Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Alhamdulillah


__ADS_3

Rendi tersentak dengan ucapan dan permintaan adik kandungnya. Tanpa, Fatma beritahu, jauh dari lubuk hati Rendi yang paling dalam, dia juga ingin sekali menemui Nila. Rendi juga ingin menatap Nila lebih lama, setelah dia tahu sebegitu menarik dan ayu Nila untuk dilihat. 


Akan tetapi Rendi belum cukup keberanian menemui Baba. Rendi sekarang malu, dan juga menyesal. Rendi mencoba merefleksikan diri saat menjadi Baba dan melihat dirinya yang berniat buruk. Pasti Baba marah. 


“Bang!” panggil Fatma lagi melihat Rendi terdiam dan meletakan sendoknya. 


“Hhhh...,” Rendi menghela nafasnya, Rendi bukan orang yang mudah mengakui perasaanya. 


“Bang Rendi masih sakit hati sama Mbak Jingga dan masih suka sama dia memangnya?” tanya Fatma lagi semakin dalam dan menelisik. 


“Nggak!” jawab Rendi tegas, akhirnya Rendi mau bicara. Rendi sangat tidak terima dikatai belum move on, baginya itu juga cukup memalukan dan lebih menghinakan. 


“Atau Bang Rendi punya tambatan hati dan perempuan lain?” tanya Fatma lagi. 


“Nggak!” jawab Rendi lagi. 


Fatma masih tidak mengerti lalu memperhatikan Rendi lebih seksama. “Bang Rendi nggak ada penyimpangan orientasi ..eksual kan?” tanya Fatma pelan. 


“Astaghfirulloh,, naudzubillah! Ngawur kamu! Nggak lah!” jawab Rendi lagi. 


“Hmm... aku adik Bang Rendi cerita aja sama Fatma!” tutur Fatma lagi. 


“Ck...!” Rendi malah berdecak. 


“Nila itu suka dan cinta lho, sama Bang Rendi? Apa Bang Rendi sama sekali nggak ada rasa ke dia? Kata orang cinta tumbuh karena terbiasa lho Bang!” ucap Fatma lagi memancing Rendi. 


Dan benar saja, mendengar kata cinta, Rendi langsung terpancing. 


“Cinta apaan? Baru juga sehari, dia sudah berjalan dengan pria lain senyum- senyum gitu, hhh...,” jawab Rendi cepat dengan ekspresinya yang penuh emosi, bahkan jakun di lehernya terlihat naik turun. 


“Uups..,” sementara Fatma yang mendengar jawaban Rendi yang penuh emosi langsung mendelik dan menyeringai, tapi kemudian tersenyum. 


“Bang Rendi lihat Nila jalan sama cowok?” tanya Fatma lagi. 


“Ya!” jawab Rendi tegas, “Katamu  dia solikhah, menjaga pandangan, seharusnya dia tahu masalah kita belum selesai seratus persen. Cinta apaan begitu kalau cinta dia harusnya bersedih, dia malah mungkin senang bercerai denganku, apa bedanya dia dengan perempuan lain!” jawab Rendi lagi sangat menggebu bahkan tanpa sadar dia berkata banyak dan menggerutu. 


“Ehm...,” Fatma pun langsung berdehem. “Bang Rendi kesal? Bang Rendi cemburu?” tanya Fatma lagi. 


“Gleg,” Rendi langsung menelan ludahnya gelagapan, seketika itu, Rendi juga langsung mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Rendi celingkukan dan tidak berani menatap Fatma. 

__ADS_1


Fatma pun semakin lebar tersenyumnya. 


“Masa sih? Tapi, Nila pernah cerita sama Fatma, kata Nila, Bang Rendi itu ganteng banget. Nila itu, suka sama disiplinya Bang Rendi, suka liatin foto Bang Rendi, bahkan katanya Bang Rendi seperti tokoh drama kesukaan Nila lho. Nila suka banget kok sama Bang Rendi!” pancing Fatma lagi sembari melirik Rendi. 


Mendadak, pipi Rendi memerah dan lubang hidungnya membesar  jakun Rendi juga naik turun. 


“Ck... helleh ngarang kamu,” jawab Rendi lirih 


“Hhh.. beneran Bang! Eh, apa pria itu lebih tampan dari Bang Rendi? Ya wajar sih, Nila kan masih muda, cantik pasti banyak yang suka!” sambung Fatma lagi terus memanasi Rendi. 


“Ehm... ehm..,” Rendi kemudian berdehem sembari mengulum lidahnya, “Cinta apaan? Masa hanya dengan yang lebih tampan langsung berpaling, nggak bermutu!” ejek Rendi lagi. 


“Oh beneran lebih tampan cowoknya? Bang Rendi lihat dimana sih?” tanya Fatma semakin senang membercandai Rendi. 


