
Berbeda dengan keadaan di rumah Rendi yang sepi sunyi bahkan begitu mencekam dan terkesan horor. Padahal tak ada hantunya, luasnya juga ukuran rumah normal dua lantai, atas ada 2 kamar tidur, satu ruang untuk mushola serta perpustakaan. Bawah 1 kamar tamu, 1 kamar pembantu, ruang tengah, ruang makan, dapur, gudang dan pantry.
Di rumah Baba yang tiga lantai, ada belasan kamar, dan juga berbagai fasilitas seperti tempat gym, teater, coffe corner, play ground tempat bilyard, bahkan juga ada mini klinik, malah terasa hangat dan sangat ramai. Gelak tawa, terdengar di berbagai sudut rumah.
Riuh pertengkaran kecil dan makian Iya Iyu , apalagi kalau ditimpali para kakak yang senang menggoda begitu kuat mendominasi.
Disusul suara menggemaskan dan celotehan adik Vio atau baba suka memanggilnya si ayang uung. Walau sesekali tangisan dan teriakan terdengar semua itu tak mengurangi kehangatan dan keindahan keluarga Baba.
Ditambah, baik Ikun dan Amer sekarang sudah menetap di Ibukota. Tidak jarang teman- teman mereka berkunjung. Jingga yang tadinya bolak balik luar pulau dan menempati rumah suaminya juga sekarang tinggal di rumah Baba karena mau lahiran.
Mereka pun selalu kompak menghadapi sesuatu, saling melindungi dan menyayangi.
Termasuk hari ini. Baba sebagai pemimpin yang tadinya otoriter dan mendominasi, mulai demokratis, terbuka menerima masukan dari anak- anaknya. Ya... walau sikap semaunya masih begitu kentara.
Meski begitu, Baba sekarang tak malu mengaku bersalah pada putra putrinya jika memang Baba salah. Dan Baba tetap selalu menjadi Baba panutan yang bertanggung jawab dan selalu berdiri paling depan untuk anak- anaknya.
Hari ini, Baba menemui Om Farid, menyatakan permohonan maaf pada keluarga Rendi dan Om Farid , juga memberikan putusan menghendaki perpisahan Rendi dan Nila.
“Baba... kok belum pulang, ya Buna?” tanya Nila lembut ke Bunanya.
Nila dan Buna berada di ruang tengah, ruang favorit keluarga mereka berkumpul yang di depanya terdapat dinding kaca besar dan bening menghadap ke kolam dan taman.
Walau semalam, semua sudah sepakat, Nila disuruh fokus belajar untuk mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru. Karena, meski Baba bisa membuat anaknya diterima di semua universitas negeri mengandalkan uang sumbangan, banyak universitas swasta yang pemiliknya kenal baba. Tapi Buna tetap mengajarkan, akan menjadi sebuah kebanggan di hati Nila sendiri, saat Nila bekerja keras dengan otak dan tanganya serta berdoa. Dia mendapatkan prestasi dengan jalan yang bersih. Itu akan lebih terhormat dan kekal.
Uang yang banyak bisa disumbangkan ke tempat yang membutuhkan, juga investasi masa depan. Ya, Buna selalu menanamkan itu pada Putra- putrinya.
Dan tentang semua masalahnya, Baba menjamin semua diurus Baba dan Amer.
Tapi meski begitu, Nila tetap gelisah dan kepikiran. Hatinya tetap terpaut akan pria yang selama ini dia damba, meski belum pernah menjalin hubungan intens dalam waktu yang lama, ada rasa sedih saat kata pisah menjadi putusan yang menodai perjalananya. Nila berniat curhat ke Buna.
“Kenapa memangnya? Baba kan sama Pak Dhe Farid teman lama, sekarang sudah sama- sama sibuk, mungkin ini kesempatan mereka bertemu, jadi ada banyak yang mereka bahas!” jawab Buna.
“Baba dan Pak Dhe tetap akrab kan Bun, meski Nila dan Mas Rendi berakhir tidak baik? Maafin Nilaa ya Bun, Bu Dhe Anya nggak marah dan benci Nila kan?” tanya Nila pelan, dengan polosnya.
“Hhh...,” Buna yang sedang memotong tangkai bunga mawar warna warni, hendak ia susun dalam vas pun menghela nafasnya. Buna menghentikan pergerakan tanganya dan menoleh tersenyum pada Nila.
