Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Baba dan Buna masih saling mendiamkan.


Baba diam sakit hati atas sikap Buna. Buna berani menentang Baba mematahkan aturan Baba ke Nila. Buna mengambil keputusan mengijinkan Nila kuliah. Padahal Baba sangat yakin kuliah adalah sebab musabab, jalan Rendi dan Nila dekat.


Sementara Bunda Alya mendiamkan Baba. Buna ingin Baba berfikir, setiap mengambil keputusan itu seharusnya jangan diambil dengan emosi.


Harusnya berkaca dari tiga tahun lalu saat hendak jodohkan Jingga. Baba sendiri yang dulu kekeh menikahkan Nila sebagai pengganti Jingga. Padahal Buna dan yang lain menentang, dan hasilnya tidak baik.


Sekarang, buat Buna bukan tentang setuju atau tidaknya Rendi dan Nila balikan tapi Buna ingin dibicarakan tanpa marah.


Saat ada Uung, Baba memilih bermain dengan Uung mengacuhkan Buna, Buna pun memilih ke dapur, menyibukan diri masak dan ngobrol. ART di rumah tidak ada yang tahu jika Tuan dan Nyonya besar yang keseharianya saling bucin sampai punya anak 7 itu sedang bersitegang.


Sampai akhirnya Uung tidur, Baba tidak ada teman lagi di rumah, Baba pun memilih pergi ke kantor. Nila, Iya Iyu dan Uung kan masih butuh biaya hidup.


Buna yang melihat Baba pergi hanya menghela nafasnya.


“Apa yang sebenarnya Mas Ardi inginkan? Aku tahu dia menyesali keputusannya menikahkan Nila dulu, tapi bukan begini caranya kan?” gumam Buna saat melihat mobil Baba meninggalkan rumah tanpa supir.


Selepas Buna pergi, Buna memilih menemani Oma Rita. Sebagai menantu satu- satunya Buna memperlakukan Oma Rita lebih dari perhatian Buna ke Oma Mirna.


Bahkan 2 bulan terakhir ini, setelah Oma pulang dari rumah sakit, bergantian dengan Nila, Buna lebih mendahulukan membantu Oma Rita mandi ketimbang memandikan Uung si bungsu.


Setelah mandi, Buna dengan telaten bantu Oma sarapan, ajak jalan- jalan juga melakukan fisoterapi agar Oma kembali sehat.


“Alya…,” panggil Oma Rita lembut saat Buna ajak Oma Rita ke depan aquarium.


“Ya, Mah!” jawab Buna, saat tidak ada anak- anak, mereka memanggil dengan sebutan lain.


“Maafkan Ardi yah!” tutur Oma Rita tiba- tiba.


Buna kemudian mengernyit. Apa Oma Rita tahu Buna dan suaminya bertengkar? Padahal kan Baba dan Buna sepakat kalau bertengkar jangan sampai Oma Rita tahu.


“Maaf kenapa, Mah? Mas Ardi memang kenapa?” tanya Buna.


“Mungkin kalau bukan karena Ardi, kamu sekarang seperti Mirra, bisa menjadi dokter spesialis yang hebat, membuat bangga Ibumu, maaf karena Ardi kamu hanya jadi ibu rumah tangga,” tutur Oma lagi di luarr dugaan Buna.


Buna pun mengangguk tersenyum lembut ke Oma, kemudian duduk menepi ke Oma.


“Maah, Alya udah jadi Nenek, kenapa Oma tiba- tiba bahas ini? Tidak ada penyesalan sedikitpun di hati Alya, Mah. Alya mencintai Mas Ardi, Mas Rendi setia dan memperlakukan Alya dengan hormat. Alya bahagia hidup dengan Mas Ardi, Alya bangga jadi anak Mamah, dan Alya bersyukur banget Alloh kasih Alya, putri- putri yang cantik dan putra- putra yang hebat!” jawab Buna tenang.


“Tapi apa kamu juga berfikir demikian akan nasib Nila dan Jingga?” tanya Oma Rita lagi.


“Gleg!” Buna pun langsung diam. Buna bingung jawabnya.


“Maksud Mamah apa?”


“Menurutmu? Jingga dan Nila akan bahagia menjadi ibu rumah tangga atau berkarir? Kamu ingin mana?” tanya Oma lagi.


