
Flash back beberapa waktu sebelumnya.
Masih di bawah pohon, di depan gedung rumah sakit pendidikan tipe A tingkat provinsi di Ibukota itu. Dua insan yang statusnya abu- abu, masih duduk berdua, menghadap puluhan motor yang tertata rapi dan lalu lalang pengunjung rumah sakit.
Walau bukan duduk di sofa empuk dengan pendinginn ruangan yang wangi, bagi Rendi tetap dia duduk sekarang, menjadi tempat yang berharga. Itu adalah tempat paling romantis seumur hidupnya sampai detik ini, pencapaian tertingginya bisa mengajak Nila duduk tenang.
Sekarang jua, Rendi merasa kesempatan bersama Nila adalah peluang emas. Dia tidak mau menyiakan kesempatan.
Apapun resiko yang akan dia hadapi saat bertemu Baba, dia harus berjuang tuntas, mencari gembok pintu hati Nila agar terbuka lagi. Menegakan status sesuai keyakinanya.
Sementara Nila, yang luka hatinya mulai sembuh dan mengering, terobati oleh pesona kebaikan Rendi, dadanya sedikit mengembang saat antenna telinga menangkap dan merekam semua perkataan Rendi, tidak bisa dijelaskan dia ingin berjingkat bahagia.
Akan tetapi semua itu tertahan, akal sehatnya kembali menekan agar tak jadi mengembang.
Ingatan pertemuan mereka di rumah Rendi, bagaimana Rendi ketus terhadap Nila membuat Nila kembali menegang. Dia kembali ingat pesan Baba dan Jingga. Jadi perempuan harus berharga, jangan tampakan bucin.
Nila pun menepis bahagianya.
“Bukankah semua sudah ditegaskan di waktu isbat kemarin? Kita sudah bercerai Pak!” jawab Nila berusaha jual mahal.
“Isbat bagaimana? Kamu tidak datang? Meski kita nikah siri, setidaknya ada mediasi kan? Tapi nyatanya, Amer nggak kasih kesempatan aku ngomong, apalagi Baba! Aku tidak punya kesempatan, kalian menyimpulkan sendiri! Kan aku nikahnya bukan sama Amer dan Baba, Baba yang menyatakan kita cerai, harusnya Baba nggak gitu,” jawab Rendi sedikit plintat plintut sedikit menyalahkan Baba, tapi Baba kan orang tua mereka.
Dan benar saja, Nila yang tadinya selow dan hampir luluh tambah menegang. Nila kan sudah ungkapkan kekecewaanya saat di warung bakso, kenapa Rendi tidak paham juga. Nila tidak terima Babanya disalahkan.
Nila pun menoleh dan menghadap Rendi dengan mata menyala.
“Bapak belum sadar juga? Bapak nyalahin keluarga saya?” tanya Nila kesal.
“Bukaan.. bukan nyalahin!” jawab Rendi.
“Terus? Kenapa nggak sadar juga sih? Saya nggak mau buang waktu, sebelumnya sudah dijelaskan kan, saat di warung bakso! Masa harus diulangi?” jawab Nila kesal ingin pergi masih mode jual mahal.
“Tunggu!” jawab Rendi mengangkat tangan spontan bergerak mengayun ke bawah, tanda meminta Nila tenang dan jangan emosi. “Ijinkan aku menjelaskan, sebentar ya. Dengerin dulu. Ini penting!" ucap Rendi.
“Hhhh…,” Nila menghela nafasnya, akal dan hatinya masih terus beradu.
“Omma… hanya lewat dan dengar sekilas, aku salah memang, mengucapkan itu. Tapi demi Alloh, aku tidak ada niat menceraikan kamu!” tutur Rendi hati- hati. Kini susunan katanya jauh lebih tertata ketimbang saat di warung bakso.
“Tidak niat menceraikan tapi tidak pernah menganggap aku ada!” jawab Nila memotong lagi. Nila mulai terpancing emosi mulai membuang kata saya dan mengganti aku.