Ternyata hati Nila sangatlah lembut, dia masih berfikir dia merasa bersalah dan takut menyakiti orang lain. Padahal menurut orang lain, dirinyalah korban sesungguhnya yang tersakiti.
“Nggak akan ada yang benci, Nak. Nggak ada yang marah!” jawab Buna.
Nila pun tersenyum mengangguk.
“Dengar Nak!” tutur Buna lembut meraih tangan Nila dan menggenggam tangan Nila.
“Ya Buna!” jawab Nila.
“Buna dan Bu Dhe Anya, juga Baba dan Pak Dhe Farid, kita berteman itu sudah sejaaak lama, puluhan tahun. Bahkan Baba dan Pak Dhe sejak kecil,"
"Kami berteman dengan visi misi yang jelas, tidak hanya karena harta atau kasta, apalagi rupa. Kami saling menyayangi, saling mengingatkan dalam kebaikan dan menegur dalam jika ada yang salah. Persahabatan dan hubungan yang kita bangun, bukan hanya tentang kerja sama pekerjaan saja atau perjodohan, kita saling menyayangi. Jadi kamu nggak perlu khawatir!” tutur Buna menjelaskan.
__ADS_1
“Iya Buna!” jawab Nila mengangguk.
Buna kembali tersenyum dan meraih pipi Nila yang lembut lalu mengusapnya pelan dengan penuh kasih sayang.
“Jangan pikirkan apapun, belajar ya. Stay happy oke?”
“Iya Buna!”
“Kalau happy senyum dong!” pinta Buna lagi karena melihat raut kesedihan terpendam dalam pancaran mata Nila.
Nila pun mengangguk tersenyum. Buna pun kembali mengambil gunting dan tangkai bunga mawar pink dan putihnya yang dia beli dari petani bunga langgananya.
“Buna,” panggil Nila lagi.
“Hmmm... Ya. Apa Nak?”
“Dulu Buna istikhoroh nggak waktu mau menikah dengan Baba?” tanya Nila lagi dengan polosnya.
“Ehm...,” Buna langsung berdehem gelagapan. Kelemahan Buna adalah jika ditanya anak- anaknya tentang proses menikahnya dengan Baba. Bagi Buna itu aib seorang Baba yang sangat memalukan jika diceritakan ke anak- anaknya.
“Kenapa memangnya, Nak?” tanya Buna balik bertanya mengalihkan pertanyaan Nila.
“Kalau istikhoroh itu? Alloh kasih jawabanya cepet atau lama? Biasanya berupa apa?” tanya Nila lagi.
“Oh..itu emm..!” jawab Buna mengangguk dan memijat keningnya, Buna sempat terskak tidak bisa menjawab kalau ditanya macam- macam lagi. Buna kan dulu nggak ada istikhoroh- istikhorohan, semua karena akal bulus Baba dan doa Oma Rita.
“Iya Buna... kata Ummi... istikhoroh akan membuat hati kita teguh memilih. Ummi selalu ajarkan ke Nila, saat bingung, Nila harus selalu menggantungkan pilihan pada Alloh lewat istikhoroh, kata Ummi. Ada beberapa hal yang menimpa kita, yang itu terkesan buruk tapi sebenarnya itu yang kita butuhkan, yang Alloh beri untuk menempa kita! Nila udah istikhoroh, hati Nila tetap masih gundah, Buna!” tutur Nila mengingat semua nasihat Ummi dan mengutarakan gelisahnya malu- malu.
Buna yang mendengarkan semua penuturan Nila pun mengangguk tersenyum. Ternyata sedekat itu, ummi dan Nila.
“Kata Ummi benar, Nak. Tapi memang apa yang membuat kamu ragu dan gundah?” tanya Buna.
Nila menelan ludahnya tidak bisa menjawab. Nila tidak mengerti, tenggorokanya tersendat hendak berkata. Nila sendiri tidak bisa menjelaskan. Dia sedih karena apa?
Yang Nila rasa, Nila nyaman hidup bersama adik- adik Rendi dan ibunya. Santri Ummi hampir semuanya memperlaakukan Nila begitu baik.
Abi dan Ummi jika sillaturrahim ke sesama Kyai atau gurunya atau ada acara pengajian juga mengajak Nila dan selalu mengenalkan Nila sebagi menantu tercantiknya walau Rendi tak pernah muncul.
