Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Gantikan Abah


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu, masa orientasi berakhir. 3 hari itu pula Nila tidak melihat batang hidung Rendi. Karena asik dengan kegiatan yang padat, gunjingan anak- anak tentang Rendi pun meredup.


Berbeda dengan Nila, walau Nila tak pernah menggunjing atau memuji, Nila justru yang gelisah. Nila merasa setiap aktivitasnya seperti ada mata Rendi yang mengintai, tapi setiap Nila menoleh tak ada siapapun, begitu seterusnya.


"*Sepertinya aku ke GR an dan terlalu berharap? Apa- apaan ini? Sadar, sadar. Sudah cukup aku menyakiti diriku sendiri. Fokus!"


"Kalau dia menghargaiku? Kalau dia mencintaiku, dia tidak akan mengaku lajang pada orang lain. Dia seharusnya mengakui keberadaanku. Dia seharusnya akan menunggu aku pulang madrasah baru kembali ke sini, saat datang ke rumah Ummi. Bukan hanya pergi meninggalkan pakaian kotor dan membuat kamar berantakan lalu pergi lagi. Kenapa juga dia selalu pulang saat kegiatan madrasah sibuk*?"


"Ingat dia menikahiku hanya pelampiasan menjadi menantu Baba, setelah ditolak kak Jingga? Aku tak semenyedihkan itu kan? Jahat sekali kan dia? Iya. Dia jahat! Tapi apa dia sungguh seburuk itu? Kenapa hatiku masih selalu bilang dia pria yang baik? Astaghfirulloh!"


"Huuft kenapa juga dia sok- sokan minta balikan dan meminta maaf dariku? Huh dasar? Benar kata Bang Amer? Tapi kenapa juga dia mengaku punya istri? Tunggu apa dia memang punya istri selain aku? Ah tidak- tidak,"


Sembari berjalan memasuki kampus Nila terus bermonolog sendiri, karena dia takut tiba- tiba bertemu Rendi. Apalagi hari ini dia akan mendapatkan daftar mata kuliah lengkap dengan dosenya di semester awal ini.


Hati Nila semakin berdegup kencang, siapa pembimbing akademiknya? Mata kuliah apa saja dan siapa dosenya?


"*Aku tidak salah ambil universitas dan jurusan kan? Opa Nando kan selalu motivasi aku jadi dokter? Ini universitas terbaik yang bisa dijangkau dari rumah. Ribuan orang dari berbagai daerah bermimpi kuliah di sini,"


"Insya Alloh seperti kata Kak Jingga. Belum tentu kita bertemu semua dosen, karena dosen anatomi seperti Mas Rendi tidak hanya satu kan*?" batin Nila mantap hendak menuju ke kelasnya.


Karena sepanjang Masa orientasi berakhir, Nila tak banyak tanya atau berpendapat. Orang pun hanya sebatas tau Nila tanpa mengenal, bahkan sedikit orang yang tahu Nila Adik Jingga, ponakan dari Pak Menteri, dr. Gery. Nila pendiam, pakaianya juga sederhana hanya gamis polosan.


Yang terlihat mencolok Hanan, si mahasiswa tampan alim dan ramah, juga Celine mahasiswi cantik dan pemberani. Tentunya yang paling mencolok, Farel. Farel, mahasiswa yang datang ke kelas sesuka hati, membuat senior elus dada dan memilih tidak ingin membuat keributan.


Farel kalau datang ke kampus mengendarai motor besar dan bergonta ganti, sudah begitu terlambat terus.


Dan sayangnya, dari mereka bertiga, teman Nila yang berbeda karakter itu, Hanan tak sekelas dengan Nila. Mahasiswa total ada 50 dan dibuat 2 kelas. Rata- rata yang sekelas dengan Nila mahasiswa yang terlihat bergaya tinggi, tersisa Dita teman Nila yang baik dan sederhana.


"Nila..." panggil Hanan di persimpangan jalan.


Nila pun berhenti dan menoleh, sahabatnya laki- laki berkemeja rapih dengan tas punggung pun berlari mendekat.


"Assalamu'alaikum Bang Hanan. Gimana?" jawab Nila.


"Waalaikum salam, kita beda kelas ya?" tanya Hanan langsung dengan raut kecewa.


"Nggak apa- apa Bang. Kan masih satu angkatan dan satu kampus. Emang kenapa?" tanya Nila.


Hanan langsung salah tingkah, tapi kemudian tersen


"Ya jadi susah diskusi kalau aku ada kesulitan belajar. Kalau temanan sama orang pinter kan aku bisa tanya- tanya kamu. Tau sendiri kan? Di antara banyak orang kita berdua yang dari a cm lulusan agak melenceng dari dunia kedoktern!" jawab Hanan ngeles, tapi tatapan tak luput dari menatap Nila yang menunduk tersenyum.

__ADS_1


"Bang Hanan.jangan berlebihan. Justru kita harus dipisah Bang biar bergaul sama teman- teman SMA yang dari jurusan IPA!" jawab Nila rasional.


"Iya semoga aku bisa ikutin!"


"Bisalah, Bang Hanan kan pinter!" jawab Nila.


"Jaga diri baik- baik ya!" ucap Hanan di depan lorong kelas Nila, seperti hendak berpisah dengan Nila dan takut Nila diambil orang atau kenapa- kenapa.