“Bukan! Please dengar Mas dulu!” tutur Rendi lagi.
“Hh…,”
“Aku menikahimu dengan sadar, walau aku sedang sakit hati oleh kakakmu dan babamu! Tapi aku menikahimu tanpa paksaan, dengan kesadaranku!” tutur Rendi meyakinkan.
“Dengan niat balas dendam, menjadikan aku bahan pelampiasan dan menyakiti kakakku? Lalu mengabaikanku?” potong Nila menyanggah lagi dengan emosi. Nila pun lupa jual mahal dan merasa ingin keluarkan kekesalanya juga.
“Balas dendam dan jadikan pelampiasan, tidak! Sebab yang menawarkan kamu ke aku, orang tuamu dan dirimu sendiri kan?” jawab Rendi jujur meski sedikit menohok.
“Gleg!” di sini Nila pun terdiam tidak menyanggah lagi. Hatinya sedikit tersentil, iya sih dulu Baba yang menginginkan perjodohan dengan keluarga Rendi tetap berjalan.
__ADS_1
“Tapi kalau untuk melihat Jingga sakit, iya ada, aku ada niat itu, aku ingin lihat bagaimana dia bisa melihat aku bersamamu! Dan aku akui itu salah! Tapi,..” jawab Rendi jujur dan menekankan ke Nila.
Nila menelan ludahnya dan membuang pandanganya. Entah kenapa Nila dheg- dhegan, kata apa yang hendak Rendi ucapkan setelah kata, tapi.
“Aku menikahimu ikhlas, aku tidak bisa menolak apa yang Abah dan Ummi katakan, aku Lillah, menerima pernikahan kita walau saat itu aku tidak tahu mau bagaimana ke depanya!” ucap Rendi pelan lagi.
Hati Nila benar- benar mengembang mendengar ini, Nila sungguh berdebar bahkan pipinya memerah.
Sayangnya kepalanya terasa sangat berat untuk kembali menoleh ke Rendi, seperti malu, ketahuan kalau sekarang pipinya memerah. Nila hanya menelan ludahnya menyembunyikan perasaanya sembari menatap ke depan.
“Aku jujur dan harus percaya itu!” ucap Rendi meyakinkan dan menatap Nila yang memalingkan wajah darinya.
Mau tidak mau, Nila pun wajib menanggapi walau masih berat menatap Rendi.
“Kalau sadar dan ikhlas? Kenapa Mas Rendi, menjauhiku? Bahkan mengatakan masih lajang pada orang lain?” tanya Nila balik, kali ini keceplosan lagi panggil Rendi, Mas.
“Gini!" Ucap Rendi menegakan tubuhnya dan sedikit condong ke Nila.
"Aku dosen, aku juga sedang menyelesaikan disertasiku saat itu, aku tahu Undang- undang Nila. Usiamu saat itu belum ada 17 tahun. Pikirkan dengan baik, pertama, walau aku yakinkan keputusan Abah adalah yang terbaik, tapi akalku masih belum mencerna, bagaimana aku harus bersikap denganmu sebagai suami padahal kamu baru menginjak bangku Aliyah. Aku bukan pedofil, aku tidak mau jadi penjahat, aku bisa kena pasal perlindungan anak. Itu pula, alasan aku menjawab pertanyaan teman- temanku yang di dengar Oma. Aku tidak mau teman- temanku merendahkanmu dan menertawakanku, apalagi kita menikah siri, segimana aku jelaskan maksud Abah dan Baba, mereka beda jalur sama kita, bahkan teman mas itu Nonis,” jawab Rendi menjelaskan detail.
Nila mendengarkan penjelasan Rendi dengan detail. Nila pun bernafas lega dan bahagia, bahkan Nila menggigit bibir bawahnya untuk menahan agar tidak kelepasan mengungkan bahagianya. Nila malu kalau sampai kelepasan ekspresinya. Pokoknya, aturan Jingga, haram buat Rendi GR.
