
Seperti rembulan ditelan awan, seketika langit redup, bahkan menghitam gelap dan menjadi malam yang mencekam. Raut berbinar Hanan hilang.
Dimulai dari kernyitan mata, memastikan, berharap dia salah lihat bukan Pak Rendi dan bukan mobil yang sama. Atau berusaha membuat prasangka lain mungkin tanpa sengaja mereka bersama.
Sayangnya, mata dia tak salah, laki- laki yang dia hormati dan segani, sungguh ada di depanya. Laki laki itu berasal dari mobil yang sama dengan mobil Nila keluar, dan sekarang menyapanya akrab berdiri di samping Nila sangat dekat bahkan mensejajarinya rapat.
“Hai, Hanan!” sapa Rendi tegas dan pendek.
“Pak!” jawab Hanan singkat lirih menganggukan kepala sebagai tanda hormat.
Entah kenapa tenggorokannya terasa serat, seperti tercekik. Pahal Hanan ingin menyapa selamat siang Pak saja, yang berhasil keluar hanya kata Pak.
Hanan memamg belum mendengar penjelasan Nila dan Rendi mempunyai hubungan apa dan kenapa bersama, tapi rasanya sangat menyesakan Dada. Saat melihat, Nila yang dia tahu sangat menjaga pergaulan, bahkan terhadapnya selalu menundukan kepala dan menolak pergi berdua walau hanya ke perpustakaan atau makan, kini bisa pergi berdua di dalam mobil, laki- laki dewasa, yang Hanan tau persis bukan mahram Nila.
Ingin hati Hanan tetap tenang, bersikap biasa, dan menyunggingkan senyum, tapi tetiba semua otot mukanya kaku. Sebab, Rendi seperti sangat sengaja, berdiri mendekat ke Nila, hampir merapat, bahkan menyapa Hanan tapi menatap Nila dulu, juga tanganya tergerak merangkul Nila.
Nila juga tidak menepis sama sekali. Nila malah menyunggingkan senyum, walau terasa getir, tidak lagi manis dan membuat dunia Hanan runtuh.
“Gimana kabarnya? Ngobrolin apa kalian, kayaknya serius banget?” tanya Rendi dengan percaya diri memecah kemuraman Hanan.
Sayangnya, selera ngobrol Hanan benar- benar hilang, bahkan focus Hanan beralih pada tangan Rendi yang seperti sangat sengaja, merangkul Nila, padahal kan bisa berdiri biasa saja.
“Dita, Mas, Dita kan hari ini bolos, katanya Dita sempat telepon Bang Hanan!” jawab Nila menyahut karena melihat Hanan tampak bengong, Nila menjawab dan berkata ke Rendi sembari menoleh dan baru menurunkan tangan Rendi.
Tapi tetap saja, panggilan Mas, semakin membuat Hanan patah hati. Hanan merasa semakin tercekik yak bisa berkata, kupingnya seperti terbakar. Hanan merasa tidak perlu bertanya dan tahu apapun, hatinya sudah langsung remuk.
“Oh gitu? Iya kenapa dia absen, tidak ada surat juga yang sampai ke mejaku, apa dia sakit?” tanya Rendi ke Hanan dengan lirikan menangnya, tahu betul muka Hanan langsung pucat.
“Mungkin begitu, Dok, saya juga tidak tahu,” jawab Hanan singkat dan mulai mengabur.
“Tapi kata Bang Hanan, Dita hubungi Bang Hanan kan? Dia bilang apa?” tanya Nila mengorek kembali cerita Hanan.
Sayangnya Hanan sudah benar- benar sakit, bahkan dadaanya terasa sesak ingin cepat pergi, bukanya menjawab, Hanan berusaha mengalihkan pandangan.
“Andre…,” gumam Hanan malah menoleh kearah jauh di lantai dua, temanya yang bernama Andre sedang berjalan. Hanan seperti punya senjata dan pelarian.
Nila dan Rendi juga ikut salah focus menoleh ke atas, kenapa Hanan ditanya malah tatapanya ke atas di belakang mereka.v
“Maaf, saya mau ada perlu sama Andre, permisi,” jawab Hanan tersendat dan random cari alasan untuk cepat pergi dan berbalik lari.
__ADS_1
“Bang Hanan, tunggu! Jawab dulu pertanyaan Nila,” panggil Nila merasa masih butuh jawaban Hanan setengah mengejar.
Tapi sayangnya Hanan pergi cepat, bukan mengejar Andre, tapi ingin mengurai sesak di dadanya. Tidak ingin menyaksikan kedekatan Nila dan Rendi lebih jelas, juga belum sanggup mendengar apapun tentang Nila.
Hanan berjalan cepat dan setengah berlari seperti anak kecil yang marah, pura- pura tidak dengar.
“Ish..,” Desis Rendi mencekal tangan Nila yang mau mengejar Hanan. Rendi paham sejak awal. Rendi kan juga sangat cemburu ke Hanan.
“Apa sih Mas?” tanya Nila menoleh ke Rendi yang ingin menanyai Hanan.
“Kamu bodoh apa pura- pura bodoh sih?” tanya Rendi memegang tangan Nila. “Biar Hanan pergi!” ucap Rendi.
“Nila belum selesai bicara, Bang Hanan juga aneh Mas, ngomongnya kaya ngelantur! Bang Hanan sendiri yang cerita Dita telpon dia tadi,” ucap Nila.