Mendengar kata Oma, Buna pun tersenyum mengerti.


“Maah, Alya memang yang melahirkan mereka, Alya memang yang mengandung mereka dan membesarkan mereka. Tapi akan selalu ingat, mereka punya kehidupan sendiri, mereka punya mimpi sendiri, Alya tidak akan melarang atau menyuruh mereka seperti yang Alya mau! Alya hanya berusaha kasih gambaran mereka akan dunia di depan seperti apa? Apa mereka akan memilih jadi Ibu Rumah tangga atau bekerja. Yang penting Alya selalu berdoa, baik Jingga sampai dengan Vio, semua berada di jalan Alloh, jangan sampai ada salah jalan. Terserah mereka jadi apa, asal jangan jadi penjahat!” jawab Buna panjang.


Oma mengangguk.

__ADS_1


“Mama kok semalam mimpi Nila!” tutur Oma Rita tiba- tiba.


Buna langsung mengernyit. “Mimpi apa, Mab?” tanya Buna Alya.


“Entahlah apa artinya? Mama kok lihat Nila nggak jadi dokter? Nggak juga jadi nutrisionit, dia malah jadi petani, anaknya banyak kaya kamu! Oma jadi prihatin melihatnya,” jawab Oma.


Buna pun menelan ludahnya, Buna belum berani cerita kalau Nila dan Rendi ternyata malah saling mendekat, di saat Nila mulai memasuki kuliah.


Entah apa arti mimpi Oma, tapi kan Rendi juga orang penting, pendidikanya tinggi, kalaupun endingnya Nila jadi ibu rumah tangga seperti Buna, kan bukan jadi petani. Tapi Buna tidak mau memperpanjang Oma khawatir.


“Mimpi itu bunga tidur Mah, Mamah terlalu mengkhawatirkan Nila mungkin, sudah jangan dipikrkan lagi, jadi petani asal sukses kan nggak apa- apa!” jawab Buna.


“Iya, semalam dia tidak pulang, Oma kangen sepertinya!” jawab Oma lagi mengerti maksud Buna.


Buna menyeringai. Bahkan Oma yang jadi nenek ternyata punya firasat, Nila datang di mimpi Omak arena Nila sedang terkena masalah. Buna malah semalam dilanda curiga.


“Nanti insya Alloh, pulang, Oma!”


“Dia harus lulus ya kuliahnya” sambung Oma lagi.


“Aamiin, udah, Oma nggak usah mikir macam- macam. Insya Alloh, lulus,” jawab Buna menghibur Oma.


Akan tetapi di hati Buna timbul pertanyaan lain. Kenapa Oma sampai mengkhawatirkan Nila. Apa ini pertanda, kalau memang Rendi dan Nila akan rujuk. Tapi apa iya Nila akan terhambat kuliahnya karenaa Rendi. Buna pun menelan ludahnya, jadi punya ide.


****


Flashback sebelumnya.


“Apa sih miscall- miscall,” gumam Nila kesal ponselnya berdering ditelpon Rendi.


Nila pun mematikan ponselnya sampai kuliah berakhir, bahkan Nila kembali memblokir nomer Rendi, kali ini dua dua ya


Pak Iman menjemput Nila tepat waktu. Hingga Nila pulang cepat.


Meski begitu sepanjang Nila berjalan, Nila jadi tidak tenang, di parkiran mata Nila yang terbiasa tenang menunduk atau menatap ke depan jadi jelalatan. Mobil besar Rendi yang dia lihat pagi tidak terparkir.


Dan Nila melihat ada mobil polisi meninggalkan gerbang kampus.


“Gleg!” seketika itu Nila langsung ingat ancaman Celine.


“Apa akhirnya Farel dilaporkan polisi? Tapi kenapa mobil Mas Rendi tidak ada?”


Nila sekarang malah jadi berfikir banyak.


Tapi karena Nila sudah waktunya pulang dan tidak ingin membuat tambah masalah dengan Baba. Nila menyimpan semua tanyanya dalam hati.


Terlepas dari apapun yang terjadi dengan Rendi, Nila harus pulang, tidak ada alsan lagi Nila menginap di rumah Jingga sekarang.


“Kalau memang pihak kampus dan polisi memerlukan kesaksianku, aku dipanggil secara resmi kan?” batin Nila jadi berfikir kemana- mana.