“Pikiranku saat itu, aku akan mengenalkanmu saat kita sudah punya catatan sipil, setelah kita bertemu. Ehm.. seperti sekarang!" jawab Rendi menegaskan, Rendi masih menatap Nila berharap Nila menoleh ke dia.
Sayangnya Nila hanya keringetan masih malu menoleh.
"Aku mau kamu dikenalkan dengan posii terhormat, tidak dilecehkan karena kita nikah siri, tapi buku nikah sudah ada di tangan kita!” ucap Rendi lagi terus menanti reaksi Nila.
“Kamu paham kan?” tanya Rendi terus mepet Nila.
Rendi pun mulai ketar ketir, dengan jawaban Nila. Tapi Rendi tidak putus asa dan dia kembali meyakinkan.
“Kalau nggak percaya, tanya Abah dan ustad yang lain. Kata Ustad Hikam, kamu masih istriku, ustad Baba menyatakan kita jatuh talak, karena kata Baba aku ingin cerai. Padahal nyatanya aku belum pernah sekalipun mengikrarkan talak padamu! Aku juga tidak menginginkan itu, ini hanya soal komunikasi, sekarang kamu paham kan? Tolong maafkan aku!” ucap Rendi lagi.
Nila pun semakin gemetaran, ini bukan perkara simple, jika benar masih suami istri, berarti Nila dosa kalau tidak patuh. Suami istri kan juga harus bersama, mereka juga harus segera mengesahkan pernikahan mereka.
Nila bernafas sejenak mengatur ritme jantungnya, agar tetap bertahan normal. Nila tidak boleh terlena dengan hatinya dia harus memastikan dulu. Pokoknya ingat kata Jingga, tidak boleh murahan jadi perempuan.
Akhirnya Nila pun menoleh ke Rendi lagi.
“Hati- hati kalau bicara, ini tentang hukum Mas, bukankah sebelum aku dan Kak Jingga pulang aku sudah lebih dulu bertanya ke Mas? Kenapa penjelasan mas nggak sedetail sekarang? Kenapa Mas nggak jelaskan malam itu? Bahkan Mas ijinkan aku pulang kan?” jawab Nila kali ini juga melembut.
Dan sekarang gantian Rendi yang gelagapan, Rendi malu mengingat dirinya yang selama ini selalu kepedean dan sombong. Malam itu kan Rendi songong. Tapi sekarang Rendi harus buang itu semua.
“Tapi kan, Malam itu aku tidak mengatakan talak juga kan?” jawab Rendi membela diri.
"Hhh...," Nila menghela nafas, iya memang tidak mengucapkan talak, tapi malam itu Rendi sangat menyebalkan dan menyakitkan.
“Ehm..,” Rendi kembali plintan plintut malu, tapi kan Rendi sedang berusaha jadi dia harus agresif harus membuang gengsi.
“Aku malam itu bilang kan ke kamu, terima kenyataan di pernikahan kita kalau aku tidak mencintaimu, maksudnya, maksudnya, kita kenalan dulu, dan..,” jawab Rendi berusaha.
__ADS_1
“Dan apa? Mas bebas memperlakukan aku seenaknya! Termasuk tidak menganggapku ada? Bahkan Mas yang mempersilahkan aku meninggalkan rumah,” jawab Nila mencecar Rendi lagi.
“Yaya aku minta maaf!” jawab Rendi cepat menyela.
“Ya, aku mempersilahkan kamu pulang, itu artinya kan aku baik," jawab Rendi kumat kepedeanya. "Tapi bukan berarti Mas menceraikanmu, Mas cuma bilang, jangan nuntut nafkah batin, kamu masih kecil Mas saja yang tua jaga diri kok!” lanjut Rendi membela diri dengan percaya diri.
“Ngeek..,” Nila pun langsung menoleh kesal ke Rendi.
"Benar kan?" tanya Rendi gelagapan. Rendi langsung panik kalau Nila cemberut dan muka gerung.
