Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Tidak


__ADS_3

"Plak!"


Satu tamparan mendarat ke pipi Rendi setelah Rendi dengan tidak tahu malu mengatakan dia belum menceraikan Nila dan meminta tolong saudaranya untuk meminta maaf ke keluarga Baba Ardi.


Rendi langsung memegang pipinya tersungkur jatuh dari kursinya.


"Aa Fariid!" pekik Dokter Anya istri dari Om Farid membawa nampan makanan berniat menyapa saudaranya.


Dokter Anya sangat kaget suaminya sampai melakukan kekerasan ke saudarranya sendiri.


"Mundur Mah!" ucap Om Farid.


"Ada apa ini A'?" tanya Dokter Anya


"Aa perlu kasih pelajaran ke dia?"


"Tapi jangan pakai kekerasan begini. Apalagi kalau ada yang liat. Bangun Ren!" tutur dokter Anya tidak tega dan hendak membantu namun oleh Om Farid langsung dicegah.


"Jangan ikut campur dan bantu dia. Biar dia sadar dengan kesalahanya!" tegur Farid sangat malu dan kecewa ke adik sepupunya itu.


"Memang apa kesalahan Rendi sampai Aa pukulin dia?" tanya Dokter Anya lagi.


Rendi pun tahu diri. Dia mencoba bangun dari tersungukurnya, berdiri menunduk.


"Maafkan Rendi Kak? Rendi salah. Rendi salah! Tolong maafkan Rendi!" ucap Rendi membuang malunya.


Rendi tahu betul, Om Farid seseorang yang amat sangat sabar. Rendi termotivasi keluar dari pesantren ayahnya di desa juga melihat kekerenan Farid.


Orang tua Rendi pun mengikhlaskan dan tidak memegang Rendi terus di pesantrennya sebab kekuarga Farid bersedia bantu Rendi, mendidik Rendi saat Rendi kuliah dan awal bekerja agar tetap berada di jalan yang benar.


Abi dan Ummi awalnya marah Rendi menolak kuliah jurusan agama atau mendalami agama di luar negeri. Tapi setelah banyak berdiskusi mereka mengikhlaskan berharap kelak jika Rendi sudah bosan di luar bisa mendidik santri- santrinya bagaimana menghadapi dunia luar.


Dan mereka percaya karena Farid yang menjaga Rendi dan mengawasinya. Itu sebabnya saat Rendi salah, Farid lebih marah dari Ummi atau Abi. Apalagi kesalahan Rendi membuat Farid malu.

__ADS_1


Farid sempat sangat percaya Rendi sudah dewasa mumpuni dan menjaga kepercayaanya. Namun Rendi justru mencoreng namanya di sahabatnya sendiri.


"Bisa- bisanya kamu bilang, kamu belum menceraikanya!" jawab Om Farid menggerutu.


Dokter Anya langsung mengernyit. Kenapa membawa kata cerai.


"Cerai?" tanya Anya.


"Dia menikahi Nila, karena ingin melampiaskan sakit hatinya. 3 tahun lamanya dia tak pernah menyapa Nila atau menjenguknya, dan dia mengaku bujang di hadapan teman- temanya dan itu didengar Oma Rita!" adu Om Farid ke istrinya.


"Hoooh...," Dokter Anya langsung menghela nafas dalam dan menatap Rendi heran.


"Rendi...kalau memang kamu tidak suka dengan Nila. Dari awal sampaikan ke kita dong. Kalau kamu nggak suka? Kamu bikin malu keluarga kita?" omel Anya ikut menimpali


"Rendi minta maaf!" jawab Rendi lagi.


"Nila itu sangat polos dan baik. Bisa- bisanya kamu menyiakanya. Dia juga sangat cantik. Aku kira semua baik- baik saja. Ummi dan Abi kan sangat sayang ke Nila. Kenapa kamu bisa begini? Terus ini gimna?" tanya Dokter Anya ikut kesal dan bingung.


"Ya mereka pisah! Dipilihkan berlian mahal, malah dibuang. Ya sudah... jangan harap kamu bisa dengan mudah dapatkan maaf seorang Ardi!" jawab Farid masih emosi.


"Saya nggak ingin cerai. Kak!" celetuk Rendi lagi.


Dokter Anya langsung mendelik bingung. Sementara Om Farid kepancing lagi


"Tuh kan bikin emosi dia . Udah tahu dia berbuat fatal. Masih bisa ngomong gitu!" jawab Farid ingin hantam dan hajar Rendi lagi tapi dicegaj dokter Anya.


"Aku akan memperbaiki salahku. Kak!"


"Tidak!" jawab Farid tegas.


Rendi menelan ludahnya menyesal. Anya ikut terdiam geregetan.


"Dari niatmu saja. Itu sudah salah. Pernikahanmu benar memang sudah diakhiri saja sebelum ribet. Dah sana kamu terserah cari wanita pilihanmu. Tapi jangan sakiti Nila!" ucap Om Remdi menahan tidak memukul lagi tapi tetap memarahi Rendi.

__ADS_1


"Tapi... Kak!"


"Tidak! Sekali tidak, tidak. Aku malu dengan kelakuanmu! Kamu sadar kan dengan kamu mengakui bujang itu masuk cerai kinayah?"


"Tapi aku tidak berniat bercerai!"


"Mana tahu hatimu! Tidak. Aku malu!"


"Kak beri kesempatan Rendi. Bantu Rendi ketemu Nila dan Baba Ardi," tutur Rendi memberanikan diri.


"Tidak!" jawab Farid tegas.


Rendi hanya menunduk dan menghela nafas ya.


"Sudah sana kamu pulang. Lupakan Nila. Aku tidak akan membantumu lagi atau ikut campur ke kehidupanmu. Aku mendukung Ardi, walau kamu saudaraku. Aku tidak akan bela kamu. Sana pulang sebelum habis kesabaranku!" tutur Om Farid malah mengusir Rendi.


Hati Rendi sangat terkoyak sampai Saudaranya mengusirnya. Rendi tidak bisa berkata apapun, selain menelan ludahnya yang terasa amat pahit.


Tanpa pamit, Rendi hanya mengangguk lalu pergi...


****


Setelah mendengar nasehat Baba dan Baba bersama Buna berjalan beriringan pamit ke kamar, Nila sendirian.


Iya dan Iyu sedang les, vip tidur dan Kakaknya kerja.


Nila pun masuk ke kamar berniat belajar persiapan Ujian Penerimaan Mahasiswa baru.


"Sakit ini harus dilawan. Aku bisa melewati ini, aku nggak akan malu sama teman- temanku kalau mereka tahu aku sudah bukan menantu Umi, toh aku sudah tidak di pondok lagi kan?" gumam Nila meneguhkan hatinya.


Ya, semua teman- teman Nila tahu Nila istri Gus Akbar (Rendi). Mereka sangat sayang ke Nila. Pasti mereka sedih dengar Nila pisah, yang tidak suka pasti akan menghina.


"Aku pasti bisa lupakan Mas Rendi. Toh teman- temanku nanti orang baru kan? Mereka tidak akan tahu aku janda! Aku harus berdamai dan iklas dengan keputusan ini. Aku akan dicintai seperti Bang Adip cinta ke Kak Jingga kan? Aku juga akan dapat cinta seperti cinta Baba ke Buna kan?" batin Nila lagi.

__ADS_1


Role play dan sosok panutan Nila adalah keluarga Nila sendiri.


__ADS_2