Nila pun tersenyum lagi.


"Bang Hanan kaya Baba. Nila mau kuliah kan? Bang Hanan juga sama. Pastilah jaga diri, ada Alloh juga kan yang jaga!" jawab Nila.


"Iya. Ya dah. Bang Met kuliah ya!" ucap Hanan


Nila mengangguk dan masuk ke kelqs Nila. sesampainya di kelas, baru beberapa teman Nila yang datang, tapi Dita sudah datang duluan dan langsung menyunggingkan senyum dan melambaikan tangan.


"Sini...udah kupilihkan tempat duduk!" ucap Dira girang bak anak SD yang masih pilih- pilih tempat duduk.


Dita memilih tempat duduk di depan tapi di pojok. Padahal Nila mah, duduk dimana saja terserah.


Akan tetapi untuk menghargai Nila Dita. Nila tetap bersedia. Tidak selang beberapa lama mereka bersenda gurau teman- teman Nila datang dan disusul dosen Nila.


Nila pun bernafas lega karena dosen yang datang dosen perempuan berhijab.


Di Pesantren Bambu Teduh.


3 hari sudah Rendi meninggalkan Ibukota, dan segala kesibukanya. 3 hari juga Rendi di kampung halamanya.


Seorang lelaki berpeci haji, dengan menggunakan kaos putih dan celana lain longgar tampak duduk bersandar di tempat tidur. Walah selang infus masih tersambung di tangan kirinya, Pria itu tampak mengangkat kedua tanganya mengucap takbirotul ikhrom, Abi Yusuf tetap menyempatkan dzuha walau sedang dalam perawatan


Rendi yang memang akhir - akhir ini tertampar dengan semua kesalahannya dan ingin menebusnya pun dengan telaten menunggunya.


Kalender kampus memasuki ajaran baru dan hanya tinggal membantu mahasiswa bimbinganya yang sedang menyusun skripsi. Rendi pun melimpahkan semua pekerjaanya pada temanya. Rendi ambil cuti untuk beberapa hari.


Rendi sudah cukup menyakiti orang tuanya, dia pun tidak mau kehilangan momen untuk berbakti saat ayahnya sakit.


"Assalamu'alaikum warohmatulloh...,"


Setelah beberapa saat Abi Yusuf mengakhiri sholatnya dan mengucap salam. Rendi pun mendekat.


"Sekarang waktunya, sarapan Bah. Sarapan ya!" tutur Rendi berubah menjadi sangat lembut jika bersama ayahnya.

__ADS_1


"Aku tidak lapar!" jawab Abi Yusuf pelan.


"Tapi harus makan, Akbar suapin!" jawab Rendi.


"Dimana Umimu? Fatma? Aisyah?" tanya Abi malah menanyakan ibu Rendi dan adik- adiknya.


Rendi pun menelan ludahnya, dari kemarin kedatanganya seperti tak berarti, padahal Rendi sudah berkorban bolos kerja. Abinya selalu menanyakan anak yang lain padahal yang ada di depanya Rendi.


"Umi pulang sebentar untuk mandi dan ambil pakaian. Fatma dan Syamsul kan ngajar Bi. Aisyah baru kemarin sore kan pulang ke rumah suaminya!" jawab Rendi tetap sabar.


"Abah makan sama Umi saja!" jawab Abi Yusuf menolak di suapi Rendi.


Rendi pun menelan ludahnya, tanganya yang memegang piring mendadak melemas.


"Ya nanti Akbar telpon Umi agar segera kesini. Tapi sebelumnya makan snaknya dulu Bah. Biar minum obat. dikit ya!" rayu Rendi lagi.


"Kamu sudah tiga hari di sini? Kamu tidak kerja? Biasanya kamu kalau pulang, suka buru- buru kembali karena tidak bisa meninggalkan pekerjaanmu?" tanya Abah sedikit menusuk Rendi dan menyindir Rendi. Karena selama ini Rendi kalau pulang tidak mau menunggu, Nila pulang sudah buru- buru kembali.


Rendi pun menunduk, dalam hati Rendi, Rendi ingin menunjukan dia menyesal sudah banyak membuat Abinya kecewa.


"Akbar ingin nungguin Abah!" jawab Rendi.


"Abah nggak mau lho kalau dijadikan alasan, kamu dimarahin atasanmu?" jawab Abah lagi tetap menyindir.


"Insya Alloh, nggak Bah!"


"Kenapa kamu mau nungguin Abah?" tanya Abah lagi.


Rendi pun gelagapan, mereka berdua sudah sama- sama tua kenapa Abahnya malah tanya. Ya jelas Rendi ingin berbakti.


"Ya karena Akbar sayang Abah. Akbar ingin rawat Abah " jawab Rendi


"Apa kamu takut aku keburu mati?" tanya Abi lagi.


"Nggak Bah, Akbar sayang Abah!" jawab Rendi.


"Benar begitu?"


"Ya Bah. Akbar banyak salah. Ijinkan Akbar menebus semua salah Akbar,"


"Kalau memang begitu. Pulanglah, biar Ummimu yang rawat Abah. Bantu Syamsul di pondok dan gantikan Abah sementara!" ucap Abi Yusuf tenang.

__ADS_1


"Ha..," pekik Rendi kaget.


__ADS_2