“Ck.” Desak Rendi geram ke Nila. “Dia itu lagi patah hati. Biarin dia pergi. Jangan tambah sakiti dia!"
"Kok gitu? Patah hati kenapa?"
"Hmm. Masa nggak tahu? Ya cemburu ke Mas lah. Masa kamu nggak tahu sih?” tanya Rendi.
“Huh? Cemburu? Kenapa cemburu kan kita cuma teman, Nila juga mau cerita tentang pernikahan kita juga undang Bang Hanan niatnya, Mas,” jawab Nila, sembari melihat Hanan semakin menjauh.
“Kamu nggak lihat, dia hampir nangis gitu liat kita? Dia itu suka sama kamu!” jawab Rendi.
Nila hanya mencebik, Nila menganggap, Hanan berubah ekpresi hanya mengira kaget saja, kenapa Nila bisa Bersama Rendi. Nila niatnya ingin jelaskan sekalian, tapi Hanan malah keburu pergi.
“Mas, Hanan itu cerita ke Nila, kalau Hanan itu sudah punya calon, bahkan Hanan mau belajar bisnis sama Kak Ikun biar bisa mengkhitbah calonya itu,” jawab Nila tetap positif thingking.
“Oh dia, dekat sama Ikun? Apa dia sering ngapelin kamu juga?” tanya Rendi malah jadi cemburu.
“Ish apa sih? Nggak. Cuma beberapa kali ke rumah, tapi kan Nila pergi, waktu itu juga Nila pergi sama Kak Fatma. Ayahnya Bang Haanan kan kenal sama Baba juga, makanya Kak Amer dan Kak Ikun kenal. Nila mau undang dia. Kalau dia cemburu, kan seharusnya dia tanya tentang kita!” jawab Nila masih membela Hanan.
“Justru karena dia cemburu, dia pergi gitu aja. Kalau dia nggak ada rasa sama kamu, harusnya nggak pergi gitu aja, sapa Mas kek, atau menanyakan kita kenapa bisa bareng? Dia itu patah hati makanya pergi,” jawab Rendi lagi.
Nila pun memanyunkan bibirnya ikut berfikir.
“Nggak usah naif, masa nggak tahu kalau dia deketin kamu? Dia itu naksir kamu? Perempuan yang mau dia khitbah itu kamu!” ucap Rendi memberitahu sedikit kesal ke Nila.
“Bang Hanan nggak pernah ngomong kok kalau suka sama Nila!” jawab Nila dengan muka polosnya masih merasa tidak salah.
__ADS_1
“Haish… ck. Udah undang dia lewat wa aja. Jangan temui dia kecuali sama Mas!” titah Rendi kemudian dengan wajah kesal.
Nila hanya menyeringai.
“Hmmm… ya!” jawab Nila.
“Awas kalau nemuin dia lagi!” ancam Rendi lagi.
“Kenapa awas sih? Kan kita satu kampus. Pasti akan ketemu!” tanya Nila lagi.
Sayangnya bukanya menjawab, Rendi melihat jam. “Cepat sana masuk, telat nanti kamu,” ucap Rendi malah mengusir Nila.
"Hoh?" Nila melihat jamnya juga.
“Ya ampun, telat beneran!” pekik Nila ternyata memang telat.
Spontan Nila langsung berlari tanpa pamit ke Rendi.
Rendi hanya tersenyum menggelengkan kepalanya melihat Nila berlari gugup seperti anak kecil.
Setelah itu Rendi menyusul, berjalan ke kantornya untuk melanjutkan pekerjaanya.
****
Seperti perkiraan Rendi, Hanan memang pergi karena patah hati, dia tidak sungguh menemui Andre tapi langsung ke kamar mandi, mengepalkan tanganya menahan tangis memukul tembok sekenanya.
Walau laki- laki, melihat cinta pertamanya bersama laki-laki lain sungguh membuat dunianya runtuh. Dan di depan kaca kamar mandi, kepalan tanganya tak cukup menahan air matanya. Hanan tetap meneteskan air mata.
“Jadi orang itu, Pak Rendi? Jadi perjodohan mereka tidak gagal?” gumam Hanan.
Ya. Hanan pernah ditanya Ikun, apa Nila di kampus dekat dengan laki- laki atau tidak. Ikun bilang kalau ada laki- laki yang mendekati Nila, Ikun minta Hanan lapor Ikun.
Saat itu, Ikun juga cerita, kalau Nila sudah pernah dijodohkan dan dikecewakan oleh pria itu. Itu sebabnya, Ikun pernah menitipkan Nila ke Hanan.
Tentu saja, Hanan menerima dengan senang hati. Hingga, Hanan juga merasa mempunyai kepercayaan dan peluang besar mendekati Nila juga melindunginya.
Sekarang Hanan pun mengerti siapa laki- laki yang Ikun tanyakan. Itu sebabnya, Hanan tidak ingin bertanya atau memperjelas tentang Pak Rendi dan Nila.
Hanan pun dengan cepat menyeka air matanya. Sangat memalukan kalau sampai ada yang melihat laki- laki menangis. Hanan segera membasuh mukanya.
__ADS_1
Tanganya pun tergerak mengambil ponselnya, bukan menghubungi Nila, tapi justru membolkir nomer Nila, dan Hanan menghubungi Ikun.