“Nggak, menurut Bang Rendi jelek, seumuran dia Bang Rendi lebih tampan!” jawab Rendi lagi spontan merasa dirinya lebih baik dan tidak suka Hanan. “Seumuran Bang Rendi juga masih kuliah, nggak berani deket- deketin perempuan begitu! Cinta apaan begitu?” lanjut Rendi lagi masuk menunjukan kekesalanya. 


“Oh jadi menurut, Bang Rendi pria itu tidak lebih baik? Bang Rendi nggak terima kalau dia deketin Nila dan Nila suka?” tanya Fatma lagi. 


“Terserah sih? Bukan hak Bang Rendi,” jawab Rendi masih saja gengsi. 


Fatma pun menelan ludahnya gemas ke kakaknya. 


“Ck. Ya kan hidup- hidupnya dia, apa urusanya sama Bang Rendi!” jawab Rendi lagi. 


“Bang... Setahu Fatma talak satu boleh rujuk lho Bang! Tanpa akad lagi katanya juga boleh, atau kalau kurang mantap, bisa lho akad lagi, setahu Fatma, Nila itu beneran suka sama Bang Rendi. Bang Rendi aja yang keterlaluan nggak pernah mau peduli sama dia, tapi sampai sekarang menurutku juga masih, orang waktu malam akhirusannah dia tanya ke Fatma, Bang Rendi pulang nggak ya? Bahkan Nila beli parfum sama Fatma, tanya- tanya semua persiapan tinggal bareng sama Bang Rendi juga!” pancing Fatma lagi. 


Rendi tercekat mendengar semua cerita Fatma, dia menunduk sebentar dan wajahnya terlihat gusar. 


“Benarkah?” tanya Rendi kemudian. 


Fatma pun tersenyum. “Minta maaflah, dan temui dia!” ucap Fatma. 


Rendi tidak menjawab hanya menelan ludahnya lalu bangun meninggalkan Fatma. 


Fatma hanya menghela nafasnya mengawasi kemana Rendi pergi. “Fatma yakin, Bang Rendi juga ada rasa sama Nila, ayolah Bang, perbaiki kesalahanmu, kasian Abi dan Umi sakit!” gumam Fatma dalam hati. 


Mendengar kabar Rendi benar bercerai, Ummi menangis, dan banyak diam di kamar. Fatma tahu bagaimaa perasaan Umminya, itu sebabnya Fatma mengekori suaminya ke Ibukota dan nekad ikut campur merayu kakaknya. 


**** 

__ADS_1


“Whaat... siiiit! Brak!!” Farel langsung melempar I_phonenya begitu melihat pengumuman hasil ujian dan membaca nama Gunawijaya ada di atasnya. 


“Dia pasti curang? Pantas dia sangat percaya diri!” gumam Farel dadanya terasa sesak karena ternyata dia dikalahkan. 


“Baru kali ini ada yang menyaingiku, gadis seperti apa dia?” gumam Farel. 


Farel kemudian mengambil ponselnya dan mencari nama Nila, akan tetapi di akun media sosial tak dia temukan nama Nila. “Pasti pakai nama alay dia!” gumam Farel kesal. 


Padahal Farel juga ahli dalam hal melacak akun di internet. Sayangnya yang muncul di internet bukan data pribadi Nila atau foto- foto Nila, melainkan karya- karya prestasi Nila. 


Farel pun jadi tertarik membaca lebih detail tentang pencapaian Nila. 


“Dia anak pesantren ternyata, menarik!” gumam Farel malah tertarik untuk mengenal Nila. 


Farel di sekolahnya juga menjadi idola dan sering berganti pacar, namun tak ada satupun yang berasal dari pesantren. 


**** 


“Saya minta jadwal kegiatan dan kalender akademik mahasiswi baru, Mas!” ucap Rendi kepada seseorang di telepon. 


Walau tidak berkata ya, Rendi mundur dari Fatma ternyata menghubungi rekanya yang menjadi panitia penerimaan mahasiswa baru. 


**** 


Di Tempat lain. 


Di sebuah ruang keluarga kecil, ayah ibu dan anaknya tampak selesai jamaah sholat dan bergantian saling menyimak tadarus Al_ Quran. 


“Shodaqollohul’adziim...,” tutur ketiganya. Dan mereka semua menutup kitab suci mereka dengan penuh cinta. 


“Gimana ujianya, tadi Nak?” tanya seorang ayah yang tampak masih gagah. 


“Alhamduillah Pah, Hanan peringkat ketiga, insya Alloh Hanan masuk dengan beasiswa!” jawaB Hanan. 


“Alhamdulillah..,” sahut ibu dan ayah Hanan. 


“Oh ya... Hanan ketemu sama Om Ardi, Pah, Mah!” jawab Hanan senang. 


“Oh ya?” jawab orang tua Hanan antusias. 

__ADS_1


Hanan pun mengangguk dan bercerita ke orang tuanya betapa mereka senang bertemu Nila. Orang tua Hanan juga memberikan sambutan yang hangat atas cerita Hanan. 


__ADS_2