“Ya maksudnya, ginii.. lho. Kamu,..,kamu kan waktu itu..” tutur Rendi jadi belepotan takut salah kata mencari alasan kenapa dia dulu sombong. Dan Rendi langsung terpotong sanggahan Nila lagi.
“Kamu apa? Mas nuduh aku jadi anak keganjenan kan? Waktu itu mas ngatain aku kegatelan, parah dan mengerikan! Apa itu bukan cerai? Mas merendahkan aku! Lalu, sekarang mas ajak balikan? Untuk apa? Kan aku mengerikan!” jawab Nila benar saja Nila kesal dan tidak terima.
Rendi pun hanya nyengir karena dia memang salah. Tapi apapun kemarin, sekarang bagaimana caranya Nila luluh.
“Maaf,” ucap Rendi lirih. “Maksudku, aku mau jelaskan, selama ini aku jaga jarak denganmu dan hanya memberimu nafkah lahir. Jangan tuntut aku menemuimu mas Aliyah dulu. Aku takut kelepasan, aku ingin melindungimu, kamu tidak tahu kan, betapa jahat dan liarnya, syah watku!” ucap Rendi benar- benar kehilangan harga diri, bahkan bicaranya mulai ngelantur membuka aibya.
“Gleg!” Nila jadi mendadak merinding mendengar Rendi menjelaskan alasannya, spontan saja otak Nila langsung travelling jauh.
“Jadi sekarang, Mas ajak aku balikan untuk itu?” tanya Nila salah paham lagi.
“Gleg!” Rendi sama- sama tercekat, baru sadar dia terjebak di omonganya sendiri. "Bukan juga!" jawab Rendi jadi gelagapan dan mengusap tengkuknya, malu sekali, sedang merayu Nila sekarang berani mendekat karena ingin itu.
“Ish... mes_ um!” jawab Nila manyun menatap Rendi ngeri, kemudian bangun dan pergi meninggalkan Rendi.
“Aish… bukan itu!” jawab Rendi mendesis memukul kepalanya sendiri, kenapa susah sekali merayu Nila.
Rendi pun berlari mengejar Nila.
“Tunggu!” panggil Rendi.
“Dosen mes- um! Nggak mau aku diajakin balikan kalau cuma buat itu. Ish,” cibir Nila kesal sambil berjalan.
“Nggak, bukan gitu maksudnya, dengerin dulu,” ucap Rendi meraih tangan Nila dan menariknya agar berhenti.
Karena ditarik, Nila pun berbalik terpaksa. Saat tubuh Nila berbalik, Nila kehilangan keseimbangan sehingga kakinya keseleo dan dia hampir terjatuh ke Rendi. Tentu saja Rendi sangat senang menangkalnya. Sesaat mereka pun berdekatan.
“Kita bicarakan ini baik- baik dengan Baba ya, aku akan menikahimu secara sipil, setuju kan?” ucap Rendi tidak mau menyiakan kesempatan bahkan di saat seperti itu dia terus menekan Nila bilang iya.
“Ehm…,” Nila tidak menjawab ya, tapi dia membetulkan berdirinya dan menepis tangan Rendi.
“Aku pulang ke rumah Kak Jingga!” jawab Nila.
“Hoh?” Rendi pun terbengong mendengar jawab Nila.
“Kita lanjut bahas di rumah Bang Adip!” tutur Nila lagi.
“Oke!” jawab Rendi mengangguk dan sedikit berfikir, “Baiklah istriku,” ucapnya kemudian sembari mengerlingkan matanya tersenyum. Kepala Rendi langsung cuning lampu hijau Baba memang butuh Adip.
Dikerlingi mata oleh Rendi, Nila sedikit tersipu, tapi dia sembunyikan. Nila pun melangkah maju ke arah tempat mobil Rendi diparkir.
__ADS_1
Rendi mengekori Nila dengan semangat, walau belum bilang iya, dengan Nila ajak ke rumah Adip itu berarti Nila iya, tidak menolak. Rendi yakin sekutu terbaik saat ini menghadapi Baba memang Adip.
****