanganya, dari dindinh kaca aula, terlihat kampus mereka begitu luas, sejuk dan menyenangkan. Tiba- tiba hatinya berdebar. Ingatanya kembali terpaut pada mantan suaminya.
"Sejak pertemuan siang itu? Daftar ulang dan beberapa kali aku ke sini, aku tidak melihat Pak Rendi lagi, apa hari ini aku akan bertemu denganya? Apa dia akan kembali memintaku rujuk?" gumam Nila melamun.
"Assalamu'alaikum...," salam seseorang mengagetkan Nila.
__ADS_1