Sesampainya di rumah, Buna ternyata sedang bersama Oma, adik- adik bersama maid dan guru privat ngaji mereka.


“Syukurlah Baba tidak di rumah, aman,” batin Nila.

__ADS_1


Nila segera ke kamarnya.


Tidak seperti Jingga yang dnegan mudah mengekspresikan perasaanya, bercerita dengan leluasa. Nila di kamar hanya pusing dengan pikiranya sendiri.


“Siapa si Livi ini? Berani sekali dia memberikan makanan dan surat cinta? Dia meletakan ini di ruang Mas Rendi itu berarti dia ke ruangan itu juga? Ish…?”


“Kenapa sesakit ini ya Alloh?”


“Tapi aku pengen tanya dia? Itu tadi ada mobil polisi? Celine itu siapa sebenarnya kenapa dia punya foto- foto ini? Aku harus gimana?”


“Baba kan marah, ke Mas Rendi, kalau aku cerita dan minta bantuan ke Baba, Baba malah akan jerumusin Mas Rendi.


“Ah. gimana ini? Tidak masalah jika memang orang lain tahu statusku, tapi bagaimana kalau Mas Rendi dipenjara? Ah kenapa aku mengkhawatirkanya? Nggak- nggak aku nggak boleh mikirin dia.”


Nila berperang sendiri, melawan pikiranya, Nila merasakan sesak yang teramat sangat, tapi Nila juga khawatir terhadap Rendi. Karena Nila tidak bisa mengekspresikan perasaanya, endingnya Nila menangis sendiri di kamarnya. Nila bingung bagaimana mengungkapkan semua khawatirnya tentang Rendi.


"Kenapa sesakit ini ya Alloh?"


Nila menangis sendiri hiingga pintu kamar Nila diketuk, Oma ternyata merindukanya dan ingin mengaji bersama Nila.


Nila pun segera menyeka air matanya. Pada Oma, Nila tidak boleh menampakan dirinya sedang sangat pusing. Buna dan Baba saja bisa menjaga apalagi Nila.


Nila pun keluar menemani Oma Rita. Hingga kebersamaan Nila dan Oma membuat focus Nila teralihkan.


*****


Di tempat lain, Fashback.


“Ck… ini dia balas wa berati dia on dong?” gumam Rendi jeli.


Di waktu setelah Rendi whastap Nila. Nila di grup belajar masih sempat membalas pesan temanya, itu berarti centang satu buman karena signal atau off ponsel.


Rendi berusaha mematahkan pikiranya dan mencona telepon lagi. Tapi gagal lagi.


“Aih… aku diblok lagi?” gumam Rendi akhirnya tahu dia diblok.


“Ck labil banget sih, kenapa aku diblok, Sayang? Bukankah hari ini kita baikan, harusnya kamu seneng kan? Oma setuju kita?” gumam Rendi mengartikan sendiri, saat Nila membiarkanya memeluk itu artinya mereka baikan.


Rendi jadi gemas sendiri, ternyata berhubungan dengan gadis muda, membuatnya dongkol dan harus ekstra sabar.


“Apa Baba memarahinya? Tapi kan jam siang tadi harusnya dia masih kuliah, dia belum pulang ke rumah kan? Dia kenapa memblokir nomerku. Aku harus gimana? Ck… harus nunggu besok ini?” gumam Rendi kesal sendiri mengacak- acak rambutnya.


Rendi kan sedang berbunga- berbunganya dan sangat ingin menghubungi Nila.


Ranya Rendi ingin meledak tidak tahan ingin terasambung komunikasi ke Nila juga ingin segerq menghampiri dan cerita semua yang dilalu di rumah Nenek.


Sayangnya Nila masih di rumah Baba, selain lewat telepon Rendi tidak berani mengampirinya.


"Ck nggak dibiarin kalau ngambek asal blok? Aku harus temui dia besok. Semoga Baba tetap membolehkan dia kuliah," guman Rendi. Rendi ingat besok jam siang Rendi mengajar di kelas Nila.


Rendi pun menelan ludahnya harus menahan semua gejolak di dadanya yang membara sampai hari esok. Rendi melajukan mobilnya cepat ke rumah.


Akan tetapi sesampainya di rumah, Rendi kembali dikejutkan dengan pemandangan di depan rumahnya.

__ADS_1


Ada satu mobil terparkir.


__ADS_2