Malam- malam Nila berada dekat dengan keluarga Rendi selalu dihiasi mimpi dan angan hidup bahagia bersuamikan Rendi yang akan mengayomi dan melindunginya, tapi kenyataannya, Rendi mengacuhkanya dan tak menganggap keberadaanya.
Satu sisi Nila mempunyai ego dan harga diri tidak mau dilecehkan atau disakiti Rendi.
Nila juga sepakat menjauh dari Rendi, tapi entah kenapa kata pisah yang sesungguhnya tetap membuat Nila sakit. 3 tahun bersama Fatma, Aisyah dan Ummi cukup banyak memberi Nila warna. Setelah ini mereka bukan kakak adik dalam keluarga dekat lagi.
“Nggak apa- apa, Buna. Mungkin Nila kurang banyak berdoanya,” jawab Nila tidak mau cerita ke Buna tentang perasaanya.
“Hhh... kamu masih muda, Sayang. Di kehidupan kita nanti, kita memang akan dipertemukan dengan situasi yang membuat kita harus memilih dan semua akan ada konsekuensinya. Dan benar kata Ummi, harus mempertimbangkan sisi baik dan buruk, bukan hanya ego kita. Pertemuan dan perpisahan itu pasti akan terjadi, pahit dan manis pasti akan kita hadapi, kamu nanti akan mengerti!” jawab Buna menerangkan lagi.
Nila masih diam menyerap kata Buna dan memasukan dalam bingkai hatinya agar selalu melekat dalam langkah Nila. Belum Nila menjawab, terdengar langkah dan salam dari arah luar.
__ADS_1
Nila dan Buna menoleh, Baba datang sepulang dari rumah Pak Dhe Farid.
“Assalamu’alaikum Bun...,” sapa Baba.
“Waalaikum salam,” jawab Buna dan Nila.
Buna pun bangun hendak menyapa Baba dan mencium tangan Baba.
“Si Uung mana?” Sayangnya sekarang Baba bukan menghampiri Buna, yang utama yang Baba cari anak bungsunya yang gemoy dan menggemaskan.
“Vio Ba...Vio!” jawab Buna kekeh ingin anaknya dipanggil Vio agar terdengar gaul.
“Heleh.. Uung bukan Vio.. dimana dia?” tanya Baba.
“Tidur, baru aja. Jangan dibangunin!” jawab Buna cemberut.
“Ya... ini Baba belikan boneka lucu banget bisa gerak- gerak!” jawab memberikan bingkisan bonea kaktus yang bisa bergoyang.
“Ck.... jajan terus Baba nih. Mainan udah menggunung Ba! Kebiasaan!” tegur Buna lagi.
“Ya nggak apa- apa! Bisa kita sumbangkan kan! Bekasnya?” jawab Baba enteng.
Nila yang jarang pulang hanya senyum- senyum melihat Baba dan Bunanya bertengkar kecil.
Baba pun merebahkan badanya ke sofa dekat Nila dan menggulung lengan kemejanya.
Nila tidak sabar ingin bertanya, tapi Nila ragu dan gugup.
“Gimana Kak Farid Ba?” celetuk Buna bertanya mewakili Nila.
“Nggak ada masalah, biar Farid yang ngomong sama Abi Yusuf. Dah kita sepakat Nila pisah dari Rendi. Papa nggak mau berurusan dengannya lagi!” jawab Baba tegas.
Baba yang dulu yang sangat sayang pada Rendi, kecewanya sangat besar saat tahu Rendi berlaku tidak baik. Bahkan kecewanya Baba melebihi Nila.
“Gleg!” mendengarnya Nila langsung tercekat ada rasa sesak yang mendera.
Meski dia tahu, baba bersikap begitu untuk kebahagianya, tapi Nila merasa ada yang mengoyak hatinya. Tidak bisa dijabarkan.
Sementara Buna hanya mengangguk.
“Jangan temui Rendi lagi, Nila. Kamu anak Baba. Ingat itu! Tidak penting laki- laki pengecut seoerti Dia. Baba kecewa!” ucap Baba tegas ke Nila.
Nila pun mengangguk tanpa berkata. Melihat Baba terlihat begitu marah membuat hati Nila bergetar takut. Nila tahu semua untuk kebahagiaanya.
*****
Oh ya Kak. kalau suka nupel aku, like koment dan vote ya.
Satu lagi.
__ADS_1
Kenalin karya seniorku. Kak Rini Sya. Keren!